Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Bagi-bagi Lipgloss


__ADS_3

Tak ada henti-hentinya Raka terus tersenyum dengan sesekali melirik ke samping. Membuat Litha menjadi jengkel sendiri, sudah lipgloss hilang karena dilahap oleh pemuda dingin itu, sekarang Raka malah seolah mengejeknya. Akh... Tidak-tidak, itu hanya perasaan Litha saja, karena merasa jengkel dengan tatapan Raka.


"Apaan sih lirik-lirik terus?" susah payah Litha menahan untuk tidak menanyakan hal tersebut.


"Terimakasih," jawab Raka yang tidak nyambung dengan ucapan Litha. Gadis itu mengerutkan alisnya sampai dalam, meminta penjelasan ucapan dari Raka.


"Untuk rasa manis dari bibir kamu," sahut Raka. Litha memutar bola matanya malas.


"Sebagai gantinya kita jalan ke mall," ucap Raka.


"Buat apa?" heran Litha tidak mengerti maksud Raka.


"Beli lipgloss yang aroma buah, yang banyak. Atau kamu mau, aku beliin tokonya sekalian?" saran Raka dengan entengnya.


Litha melotot mendengar penuturan Raka yang asal bicara. "Buat apa banyak-banyak? Satu tahun aja, aku cuma bisa ngabisin dua lipgloss,"


"Itu kan dulu. Kalo sekarang kayaknya kamu bisa ngabisin satu lipgloss untuk satu hari," sahut Raka dengan menaik turunkan kedua alisnya, sambil melirik sekilas pada arah jalanan.


Litha membuang pandangannya ke jendela kaca. Segera ia rubah raut wajahnya yang awalnya cemberut sekarang menjadi senyum-senyum sendiri, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Mengingat bagaimana Raka menyentuh bibirnya dengan lembut.


***


"Semua benda yang bernama lipgloss saya beli," ucap Raka setelah sampai di salah satu toko makeup di mall.


Litha menganga lebar, matanya membelalak, Raka benar-benar tidak waras. "Enggak mbak. Kita cuma beli satu doang," Litha memperlihatkan gigi putihnya yang berjajar rapi.


"Tha," panggil Raka.


"Kak," Litha tidak mau kalah. Untuk apa membeli lipgloss banyak-banyak? Tidak ada gunanya.


Cukup lama keduanya berdebat, membuat mbak-mbak penjual di toko itu pusing sendiri. Tapi ada untungnya juga mereka berdebat, para mbak-mbak toko itu bisa lebih lama memandangi wajah rupawan milik Raka yang tiada tandingannya.


"Buat apa coba?" tanya Litha.


"Buat kamu," dengan santainya Raka menjawab.


"Kebanyakan Kak Raka. Aku juga masih punya di rumah," balas Litha.


"Ya udah buat bagi-bagi aja gimana?" tawar Raka yang kekeh tetap ingin membeli semua lipgloss yang ada di toko tersebut.


"Hah... Bagi-bagi tu duit atau makanan atau minuman atau apalah yang sifatnya penting. Nah ini? Masak bagi-bagi lipgloss, kamu ada-ada aja deh..." Litha bersekedap dengan tampang yang tidak bersahabat.


"Udah terlanjur bilang mau beli semua. Kasihan mbak nya, masak jadinya beli satu doang," balas Raka.


"Nanti kesannya aku PHP in mbak nya. Ya kan mbak?" tambah Raka dengan melibatkan penjual toko tersebut, tentu saja penjual tersebut pasti mengiyakan, agar barang yang ia jual laku terjual. PHP? Dasar, mencari alasan saja.


Tiga penjual toko tersebut hanya tersenyum malu-malu saja, saat Litha menatap mereka.


"Boleh ya!" Raka memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


Para mbak toko tersebut menahan tawanya, bagi mereka terlihat lucu jika pemuda bersetelan jas memohon kepada gadis cantik, imut yang mirip seperti anak dibawah umur. Ups... Bukan mirip, tapi Litha memang masih dibawah umur hehe... Begitu pun dengan Litha yang sama menahan tawanya, ini jauh dari sifat Raka yang dingin seperti salju.


"Ya udah terserah Kak Raka. Tapi nanti aku minta dua lagi buat Sarah sama Fika. Kasihan kalau ada bagi-bagi lipgloss, tapi mereka gak kebagian," Litha tertawa renyah mengingat dua sahabatnya yang sering nongkrong di sekitar area ruang guru, dengan tujuan membobol password WiFi yang dikhususkan untuk para guru.


"Iya," Raka ikut tertawa, dia mengacak gemas rambut Litha.

__ADS_1


Bahkan Raka melupakan masih ada tiga wanita asing yang berada di dekat mereka. Ya sudah biarkan, anggap saja bonus untuk mereka, karena bisa melihat wajah ganteng Raka yang ada dalam katagori ganteng triple.


Setelah selesai mengemasi semua lipgloss yang ada di toko tersebut. Penjualnya memberikan kepada Raka, jumlah lipgloss nya sekitar 1000. Raka menerima dua paper bag besar yang hanya berisikan lipgloss.


"Mau bagi-bagi kemana?" tanya Litha seraya merogoh salah satu paper bag yang Raka bawa. Litha mengambil tiga buah lipgloss, lalu menyimpannya di dalam tas. Satu untuk dirinya sendiri, dua lainnya untuk Sarah dan Fika.


"Disini," jawab Raka.


"Ini sih namanya bukan mau jalan berdua, tapi bagi-bagi lipgloss," Litha mengerucutkan bibirnya. Harapan untuk jalan berdua dan dinner romantis seperti sepasang kekasih pada umumnya, sirna sudah.


"Udah terlanjur dibeli. Apa aku suruh orang buat bagi-bagiin ini?" Raka mengangkat dua paper bag berukuran jumbo itu.


"Nggak usah. Ngerepotin orang aja," sahut Litha.


"Nanti juga orangnya aku bayar," ucap Raka.


"Nggak usah. Kita aja yang bagi-bagi," balas Litha.


Sudah hampir satu jam Raka dan Litha berjalan santai dengan menyetop orang yang berpapasan dengan mereka. Iya, mau cewek ataupun cowok juga dikasih lipgloss satu-satu. Bukan maksud untuk menjerumuskan kaum Adam ke jalan yang bengkok, lipgloss nya tidak untuk dipakai sendiri, melainkan dihadiahkan kepada wanita tersayangnya juga bisa kan?


"Bro..!" Seseorang menepuk pundak Raka dari belakang, membuat Raka dan Litha menoleh.


"Ngapain lo? Pacaran?" tebak Leon yang sedang jalan-jalan bersama Fika.


"Bagi-bagi lipgloss," jawab Litha malas.


Whahaha...


Suara tawa Fika dan Leon pecah seketika. Membuat mereka menjadi pusat perhatian.


"Bagi-bagi tuh sembako, kalian...? Bagi-bagi lipgloss?" jawab Leon disisa tawanya.


"Serius Tha?" Fika bertanya, Litha hanya mengangguk malas.


"Nih lipgloss buat lo," Litha menyodorkan lipgloss kepada Fika, setelah sebelumnya merogoh tas selempangnya untuk mengambil benda yang memang disiapkan untuk sahabatnya.


"Kok bisa? Kalian aneh-aneh aja, gimana ceritanya kalian ada rencana bagi-bagi lipgloss?" tanya Fika disela-sela tawanya, seraya menerima pemberian Litha.


"Gak sengaja," jawab Litha.


"Niat awalnya mau ke hotel, tapi gak jadi karena ada insiden," sela Raka dengan santainya, tetapi sukses membuat Leon dan Fika terkejut.


Mereka berdua sudah berpikir yang tidak-tidak, otak mereka sudah berfantasi liar, membayangkan hal yang kotor. Hanya menyebut kata hotel saja pikiran mereka sudah kemana-mana, oh astaga pasangan yang cocok.


"Parah lu mainnya ke hotel. Gue aja yang mantan playboy gak pernah bawa satu pun cewek ke hotel," ujar Leon dengan menepuk dadanya bagai membanggakan diri.


Pletak...


Fika menyentil dahi Leon, membuat yang disentil meringis.


"Maap yang," ucap Leon dengan menunjukkan dua jarinya.


"Jadi insiden itu yang buat kalian jadi bagi-bagi lipgloss?" tanya Leon yang otaknya emang encer.


Litha melirik tajam ke arah Raka, Litha tidak ingin menjawabnya, biar Raka saja yang jawab.

__ADS_1


"Iya," jawab Raka seperlunya.


Bola mata Leon melirik ke atas bagai memikirkan sesuatu. Benar saja, tiba-tiba Leon tersenyum jahil kepada Raka dan Litha. Raka tidak berekspresi sama sekali. Berbeda dengan Litha yang sudah mulai gelagapan, rasanya dia membutuhkan oksigen sebanyak mungkin. Entah kenapa saat Leon tersenyum, Litha mendadak sulit bernafas.


"Pergi yuk Kak, keburu malem. Lipgloss nya masih banyak nih," Litha menarik lengan berotot Raka. Namun tak ada pergerakan sedikit pun dari pemuda dingin itu. Tenaga Litha tidak sebanding dengan pertahanan Raka yang kuat.


"Kenapa buru-buru?" heran Raka.


Litha masih mencoba menarik lengan Raka. "Keburu malem Kak," Litha beralasan karena sudah menebak pemikiran Leon si kampr*t.


Fika malah terlihat bingung menatap mereka bertiga bergantian. Sungguh Fika pusing memikirkannya. "Ada apa si?"


"Raka sama Litha udah ciuman yang," Leon masih tersenyum jahil.


Litha menghentikan aksi tarik menarik yang ia lakukan di lengan Raka. Leon handal sekali dalam hal menebak, seperti dukun saja. Atau karena Leon sudah berpengalaman? Oleh karena itu dia mengetahui sebab-akibat nya.


"Ha... Serius?" tanya Fika.


Litha dan Raka masih diam. Baiklah Fika sudah mendapatkan jawaban dari diamnya mereka berdua.


"Oke gue udah tau tanpa kalian jawab," sahut Fika.


"Jangan-jangan kalian bagi-bagi lipgloss ini atas dasar perayaan ciuman pertama kalian?" tebak Leon berasumsi sendiri.


"Iya," jawab Raka santai.


"Kak Raka..." rengek Litha membuat Raka menatapnya, lalu Litha memonyongkan bibirnya.


"Kenapa bibirnya? Minta cium lagi?" tanya Raka tanpa berpikir bahwa disini ada Leon dan Fika yang pasti akan membuat Litha malu.


Litha menatap Leon dan Fika yang sedang tersenyum jahil. Kini tatapan Litha beralih ke samping, "Kak," Litha menatap tajam Raka.


"Tapi kalian beneran mau ke hotel malem-malem gini?" tanya Fika dengan mata memincing.


"Iya," jawab Raka lagi-lagi santai.


Litha menunjukkan cengirannya saat mendapati Fika yang menegang, "Bercanda," sahut Litha.


"Serius," sela Raka.


"Nikah dulu baru boleh ke hotel," ucap Leon sembari merangkul pundak Fika.


"Ke hotel masuk kamar, bukan hanya untuk bercinta," tutur Raka.


"Terus ngapain?" tanya Leon dan Fika kompak.


"Bikin anak," jawab Raka sambari melangkah dan menarik tangan Litha dengan santainya.


Bercinta? Bikin anak? Itu sih 11 12.


"Emang brengsek lo, hhh..." maki Leon dengan volume tinggi, dikuti dengan suara tawa pecah. Membuat Leon dan Fika menjadi pusat perhatian lagi.


"Sayang..." panggil Fika dengan menatap tajam kekasihnya.


"Iya sayang," Leon tersenyum tampan.

__ADS_1


__ADS_2