
Litha menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Matanya melihat gedung rumah sakit yang begitu besar dan menjulang tinggi.
Matanya terpejam merasakan hembusan angin pagi, suara berisik orang-orang yang berlalu lalang tidak mengganggunya sama sekali. Pikirannya melayang mengingat hari pertama ia masuk kuliah, perasaan berdebar yang sama seperti hari ini, dimana hari pertama ia melakukan koas setelah menyelesaikan kuliahnya.
Empat tahun berlalu begitu cepat ia habiskan bersama Raka setelah kepulangan Raka dari Inggris. Selama tiga setengah tahun Litha belajar di Universitas Negara, akhirnya sekarang dia bisa melakukan koas tahun ini.
"Litha..." Panggil seseorang yang berada di depan rumah sakit bersama gerombolan anak Koas yang lain.
Litha membuka matanya, tangannya melambai kepada Nara, satu-satunya orang yang Litha kenali diantara banyaknya orang dalam gerombolan tersebut.
Litha mengenal Nara saat mereka meminta tanda tangan kepada kepala rumah sakit untuk izin melaksanakan koas. Sebenarnya Litha bisa langsung minta tangan secara pribadi, tapi biar lebih afdol langsung ke rumah sakitnya saja supaya seperti calon peserta koas yang lainnya.
Diantara banyaknya mahasiswa di Universitas Negara, hanya Litha saja yang koas di rumah sakit Utama. Mereka sengaja memilih koas di rumah sakit kecil, karena pekerjaannya pasti tidak seberat di rumah sakit besar seperti ini. Hanya otak-otak pandai dan niat serius untuk menjadi seorang Dokter yang berani mengajukan koas di rumah sakit Utama.
Dan karena itu Litha berniat menyembunyikan identitasnya dari peserta koas yang lain. Ia tidak ingin kejadian tahun-tahun yang lalu terulang kembali saat Litha masih menjadi mahasiswi, banyak orang yang ingin menjadi temannya hanya karena Litha berasal dari keluarga terpandang.
Sedangkan ditempat lain, Raka sudah siap dengan jas putihnya. Raka berjalan menyusuri koridor, para suster yang melihatnya ingin sekali memeluk Dokter kesayangan mereka.
Setelah Raka bergabung ikut tampil di acara televisi bersama The Perfect, para suster yang bekerja disana semakin mengidolakan atasannya itu. Tapi apa boleh buat, mereka hanya diizinkan mendekat bila memang ada kepentingan pekerjaan. Jika selain itu, maka siap-siap saja mereka akan kehilangan pekerjaannya.
"Bro..."
Raka menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya ketika seseorang dengan beraninya menepuk pundaknya. Sebelum melihat bentukannya Raka sudah menebak siapa orangnya, karena hanya satu orang saja yang berani SKSD dengannya, alias Sok Kenal Sok Dekat.
"Wuidihhh... Wangi banget lo hari ini, jangan bilang lo habis ketumpahan menyan dari kuburan," ujar Dokter Ken.
Dia adalah Dokter muda yang baru saja dipindahkan ke rumah sakit Utama dua bulan yang lalu. Sifat tengilnya sangat mirip seperti Leon dan Nick, jadi tidak heran jika ia mudah akrab dengan Raka.
Ralat, sebenarnya tidak begitu akrab. Emang dasarnya Ken aja yang banyak bacot plus dia seorang Dokter bedah umum, sehingga dia sering berinteraksi dengan Raka saat melakukan beberapa kasus operasi.
"Anggep aja hari ini gue lagi bahagia," ucap Raka seperti biasa datar.
"Oh iya, boleh kali kenalin apoteker baru itu ke gue," Ken menaik turunkan alisnya. Kemarin dia tidak sengaja melihat Raka sedang mengobrol bersama apoteker cantik tersebut.
"Maksud lo Fika?" Tanya Raka memastikan.
Fika sudah semingguan ini bekerja di rumah sakit Utama, dan dia begitu menyukai pekerjaannya yang tidak terlalu berat, hanya mengurus obat-obatan saja.
__ADS_1
Ken mengangguk antusias, walaupun usianya dua tahun lebih tua dibanding Raka, Ken belum memiliki kekasih.
"Dia udah punya pacar," sahut Raka.
"Maksud lo salah satu dari The Perfect?" Tanya Ken menduga sendiri. The Perfect bagaikan artis papan atas, banyak orang yang mengenalnya sebagai segerombolan anak sultan yang beruntung karena tidak hanya kaya, mereka juga tampan dan cerdas.
Raka mengangguk dan semakin membuat Ken penasaran, karena sampai saat ini The Perfect masih menutupi identitas pasangannya masing-masing.
"Siapa? Gak mungkin elo kan?" Senyuman Ken terlihat menggoda Raka.
Raka mengalihkan pandangannya ke arah lain, tiba-tiba ia teringat Litha yang pasti sudah bersiap-siap bersama peserta koas yang lain.
"Cieee salting nih yeee...!" Ken menoel dagu Raka membuat empunya mendadak jijik.
"Kepo amat! Udah sono siap-siap apel pagi!" Ketus Raka.
"Santui... Orang yang mau mimpin aja masih ngobrol disini," Ken tersenyum lebar hingga matanya sampai sipit.
"Nggak ada akhlak lo ya!" Raka langsung melangkah pergi meninggalkan Dokter kurang biadab itu.
Langkah Raka berhenti mencari gadis mungilnya diantara puluhan orang yang berkumpul di lobby rumah sakit. Peserta koas kali ini seingat Raka kurang lebih 120 orang.
Raka menatap sinis orang dibelakangnya, ternyata dia punya pengikut setia sejak tadi.
"Mereka gak suka sama Dokter gadungan kayak lo," balas Raka yang matanya masih sibuk mencari keberadaan Litha yang pasti terlihat paling muda diantara yang lainnya. Dengan postur tubuh Litha yang tidak terlalu tinggi didukung pula oleh baby face nya membuatnya terlihat seperti anak SMP.
"Dih? Bilang aja lo iri karena gak bisa bebas lirik sana lirik sini kek gue, takut kan lo sama Fika?" Ucap Ken dengan senyum jahilnya.
"Lama-lama gue depak lo dari rumah sakit!" Raka melangkah pergi tidak ingin mendengar ocehan Ken yang sangat tidak penting.
"Huu... Sombong amat!" teriak Ken tanpa rasa malu ditatap oleh tenaga medis yang lain. Sudah menjadi rahasia umum jika hanya Dokter Ken yang bisa membuat Dokter Raka mengobrol tanpa kepentingan pekerjaan.
Sementara Litha nampak sibuk menemui kepala bagian terkait untuk menyerahkan data diri bersama tim kelompoknya yang sebelumnya sudah dibagi oleh perawat yang bertugas.
"Selamat pagi adik-adik semua. Selamat datang di rumah sakit Utama dan selamat belajar. Sudah mengerti peraturan tata tertibnya ya?" Suara sapaan tersebut memenuhi isi ruangan.
"Siap mengerti Dok," ucap semua adik-adik koas yang sudah berbaris rapi membentuk formasi setiap kelompok yang terdiri dari lima orang.
__ADS_1
"Perkenalan saya Dokter Aldi, saya yang akan bertanggung jawab dan memantau adik-adik disini," ucapnya dengan senyum ramah. Yap dia adalah Aldi mantan senior Litha, dia sudah menjadi Dokter umum disini sejak satu tahun yang lalu.
Setelah itu Dokter Aldi pamit dari hadapan anak koas, digantikan dengan beberapa Dokter yang bertugas membimbing peserta koas hari ini.
Dari kejauhan Ken yang tengah berdiri disamping Raka, menatap sinis Aldi yang melangkah dengan senyuman kecil karena mendapat sapaan dari beberapa adek-adek koas.
Di rumah sakit Utama hanya ada tiga dokter muda yang masih melajang, pertama siapa lagi kalau bukan Dokter Raka, lalu Dokter Aldi, dan terakhir Dokter Ken.
"Awas aja kalau gue diserobot duluan sama Dokter abal-abal itu," ucap Ken masih setia menatap setiap langkah Aldi yang kini bergabung dengan Dokter lainnya untuk bersiap-siap apel pagi.
Raka menatap heran orang disebelahnya ini. Entah mengapa sejak pertama kedatangannya di rumah sakit ini, Ken tidak terlalu suka dengan Aldi. Mungkin karena mereka tidak pernah saling berkomunikasi, sehingga Ken menganggap Aldi hanya ramah kepada orang lama.
Ken menoleh menatap Raka."Kenapa harus Aldi? Kenapa gak gue aja sih yang jadi ketua penanggung jawab anak-anak koas?" Sungut Ken tanpa rasa takut menuntut Raka yang memang memilih Aldi secara langsung sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program koas tahun ini.
"Karena Aldi gak kayak lu," balas Raka.
Usai mengikuti pengarahan, semua peserta koas dan seluruh departemen yang bertugas pagi ini akan mengikuti apel pagi di halaman rumah sakit.
Kali ini apel pagi dipimpin langsung oleh pemilik rumah sakit ini sekaligus kepala rumah sakit Utama. Dokter Raka menyampaikan beberapa pesan penting terkait dengan pelayanan yang harus diberikan kepada calon pasien, pasien rawat jalan, dan terutama pasien rawat inap yang harus diperhatikan kondisi kesehatannya.
"Sssttt... Tahu nggak, dengar-dengar yang lagi pidato didepan itu Direktur rumah sakit ini, kerennya lagi dia masih muda seumuran kayak kita tapi udah jadi Dokter bedah spesialis tumor kanker gituu..." Bisik seseorang yang satu kelompok dengan Litha dan Nara.
"Kok gue kayak pernah lihat Dokter Raka, tapi dimana yaa?" Nara ikut nimbrung dengan mereka.
Perempuan didepan Nara menyentil dahi Nara. "Lo lupa kalau Dokter Raka itu salah satu dari The Perfect, gerombolan anak sultan yang sering muncul di acara gosip," sahut perempuan itu.
"Ohhh... Yang ganteng-ganteng itu?" Ucap Nara dengan polosnya membuat Litha menepuk jidatnya sendiri, bisa-bisanya dia kenal dengan orang seperti Nara.
"Gue sempet mikir kayak gimana yah bentukannya cewek-cewek mereka yang selalu disebut cantik, tapi gak pernah di publikasiin ke media?" orang didepan Nara kembali menyahut.
Nara hanya menanggapi dengan mengangkat pundaknya, ia tidak terlalu tertarik dengan kehidupan perkumpulan anak-anak sultan seperti The Perfect.
Nara menoleh kepada Litha yang hanya menyimak cerita saja.
"Menurut lo secantik apa Tha?" Tanya Nara iseng-iseng saja karena ingin membuat Litha berbicara. Menurut Nara, Litha tidak pandai bersosialisasi dengan peserta koas yang lain.
Yaa Litha sih emang lagi males ngomong aja, Nara belom tau aja kalau faktanya Litha itu cerewet binti bawel.
__ADS_1
"Secantik gue," lidah Litha terjulur mengejek Nara yang langsung tersenyum kecut.
"Jangan halu Tha!"