MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 100.


__ADS_3

 Beberapa saat sebelumnya.


"As!" seru Jeni ketika melihat Asiyah baru saja lewat hendak menuju dapur ndalem' untuk melakukan tugas hariannya.


"Njih, Mbak?" sahut sambil berlari mendekat.


"Ada apa, Mbak?" tanyanya, sembari memeluk tubuh yang terasa agak dingin karna hari yang masih gelap. Sholat subuh berjamaah baru saja selesai di masjid pondok.


 Jeni tampak tersenyum, membuat Asiyah tak sabar menunggu beritanya.


"Untuk permintaan kamu kemarin ...."


"Gimana, Mbak? Boleh kan?" selanya bersemangat.


 Jeni tergelak lalu mengangguk beberapa kali.


"Iya, boleh. Mbak sudah sampaikan sama Mas Musa juga Abah dan Umi kata mereka boleh kalau mau bekerja juga di ndalem', hitung hitung membantu sesama. Apalagi laki laki, tenaga pasti bakalan di butuhkan," papar Jeni.


 Asiyah hampir saja berjingkrak senang jika tidak ingat kini Jeni adalah salah satu bagian dari keluarga ndalem' yang harus dia hormati. Jadi Asiyah memilih diam dan berterima kasih saja.


"Terima kasih ya, Mbak. Nanti Asy sampaikan sama Paman Rahman kalau beliau sudah boleh mulai kerja dan tinggal di sini."


"Oh ya satu lagi, As." Jeni menyela.


 Asiyah mendongak.


"Apa, Mbak?"


"Katakan untuk datang menemui Abah dan Mas Musa lebih dulu saat dia datang nanti ya," pesan Jeni.


 Asiyah mengangguk paham dan pamit undur diri untuk segera melakukan tugasnya di ndalem'.


****


"Jadi begitu, Paman ceritanya." Asiyah menepuk pundak Rahman yang sejak tadi mendengarkan saja sampai dis terjingkat karna kaget.


"Astaghfirullah," katanya sambil mengelus dada. "Ya sudah kalau begitu apa sekarang kita bisa menemui orang yang kamu bilang tadi?"


 Asiyah mengangguk.


"Bisa, kebetulan kyai sama Gus Musa ada di pondok."


 Rahman baru akan melangkah ketika dia memperhatikan lebih dulu kondisi tubuh dan pakaian yang melekat di tubuhnya.


"Neng As, tunggu ...," ucapnya lirih.

__ADS_1


 Asiyah yang sudah berbalik hendak memimpin jalan menuju ke ndalem' kembali berbalik dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa, Paman? Kok berhenti?"


"Ini ... apa pantas paman bertemu orang penting dengan pakaian seperti ini? Paman persis gembel yang mau mengemis makanan," keluhnya miris.


 Asiyah menepuk jidatnya berulang kali.


"Haish, kenapa di pikirkan sih, Paman? Kyai Hasan sama Gus Musa itu bukan orang yang seperti itu! Tenang saja, sudah jangan pikirkan itu ayo kita temui mereka dulu." Asiyah mendesak hingga akhirnya Rahman terpaksa menurut dan mengikuti langkahnya walau sepanjang jalan dia hanya menunduk segan.


"Assalamu'alaikum," ucap Asiyah di depan pintu ndalem' yang kebetulan terbuka.


"Wa'alaikumsalam," sahut Jeni yang memang tengah berada di rumah keluarga tepat di balik ruang tamu sambil menyuapi baby Abbas makanan bayi.


 Jeni beranjak keluar.


"Oh, As. Udah sampai ya?" tanyanya sambil melongok keluar untuk melihat orang yang di maksud Asiyah.


 Asiyah mengangguk senang.


"Udah, Mbak. Itu dia paman Rahman," tunjuk nya pada Rahman yang hanya berani berdiri hingga bawah tangga, tak berani bahkan hanya untuk naik ke teras, takut mengotori lantainya yang tampak berkilat itu.


"Kenapa nggak di ajak naik? Ajak masuk, Mbak panggil Abah sama Mas Musa dulu," titah Jeni kemudian berbalik untuk memanggil kyai Hasan dan suaminya.


 Rahman menggeleng.


"Nggak, kaki paman kotor sayang lantainya," tolaknya halus.


 Asiyah berjalan mendekati Rahman dan menunjuk sebuah keran air yang berada di balik tanaman bunga.


"Itu paman, bersihkan di situ."


 Rahman menurut lalu gegas menuju keran itu dan mulai membasuh tangan dan kakinya hingga bersih, tak lupa wajahnya yang kumal juga dia basuh hingga semua kotoran dan debu yang menempel hilang tak berbekas.


"Gimana, Neng? Udah bersih belom?" tanyaa Rahman sambil mengibaskan tangannya yang basah ke belakang.


 Asiyah yang tengah menunggu di muka pintu berbalik, namun secepat kilat matanya di buat melotot dengan pemandangan di depannya.


"Siapa kamu?" serunya sambil menuding ke depan.


****


 Sarah berjalan bolak balik di depan pintu kamar momynya, posisi mereka kini masihlah di rumah Sarah. Kondisi Nyonya Ellen yang tiba tiba drop membuat Sarah panik dan lekas memanggil dokter keluarga untuk memeriksa sang ibu.


"Mbak Sarah," panggil dokter itu setelah membuka pintu.

__ADS_1


"Ya, dok? Gimana Momy?" cecar Sarah cemas.


 Dokter perempuan itu keluar dengan wajah yang tak membawa perasaan tenang sama sekali. Ya, wajahnya sama cemasnya dengan Sarah.


"Dok, katakan bagaimana Momy?" desak Sarah tak sabar.


 "Nyonya Ellen ... Nyonya Ellen, beliau darah tingginya kambuh dan ini berbahaya, Mbak. Tolong jaga supaya nyonya tidak mendapat tekanan atau pertanyaan yang bisa membuatnya berpikir terlalu keras. Kasihan Nyonya, sekarang kondisinya lemah sekali," pungkas sang dokter dengan wajah terlihat iba.


 Sarah menggigit bibir, dan mengangguk tanda mengerti.


"Saya sudah tuliskan resep obat untuk nyonya, silahkan nanti di tebus di apotik ya. Sekali lagi saya tekankan tolong jangan biarkan Nyonya berpikir terlalu keras atau terlalu menekannya akan sesuatu, saya hanya takut kondisinya bisa bertambah parah," pesan sang dokter lagi sebelum beranjak meninggalkan rumah Sarah.


  Sepeninggalan sang dokter Sarah masuk ke kamar sang ibu, di sana Nyonya Ellen tampak terbaring lemah dengan tatapan lurus ke atas, menatap langit langit kamar yang berwarna putih bersih.


"Mom," panggil Sarah sambil mengusap lengan sang ibu.


 Nyonya Ellen menggeser pandangannya sampai matanya bertemu dengan tatapan Sarah.


 Namun tak ada kata yang terlontar dari bibirnya, hanya matanya saja yang berkedip seakan bertanya ada apa.


"Apa ada yang sakit?" tanya Sarah lembut.


 Nyonya Ellen menggeleng, lalu kembali menatap langit-langit kamar.


"Maaf kalau Sarah terlalu menekan Momy kemarin, Sarah janji tidak akan melakukannya lagi sampai Momy sendiri yang akan memberi tahu. Sarah sayang sekali sama Momy," lirih Sarah sambil memeluk tubuh diam ibunya.


"Sekarang Momy istirahat ya, Sarah mau lihat anak anak dulu. Sarah akan pastikan nggak ada lagi yang mengganggu Momy," pungkas Sarah sebelum beranjak keluar kamar nyonya Ellen.


Nyonya Ellen menatap punggung sang putri hingga Sarah sempat berhenti sebentar di ambang pintu.


"Ada apa, Aish?" tanya Sarah pada seseorang yang sejak tadi rupanya menunggu di depan pintu.


"Sa- saya ... saya mau melihat kondisi nyonya, Bu." terdengar suara lirih Aisyah di depan sana.


 Jantung Nyonya Ellen sempat berdegup kencang, karna teringat kejadian sebelum ini dengan gadis itu yang terus mendesaknya untuk memberi tahukan siapa orang tuanya.


"Jangan, Momy ku sakit. Dan butuh istirahat yang cukup, maaf Aish kamu bisa menjenguk Momy tapi bukan saat ini," ucap Sarah tegas membuat nyonya Ellen bisa mengembuskan napas lega.


 Tak terdengar jawaban dari Aisyah, mungkin dia segera pergi setelah mendengar larangan dari Sarah.


 Segera setelah Sarah menutup pintu kamarnya, nyonya Ellen bangkit dan menarik nafas dalam.


"Maafkan Momy, Nak. Momy terpaksa melakukan ini supaya kalian tidak lagi mengejar Momy untuk sebuah pertanyaan yang Momy sendiri sangat ingin melupakan jawabannya. Semoga setelah ini tak akan ada lagi pertanyaan itu di sekitar Momy, jujur Momy sangat takut hanya dengan mendengarnya saja apalagi kalau sampai kalian mengetahui kebenarannya."


****

__ADS_1


__ADS_2