Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Pamer


__ADS_3

Malam ini Raka memenuhi permintaan Dita, dia datang ke cafe The Perfect sendirian. Pemuda tinggi itu memakai hoodie hitam polos dengan celana jeans, serta sepatu sneaker putih. Jangan lupakan juga topi hitam polosnya dan kacamata hitam yang terpasang di wajah tampannya.


Raka sengaja memakai perlengkapan itu, agar tidak dikenali oleh banyaknya pengunjung yang ada di cafe The Perfect yang mayoritas adalah penggemar The Perfect.


"Raka," panggil Dita dengan wajah berseri-seri. Dita sudah menunggu Raka lebih dari satu jam, awalnya dia mengira Litha gagal membujuk Raka untuk menemuinya.


Raka hanya memasang ekspresi datar. Sebenarnya Raka sangat malas untuk menemui wanita ini. Raka duduk tanpa sepatah katapun.


"Mau pesen minum dulu?" tanya Dita basa-basi.


Namun bukan jawaban yang Dita dapat. Raka malah menyerahkan beberapa dokumen ke Dita. Dengan senang hati Dita menerimanya meskipun ia belum mengetahui isi dokumen tersebut.


"Ini apa?" tanya Dita sebelum membuka dokumen yang kini sudah berada ditangannya.


Raka tidak menjawab lagi. Berhasil, yah Raka berhasil membuat Dita kesal sendiri karena merasa diacuhkan oleh Raka.


Perlahan Dita mulai membuka dokumen tersebut, sebelum itu Dita sempat melirik Raka terlebih dahulu. Setelah mengetahui isi dokumen itu, Dita melotot, dia sangat terkejut. Tetapi sesegera mungkin ia kembali pada ekspresi manisnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Dita dengan senyum manis.


"Baca!" itu adalah satu kata pertama yang terucap dari bibir Raka saat bertemu Dita.


Akh... Jika bisa Raka ingin menarik ucapannya kembali, dia tidak ingin berbicara dengan wanita ini. Mungkin itu adalah kata yang dilontarkan oleh Raka untuk Dita yang pertama dan terakhir kalinya sebelum Raka meninggalkan cafe ini.


"Udah," jawab Dita cepat.


Raka hanya menunjuk kepalanya dengan jari telunjuknya, seolah berkata, 'Gunakan otak untuk berfikir!'


"Udah juga," balas Dita yang mengerti maksud Raka.


Pemuda itu menggerakkan jari-jari tangannya diatas meja seperti sedang jalan ditempat, yang mengartikan jika ia menunggu beberapa kalimat yang keluar dari bibir Dita, setelah itu Raka berniat untuk pergi dari tempat ini.


Dita menggeram kesal, tangannya mengepal kuat.


"Apa itu artinya kamu mau video ciuman antara Fandy dan Litha kesebar?" tanya Dita dengan nada yang amat lembut ditambah pula dengan senyuman semanis mungkin.


Raka tidak menanggapinya, Raka mengambil kacamata hitamnya, menaruhnya di atas meja. Detik selanjutnya Raka tersenyum devil dengan tatapan tajam yang membuat seketika bulu kuduk Dita berdiri.


"Silakan," tutur Raka yang beranjak dari duduknya seraya mengambil kacamatanya dan berlalu meninggalkan Dita.


Yah dua kata, bukan satu kata yang Raka gunakan untuk berbicara dengan Dita. Sebenarnya Raka sangat malas untuk mengeluarkan satu kata lagi, tapi dia harus membalas ucapan Dita, agar Dita semakin kesal dengan dirinya.


Dita hanya menatap punggung Raka hingga menghilang dari pandangannya. Dita mengambil ponselnya, dia berniat menyebarluaskan video itu sekarang.


"Dita...!" seru seorang laki-laki paruh baya yang baru saja datang bersama dengan seorang wanita yang seumuran dengannya.


"Pp pa pa," gugup Dita.


"Papa sudah mengetahui semuanya," ucap Papa Dita.


"Keterlaluan," sambung Mama Dita dengan menggelengkan kepalanya.


"Pembangunan belom selesai, tapi Adelard Group sudah tidak mau mengeluarkan dana lagi untuk proyek kita," jelas Papa Dita.


"Apa itu artinya perusahaan kita udah kolaps?" tanya Dita.

__ADS_1


"Semua ini karena ulah kamu," ketus Mama Dita.


Dita menggeram kesal, dia membuka ponselnya. Jika dunianya hancur, maka Litha juga harus lebih hancur dari Dita, meski dengan cara yang berbeda. Dita mencari video Fandy dengan Litha di ikon galeri ponselnya.


Deg...


Tidak ada? Dita sudah menggeser kesana kemari tapi tidak ada video itu. Dita mulai gelisah, padahal seingatnya dia belom menghapus video itu, tapi kenapa video itu menghilang? Dita mencari video itu keberbagai file penyimpanan di perangkat Androidnya, namun tetap saja tak kunjung ia temukan.


"Kenapa? Video itu hilang?" tanya Mama Dita meremehkan dengan nada yang tidak menyenangkan.


"Mereka itu orang yang baik, kenapa kamu berbuat jahat pada mereka hah..?" bentak Mama Dita. Sontak saja suara keras itu menyita perhatian publik.


Ada sebagian dari pengunjung cafe yang mengetahui jika mereka adalah salah satu keluarga yang terpandang, keluarga Tabitha.


Karena tak ingin menjadi gosip yang tidak-tidak, Papa Dita segera menyeret Dita untuk keluar dari cafe tersebut, yang diikuti oleh Mama Dita.


**Apartemen__


Ditempat lain Litha sedang mondar-mandir di ruang tamu, menunggu kedatangan pemilik apartemen yang kini ia gunakan untuk jalan kesana kemari tanpa arah tujuan.


"Bisa duduk diem aja nggak sih?" sewot Umran yang merasa terganggu alias risih dengan tingkah Litha.


"Kenapa kak Raka lama banget sih?" sahut Litha yang sama sekali tidak nyambung dengan perkataan Umran.


"Lo tenang aja Tha," santai Danil.


"Gimana gue bisa tenang, gue aja gak tau rencana kalian," ketus Litha membuat semuanya terkekeh.


Saat mereka semua berunding dengan rencana yang Raka buat, Litha malah asik sendiri dengan tumpukan komiknya. Salah siapa coba? Setelah Raka bersiap-siap akan pergi menemui Dita, barulah Litha merengek meminta ikut bersama Raka. Tetapi Raka malah berkata, "Kamu terima beres aja,"


"Salah sendiri tadi malah baca komik," sindir Umran.


Tak lama kemudian Raka menunjukkan batang hidungnya. "Kok cepet?" tanya Litha pada Raka.


"Bosen," jawab Raka yang tidak sesuai dengan harapan Litha.


"Udah beres?" tanya Litha.


"Udah," jawab Raka sembari melenggang pergi melewati kadal-kadal itu, eh maksudnya cogan-cogan itu. Raka melangkah menaiki anak tangga, sepertinya dia menuju ke kamarnya.


Karena belum mendapat penjelasan yang diinginkannya, Litha mengikuti langkah Raka. Namun sebelum itu, dia sempat menatap ke arah Umran terlebih dahulu, sebagai tanda meminta izin. Ya gimana pun, gak baik juga kalau berduaan dengan lawan jenis di dalam kamar.


Umran mengangguk, dia percaya dengan Raka dan Litha, mereka pasti bisa menjaga diri mereka masing-masing. Umran tidak tega dengan Litha yang sepertinya sangat membutuhkan penjelasan dari Raka. Terlebih lagi sepertinya mereka juga butuh waktu untuk berbicara empat mata.


***


Litha masuk ke kamar Raka tanpa mengetuk pintu, karena dia berpikir pasti pacarnya itu cuma lagi rebahan aja atau mungkin sibuk dengan layar komputernya.


Krek...


Litha membuka pintu dan langsung menutupnya lagi. Litha belum mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, sehingga dia belum menemukan sosok pemilik kamar ini.


Setelah menutup pintu, gadis itu membalikkan tubuhnya. Deg... Sedetik kemudian Litha melotot terkejut, dia menelan ludahnya bulat-bulat. Bagaimana mungkin Raka tiba-tiba saja berada tepat didepannya? Entahlah biarkan saja. Litha memilih untuk membalikkan tubuhnya ke arah pintu dan membelakangi Raka.


"Kenapa?" tanya Raka dengan senyum meremehkan.

__ADS_1


Walaupun Litha tidak melihatnya, tapi Litha sudah dapat memastikannya, karena dari nada bertanya nya saja sudah terdengar meremehkan atau lebih tepatnya Raka sudah mengetahui jawabannya.


"Sengaja kan?" tebak Litha dengan kesal.


"Iya," jawab Raka masih dengan senyumnya.


"Ngeselin," sahut Litha dengan tangan yang memegang gagang pintu dan hendak keluar.


Tapi segera Raka cegah, Raka menahan tangan Litha. Selanjutnya Raka membalikkan tubuh mungil Litha agar menghadap ke arahnya. Dilihatnya gadis cantik dengan wajah merahnya seperti kepiting rebus, serta kedua matanya terpejam dengan erat.


"Buka mata kamu!" suruh Raka dengan santainya, serta kedua tangannya yang masih memegang pundak Litha.


"Nggak mau," sahut Litha cepat.


Litha mendengar tawa renyah dari manusia dingin itu. Sangat menyebalkan bagi Litha, tetapi saat ini pasti tingkat ketampanan Raka sedang berada dalam kategori ganteng triple. Tapi tetap saja Litha tidak ingin melihatnya.


"Yakin?" Raka memastikan.


"Banget," balas Litha tanpa keraguan.


"Emang mau merem terus?" tanya Raka meledek.


"Ya enggak lah," ketus Litha.


"Ya udah buka matanya! Masih pingin matanya berfungsi normal kan?" Perintah Raka yang ditambah dengan pertanyaan juga.


Litha hanya diam dengan mata terpejamnya. Susah payah Litha menahan agar tetap memejamkan matanya, tapi nyatanya Litha tidak bisa menolak perintah Raka.


Perlahan Litha mulai membuka matanya. Netra indahnya langsung disuguhkan pemandangan yang sangat menyegarkan matanya. Bagaimana tidak? Tepat dihadapannya Litha dapat melihat tubuh atletis milik Raka yang memang sengaja mengekspos dada bidangnya dan perut sixpacknya.


Jujur Litha menutup matanya agar tidak tergoda oleh Raka. Tapi sepertinya Raka sengaja untuk menguji bagaimana reaksi Litha setelah melihatnya bertelanja*g dada. Raka hanya memakai celana jeans nya, dia bahkan melempar hoodie hitamnya ke lantai bersamaan dengan sepatu sneaker nya.


"Kenapa nggak pake baju sih?" Protes Litha.


"Gerah," jawabnya singkat.


"Kenapa kamu tutup mata? Apa kamu..." ucap Raka terpotong. Litha sudah tahu arah pembicaraan pemuda tampan itu selanjutnya.


"Enggak," elak Litha dengan tangan yang melipat di atas perutnya, membuat Raka tersenyum tipis. Ingat Raka masih memegang pundak Litha, so jarak keduanya masih dekat.


"Cepet pake baju gih!" suruh Litha.


"Males," sahut Raka.


"Mau pamer? Kalo mau pamer tuh ke temen-temen cowok kamu, jangan pamer ke aku," ujar Litha.


"Temen cowok? Kalo temen cewek boleh?" tanya Raka.


Litha melotot mendengarnya, tapi setelah itu ia kembali pada ekspresi kesalnya. "Silakan! kamu kan nggak punya temen cewek," santai Litha.


"Kayaknya aku sama Sarah udah temenan," ujar Raka dengan mata melirik ke atas seperti sedang berfikir.


"Sama Fika juga udah," tambah Raka yang kini alisnya malah sedang naik turun, serta senyum jahilnya yang menghiasi bibirnya.


Sedangkan mata Litha melotot ke arah Raka yang masih setia dengan senyum jahilnya. Membuat Litha semakin jengkel dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2