Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Kesukaan Fika


__ADS_3

"Asyikkkk... Akhirnya bisa happy-happy, kita mau vacation kemana?" Fika yang paling antusias diantara yang lainnya.


Saat ini mereka telah berkumpul bersama di area kolam renang di hotel penginapan yang sengaja disewa hanya untuk mereka. Litha sudah beristirahat satu jam dikamar hotel setelah kepulangannya dari rumah sakit.


Litha melihat ke arah Raka, "Kita mau kemana Kak?"


"Belom tau," jawabnya membuat senyuman Fika pudar.


"Kenapa gitu?" Heran Litha karena setahunya Oma sudah menyiapkan liburan mereka sejak awal mereka menginjakkan kaki di Korea.


"Oma belom ngasi tau," Raka melihat The Perfect yang berenang, sepertinya sangatlah menyegarkan tubuh.


Litha hendak bicara lagi, mulutnya sudah terbuka, namun... "Aku berenang dulu yah..." Belum juga Litha menjawab, Raka udah nyebur ke kolam tanpa membuka kaosnya.


Para gadis hanya duduk santai di tepi kolam renang melihat para cogan-cogan yang memamerkan roti sobek mereka, terkecuali Raka yang memilih basah kuyup dengan kaos hitamnya.


"Apa liburannya besok ya?" Tanya Fika pada dirinya sendiri karena tidak ada yang tahu kapan Oma akan mengirimkan paket liburan mereka.


"Kita udah seminggu loh di Korea, tapi tujuan kita cuma ke rumah sakit atau nggak ke restoran hanya sekedar untuk makan," raut wajah sedih terlihat pada Fika.


"Ini juga udah liburan Fika," Sekar melihat Fika yang awalnya sangat bersemangat kini telah berubah lesu.


Dia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak membawa ATM dan tidak membawa sepeser uang pun, pikirnya semua kebutuhan akan dipenuhi oleh Oma termasuk liburan mereka. Litha sudah kembali sembuh namun liburannya masih samar-samar tidak jelas.


"Udah jauh-jauh ke Korea sayang kalau gak bisa ketemu suami idola gue," racau Fika merujuk kepada aktor drakor dan boyband Korea. Mengingat Fika yang sangat menyukai film drakor, dia berharap Oma membelikan tiket launching film drakor yang akan dilaksanakan lusa atau tiket konser, Fika juga udah seneng banget.


"Jangan halu deh Fik. Kalo lo ketemu suami halu lo juga mereka gak akan anggep lo ada, jangankan nganggep lo, kenal aja enggak," sahut Sarah yang risih dengan ocehan Fika.


"Mending lihat yang pasti-pasti aja, dan mereka akan anggep kita ada gak kayak suami halu lo," tambah Sarah membuat Fika cemberut.

__ADS_1


Sarah memandang kagum kepada para cogan-cogan yang sibuk dengan ritual renang mereka. "Hadehh... Mata dan pikiran gue jadi seger dan adem. Enak banget lo Tha tiap hari bisa lihat roti sobek punya Umran," ujar Sarah entah sadar atau tidak?


Litha dan Sekar saling pandang terkejut dengan ucapan Sarah yang matanya terlihat sekali jika sangat mengagumi pemandangan indah yang disuguhkan para pemuda itu. Sedangkan Fika tidak memperdulikannya, dia masih larut dalam kesedihannya memikirkan suami-suami khayalannya.


Pletak...


Litha dan Sekar kompak menyentil kepala Sarah membuat lamunan gadis bar-bar tersebut seketika buyar.


"Aw..." Pekik Sarah mengusap kedua sisi kepalanya yang diserang dadakan.


"Apa sih? Pada ganggu aja!" Sarah tidak terima karena merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Gue gak rela abang satu-satunya kesayangan gue, lo jadiin bahan fantasi liar dalam otak rusuh lo!" Tegas Litha.


Sarah gelagapan mendapat tatapan mengerikan dari dua gadis yang biasanya bersikap manis bak putri dongeng.


"Itu anu apa? Lo mau gue aduin ke bang Umran?" Litha berkacak pinggang.


"Aduin aja Tha ke Umran, sekalian biar dapet ceramah, supaya otaknya gak konslet lagi," Sekar berada di pihak Litha.


"Hehe... Kalian berdua jangan sadis gitu dong. Kita kan bestie..." Sarah tersenyum lebar sambil matanya berkelip-kelip.


"Asli! Tadi gue tu belum ngebayangin sampai yang kotor-kotor. Soalnya kalian udah nyamber duluan sih jadi khayalan gue baru sampai Umran buka baju doang. Cius gak lebih dari itu," Sarah mengangkat dua jarinya berbentuk V, meyakinkan dua gadis cantik dihadapannya.


"Tapi kalo kita gak sentil kepala lo pasti pikiran lo udah aneh-aneh kan?" Tuduh Sekar.


Sarah cepat menggelengkan kepalanya, "Orang Umran tadi buka baju buat mandi doang. Tapi mandinya nanti gue cepetin, terus dia keluar kamar mandi gak pakai sehelai benang pun," mata Sarah berbinar menatap langit biru yang cerah, tapi pikirannya melanjutkan khayalannya yang tidak ada manfaat positifnya sama sekali.


"Sarah...!!!" Suara teriakan terdengar keras membuat The Perfect menoleh ke sumber suara. Fika terlihat cuek-cuek saja, dia masih sedih wkwk...

__ADS_1


"Ada apa?" Heran Umran masih berendam di air dingin tersebut.


"Sarah tuh pikirannya kotor. Gara-gara lo sih pake buka baju segala," jawab Litha ngegas.


Umran mengerutkan keningnya, dia masih kurang paham. Apa hubungannya Sarah yang punya pikiran kotor dengan dirinya yang melepaskan bajunya?


"Wahhh.... Sarah harus collab tuh sama gue," celetuk Leon disambut lemparan sandal dari Fika.


***


Sore harinya semua anak muda berkumpul di salah satu ruangan khusus di hotel penginapan mereka. Mereka mengernyitkan keningnya terheran-heran melihat sebuah kertas anti basah yang tergeletak di atas meja panjang, yang tidak lain adalah tiket konser artis terkenal di Korea Selatan yang akan mengadakan konsernya malam ini.


Namun beda cerita dengan Fika yang tersenyum-senyum sendiri. Dia langsung mengambil satu tiket tersebut dan memeluknya erat layaknya sebuah benda berharga yang tidak boleh terlepas dari genggamannya.


Semua pasang mata menatap ke arah Fika, membuat gadis pencinta drakor dan KPop tersebut menjadi pusat perhatian.


"Kenapa?" Sungut Fika melihat mata mereka menyipit semua.


"Kalian nuduh gue? yaaa kali gue bilang ke Oma kalau gue suka artis Korea," mood Fika langsung hancur.


"Ini bukan kesalahan Fika, kalian tahu sendiri gimana sifat Oma," Raka menatap satu persatu kawannya yang mengangguk mengerti.


"Ya udah kuy gas aja lah, yang gak mau ikut biar di hotel aja," ucap Leon membuat Fika kembali tersenyum.


"No! Kita semua ikut pergi ke sana. Sekali-kali meluangkan waktu untuk hal gak penting lihat artis Korea no problem," ujar Arkan.


Jordy mengambil satu tiket konser tersebut. "Yoi, ini juga belinya pake duit bukan daun. Sekalian biar Danil ada referensi untuk job nya kedepan," Jordy merangkul pundak Danil.


"Asik... Kalau perginya rame-rame jadi tambah seru," senyuman lebar terukir di wajah Fika hingga kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit.

__ADS_1


__ADS_2