
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Salma gugup sambil memeluk erat Asiyah.
Asiyah semakin menyembunyikan wajahnya di balik pelukan sang ibu.
Pardi tampak mendekat dengan wajah marah.
"Sudah, tidak usah basa basi kalian! Katakan apa yang barusan aku dengar tadi hah? Anak ini masih mencintai pria lain? Padahal harusnya dia sadar dia itu sudah bersuami! Tidak pantas lagi jika masih saja mencintai lelaki lain!" bentak Pardi geram, pasalnya dia sendiri yang menjamin pada Alam kalau Asiyah pasti lambat laun akan mencintainya.
Dan sudah barang tentu saja pengakuan Asiyah tadi menjadi momok menakutkan untuknya, seseorang seperti Alam yang pembawaannya tenang dan tak banyak bicara nyatanya bisa saja berbuat nekat jika ada seseorang yang berani bermain main dengannya.
"Mas sudahlah, Asiyah hanya sedang bercerita." Salma menegaskan agar sang suami tak terus menerus berteriak di hadapan Asiyah, Salma sangat paham kalau anaknya itu sangat takut dengan suara keras.
Pardi tampak mengacak rambutnya kasar, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kursi makan.
Asiyah masih dalam posisinya, tak berani bergerak atau beranjak sedikit jua.
"Hah, bapak tahu kalau kamu mencintai pemuda itu, Nak. Hanya saja bapak punya alasan tersendiri menikahkan kamu dengan Alam, dia seseorang yang punya kuasa bapak yakin dia bisa melindungi kamu dari orang orang jahat. Walau bapak tahu kamu belum mencintainya, cobalah untuk mulai membuka hatimu untuknya, nduk. Suatu saat nanti, kamu akan tahu kenapa bapak melakukan ini untukmu. Kejam memang, tapi bapak tidak punya pilihan lain untuk melindungi mu."
Asiyah tertegun mendengar pengakuan bapaknya yang sangat aneh menurutnya. Namun, belum sempat dia bertanya Pardi sudah berdiri dari duduknya dan beranjak keluar dari sana tanpa ada penjelasan apapun untuk menegaskan ucapannya tadi.
"Bu, apa maksud bapak tadi?" tanya Asiyah pada Salma dengan suara serak.
Salma tampak menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir di sudut pipi. Lalu di ulasnya sebuah senyum tulus menutupi kegundahannya sendiri.
"Ah, mungkin maksud bapak kamu pasti mulai melupakan pemuda itu, cintai suamimu yang sekarang agar hidupmu ke depannya lebih baik, nduk."
Asiyah menggeleng dan melerai pelukannya dari tubuh Salma.
"Tidak,Bu. Asy tahu bukan itu yang bapak maksud, dan kalau ibu keberatan memberi tahu yang sebenarnya maka Asiyah akan mencari jawabannya sendiri," tukas Asiyah lalu berjalan keluar dari rumah orang tuanya dan berjalan kaki untuk menuju ke rumah Alam yang sekarang juga sudah menjadi tempat tinggalnya.
Tak di temuinnya lagi Pardi di sepanjang jalan menuju rumah Alam, mungkin saja pria paruh baya itu kembali lagi ke sawahnya yang terletak berlawanan arah dengan rumah Alam.
__ADS_1
Sepanjang jalan Asiyah terus saja bertemu dengan beberapa gadis gadis yang seumuran atau yang usianya lebih muda darinya tengah berjalan beriringan sambil bercanda ria, namun satu yang menjadi topik pembicaraan antara mereka sejauh yang dapat Asiyah dengar.
"Duh ya ampun, ustadz mudanya ganteng banget ya. Denger denger dia belum menikah loh, duh pengennya rasanya daftar jadi calon istrinya."
"Iya, sudah ganteng, pinter, agamanya oke, duh orang tua mana yang bakalan nolak kalo calon menantunya kayak begitu ya. Ya ampun babang ustad, lamar dedek, bang."
"Kalau aku bisa jadi pacarnya si Abang ustadz, atau kalau nggak jadi istri atau temennya lah minimal. Kalian bakalan aku traktir bakso segerobak!"
"Kalau aku, bisa dapat nomor teleponnya si Abang ustadz aja sudah berada dapat nomor togel 4 angka!"
Yah kira kira begitulah antuasias para gadis yang sudah sempat bertemu dengan ustadz muda yang katanya akan berceramah di masjid mereka esok hari.
Asiyah menghapus air matanya, dari kejauhan tampak dua buah sepeda motor melaju perlahan dari arah berlawanan. Dan bersamaan dengan itu, para gadis yang tadi ngerumpi sambil berjalan di jalan yang sama dengan Asiyah langsung menepi dan mulai ribut sendiri.
"Ya ampun, itu ustadz ganteng lewat. Siap siap tebar pesona ahh."
"Heh, jangan coba-coba kamu ya. Aku duluan.".
"Heh, sudah kalian jni perempuan kenapa agresif sekali sih?"
Ada yang gaya ala Selfi, ada yang pura pura nggak lihat tapi senyum senyum nggak jelas, ada yang melambai lambai kayak mbak Kunti, ada yang pasang gaya nyetop ojek, kayang, gelantungan kayak Kukang, merayap di aspal kayak biawak, bahkan ada yang cosplay jadi ninja Hatori.
"Astaghfirullah," seru Abdi saat tak sengaja melihat Juli yang juga ternyata ada di antara kerumunan itu tapi dengan pakaian yang terbilang sangat terbuka dan paling heboh dan menor sendiri dandanannya.
Saking terpesona eh terkejutnya, Abdi sampai ngerem mendadak karena tidak siap dengan belokan di depannya.
Ckiiiittttt
Suara rem yang di tekan sedalam mungkin membuat suara yang bisa membuat gigi ngilu karenanya, dan karena itu juga tanpa sengaja Rahman tergelincir dan jatuh ke atas rerumputan yang tumbuh di tepian jalan aspal.
"Ustadz!" seru Abdi cemas di ikuti para gadis yang sejak tadi masih sibuk tebar pesona itu. Mereka semua tampak berlarian mendekat ke tempat jatuhnya Rahman dengan ekspresi khawatir khas mereka masing-masing.
__ADS_1
"Ustadz, ustadz Rahman nggak papa? Ada yang sakit nggak ustadz?"
"Ustadz Rahman jatuh, ayo obati di rumah saya dulu yuk, rumah saya dekat kok dari sini."
"Jangan ke rumah saya aja ustadz, lebih bagus dan lebih nyaman dari pada rumah dia."
"Hei, diam kalian semua!" seru Juli yang tiba-tiba merangsek ke depan dimana Rahman sebenarnya sudah bangkit di bantu oleh Abdi, walau kakinya agak lecet tapi sebenarnya bukanlah luka yang serius.
Rahman membuang muka saat Juli perlahan mendkatinya, gadis itu dengan tidak tahu malunya mendekat dan berjongkok di hadapan Rahman hendak memeriksa kakinya.
"Kakinya luka, ustadz." Juli mengulurkan tangannya hendak menyentuh kaki Rahman, namun secepat kilat Rahman menarik kakinya hingga tangan Juli hanya menyambar angin.
Beberapa pasang mata yang menyaksikan tampak menahan tawa saat melihat adegan itu.
"Tidak papa, ini tidak sakit." Rahman berdalih karna tidak nyaman berada di dekat Juli yang pakaiannya terlalu mini dengan beberapa bagian lemak tubuhnya yang bergoyang-goyang seronok setiap kali dia bergerak.
Juli lalu bangkit, tanpa mempedulikan wajah wajah sinis yang kini mengiringi setiap pergerakannya.
"Bagaimana kalau istirahat dulu di rumah saya, ustadz? Dekat kok, nanti bisa sekalian saya pijitin, jatuh begitu kan pasti sakit walaupun nggak luka." Juli terus saja melancarkan rayuannya.
Rahman yang sudah benar-benar tak nyaman itu akhirnya mencoba untuk memakai cara halus guna pergi dari hadapan Juli dan para gadis lainnya. Karna Abdi juga tampaknya tak berani menghadapi para gadis yang menjadi fans berat Rahman secara tiba-tiba itu.
"Tidak usah, terima kasih ya tawarannya. Saya masih ada urusan dulu, permisi ya semuanya." Rahman tersenyum manis sekali lalu meminta Abdi untuk gegas kembali memacu motornya menuju ke tempat tujuan mereka tadi.
Tapi belum juga berjalan jauh, Rahman kembali di buat terkejut dengan pemandangan yang tak pernah dia sangka sebelumnya. Pemandangan yang membuat hatinya berdebar, dan rasanya air matanya pun ikut tumpah menatapnya.
Mata itu, mata yang selama ini dia rindukan kini tampak tengah menatap jua padanya. Rahman meminta Abdi untuk berhenti, walau bingung tapi Abdi menurutinya dan Rahman langsung turun dari motor lalu memfokuskan pandangannya pada perempuan di sebrang jalan yang tampak juga memandangnya dengan tatapan penuh kerinduan.
"Neng?" panggil Rahman untuk memastikan, dan benar saja perempuan itu mengangguk sebagai jawaban panggilannya.
Air mata Rahman menganak sungai, namun baru saja hendak mendekat ke arah Asiyah, dia di kejutkan dengan seorang pria yang datang dari arah berlawanan dan langsung menarik tangan Asiyah menjauh darinya.
__ADS_1
Sempat dia dengar suara Asiyah sebelum hilang di balik pintu mobil pria itu.
"Kakak, tolong aku," pekiknya sebelum suaranya hilang bagai di telan bumi.