Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Dingin Yang Berbeda


__ADS_3

"Jangan ikut campur urusan gue," Fandy terlihat sangat marah.


"Seharusnya gue yang marah bukan malah elo yang marah. Lo tau kenapa?" Nick menaikkan nada suaranya.


"Karena lo ganggu waktu gue. Lo tau, gue hampir keluar tapi gue tahan karena gue baru sadar kalo cewek ini pacar sohib gue," Nick menatap Litha yang masih pingsan.


Fandy tersenyum sinis, usahanya kali ini akan digagalkan lagi. Bukan digagalkan oleh Raka ataupun Umran, melainkan digagalkan oleh manusia lucknut yang baru dikenalnya dua hari yang lalu. Jika tahu begini Fandy tidak akan mau berkenalan dengan bule satu ini, bukannya untung berkenalan dengan orang kaya yang blasteran, yang ada malah buntung.


"Ternyata lo kenal Raka? Dia musuh gue, dan berarti lo juga akan jadi musuh gue," Fandy meremehkan Nick.


"Lo pikir gue takut sama pecundang kayak lo?" Nick tertawa, Fandy pikir Nick tidak bisa bela diri? Yahh Nick akui dia memang lebih jago dibanding Raka, tapi perbandingannya bisa dibilang 1 banding 2.


"Pergi sekarang!" Seru Fandy.


"Cih... Lo pikir gue betah? Gua juga ogah lama-lama di sini," Nick hendak mengangkat tubuh Litha namun ditahan oleh Fandy.


"Pilih pergi dengan cara baik-baik atau harus pake cara kekerasan?" Fandy menatap tajam Nick. Sungguh Nick ingin mencolok mata menyebalkan itu.


"Makasih tawarannya, gue pilih Litha aja," Nick tersenyum melihat wajah Litha yang terlihat seperti orang tidur.


"Jangan harap!" Fandy menonjok wajah Nick dengan kuat hingga Nick tersungkur ke lantai.


Nick mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya sambil tersenyum sinis. "Posesif juga lo, cuma lihat aja gak boleh. Untung Litha gak suka sama lo,"


Prok-prok... Fandy menepukkan tangannya dua kali. Tidak ada satu orang pun yang masuk, membuat Fandy menaruh curiga kepada manusia gila dihadapannya.


Prok-prok... Fandy mengulang apa yang dia lakukan tadi. Dan suasana masih tenang-tenang saja, tidak terjadi apapun.

__ADS_1


Nick berdiri tertawa puas. Prok-prok... Kali ini suara tersebut dibuat oleh tangan Nick. Detik berikutnya muncul orang-orang berbadan besar sambil menyeret orang-orang bawahan Fandy yang telah babak belur tidak sadarkan diri.


"Cari mereka?" Nick tersenyum meremehkan Fandy. Nick sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi orang macam Fandy, kelicikan Fandy dapat ditebak dengan mudahnya oleh Nick.


Tangan Nick terangkat mengode, menyuruh bawahannya untuk mengurus Fandy. Dua orang langsung mendekat dan menahan kedua lengan Fandy yang sudah memberontak.


"Lepas!" Teriak Fandy.


Nick mengangkat tubuh Litha, sebelum pergi tak lupa ia mengucapkan kata-kata yang memancing amarah Fandy.


"Sebenernya gua pingin banget pamer ilmu bela diri gue ke elo, tapi gue gak tahan lihat bidadari gue dianggurin gini. Malam ini biar gue yang gantiin posisi lo buat Litha," disaat bibir Nick mengucapkan kata terakhirnya, pandangan matanya menatap gadis digendongannya.


"Brengsek... Jangan sentuh dia!" Fandy berteriak keras membuat Nick tertawa lepas.


"Terserah gua lah. Emang lo bisa apa sekarang?" Nick sangat bahagia melihat Fandy yang mudah sekali terpancing emosi.


"Gak masalah yang tadi gak jadi keluar. Nanti dikeluarin sama Litha aja," Nick tertawa puas melihat Fandy semakin memberontak ingin dilepaskan.


Niatnya Nick sih tadi cuma iseng-iseng doang panas-panasin Fandy. Tapi seru juga ternyata lihat Fandy teriak-teriak kayak orang gila. Ya udah keterusan deh sampai Raka dan kawan-kawan datang. Padahal rencana diawal, mau cepet-cepet bawa Litha keluar dari kamar ini.


Suara tawa seseorang menggelegar terdengar sampai pintu depan membuat langkah kaki Raka semakin cepat. Tatapan enam orang sangat tajam melihat Fandy yang ngos-ngosan karena lelah memberontak.


Nick mengirim pesan ke grup chat The Perfect dimana Umran dan Nick telah menjadi bagian dari anggotanya sejak seminggu yang lalu. Nick mengatakan jika Litha dibawa oleh Fandy ke hotel, dan Nick juga akan memastikan Litha akan aman bersamanya. Sehingga tidak hanya Raka dan Umran saja yang datang ke sini, yang lainnya memaksa ingin ikut.


"Eh Pak kulkas udah sampe sini aja. Cepet banget, jalanan gak macet?" Ujar Nick basa-basi.


"Raka ambil Litha sekarang! Nick mau ngambil kesuciannya," adu Fandy kepada Raka, seketika tawa Nick langsung pecah.

__ADS_1


Leon yang awalnya serius jadi ikutan ngakak kayak Nick. Leon tau pasti Nick yang udah ngebodoh-bodohin Fandy.


"Jaga ucapan lo yang kotor," Umran menatap Fandy sangat tajam seakan-akan ingin memakannya hidup-hidup.


Leon mendekat kepada Fandy, lalu menepuk pundak Fandy, "Gue tau lo emang bodoh, tapi jangan mau di goblok-goblokin sama orang rada-rada kayak Nick," Leon masih melanjutkan tawanya.


Mendengar penuturan Leon, Fandy baru sadar jika dirinya termakan omong kosong Nick.


"Dia punya niat jelek sama adek gue, keluarin semua isi dalam perutnya!" Umran menatap dingin para bawahan Nick yang siap melaksanakan tugasnya.


Bugh... Bugh... Bugh... Tujuh cogan-cogan tersebut hanya menyaksikan pemandangan yang menyegarkan mata mereka.


"Nick?" ucap Litha pelan tapi terdengar oleh semua telinga yang ada ditempat ini. Raka dan Umran langsung mendekat kepada Nick.


"Bang Umran, Kak Raka?" Litha memegang kepalanya yang masih berdenyut. Litha mengedarkan pandangannya, ia kebingungan menatap Fandy yang sudah babak belur dan hampir pingsan tetapi tubuhnya ditahan oleh orang-orang berbadan besar.


"Udah sadar?" Tanya Nick. Litha mencium aroma menyengat dari nafas Nick, membuat kepalanya semakin bertambah pusing dan akhirnya pingsan lagi.


"Lah... Kok pingsan lagi sih?" Heran Nick tidak sadar jika hal tersebut disebabkan oleh dirinya.


"Karena bau nafas lo bego," sahut Danil.


"Minum berapa botol lo sampe anak orang bisa pingsan lagi karena nafas lo," Jordy geleng-geleng kepala melihat Nick yang hanya nyengir kuda.


Arkan menatap Raka yang sedari tadi hanya diam tidak mengucap sepatah katapun. Padahal Arkan tau bahwa tersimpan amarah yang besar dalam diri Raka untuk Fandy, namun Raka memilih diam.


Raka melepaskan jaketnya, ia gunakan untuk menutupi tubuh Litha bagian atas. Kemudian Raka mengambil alih Litha dari gendongan Nick, Raka berlalu begitu saja tanpa mengeluarkan suara apapun.

__ADS_1


"Kenapa tu anak?" Heran Leon. Yang lainnya mengangkat bahu, tidak tahu jawaban atas pertanyaan Leon.


Mereka semua mengetahui ada yang berbeda dalam diri Raka. Pemuda itu memang terkenal akan sifat dinginnya yang sedingin dan sebeku es batu, namun sifat dinginnya kali ini berbeda dari biasanya.


__ADS_2