
"Gue masih normal!!!" jelas Jordy dengan ekspresi datar.
Tentunya semua tertawa lepas seperti tidak mempunyai beban saja. Etsss ralat hampir semua, soalnya Raka masih kesal karena handphonenya dicuri Leon dan sekarang masih belum dikembalikan juga ke pemiliknya. Tiba-tiba handphone Raka bergetar, dengan cekatan Leon segera melihat ke layar HP tersebut.
From: Mine
🧐
"Cieee yang habis chatan sama cewek, sampai ngirim foto segala. Pantesan tadi senyum-senyum sendiri kayak orang gi*a," ujar Leon. Dengan segera Raka mengambil handphonenya yang tadi sempat dicuri Leon.
Sontak ucapan Leon tersebut membuat para kaum hawa yang mendengarnya menjadi patah hati. Bagaimana tidak? Idolanya yang sedang diamati sedari tadi ternyata sedang chattingan dengan wanita lain. Ohh ya fansnya tadi gak ngelihat Raka waktu senyum-senyum sendiri kok, kan Raka menundukkan kepalanya. Jadi yang hanya bisa melihat senyuman aneh tadi, cuman keempat sahabatnya doang. Walaupun aneh-aneh gitu tapi tetep ganteng dong hehe...
"Gimana tentang Hariamu Putih?" celetuk Raka tiba-tiba. Seketika suasana diantara gerombolan cogan-cogan tersebut menjadi serius.
"Loo tau dari mana?" tanya Leon penasaran. Perasaan Leon gak pernah cerita tentang geng mafianya dihadapan Raka. Ya tahu dong, apa sih yang Raka gak tahu? Dingin-dingin kayak es balok gini Raka juga masih peduli dengan sahabatnya.
"Perlu gue bantu?" Raka menawarkan sebuah bantuan untuk Leon yang saat ini sedang dilanda galau.
Bukannya menjawab pertanyaan Leon, tapi malah menawarkan bantuan. Ya begitulah seorang Raka, jangan ditanya bagaimana Raka mengetahui informasi tersebut? Apa sih yang Raka gak tahu hehe...
"Makasih, tapi gue masih bisa ngurus sendiri," jelas Leon dengan tersenyum sambil menepuk pundak Raka. Dan Raka juga meresponnya dengan senyuman. Uwhhh... Pastinya cewek-cewek pada klepek-klepek kegirangan itu. Jarang-jarang kan bisa ngelihat es balok itu tersenyum. Walaupun senyuman Raka hanya bertahan selama 1 sekon, tapi hasilnya cukup membuat para kaum hawa kegirangan bukan main.
"OMG OMG kak Raka tadi sempet senyum,"
"Hati gue langsung melting rasanya,"
"Serasa mimpi bisa lihat senyumannya kak Raka,"
__ADS_1
"Suatu hal yang langka, bahkan lebih langka dari komodo,"
Ya kalau itu sih ngaco banget, mungkin saking senangnya mbak itu ngomongnya jadi ngelantur.
"Gak senyum aja ganteng apa lagi kalo senyum gitu, duh ganteng parah sih,"
"Itu emaknya waktu hamil kak Raka, ngidam apa ya? Kok kak Raka guanteng parah,"
Begitulah kebacot*n para penggemar Raka, saking senangnya bisa ngelihat idolanya senyum, bahkan ada yang sampai menjerit-jerit lebay. Menurut mereka itu adalah suatu hal yang sangat amat langka. Ya jelas langka, Raka itu kan terkenal dingin tanpa ekspresi. Mungkin ini adalah yang pertama kalinya Raka memperlihatkan senyuman manisnya ke publik.
Raka sih bodo amat, dia tidak mau ambil pusing. Baginya ocehan dari fansnya tersebut sudah biasa didengarnya. Maklum aja orang ganteng mah gitu, udah biasa diomongin sana sini dan udah biasa jadi pusat perhatian banyak para kaum hawa tentunya.
"Kalo lo butuh bantuan, lo harus bilang sama ke kita semua, oke!!!" pinta Jordy.
"Pasti," jawab Leon singkat.
"Gue udah coba tawarin itu ke klien gue, tapi dia nolak. Dia tetep kekeh sama tujuan awalnya, yaitu ngincer anaknya," jelas Leon.
"Lo harus tanggung jawab, bisnis lo bukan bisnis sembarangan," itulah nasehat dari Raka yang diangguki oleh Leon.
"Iya. Bukan bisnis abal-abal kayak si bule nyasar hhh," ledek Arkan pada Jordy.
"Abal-abal pala lo pea*g, lo gak lihat cafe gue rame gini," ucap Jordy ngegas dan agak sombong.
"Gue masih inget gimana awalnya lo bangun usaha ini. Ini usaha kan emang abal-abal, emang nasib lo aja agi beruntung waktu itu," ujar Arkan yang mengingat bagaimana proses usaha cafe milik Jordy ini.
"Sialan lu," ketus Jordy. Sedangkan Danil, Arkan dan tak ketinggalan Leon juga tertawa mengingat tujuan awal Jordy membangun usaha kuliner tersebut.
__ADS_1
Jordy sebenarnya tidak berniat untuk membangun usaha cafe tersebut, bahkan dia tidak menyangka bahwa cafenya sampai memiliki banyak cabang. 2 tahun yang lalu adalah tahun yang mungkin sangat tidak beruntung atau bisa dibilang tahun yang sial untuk seorang Jordyan Williams. Pasalnya entah mengapa ditahun itu, Jordy menjadi suka menghambur-hamburkan uang. Uang yang dikeluarkannya itu hampir 40 juta per hari.
Bayangkan uang segitu banyaknya habis dalam satu hari, buat apa coba? Eits jangan mikir aneh-aneh, uang yang Jordy keluarkan itu bukan untuk hal yang negatif, tetapi dibilang untuk hal positif juga bukan!
Jordy mengunakan uangnya untuk membeli barang mahal ini itu, untuk kesenangannya saja. Keempat sahabatnya sih udah menasihati Jordy agar jangan boros-boros, tapi Jordy mengabaikan sahabatnya. Mentang-mentang keluarganya tajir terus duitnya dibuang-buang gitu aja. Mungkin dompet Jordy udah kelebihan beban, saking banyaknya uang didalam dompetnya wkwk...
Sampai orang tuanya marah dengan kelakuan Jordy, ortunya tidak memberi uang terhadap Jordy. Bahkan semua fasilitas yang disediakan oleh ortunya pada Jordy, diambil oleh orang tuanya. Dengan tujuan Jordy akan menyesal karena telah membuang-buang uang. Tidak hanya itu, ortunya juga menyuruh Jordy untuk mencoba mencari pekerjaan, agar Jordy dapat menghargai bagaimana susahnya mencari uang. Tetapi bukan mencari pekerjaan, Jordy malah punya niatan untuk membuat warkop. Alias warung kopi, tapi kopinya ala-ala barista kok. Ortunya sih bodo amat, yang penting Jordy mendapatkan uang dari hasil keringatnya sendiri.
Dengan sisa uang yang Jordy punya, Jordy mengunakan uangnya untuk menyewa sebuah tempat. Di situ lah Jordy memulai usahanya untuk menjual kopi ala-ala barista. Ya karena Jordy suka meminum berbagai varian rasa kopi, jadi Jordy pernah belajar cara membuat kopi ala-ala barista gitu. Dengan bantuan keempat sahabatnya yang cogan-cogan, warkop nya Jordy jadi rame pembeli deh...
Hingga Jordy memiliki sebuah ide konyol untuk membangun sebuah cafe, Jordy meminta pendapat dari para sahabatnya, dan sahabatnya pun hanya menyetujui pemikiran Jordy. Serta mereka berjanji akan membantu bisnisnya Jordy dalam hal marketing, ya kalau marketingnya ganteng gitu mah pasti bakal narik pelanggan yang banyak, khususnya para kaum hawa dong.
Jordy awalnya tidak berharap lebih dengan kemajuan bisnisnya, dia cuman pengen nyoba-nyoba aja. Ehh gak taunya malah jadi pengusaha muda yang punya banyak cabang cafe. Beruntung banget kan? Apakah itu yang dinamakan The power of good looking? Hehehe...
***
Kini gosip tentang Raka yang berpacaran dengan Litha sudah menyebar ke seluruh sekolahan. Selama satu Minggu terakhir ini, ya tepatnya sih sejak mereka jadian, Litha selalu dijemput oleh Raka untuk berangkat sekolah bersama, terkadang ada juga yang nyempil diantara mereka berdua. Tetapi kalau pulang sekolah, Litha naik taksi atau gak naik angkot aja yang penting mah nyampe rumah. Soalnya Litha pulangnya itu lebih awal dari pada Raka, dengan selisih 1 jam. Gak mungkin dong Litha nungguin Raka sampai 1 jam di sekolah, maklumlah beda angkatan beda juga jam pelajarannya.
Sarah itu sering nebeng Raka, kata Sarah sih sekalian toh juga sekolahnya ditempat yang sama. Dan tujuan utamanya Sarah nebeng bareng Raka itu, biar irit bensin. Sarah bilangnya itu bahan bakar mobil kan gak bisa diperbarui, jadi sebagai manusia kita harus pinter-pinter memanfaatkannya alias jangan boros. Akhh.. itu hanya alasan Sarah saja, yakin deh tujuannya itu supaya uang saku Sarah tidak berkurang. Padahal uang saku Sarah itu banyak, Sarah kan juga anak horang kayaaa...
Raka, Litha dan Sarah sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Seperti biasa Raka selalu dingin, tidak ada obrolan diantara mereka bertiga. Raka fokus menyetir mobil sportnya, Litha masih setia memandangi jalanan yang dilewatinya, sedangkan Sarah sibuk dengan handphonenya.
"Tha kira-kira si Fika masuk sekolah gak ya? Udah 3 hari lo dia gak masuk sekolah. Handphonenya juga gak bisa dihubungi, pasti nyesel tu anak karena gak update tentang berita-berita lo sama kak Raka," ucap Sarah memulai pembicaraan.
"Itsss apaan sih lo, kok jadi bawa-bawa gue sama Raka," Litha gak terima tuh sama ucapannya Sarah.
"Hehehe sorry deh... gitu aja lo marah," tutur Sarah.
__ADS_1
"Gimana kalo pulang sekolah, nanti kita ke rumah Fika?" ajak Litha.