Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Tas Ransel


__ADS_3

Terdengar suara bising yang mengganggu tidur nyenyaknya, perlahan Litha membuka matanya, ia merasakan busnya sudah tidak bergerak lagi. Pandangannya mengarah ke jendela bus membuat matanya langsung terbuka segar.


Litha menegakkan kepalanya dari bahu Raka sehingga membuat kepala Raka yang masih tidur diatas kepala Litha langsung terlonjak kaget.


"Air Kak!!!" Seru Litha dengan wajah berbinar menatap hamparan laut berwarna biru dengan gradasi warna hijau, serta pasir putih yang melengkapi keindahan ciptaan yang Maha Kuasa.


Raka mengucek matanya yang sebenarnya masih ingin tidur. Senyuman dibibir Raka terukir melihat wajah cantik Litha yang berbinar. Sudah lama dirinya tidak melihat mata indah itu memancarkan cahaya semangat yang membara. Sepertinya gadis ini sudah tidak sabar merasakan lembutnya pasir pantai yang bergerak ditarik oleh ombak.


"Are you happy?" Raka merapikan rambut Litha yang sedikit berantakan.


Litha menatap Raka dan mengangguk dengan senyuman lebar. Dia memeluk leher Raka dengan erat, meskipun hanya beberapa detik tapi cukup membuat Raka bahagia karena pelukan tersebut diakhiri dengan kecupan singkat dikedua pipi Raka.


Cup.


Cup.


Cup.


Eh? Kok ada tiga? Raka dapet bonus tuh dari Litha yang cium hidung mancungnya.


Yap keputusan Raka untuk berlibur di pantai yang indah ini membuahkan hasil yang manis. Buktinya saja baru sampai tempatnya, Raka langsung mendapat hadiah dari Litha. Kapan lagi coba dia mendapatkan saat dimana Litha berinisiatif sendiri untuk menciumnya.


Raka gemas sendiri dengan Litha, dia mengacak-acak rambut Litha yang tadi ia rapikan. Jadi acak-acakan lagi kan!!!


"Ish... Kak Raka jadi berantakan lagi nih rambut aku," gerutu Litha kesal. Dia balas dendam mengacak-ngacak balik rambut Raka.


Litha tersentak kaget setelah acara acak-acak rambut selesai. Litha berkedip-kedip melihat Raka dengan rambut tidak beraturan, tapi malah membuatnya semakin tampan menurut Litha. Iya deh Litha ngaku Raka emang udah ganteng dari sononya, mau diapain aja juga tetep ganteng.


Raka tersenyum, dia tahu Litha sudah terpesona akan ketampanannya. Bukannya sombong, Raka dapat menebak dari gerak-gerik Litha yang mencurigakan ini. Tuh kan Raka jadi gemes sendiri lihat mata Litha yang kedip-kedip lucu gitu.


Cup.


Cup.


Kelopak mata Litha tertutup saat mendapat kecupan kecil nan singkat dari kekasihnya. Raka menarik hidung mancung Litha. Jujur Raka gemes banget!

__ADS_1


"Woiii... Yang pacaran disana," suara bariton si bule nyasar menganggu suasana romantis mereka.


"Pacarannya lanjut nanti, kita berenang yuk!" Nick sudah membawa pelampung yang entah sejak kapan dibawa olehnya.


"Yoi. Mumpung udah agak sorean biar sekalian bisa lihat sunset," tambah Danil ikut menimpali. Emang klop banget mereka bertiga kompak. Yaa gak heran sih kalau mereka bertiga kompak, kan mereka sama-sama bernasib sama, sama-sama jadi jones wkwk.


"Hotelnya mana? Gue mau lanjut tidur," Leon langsung turun dari bus dengan mata yang masih terlihat merah.


Sedangkan Sekar dan Fika terlihat sibuk membereskan koper mereka, dibantu oleh Sarah yang siap sedia mengangkat barang.


Umran yang melihatnya jadi ngeri sendiri, kenapa tunangannya itu tidak pernah terlihat seperti cewek normal dimatanya? Namun entah mengapa perbedaan tersebut malah membuatnya terlihat menarik dan istimewa dimata Umran.


Arkan yang tadinya sudah keluar lebih dulu, masuk lagi ke dalam bus dengan langkah kesal. "Woii... Handphone gue hilang," teriak Arkan heboh sendiri.


"Nggak nanya!" Balas Sarah melewati Arkan dengan mengangkat koper besar milik Fika.


Memang sudah jadi rahasia umum kalau Arkan punya hobi menghilangkan suatu barang. Bahkan nih ya kalau ada barangnya yang bertahan lebih dari tiga bulan, itu adalah sebuah keajaiban yang hanya terjadi tiga tahun sekali.


Arkan heboh menggeledah kesana kemari. "Ngaku lo pada! Siapa yang ngambil?" Tanya Arkan yang lebih kearah menuduh.


Tidak ada sahutan dari siapapun. Mereka mengabaikannya seperti angin lewat.


Pletak!


"Nih handphone lu!" Ketus Umran memberikan benda yang tadi digunakannya untuk mengetok kepala si ceroboh ganteng.


Arkan menerimanya dengan ekspresi bodohnya. "Loh? Kok bisa ada di elo. Jangan-jangan lo yang..."


Karena tidak ingin mendengar tuduhan keji dari Arkan, Umran memukul wajah ganteng Arkan dengan handphonenya sendiri.


Pletak!


"Jangan-jangan apa? Lu yang ceroboh, malah nyalahin orang yang ganteng dan baek banget gini yang dengan suka rela ngembaliin handphone jelek ini," ocehan Umran diakhiri dengan menyentil dahi Arkan.


Aduh tolong deh Umran itu handphone kalau dijual bisa jutaan rupiah tau!

__ADS_1


Arkan clingak-clinguk menoleh kanan kiri dan belakang. Untung Sekar udah turun duluan, hanya tinggal tersisa trio jones dan pasangan sultan Raka Litha. Kalau Sekar lihat mau taruh dimana muka tamvan Arkan?


"Tas lo juga ikutan hilang tuh," dengan santainya Raka mengangkat dua tas ransel besar miliknya dan milik Litha, lalu melewati Arkan yang masih bengong menatap ke arah pojokan dimana seharusnya hanya menyisakan tas ranselnya.


Namun kenyataannya kosong, sudah tidak ada apapun disana karena semua sahabatnya sudah mengangkat barang-barang mereka sendiri.


Arkan melihat trio jones yang sudah siap turun keluar, ia menghentikan langkah Jordy. "Tas gue beneran hilang?" Jujur Arkan shock beneran loh ini, gimana nasibnya selama tiga hari liburan tanpa membawa barang kebutuhannya?


Jordy hanya mengangkat bahunya lanjut jalan lagi. Dia juga tidak tahu kemana tas Arkan menghilang dan tidak ingin ambil pusing dengan musibah yang menimpa sahabat karibnya.


Arkan masih diam ditempat merenungi nasibnya yang sial. Kalau isi ranselnya baju doang mah gak masalah, malahan bodo amat kalau ilang. Tapi dalam ranselnya itu ada dompet yang isinya... Tau lah anak sultan isi dompetnya apa ajaa?


Arkan menatap Litha yang sudah cekikikan seperti kunti*anak. Kini hanya tinggal mereka berdua didalam bus.


"Tha jangan gitu dong. Gue beneran pusing nih, cari bantu yuk!" Wajah memelas memohon terlihat menghiasi wajah ganteng Arkan.


Prrrffttt....


Litha menahan tawa tidak kuat melihat ekspresi Arkan yang biasanya tengil dan usil.


Whahaha...


Tawa Litha akhirnya pecah juga. Litha sebenarnya tahu bahwa tas Arkan tidak hilang karena kecerobohan pemiliknya. Litha tadi sempat melihat tas ransel Arkan sudah diangkut keluar oleh para ciwi-ciwi tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"Tha... Ayolah..." Arkan benar-benar dilanda galau.


"Oke-oke maaf," Litha mengontrol dirinya. "Lo yakin udah bawa tas lo masuk ke bus?"


Arkan mengangguk yakin, dia ingat betul sudah membawa barang-barangnya masuk ke dalam bus, lalu kembali lagi turun bus untuk membantu membawa bawaan milik Sekar.


Litha mengangguk percaya mendengar cerita Arkan.


"Ayo bantu cari!" Arkan menarik tangan Litha yang langsung ditepis oleh empunya.


"Ogah! Cari sendiri," Litha berjalan melewati Arkan yang menghelai nafasnya pasrah.

__ADS_1


Litha sudah turun dari bus, tapi balik lagi menongolkan kepalanya saja. "Biasanya kalau udah dibawa makhluk yang gak kelihat, gak akan balik lagi," ujar Litha menakut-nakuti Arkan. Emang lagi kumat tuh jahilnya si Litha hihihi...


Litha menahan tawa melihat Arkan yang akhirnya sudah mengikhlaskan tas ranselnya.


__ADS_2