
"Sarah mana Ma?" Tanya Umran kepada Mama Sarah yang baru saja duduk disampingnya.
"Sebentar lagi juga kesini, tinggal nunggu dipanggil sama pengantar acaranya," Mama Sarah tersenyum manis.
Inilah saat yang ditunggu semua orang, musik sudah diperdengarkan untuk mengiringi langkah sang putri menuju ke depan, dimana sang pangeran telah menantinya. Mon maap agak lebay wkwk...
Sarah berjalan diatas karpet merah didampingi oleh Litha, Fika dan Sekar. Mereka bak putri dari khayangan yang turun ke bumi.
Sarah terlihat berbeda dari biasanya, pembawaan langkah kakinya terlihat lebih anggun dari biasanya. Ya iyalah kan Sarah udah dapet ceramah langsung dari Mamanya dan Fika, oleh karena itu sekeras mungkin dia berlatih agar terlihat anggun bak putri kerajaan.
Dari kejauhan nampak Raka yang juga terpana melihat Litha yang tersenyum ke arahnya. Gaun yang diberikan rupanya sangat cocok membalut tubuh kecil gadis itu.
Dress warna putih selutut dengan lengan pendek dan kedua bahunya yang terekspos, liontin yang ia gunakan menambah kecantikannya hari ini. Jangan lupakan rambut yang tersanggul acak dengan membiarkan beberapa helai rambut menjuntai, sungguh menambah pesonanya disiang ini.
"Raka ngelihatin elo terus tuh sampe gak kedip," Sekar menahan tawa, pasalnya ia tak pernah melihat Raka yang seperti orang bodoh tersebut.
Litha tersenyum melirik Sekar sekilas. Mata Litha mencari keberadaan Arkan untuk menggoda Sekar balik, tapi si curut ganteng itu tak menampakkan batang hidungnya. Bahkan diantara gerombolan The Perfect, hanya Arkan saja yang tidak terlihat.
Fika? Jangan ditanya, dia bagaikan tidak memperdulikan tatapan Leon yang terus mengawasinya dengan tatapan tajam. Cantik sih, tapi Leon tau kalau Fika sengaja lagi tebar pesona dihadapan semua orang.
Acara berlangsung dengan lancar. Fika masih kesal dengan Leon karena Leon lupa mengabarinya jika Leon akan datang bersama temannya, so Fika jadi terlambat menemani Sarah di makeover.
"Kamu ngapain tadi sok tebar pesona gitu?" Tanya Leon.
"Biar ada yang suka," jawab Fika acuh.
"Kamu mau cari pacar lagi?" Suara Leon agak meninggi.
"Aku gak bilang gitu," Fika mengambil air, meminumnya sampai habis.
Raka dan Litha saling pandang setelah menyimak pertengkaran sepasang kekasih tersebut.
"Hahaha..." Litha tertawa puas, sedangkan Raka tersenyum tampan memandang wajah cantik kekasihnya.
"Ekhm... Kenapa lihatin aku gitu banget?" Litha berhenti tertawa ketika menyadari tatapan mata didepannya.
"Kenapa? Gak boleh?" Tanya Raka.
Litha terlihat berpikir sebentar, "Boleh, tapi harus bayar. Soalnya MUA nya mahal,"
__ADS_1
Raka mengeluarkan sebuah kartu dari dalam jasnya. Sebelum diberikan, Litha sudah menahan tangan Raka.
"Aku cuma terima uang cash," sahutnya.
Raka tersenyum sambil mengangguk. Dia memasukkan kartu kredit nya lagi ke dalam jas, kemudian mengambil dompet kulit warna hitam dari jasnya lagi, membuka dompet dan mengeluarkan beberapa uang lembaran.
"Apaan nih?" Tanya Litha saat Raka menyodorkan beberapa uang lembar berwarna abu-abu dan cokelat.
"Uang," jawabnya.
"Iya tau," Litha memutar bola matanya malas.
"Terus?" Raka mengangkat sebelah alisnya.
Litha menghembuskan nafasnya, pemuda seperti Raka tidak punya uang berwarna merah dan biru? "Masak aku dikasih recehan?"
"Emang adanya ini, mau diapain lagi?" Raka memperlihatkan isi dompetnya yang hanya tersisa beberapa kertas tidak berguna dan beberapa kartu kredit juga kartu ATM.
"Mau gak nih? Kalo enggak aku masukin lagi," Raka hendak memasukkan uangnya kembali ke dalam dompet mahalnya.
"Pelit," Litha merampas uang yang ada ditangan Raka.
"Dua, empat, enam, delapan, empat puluh," Yap, uang dua ribuan ada lima dan uang lima ribuan ada enam.
"Cuma empat puluh ribu doang?" Litha mengangkat kepalanya dan mendapati Raka mengangguk.
"Pacar aku miskin banget sih," Litha memegang dagu Raka dengan gemas. Kemudian tertawa merasa lucu, ia pikir dengan memalak semua uang dalam dompet Raka, ia akan menjadi kaya raya.
Pandangan Litha tidak sengaja menangkap sosok Sekar yang sedang asik bersama Sarah dan Umran, "Oh ya dari tadi aku gak lihat Kak Arkan, dia kemana?"
"Jangan panggil dia Kak," jawab Raka dingin.
"Dia itu lebih tua dari aku, jadi wajar dong kalo aku panggil dia Kak," kekeh Litha.
Raka hanya diam, membuat Litha menghembuskan nafas panjangnya.
"Udah miskin, posesif pula," sindirnya. Tapi Raka masih diam.
"Iya-iya aku gak akan panggil temen-temen kamu pake embel-embel Kak," akhirnya Litha mengalah.
__ADS_1
"Aku suruh dia ngecek sesuatu, nanti balik ke sini lagi," jawab Raka.
"Kenapa harus Arkan? Tuh lihat... Kasihan Sekar sendirian," Litha menunjuk ke arah Sekar menggunakan dagunya.
Raka menoleh, "Dia sama Umran... Sama Sarah juga,"
"Maksud aku gak ada pasangannya," ucap Litha.
Disaat itu pula Jordy dan Danil sedang berjalan melewati Raka dan Litha, otomatis mereka mendengar ucapan Litha.
Jordy dan Danil melangkah mundur tiga langkah kebelakang. "Kalian nyindir kita?"
Raka dan Litha saling pandang, Litha menepuk jidatnya sendiri. Raka tersenyum miring, dua sahabatnya ini sensitif sekali.
Tidak lama kemudian Arkan datang dengan nafas ngos-ngosan, dia menepuk pundak Raka dan membisikkan sesuatu. Jordy dan Danil ikut mendekat mendengar bisikan tersebut. Litha tentu saja juga penasaran, tapi tidak mungkin dia ikut mendekat, tau sendiri bagaimana posesif nya Raka.
"Ada apa?" Tanya Litha setelah ritual bisikan tersebut selesai.
Arkan terlihat cemas dan panik, Jordy dan Danil seperti orang marah, tatapan mata Raka dingin begitupun dengan raut wajah tampannya.
"Kenapa diem? Ada masalah?" Tanya Litha lagi.
"Sedikit," Arkan keceplosan.
"Hah?" Litha menatap keempat pemuda itu bergantian.
Jordy menyenggol lengan Arkan, barulah Arkan tersadar dari ucapannya sedetik yang lalu.
Mata Arkan melotot dan cepat-cepat menggeleng. "Eh enggak Tha, serius gak ada masalah kok," Arkan nyengir kuda.
"Kak," Litha memegang lengan Raka.
"Kita ke sana aja ya?" Raka mengajak Litha ke tempat Umran, Sarah, dan Sekar berada.
"Ngapain? Tadi aku tanya belum dijawab, jawab dulu yang tadi," sahut Litha.
"Kita kan belum ngucapin selamat ke mereka," jawab Raka yang bisa dibilang masuk akal juga menurut Litha.
"Oh iya lupa, tapi tadi..." Raka segera menarik tangan Litha, membuat Litha berhenti mengoceh tentang rasa penasarannya.
__ADS_1