Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Ngeledekin


__ADS_3

Keduanya saling beradu pandangan tanpa berkedip sekalipun, dengan jarak kurang dari 10 cm. Sehingga indera penciuman Litha dapat merasakan aroma mint yang segar dan sangat khas dari tubuh Raka.


Tentunya saat ini mereka sedang memasang pose dan ekspresi seperti adegan romantis di sinetron-sinetron gituuu. Gaswat guys!!! jantung Litha sedang tidak normal nih, siapa pun tolong! Saking senangnya bisa sedekat ini dengan Raka, Litha tidak menyadari kalau jantungnya sedang tidak waras. Upsss... ralat jantungnya berdegup kencang banget.


Umran yang ternyata dari tadi mengekori Raka, sekarang sedang terkekeh. Karena melihat ekspresi wajah adiknya yang terlihat antara sangat gugup, takut, canggung, kaget, bahagia banget dan terlihat ada sebuah tatapan cinta, yang sepertinya sangat sulit untuk diungkapkan. Ya.. intinya perasaan Litha saat ini benar-benar campur aduk, Umran itu memang pandai dalam menebak isi hati dan pikiran adiknya.


Kalau Raka sih masih masang ekspresi wajah yang datar, padahal hatinya berkata lain. Di dalam hatinya seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan ke sana kemari, yang menghampiri miliaran bunga yang sedang bermekaran.


"Ehem ehem..." suara Umran berdeham. Sambil senyum-senyum jahil pastinya.


Alhasil suara itu membuat mereka memasang ekspresi wajah canggung. Dengan segera mereka membenarkan posisi berdiri masing-masing dengan sikap sempurna.


"Ganggu aja," ucap Litha mendengus kesal, karena acara romantisnya bersama Raka diganggu oleh manusia yang saat ini sedang jomblo.


"Hadedeh... Jadi lo berasa ke ganggu nih?" tanya Umran dengan nada menggoda adeknya, dan menaik turun kan kedua aliasnya ke atas ke bawah. Tak lupa dengan menaikkan kedua sudut bibirnya, yang sebenarnya sedang meledak adiknya.


"Bu... bukan gitu maksudnya," jawab Litha gugup. Nah lhoh, makin ketahuan kan. Kalau sebenarnya Litha sangat gerogi sampai-sampai jadi salting, alias salah tingkah.


Raka yang menyadari tingkah laku manusia cantik dihadapannya ini pun akhirnya tak kuasa menahan rasa bahagianya. Hingga Raka tersenyum dengan memalingkan wajahnya ke samping, agar senyumannya itu tidak diketahui oleh dua bersaudara ini yang sedang berdebat.


Sekarang Raka yakin bahwa Litha juga mempunyai perasaan yang lebih kepada Raka, sama seperti perasaan Raka terhadap Litha. Buktinya saja Litha jadi salting tuh, biasanya orang yang saling gitu, kalau lagi diledekin atau digodain makin menjadi-jadi saltingnya, kayak Litha sekarang ini yang gugup banget. Mungkin takut ketahuan kalau dia beneran lagi salting, padahal kan Umran dan Raka juga udah tahu.

__ADS_1


"Cieee cieee yang sekarang udah gede," ledek Umran.


"Maksudnya?" tanya Litha. Litha yang kelewat polos gitu mana paham dengan ledekan abangnya.


"Udah ngerasain yang namanya cinta," jawab Raka datar, padahal lagi kesenengan tu, karena cintanya terbalaskan.


"Nah itu tuh, lagi pula gue masih heran cowok yang pintar kayak Raka gitu kok bisa-bisanya mau sama lo yang be*o nya kebangetan," ujar Umran yang menghina Litha dengan berkata kasar. Mungkin karena kesabaran Umran itu sudah habis, acara ngeledekin adeknya jadi gagal, karena Litha yang terlalu polos. Padahal kan Litha itu pintar, buktinya dia pernah meraih peringkat pertama diangkatnya.


Anehnya Litha tidak marah dengan hinaan dari abangnya, justru saat ini wajahnya memerah seperti buah tomat.


'Iya juga ya, cowok kayak Raka kok bisa suka sih sama gue? Tapi dia beneran suka gak sih sama gue? Tapi kalo dia beneran suka sama gue gimana? Aukk lahh pusing' batin Litha.


"Apanya?" tanya Litha balik.


"Muka lo noh kayak tomat," jawab Umran. Oke Umran sekarang menyadari sebab dari kemerahan muka adiknya itu, ceritanya Litha lagi malu. Jadi ledekan Umran tadi berhasil juga. Tiba-tiba terlintas ide jahil di otaknya, Umran tersenyum jahat dengan hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Cieee yang lagi malu-malu kucing nih yee..." ledek Umran dengan senyuman jahil pastinya.


"Enggak, ngapain pake malu?" Litha sedang mencoba mengelak dari ledekan Umran. Tetapi tetap saja Umran tidak percaya dengan ucapan Litha. Umran itu sangat hafal dengan tingkah laku aneh dari adiknya ini. Lagi pun wajah cantiknya Litha masih terlihat semerah tomat.


"Udah bilang aja yang jujur! Emang lo mau, nanti dosa lo bisa nambah cuman gara-gara gak mau ngaku. Kalo lo emang udah bucin sama Raka, lagi pula gue yakin Raka gak akan ngeledekin lo, kayak gue sekarang ini, pffttrr," ujar Umran sambil menahan tawanya, karena melihat ekspresi wajah adiknya yang makin memerah dan gugup.

__ADS_1


"Bucin apaan?" Seketika wajah yang semerah tomat itu langsung berubah menjadi putih lagi, seperti biasanya. Litha itu polos banget apa gimana sih? Masak kata bucin dia gak paham. Kan Raka bisa-bisa jadi tepuk jidat karena tingkah Litha yang selain polos, ternyata dia juga kudet, alias kurang updated.


Umran hanya mengelus dada bidangnya, sambil beristighfar didalam hati kecilnya. Mungkin memang Allah telah berkehendak, agar Umran tidak mencoba meledak adiknya lagi.


"Lo udah cinta sama gue," akhirnya Raka juga yang menjelaskan arti bucin kepada manusia polos dan kudet itu.


"Kepedean banget lu," seru Litha. Udah ketahuan banget kalau dia lagi bohong. Tapi ya sudah lahhh, Raka memutuskan untuk berangkat ke sekolah saja, dari pada berdebat dengan seorang wanita yang ujung-ujungnya selalu ingin menang. Kan Raka males banget kalau disuruh ngomong panjang kali lebar kali tinggi.


***


Serius sekarang Litha lagi bingung, dia lagi pacaran apa lomba diem-dieman sih..? Dari awal mereka masuk ke mobil sport hitam itu, Raka sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun. Tadi di rumah dicuekin, nah sekarang di dalam mobil juga dicuekin lagi. Kan Litha jadi gregetan pengen nampol wajah gantengnya Raka yang gak manusiawi itu.


Jujur Litha gak mau diem-dieman kayak gini, rasanya tu canggung banget. Sebenarnya Litha ingin memulai pembicaraan tapi rasanya gimana gituuu..? Tahulah bagaimana susahnya mencari topik pembicaraan. Sampai akhirnya terlintas sebuah pertanyaan dari dalam kepalanya Litha.


"Lo udah tau nyokap gue?" tanya Litha yang memecah keheningan. Sebenarnya Litha agak ragu untuk menanyakan hal, yang sepertinya tidak terlalu penting bagi seseorang yang sangat cuek dan sedingin Raka.


"Bunda kan?" tanya Raka balik yang masih fokus pada jalanan.


"Lhoh... kok tau? Ketemu kapan? Masak pagi-pagi buta kayak tadi, bunda mau ngeladenin omongan lo? Apa lo udah bilang ke bunda soal kita yang udah pacaran?" tanya Litha yang penyakit kepo dan cerewetnya mulai kumat lagi, karena Raka.


"Kemaren siang sebelum gue pulang, gak sengaja ketemu sama bunda di depan pintu," jawab Raka.

__ADS_1


__ADS_2