Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Takdir


__ADS_3

Suara langkah kaki berlarian terdengar. Bunda Larissa sudah berlinang air mata sejak mendapat kabar buruk dari putranya.


"Bagaimana keadaan Tatha?" Ayah Kusuma merangkul mengusap bahu istrinya.


"Masih ditangani Dokter Yah," Umran menjawab lesu.


Mama Kania mendekat kepada Bunda Larissa yang duduk dengan lemas. "Maaf Larissa, ini semua karena masalah keluarga ku. Mungkin jika Litha tidak menolong Mama ku, Litha tidak akan terbaring di rumah sakit ini," Mama Kania meneteskan air matanya merasa bersalah.


Raka berlutut dihadapan Bunda Larissa, "Maaf Bun, Raka tidak bisa menjaga dan melindungi Litha. Silahkan marah dan pukul Raka Bun, jika itu mampu meredam sedikit emosi Bunda," kepala Raka tertunduk tidak berani menatap wajah kedua orang tua Litha.


Bunda Larissa tidak bisa berkata-kata, lidahnya terasa pahit, untuk membuat mulut saja terasa sangat sulit baginya. Yang ada di kepalanya hanya tentang putrinya, hati ibu mana yang tidak hancur saat mendapat kabar buruk bahwa putrinya tidak sadarkan diri dan mendapat luka-luka banyak di bagian wajahnya.


Sejenak suasana menjadi hening, semuanya larut dalam pikirannya masing-masing. Raka masih berlutut di depan Bunda Larissa yang masih berlinang air mata. Sedangkan Papa Baskara sedang menemani Oma Rahma di ruang rawat rumah sakit ini, beliau masih schok dan lemas.


Mama Kania juga merasakan apa yang dirasakan Bunda Larissa, beliau sudah sangat menyayangi Litha dan sudah menganggap Litha sebagai putrinya sendiri.


Mama Kania menarik kerah baju Raka dan langsung menamparnya dengan keras sampai Raka tersungkur. Tentu kejadian itu membuat Umran dan kedua orang tuanya terkejut.


"Kamu ada di tempat itu Raka, tapi kenapa kamu tidak bisa menjaga Litha?" Bentak Mama Kania meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan.


"Maaf Ma," lirih Raka merasa sangat bersalah.


"Maaf? Apa dengan kata maaf dapat merubah keadaan?"


"Apa kamu bisa mengembalikan kondisi tubuh dan wajah Litha seperti sedia kala detik ini juga hanya dengan kata maaf?"


"Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Litha, Mama tidak akan memaafkan kamu,"


"Sudahlah Kania, jangan menyalahkan Raka," ujar Ayah Kusuma.


Mama Kania menangis deras, "Tapi hati aku juga sakit Mas. Aku udah anggap Litha sebagai putri ku sendiri, aku sangat menyayanginya melebihi rasa sayang ku pada anak ku sendiri,"


"Aku yakin Raka juga sama terpukulnya seperti kamu dan Larissa. Jadi aku mohon jangan salahkan anak mu. Ini semua takdir yang Maha Kuasa," tutur Ayah Kusuma memahami berada di posisi Raka.


Umran merangkul Raka untuk berdiri. Ini semua bukan salah Raka, jika harus ada yang disalahkan maka salahkan Umran juga karena Umran juga berada ditempat kejadian.


Tak lama kemudian Dokter yang menangani Litha keluar. Semuanya langsung berdiri mendekat kepada sang Dokter.


Kerutan di wajah Dokter tersebut terlihat menatap Mama Kania. "Dokter Kania?"


"Iya Dok. Saya dekat dengan keluarga pasien," jawab Mama Kania mengerti keheranan dari Dokter laki-laki itu, mengapa dirinya berada ditengah-tengah keluarga pasien ini.


Dokter tersebut kemudian membalasnya dengan mengangguk.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Ayah Kusuma terlihat sangat khawatir melihat ekspresi yang Dokter tersebut tunjukkan.


"Pasien belum bisa dijenguk," Dokter menatap keluarga itu satu persatu.

__ADS_1


"Begini Pak, lebih baik kita bicara di ruangan saya saja," tambah sang Dokter.


Ayah Kusuma mengangguk, merangkul istrinya untuk mengikuti Dokter yang sudah lebih dulu berjalan. Baru beberapa langkah, mereka berdua berhenti menoleh ke belakang menatap Mama Kania yang memanggilnya ingin ikut bersama. Bunda Larissa mengangguk mempersilahkan Mama Kania melangkah bersamanya menuju ruangan sang Dokter.


"Gimana ceritanya Litha bisa kena pecahan beling dari Fani? Gak ada gunanya punya cowok dan kakak yang gak bisa ngejaga Litha. Terus kalian berdua ngapain di sana? Cuma nonton doang?" Baru juga datang, Sarah sudah memaki-maki tunangannya dan Raka.


Kedua pemuda tersebut hanya diam mendengar ocehan Sarah. Apa yang dikatakan Sarah tidak ada yang salah, semua kata-kata tajam yang dikeluarkannya benar adanya bahwa mereka tidak mampu melindungi Litha.


Mendengar kabar bahwa sahabatnya masuk rumah sakit, Sarah, Fika, dan Sekar, serta Nick juga The Perfect langsung menuju rumah sakit meskipun sudah larut malam.


"Sabar Sar," Fika dan Sekar mengusap bahu Sarah.


"Gimana gue nggak emosi? Di tempat kejadian ada dua cowok yang jago bela diri, tapi kenapa Litha bisa jadi korbannya? Lihat mereka!!!" Tangan Sarah terulur mengarah kepada Raka dan Umran yang duduk sambil menunduk.


"Mereka sama sekali nggak ada lecet sedikit pun di wajah ataupun tubuh. Sedangkan Litha malah terbaring di rumah sakit," Sarah masih tidak terima jika sahabatnya yang dari kecil tersebut masuk rumah sakit karena melawan wanita gila seperti Fani.


Danil yang sedari tadi hanya diam, kupingnya terasa panas mendengar ucapan Sarah.


"Stop Sar. Gue yakin Raka dan Umran cukup tertekan karena mereka gak bisa menyelamatkan Litha, ditambah lagi dengan kesedihan orang tua mereka. Jangan tambah membuat mereka tertekan dengan ocehan lo," ucap Danil dan dituruti oleh Sarah yang sudah sadar jika dirinya terlalu berlebihan memarahi Raka dan Umran.


"Gimana keadaan Litha?" Tanya Arkan.


"Belum tau. Litha belum bisa dijenguk. Nyokap bokap gue, sama nyokap nya Raka yang tahu jelasnya. Sekarang mereka masih di ruangan Dokter," tutur Umran.


"Dokternya gak mau jelasin di sini langsung?" Tanya Leon memperjelas. Umran membalasnya dengan anggukan.


"Kayaknya mulut lo pengen gue sumpel pake kaos kaki," Jordy menatap tajam Nick yang tersenyum lebar menunjukkan dua jarinya.


Semua pasang mata menatap Bunda Larissa dan Mama Kania yang berjalan berangkulan sambil menangis. Sedangkan Ayah Kusuma mengekor di belakang dua wanita tersebut.


"Kenapa Ma? Gimana kondisi Litha?" Raka menggenggam tangan Mamanya.


Bukannya menjawab Mama Kania malah menepis tangan putranya, Mama Kania mengajak Bunda Larissa untuk duduk.


"Ayah gimana kondisi Litha?" Tanya Raka.


"Kondisinya cukup baik karena tidak ada luka dalam, luka di bahunya hanya luka ringan dan memar saja. Kita hanya perlu menunggu dia siuman baru boleh dijenguk," jelas Ayah namun raut wajahnya masih terlihat sedih.


"Terus tentang wajah Litha gimana?" Tanya Umran yang membuat suara tangisan Bunda Larissa dan Mama Kania semakin besar.


"Lebam-lebam di wajah Litha akan pulih dengan sendirinya. Tapi goresannya cukup dalam sehingga..." ucap Ayah menggantung, beliau ragu untuk mengatakannya di depan semua teman putrinya.


"Kenapa Yah?" Mata Sarah berkaca-kaca tidak mampu menahan air matanya.


"Meskipun nanti lukanya akan sembuh tapi bekasnya akan tetap ada," ungkap Ayah dengan nada lemah.


Air mata langsung mengalir begitu saja di wajah para wanita. Wajah adalah salah satu hal yang penting bagi perempuan. Dimana wajah merupakan bagian dari anggota tubuh yang pertama kali untuk dilihat.

__ADS_1


Mama Kania menyuruh putranya mendekat kepadanya. "Maafkan sikap Mama tadi, Mama terlalu terbawa emosi,"


"Mama gak salah, itu wajar Ma. Raka yang seharusnya minta maaf sama Mama dan Bunda. Sekali lagi Raka minta maaf ya Bun," tutur Raka berlutut dihadapan dua wanita tersebut.


Bunda masih enggan mengeluarkan suaranya. Beliau hanya tersenyum tipis dengan mata membengkak yang masih mengeluarkan tetesan air mata. Bunda mengusap kepala Raka dan menghapus air mata Raka.


Mama Kania tersenyum bahagia melihat Bunda Larissa yang tidak marah sedikit pun kepada putra semata wayangnya. Bunda Larissa diam karena merasa sangat sedih dan terpukul, yaa hanya itu saja. Beliau tidak menaruh rasa marah atau pun kekecewaan kepada Umran dan Raka.


"Mama akan mengajak Bunda untuk istirahat di ruangan pribadi Mama. Kamu menjaga Litha di sini, jangan kemana-mana," ujar Mama Kania. Setelah mendapat anggukan dari putranya Mama merangkul Bunda dan melangkah pergi bersama.


"Ayah titip Tatha," kedua tangan Ayah menepuk bahu Raka dan Umran.


Ayah akan menemani sahabatnya Papa Baskara yang pasti juga sedih memikirkan nasib Mamanya dan Litha.


Dan dapat Ayah tebak jika sahabatnya itu pasti juga merasa bersalah kepada dirinya setelah apa yang terjadi kepada Litha.


Ayah akan menjelaskan jika Litha hanya butuh waktu untuk pemulihan dan keluarga Nagara juga tidak akan menyalahkan Oma Rahma atau pun anggota keluarga Adelard atas kejadian buruk yang menimpa putri bungsunya.


Nick gerah sendiri melihat semuanya masih termenung sedih, ditambah pula dengan tiga wanita yang berpelukan sambil menangis sesenggukan. Bahkan mereka membiarkan ingusnya keluar tanpa ada niatan membersihkan kotoran di bawah hidung mereka itu.


Nick jadi jijik melihatnya. Ya iya lah jijik, orang Nick ngelihatnya sambil ngebayangin tangannya terkena noda kental tersebut yang sifatnya agak cair-cair gimana gitu.


"Udah stop nangisnya! Ngapain sih masih nangis, tuh ingusnya keluar semua. Nanti kalo abis gimana? Buat nangis stok besok pake apa? Mau pinjem ingus gue?" Oceh Nick yang dihadiahi pukulan di lengan kekarnya dari Sarah. Bisa-bisanya bule satu ini malah mengajak bercanda disaat situasi sedih begini.


"Bisa diem nggak? Lo nggak ngerasain sih gimana jadi Litha. Nanti kalo Litha sadar dan tahu bekas lukanya gak bisa hilang pasti dia insecure," ucap Sarah diangguki Fika dan Sekar.


Nick memutar bola matanya malas. "Nanti kalo sembuh bisa kali di oplas," ucap Nick dengan santainya, seolah tidak merasakan sedih sama sekali.


"Iya juga ya," ucap mereka semua kompak, kecuali Raka dan Umran yang merasa sangat hancur. Kedua pemuda tersebut masih merasa kecewa dengan dirinya masing-masing karena tidak dapat melindungi gadis yang disayanginya.


Tapi detik berikutnya Sarah menggelengkan kepalanya, tidak menyukai sikap Nick yang sesantai itu dan menganggap enteng dengan keajaiban yang dialami oleh sahabatnya.


"Tapi tetep aja kalo mau oplas harus nunggu sembuh total dulu, dan itu butuh waktu!" Tegas Sarah.


"Udah-udah jangan lanjut debat, panas nih kuping gue dengernya," ucap Arkan menatap tajam Nick yang mulutnya sudah mangap lalu mingkem lagi.


"Lagian lo ngapain sih ikut ke sini kalo ada rasa sedih-sedihnya sama sekali," Leon menatap kesal Nick.


"Gabut," dengan santainya Nick berkata jujur.


Tatapan tajam dari mereka semua, termasuk dari Raka dan Umran mengarah kepada Nick.


Nick nyengir kuda sambil mengangkat tangannya dengan jari membentuk huruf V. "Bercanda,"


Semuanya kembali dalam pikirannya masing-masing dan entah menatap apa, yang pasti mereka malas melihat bule setengah waras itu.


"Tapi bo'ong," ucap Nick langsung mendapat lemparan sepatu dari Leon dan Jordy secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2