
Sekarang Litha sudah mulai tenang setelah sebelumnya dia ada niatan untuk memberi Raka bogem mentah. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu lebar Raka. Pemuda tersebut tersenyum seraya mengusap lembut rambut Litha yang terkena angin sepoi-sepoi.
"Bagus ya langitnya?" Litha melihat langit jingga yang begitu indah jika dilihat dari atas.
"Bagusan dilihat dari pantai atau dari rooftop kayak gini?" Tanya Raka.
"Menurut Kak Raka?" Litha menengadahkan kepalanya melihat wajah tampan yang selalu ia rindukan, meskipun hampir setiap hari sudah melihat keindahan wajah itu.
Raka tertawa kecil. Itu kan pertanyaan untuk Litha, kok doi malah nanya balik. "Kok nanya aku?" Raka menundukkan kepalanya lalu mencubit gemas hidung Litha.
"Ish... Kak Raka!" Litha mengusap hidungnya, lalu menyandar lagi dipundak Raka.
"Menurut aku dari manapun tempat kita melihat senja, itu bukan poin utamanya. Yang membuat indah matahari senja itu saat dengan siapa kita melihatnya," Raka menyenderkan kepalanya diatas kepala Litha yang diam-diam tersenyum mendengar kalimat itu.
"Kak Raka gombal yaaa?" Sahut Litha dengan pipi merona.
Raka hanya tersenyum saja. Dia tidak mengerti apa definisi gombal menurut para wanita. Yang Raka tahu mereka saat ini sedang menghabiskan waktu berdua melepaskan rindu karena semenjak Litha koas mereka jarang ada waktu berdua.
Litha meraih tangan Raka dan memainkan jari-jari besar tersebut, tak lama kemudian Litha menghitung jumlah jari ditangan itu.
"Satu," Litha memisahkan jempol Raka. "Dua," lanjut hitung jari telunjuk. "Tiga," begitu seterusnya sampai jari kelingking yang kelima. Lalu kembali menghitung dari awal di jempol.
Raka terkekeh geli dengan tingkah absurd kekasihnya. "Mau kamu hitung berulang-ulang sampai 100 kali pun, jumlahnya gak akan berubah Tha," Raka mencium kepala Litha.
"Tha, aku boleh nanya sesuatu nggak?" Tanya Raka, Litha hanya berdeham mengiyakan.
"Kenapa kamu pilih jadi Dokter? Dulu waktu aku tanya di bus pas perjalanan pulang dari liburan, kamu jawabnya masih bingung?" Ungkap Raka yang begitu penasaran sejak Litha yang tiba-tiba memutuskan untuk masuk kampus fakultas ilmu kedokteran.
Litha menengadahkan kepalanya kembali. "Emmm karena kamu,"
Raka yang menunduk mengernyitkan keningnya. "Perasaan aku gak pernah nyuruh kamu masuk FK,"
Litha mengiyakan hal tersebut dengan santai, dia sekarang malah sibuk bermain jari-jari besarnya Raka lagi. "Kamu emang gak pernah suruh kok. Tapi aku masuk kedokteran emang karena kamu,"
Raka tersenyum, ia mengarahkan dagu Litha agar gadis itu menatapnya dan berhenti dengan aktivitas konyolnya. "Aku tebak," ucap Raka yang sebenarnya belum selesai dengan kalimatnya.
"Apa?" Sahut Litha cepat.
"Pasti karena kamu gak bisa jauh-jauh dari aku yang ganteng ini, kamu pingin nantinya kita akan kerja di satu rumah sakit yang sama," ujar Raka dengan percaya dirinya. Raka tersenyum jahil dengan kedua alisnya naik turun. Jika ada yang bilang Raka rada narsis, emang iya!
__ADS_1
"Salah!" Litha menjulurkan lidahnya dengan tawanya.
"Terus apa alasannya?" Tanya Raka.
"Supaya kita bisa jadi BCD, Best Couple Doctor," senyuman Litha terlihat menatap Raka yang juga tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kalau kamu sendiri, apa alasan kamu ngambil prodi ilmu kedokteran?" Litha menatap Raka yang tersenyum penuh arti.
"Karena kamu," ucap Raka pelan tetapi meyakinkan hingga membuat Litha tersentak kaget dengan jawaban itu.
"Aa.. aku?" Litha menunjuk dirinya sendiri.
Sejenak Raka bernostalgia tentang kesedihannya dulu. "Kamu ingat kan waktu kamu masuk rumah sakit karena ulah Fani, sampai kita harus ke Korea untuk operasi luka di wajah kamu,"
Litha menganggukkan kepalanya, tentu saja kejadian itu tidak akan pernah terlupakan olehnya.
"Waktu itu aku cuma bisa nangis dan terpuruk menyesal karena gagal melindungi kamu. Aku gak tahu gimana keadaan kamu yang sebenarnya, aku gak tahu cara menyembuhkan kamu," Raka tersenyum mengusap sisi wajah Litha yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Saat itu aku benar-benar merasa gak berguna untuk kamu Tha. Sangat menyebalkan bukan?" Tanya Raka. Dan Litha segera menggelengkan kepalanya dengan memegang tangan Raka yang berada disisi kiri wajahnya.
"Karena kejadian itu, aku bukan cuma hanya ingin melindungi dan menjaga kamu, tapi aku juga mau ngelakuin sesuatu yang berguna saat kamu terluka .... bukan cuma nangis kayak orang bodoh. Aku gak mau kejadian itu terulang lagi..!" Ungkap Raka tersenyum hangat.
Sampai senyuman itu memudar kala menyadari ada cairan bening yang berjatuhan dari mata Litha. "Hei... Jangan nangis," Raka menyeka air mata Litha.
Gadis itu hanya tidak menyangka dibalik gelar tinggi yang diraih oleh Raka untuk mendapat ilmu dan profesi Dokter yang hebat ternyata memiliki sebuah alasan yang membuat Litha terharu.
Litha merasa menjadi wanita yang begitu beruntung karena mendapat sosok laki-laki yang sangat mencintainya melebihi rasa cinta untuk dirinya sendiri.
Raka mengorbankan waktu, pikiran dan tenaganya hanya demi ingin menjadi Dokter dalam waktu singkat. Agar ia bisa menjaga, melindungi sekaligus mengobati gadis yang dicintainya jika sewaktu-waktu hal yang tidak diinginkan menimpa gadis itu.
Raka menghelai nafasnya, jika sudah menangis begini pasti susah bujuknya. Raka mendekap tubuh mungil tersebut.
"I love you Kak," Litha menangis dalam pelukan Raka yang menghangatkan tubuhnya.
Raka mengusap bahu Litha. "Hm," hanya itu balasan Raka.
Litha mengeratkan pelukannya, tak apa jika Raka tidak membalas ungkapan cintanya. Memang sejak dahulu kala beruang kutub kesayangannya itu tidak pernah mengungkapkan perasaan kasih sayang cinta untuk dirinya, dan Litha sudah terbiasa dengan hal macam ini.
Setelah cukup lama dan dirasa Litha sudah mulai tenang tidak menangis lagi, Raka mengurai pelukannya.
__ADS_1
"BCD, Best Couple Doctor?" Ucap Raka setelah otaknya mencerna kalimat itu. Litha hanya diam menatap Raka.
"Berarti kalau suatu saat nanti kita gak kerja di rumah sakit yang sama, kamu gak masalah?" Raka tersenyum simpul melihat Litha yang nampak berpikir sejenak.
"Itu nggak akan terjadi. Orang kamu yang punya rumah sakit ini. Kalau nantinya kamu nolak lamaran kerja aku di sini, aku aduin ke Mama Kania," ujar Litha setelah berpikir cukup lama.
Raka tertawa. "Dasar tukang ngadu!"
"Dasar es balok!" Balas Litha.
Litha mengalihkan pandangannya dari Raka. "Kalau seandainya Mama Kania tahu keributan antara aku dan Dokter Frida gimana yah? Padahal kamu juga ada disana, tapi aku bisa kena tampar sama Dokter ganjen itu?" Dengan senyum jahilnya, Litha melirik Raka yang mimik wajahnya seketika langsung tegang.
Raka yakin kalau kejadian tadi sampai terdengar ketelinga Mama Kania, keselamatan Raka akan terancam. Raka ingat betul bagaimana Mamanya yang lebih mengutamakan Litha dalam segala hal dari pada anak kandungnya sendiri.
"Jangan dong Tatha sayang!" Raka tersenyum lebar mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
Whahaha... Litha tertawa terbahak-bahak tidak kuasa dengan ekspresi Raka yang amat langka ia tunjukkan. Akh... Litha akui Raka emang imut kalau lagi pose begitu hehehe.
Karena ini momen langka, Litha langsung memotret Raka yang menghembuskan nafasnya pasrah jika foto tersebut akan tersebar sampai ke The Perfect.
"Hahaha... Cute banget Kak," Litha memandangi layar ponselnya.
"Jangan ketawa Tha!" Muka Raka memelas memohon yang bukannya diam, malah membuat gadis itu semakin tertawa keras.
"Nanti aku beliin mie ayam deh," Raka kembali tersenyum lebar mengingat Litha yang suka dengan makanan bentuk panjang tersebut.
"Dih nyogok? Mana nyogoknya harga murah lagi," cibir Litha.
Raka nampak berpikir sejenak sampai kemudian berkata, "Aku kirimin sarapan sandwich ke rumah kamu setiap hari mau?" Bujuk Raka kembali dengan mode sok imutnya. Raka sudah tahu sejak lama sarapan favorit Litha yaitu sandwich.
Litha menyipitkan matanya, "Yakin setiap hari? Berarti seumur hidup dong?"
"Emmm... Satu bulan aja deng," Raka nyengir kuda. "Kalau nanti kita nikah terus tinggal serumah, gak mungkin dong kalau aku ngirim sandwich ke rumah ku sendiri?" Sambungnya berasalan.
Muka Raka langsung berubah datar saat mengingat sesuatu.
Tentunya Litha dibuat heran oleh muka datar itu. "Kenapa Kak?"
Litha menyembunyikan ponselnya disaku celananya, takut aja gitu kalo tiba-tiba Raka banting handphonenya karena gak terima tentang foto tadi.
__ADS_1
***
Author gak nyangka kalau novel ini akan sampai 200 bab. Terimakasih untuk yang sudah mendukung ❤️