
Amarah yang tadinya ingin meledak menyemburkan lava, seketika sirna entah kemana hilangnya. Melihat Raka yang ada didepan mata Litha membuat hatinya kembali menghangat.
"Ini bener Kak Raka?" Litha menampar pipinya sendiri.
"Aww... Sakit," Litha mengelus pipinya yang tadi ditamparnya sendiri.
Raka hendak mendekat, namun melihat Pak Gio yang lebih dulu memegang tangan Litha, membuat Raka mengurungkan niatnya.
"Kamu ini ngapain sih pake nampar diri sendiri," omel Pak Gio sambil satu tangan memegang tangan Litha, dan tangan satunya lagi mengelus pipi Litha yang agak merah.
Litha yang masih shock akan kedatangan Raka, hanya diam saja saat Pak Gio memperlakukannya selayaknya seorang kekasih yang mengkhawatirkan pasangannya.
"Eh apaan sih Pak?" Litha yang sudah sadar sepenuhnya langsung menepis tangan Pak Gio.
Cukup lama Raka dan Litha hanya saling diam menatap. Keduanya terlihat seperti dua orang asing yang baru kenal. Raka masih sama seperti dahulu, dingin dan tidak ada ekspresi apapun yang ia tunjukkan.
"Kak Rak..." Ucapan Litha terhenti saat Raka tiba-tiba melangkah pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun yang terucap.
Litha menatap teman-temannya satu per per satu, mereka mengangguk seolah mengerti isi otak Litha.
Tanpa pamitan kepada siapa pun Litha segera berlari mengejar beruang kutub yang baru pulang dari hibernasi nya, tapi balik-balik udah marah aja.
"Eee... Pak kita juga pamit mau pulang dulu ya..." Ucap Sekar sebelum kondisinya makin canggung.
Pak Gio tersenyum mengangguk. Kini usahanya untuk mendapatkan hati Litha akan semakin sulit. Ia melihat handphone Litha yang masih tergeletak di hadapannya.
Sebesar apa rasa cinta Litha untuk Raka hingga ia melupakan handphone nya hanya demi mengejar Raka yang tentu saja marah karena melihat sikapnya yang sangat perhatian dengan Litha. Pak Gio tersenyum memikirkan Litha yang pasti saat ini sedang membujuk pacarnya yang marah.
***
Litha berlari mengejar Raka yang berjalan cepat. Tetap saja Litha kalah, yaa tau sendiri lahh kalau tiang listrik itu langkah kakinya panjang pake banget!
Setelah sampai di parkiran, kepala Litha clingak-clinguk mencari keberadaan Raka yang ternyata ada di ujung sana. Litha menghampiri Raka yang sedang santai bersandar di mobil sport warna hitam, yap itu adalah mobil yang dulunya setiap pagi selalu parkir di halaman rumahnya. Litha sangat merindukan momen-momen dimana Raka sering menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama.
"Bengong aja. Mau naik apa enggak?" Suara dingin tersebut kembali terdengar oleh telinga Litha.
"Kak Raka marah?" Lirih Litha dengan suara amat pelan dan terdengar lembut, takut-takut kalau Raka tambah ngamuk.
"Masuk!" Raka membukakan pintu mobil untuk Litha.
Sudah setengah perjalanan Raka masih diam. Dan selama itu juga Litha terus memperhatikan wajah Raka yang datar.
"Kak," akhirnya Litha memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Raka. Dia masih fokus menatap lurus ke arah jalanan.
"Kak Raka," Litha meninggikan sedikit volume suaranya.
Raka hanya melirik sekilas.
"Kak Raka marah? Jangan diemin aku terus dong Kak. Aku minta maaf deh soal kejadian tadi. Yaaa walaupun aku merasa gak bersalah," Litha bersuara keras agar Raka mendengarnya, tapi Litha berbicara sangat pelan saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Apa?" Raka menoleh sambil berlagak seperti tidak terlalu jelas mendengarkan penuturan Litha yang padahal sangat amat jelas.
"Budek ya?" Kesal Litha cemberut.
"Apa?" Raka melotot ke arah Litha yang langsung nyengir.
"Enggak-enggak. Emang tadi aku ngomong apa?" Litha menghembuskan nafasnya kasar, karena Raka tidak menyahut lagi.
"Tadi aku bilang, Kak Raka marah? Jangan diemin aku terus dong Kak. Aku minta maaf deh soal kejadian tadi," Litha mengulang kembali ucapannya.
"Bukan yang itu," jawab Raka tanpa menoleh.
"Terus yang mana?" Litha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yang tadi," jawab Raka sama sekali tidak membantu ingatkan Litha.
"Hehe... Salah ya?" Litha masih berpikir keras namun tetap tidak menemukan jawaban.
"Kalimat terakhir kamu diawal pembicaraan tadi," ucap Raka dingin.
Mata Litha melirik ke atas mengingat ucapan Raka yang kali ini memberinya petunjuk atas jawabannya yang sangat tidak bermanfaat. Iya, nggak ada manfaatnya, kalau ingat untungnya apa coba?
"Ooo... Ya ya aku ingat. Yang tadi aku bilang, walaupun aku merasa gak bersalah kan?" Litha tersenyum lebar karena Raka mengangguk.
Raka menepikan mobilnya di dekat taman yang lumayan ramai, karena hari menjelang sore banyak orang-orang yang menikmati waktu senja dengan bersantai di taman ini.
Raka menghadap ke arah Litha, begitu pula dengan Litha yang ikut memposisikan dirinya agar berhadap-hadapan dengan Raka.
"Mau dimaafin nggak?" Raka masih berwajah datar.
Dikira Litha tadi udah gak marah, mau ngomong baik-baik, mau romantis-romantisan atau ngajak Litha ke taman dulu, ehh ternyata doi masih ngambek.
Litha mengangguk-angguk, "Mau,"
"Ulangin kalimat diawal pembicaraan tadi," ucapnya tanpa intonasi.
__ADS_1
Mata Litha melotot tidak percaya dengan ucapan Raka, "Hah?"
Raka tetap diam tanpa ekspresi menatap mata Litha yang seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Oke-oke, tapi janji abis ini dimaafin," jari kelingking Litha bergerak-gerak tepat didepan mata Raka seperti cacing kepanasan.
Raka menyambut jari kelingking kecil tersebut.
"Kak Raka marah? Jangan diemin aku terus dong Kak. Aku minta maaf deh soal kejadian tadi. Yaaa walaupun aku merasa gak bersalah," Litha mengunakan nada, intonasi serta volume yang baik dan benar di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.
Raka mengangguk sambil tersenyum, "Emang kamu gak salah, siapa yang bilang kamu bersalah?"
"Kak Raka ngerjain aku ya...?" Litha cemberut.
Raka tertawa renyah, puas sekali dia karena berhasil mengerjai Litha. Dari awal Raka tidak marah, kalau dia marah, ngapain Raka nungguin Litha diparkiran mall tadi?
Raka mengacak-acak rambut Litha. Senyuman Litha terlihat menatap wajah Raka yang semakin tampan mempesona.
"Yahhh Kak Raka datang diwaktu yang kurang tepat. Aku abis pulang sekolah terus jalan-jalan sama temen-temen. Belum mandi, belum wangi, wajah kusem keringetan begini," ocehan Litha terdengar seraya matanya bersinar menatap kagum pemuda tampan didepannya yang sangat amat wangi dan begitu tampan.
Raka mengerutkan keningnya mendengar ocehan tidak jelas dari kekasihnya yang sejujurnya begitu ia rindukan. Raka melambai-lambaikan tangannya didepan mata Litha yang tidak berkedip sama sekali. Litha seolah terhipnotis oleh pesona Raka, ocehan Litha sangat persis seperti orang mengigau.
"Coba aja Kak Raka ngasih kabar kalau mau pulang ke Indo, pasti aku bakal mandi dulu, pakai parfum yang banyak biar wangi, terus pakai make-up biar cantik. Biar kalau Kak Raka lihat aku nanti jadi pangling gitu, kan kita udah hampir dua tahun gak ketemu," ocehan Litha membuat Raka menahan tawa merasa lucu dengan ucapan Litha yang sangat absurd.
Senyuman Litha semakin lebar bersamaan dengan kedua matanya yang semakin menyipit. Perlahan bibir Litha di monyong-monyongkan, kepalanya mulai mengikis jarak antara dirinya dan Raka.
Raka yang masih tertawa renyah dengan ocehan Litha, langsung membelalakkan matanya saat menyadari Litha yang mulai hilang kontrol.
Raka tau jika Litha akan menciumnya. Dan ini bukanlah yang pertama bagi mereka, Raka masih ingat jelas jika mereka pernah berciuman mesra didalam mobil ini. Namun melihat Litha yang seperti orang gila macam ini, membuat Raka jadi ngeri sendiri, Raka tahu saat ini Litha tidak sadar sepenuhnya.
Raka yang panik langsung menahan jidat Litha yang terus maju ke depan dengan bibir monyongnya.
Raka memundurkan dirinya sampai terpentok pintu mobil, tangannya masih menahan kepala Litha yang sudah tidak sabar ingin nyos*r. Raka jadi merinding sendiri melihat ekspresi wajah Litha yang tidak terkendali, bibirnya monyong sambil senyum-senyum dengan mata yang menyipit seperti orang Korea.
"Tha sadar Tha!" Teriak Raka yang sukses membuat Litha berhenti bergerak maju.
Mata Litha terbuka lebar, ia melirik tangan Raka yang masih memegang dahinya, kemudian Litha mengamati posisinya yang terlalu dekat dengan Raka? Dengan posisi Raka yang hampir terhimpit sampai menempel pada pintu mobil? Dan dengan ekspresi wajah Raka yang menunjukkan ketakutan?
"Astaghfirullah," Litha menyentuh bibirnya yang masih monyong, ia langsung mengingat kejadian yang memalukan tadi. Gila...! Ini sungguh gila... Mau ditaruh mana urat malu Litha?
Litha membenarkan posisi duduknya, dan Raka juga melakukan hal yang serupa.
Litha menangkup pipinya yang sudah pasti merah padam seperti kepiting rebus. Dia melirik Raka yang tersenyum tipis mengingat kejadian memalukan tadi.
__ADS_1
"Ekhem...." Raka berdeham agar kondisi tidak semakin canggung.