Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Bertemu Preman


__ADS_3

"Tunggu hampir semua? Apa kalian pernah jadi pacarnya Leon?" tanya Litha tanpa aba-aba, yang memotong perkataan Tiara.


Sarah, Fika, dan Tiara hanya diam. Karena ada suatu hal yang sedang mengganggu pikirannya.


"Kok diem, ngomong aja yang jujur. Kalau pun jawaban kalian iya, gue juga gak masalah kok," ujar Litha.


"I.. iya," jawab Sarah, Fika, dan Tiara secara bersamaan. Hal tersebut tentunya membuat Litha terkejut. Dia tidak menyangka ketiga sahabatnya pernah berpacaran dengan satu orang yang sama.


"Kok bisa selama ini gue gak tau?" tanya Litha.


"Yaa.. karena elo selama ini gak pernah nanya," jawab Fika.


"Jadi gue sama Tiara pernah pacaran sama Leon waktu SMP, dan Fika kemaren baru aja putus dari Leon," ucap Sarah. Fika memang baru saja menjadi korban Leon, entah korban yang keberapa? yang pasti hanya Leon dan anggota The Perfect yang tahu.


Fika menjalin hubungan dengan Leon dalam durasi satu minggu saja, tidak hanya Fika. Tetapi Sarah dan Tiara juga pernah berpacaran dengan Leon dalam durasi satu minggu saja. Mungkin dalam setiap minggunya Leon memiliki pacar baru.


"Apa??? Kemarin?" tanya Litha, itu sebenarnya bukan sebuah pertanyaan. Itu hanya sebuah reaksi yang diberikan Litha karena kaget.


"Oke lanjut ya... Yang terakhir itu namanya Raka Adelard Pangestu. Raka itu yang paling ganteng diantara anggota The Perfect yang lainnya, idola para kaum hawa tua maupun muda, dingin tanpa ekspresi itu dia banget. Pria dengan perawakan tinggi, bersurai hitam kecoklatan, serta bola mata yang berwarna hitam, dan hidung mancung, berkulit putih. Yaa... emang semua anggota The Perfect itu pada mancung sama berkulit putih sih. Raka itu pinter banget dalam semua bidang kayaknya, rumornya diusia mudanya ini, dia udah jadi pimpinan yang mengurus perusahaan keluarganya 'Adelard Group' namanya, dari dulu pimpinan perusahaan itu terkenal kejam tanpa ampun di dunia bisnis," ujar Tiara.


"Apa??? Dia beneran udah mimpin perusahaan segede itu?" tanya Litha, yang sangat terkejut mendengarkan ucapan Tiara tadi.

__ADS_1


"Sebenarnya gue juga gak tau beneran atau bohongan sih, tapi bisa jadi bener. Karena buktinya aja dulu waktu kelas 10, dia udah jadi juara umum di sekolah yang bisa ngalahin seniornya lhoh... Dan saat dia menjabat sebagai ketua OSIS, sekolah kita yang elit jadi tambah kelihatan lebih waoww, sukses dan pastinya populer" jawab Tiara.


"Ohh ya.. Raka itu punya sebuah geng motor sport, pimpinan dari geng Cobra yang terkenal disegani sesama anggota geng motor sport lainnya, karena sering memenangkan balapan liar dan beberapa kompetisi balapan motor sport," tambah Tiara.


Litha yang saking seriusnya mendengarkan cerita tentang Raka dari Tiara, sampai-sampai tidak menyadari bahwa dari tadi orang yang sedang dibicarakannya dengan Tiara, sedang menatapnya dengan tatapan yang masih sama seperti enam bulan yang lalu, yaitu sebuah tatapan yang sangat sulit diartikan.


Dan kini hampir semua pasang mata menatap ke arah Litha dengan tatapan iri, hingga tatapan itu akhirnya mulai mengusik Litha. Litha heran kenapa semua siswi menatap iri dan seperti ada amarah yang ditahan kepadanya?


'Kalo digosipin sih gue udah biasa, tapi ini kenapa kayak pada mau kroyok gue?' batin Litha.


Akhirnya Litha mengetahui jawaban dari pertanyaan itu, Litha sadar ternyata dia sedang ditatap oleh, siapa lagi kalau bukan Raka.


"Lo tu ada masalah apa sama gue?" tanya Litha dengan nada keras. Sontak pertanyaan tersebut membuat semua orang terkejut. Maklum saja, karena sebelumnya tidak ada yang pernah melontarkan pertanyaan dengan volume tinggi kepada Raka.


Namun Raka tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia malah meninggalkan tempat itu, begitupun dengan anggota The Perfect lainnya yang sedang mengekori pimpinannya tersebut. Karena Raka tadi telah mengkode sahabatnya untuk tidak menanggapi gadis bernama Litha. Walaupun sebenarnya Leon masih penasaran dengan gadis tersebut.


Tentunya itu membuat Litha sangat kesal.


***


Kini waktunya bagi para murid untuk pulang, karena jam sekolah telah selesai. Litha memakai jaket tebal milik Raka yang diberikan kepada Litha saat di koridor yang mirip rumah hantu tadi, dengan melingkarkannya diperutnya lalu mengikatnya, karena merasa cuaca siang ini lumayan panas. Dan alasan paling utamanya, karena jaket itu tidak muat didalam tas-nya.

__ADS_1


"Itu bukannya jaket punya kak Raka ya..?" tanya Fika yang merasa tidak asing dengan jaket yang dipakai Litha.


"Ehh i..itu, mirip ya..?" tanya Litha yang seolah-olah tidak tahu. Bukan maksud Litha untuk berbohong, tetapi dia tidak mau semua orang tahu kalau dia membawa apalagi memakai barang milik siswa paling terkenal disekolah ini. Tentunya itu akan membuat para fans-nya marah padanya.


"Ohh.. cuma mirip kali ya.." jawab Fika.


***


Litha sedang menunggu angkutan umum sendirian, suasana saat itu sudah sepi, mungkin sudah pulang semua, sebenarnya tadi Sarah menawarkan tumpangan ke Litha, tetapi Litha malah menolaknya, karena Litha ingin pergi ke perpustakaan sekolah dulu sebelum pulang. Satu jam berlalu, tetapi angkot yang biasa ditumpangi Litha belum juga datang, entah kenapa? Mungkin supirnya sedang libur.


Tiba-tiba enam pria bertubuh besar serta tangan yang diselimuti tato menghampiri Litha dengan tatapan tajam, seakan-akan ingin merampok. Tapi dugaan gadis berwajah cantik tersebut salah, preman tersebut malah menggoda Litha dengan rayuan manis, bahkan preman itu mulai memegang tangan Litha. Litha merasa tidak nyaman, hingga kesabarannya habis.


"Pergi lo brengs*k!" perintah Litha dengan mengayunkan tangannya agar terlepas dari genggaman tangan preman itu, setelah itu Litha menonjok wajah preman yang memegang tangannya tadi. Tonjokan tersebut tentunya sangat keras, karena dulu Litha pernah belajar dan mengikuti pertandingan tinju perempuan. Buktinya saja preman itu sampai hampir terjatuh ke tanah, tonjokan tangan gadis cantik itu menimbulkan bekas memar dan lebam.


Kini preman itu sangat marah sampai dia menonjok balik pipi mulus Litha, sampai Litha terjatuh ke tanah. Pipi yang awalnya berwarna putih mulus dan bersih, kini telah berubah memerah disertai sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.


Para preman itu memaksa Litha agar ikut dengannya dan memasukkan Litha kedalam mobilnya, Litha tidak bisa memberontak karena kedua tangannya digenggam oleh para preman. Tentunya hal tersebut membuat Litha ketakutan hingga tanpa disadari dia mengeluarkan air mata, walaupun Litha menutup matanya karena tidak berani melihat apa yang terjadi padanya, tetapi air matanya tetap mengalir deras di pipinya yang meninggalkan bekas luka itu.


Agrahhh.... Brukk...


'Suara apaan tu? kayak suara orang kesakitan dan jatoh ke tanah,' batin Litha yang masih menutup matanya dengan air mata yang masih mengalir deras.

__ADS_1


__ADS_2