
"Siapa, Syah?" tanya Nyonya Ellen sambil mendekat ke arah pintu.
Nyonya Ellen membuka lebar pintu dan tersenyum ramah menyambut Jeni.
"Loh, Jeni toh. Tumben main ke mari? Mari silahkan masuk," ajak Nyonya Ellen ramah, beliau memang sudah melupakan semua masalah di masa lalu semenjak Jeni dengan tulus meminta maaf waktu itu.
Jeni tersenyum sungkan, namun matanya masih menatap pada gadis yang wajahnya sangat mirip Asiyah itu yang kini sudah kembali sibuk dengan bayi mungil berpita pink yang adalah Ayuna.
Jeni melangkah masuk, di ikuti Gus Musa di belakangnya.
"Assalamu'alaikum," lagi, Jeni menyapa para baby sitter anak anak Sarah dan Axel yang tampak berkumpul bersama di ruang depan yang merangkap ruang keluarga itu.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka ramah.
"Mari duduk, Jen. Waduh, saya baru sadar sama siapa ini? Tampan sekali?" puji Nyonya Ellen saat melihat Gus Musa.
Gus Musa yang merasa di puji langsung mengangguk ramah dan menundukkan wajahnya ke bawah, terdengar kasak kusuk dari arah para baby sitter itu sepertinya mereka juga setuju dengan Nyonya Ellen yang mengatakan Gus Musa tampan.
"I- ini ... Gus Musa, Tante. Beliau anak dari kyai Hasan, guru besar tempat pondok saya mengabdi." Jeni menyahut sungkan sambil sesekali melirik Gus Musa yang terheran heran menatapnya.
Mungkin Gus Musa merasa aneh, karena Jeni tak mengenalkannya langsung sebagai calon suaminya.
Nyonya Ellen manggut-manggut dan kemudian permisi sebentar, katanya hendak memanggil Sarah yang tengah membuat susu bagi anak anaknya di dapur.
Selagi menunggu, sesekali Jeni masih mencuri pandang pada para baby sitter itu, dimana wajah gadis yang mirip Asiyah itu tampak jelas karna posisi duduknya yang menghadap Jeni. Bedanya dengan Asiyah, hanya gadis itu tidak mengenakan jilbab dan membiarkan rambut lurus sepinggangnya terurai bebas.
"Loh, Jeni ... tumben main ke sini?" ucap Sarah yang baru saja kembali dari dapur, di belakangnya nyonya Ellen tampak mengikuti sambil membawa sebuah baki berisi tiga botol susu untuk baby triplets.
Jeni menyalami Sarah, dan Sarah langsung menarik wajah Jeni untuk di tempelkan ke pipi kiri dan kanannya. Sedangkan dengan Gus Musa, Sarah hanya menangkupkan tangannya di dada.
"Ini, Mbak Sarah. Saya ... ada yang mau di sampaikan." Jeni tersenyum kecil.
Sarah mengangguk dan kembali mempersilahkan mereka berdua duduk, sementara dia sendiri berjongkok untuk mengambil minuman kaleng yang di letakkan di bawah meja yang ada di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"Silahkan di minum dulu, santai aja kan?" tawar Sarah begitu ramah, hingga membuat Jeni kembali merasa sungkan padanya karna terus saja teringat kelakuannya dulu dengan masa lalu Sarah.
Jeni menyesal, sungguh dia menyesali itu semua kini.
Setelah minum, Gus Musa mempersilahkan Jeni untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Mengingat hari semakin sore, dan mungkin saja bayi Jeni kini sudah bangun di pondok sana.
"Jadi begini, Mbak Sarah. Tujuan saya saya datang ke sini itu ... karna mau mengundang Mbak Sarah dan keluarga untuk sekiranya bisa hadir di acara pernikahan saya dengan Gus Musa Minggu depan," ucap Jeni malu malu, bahkan kini wajahnya terasa memanas dan tak hentinya meremas ujung jilbabnya.
Sarah tertegun sesaat, namun kemudian dia langsung memeluk Jeni dengan raut wajah bahagia.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu dapat jodoh yang baik juga ya, Jen. Semoga kali ini bisa jadi pernikahan terakhir kamu ya, ya Allah ... nggak nyangka, jodohnya Jeni ustadz ternyata," kekeh Sarah turut bahagia.
Jeni dan Gus Musa saling pandang sesaat kemudian kembali saling membuang pandangan dan tersenyum malu.
"Alhamdulillah, Mbak. Saya juga berharapnya ini jodoh terakhir saya, capek rasanya bermain-main terus dengan lelaki, sekali salah memilih rasanya cobaan tak akan pernah berhenti datang," gumam Jeni teringat akan luka lamanya.
"Amin, aamiin." Sarah menepuk pundak Jeni, tanpa berniat menanggapi keluhan terakhir Jeni. Sarah tahu Jeni hanya terkenang, bukan ingin di mintai pendapat tentang masa lalunya sama sekali.
"Mmmmm ... Mbak Sarah," panggil Jeni.
Sarah yang sedang minum langsung menurunkan gelasnya dan berfokus pada Jeni.
"Ya, Jen?"
"Saya ... mau tanya ini, soalnya sudah penasaran sekali dari tadi."
"Hum? Tanya apa?" Sarah turut ikut penasaran.
Jeni merendahkan nada suaranya, karna kini di belakang kursi yang mereka duduki masih ada Nyonya Ellen dan kedua baby sitter yang lain.
"Itu, Mbak. Baby sitter yang barusan masuk kamar itu, siapa namanya? Dan ... Mbak kenal dia darimana?" bisik Jeni seraya sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sarah, tak peduli walau kini Gus Musa tengah memperhatikan mereka dengan bingung.
Sarah terkekeh kecil. "Oooh, itu Aisyah. Dia baby sitternya Ayuna, anak ku yang perempuan. Kenalnya ya ... dari yayasan tempat kami dapatkan dia lah."
__ADS_1
Jeni tampak manggut-manggut walau masih tak puas dengan jawaban Sarah, namun sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk bertanya panjang lebar karna hari semakin sore dan kumandang adzan ashar sudah terdengar.
"Dek Jen, sudah ashar ... ada baiknya temu kangennya di lanjut lain hari ya, takutnya dedek di sana sudah nyariin kamu," tutur Gus Musa santun dengan nada yang lembut dan senyum tulus tak lepas dari wajah tampannya yang mampu menghipnotis kaum hawa itu.
Jeni mengangguk dan berdiri untuk berpamitan pada Sarah.
"Mbak Sarah, saya sama Mas Musa pamit dulu ya. Jangan lupa nanti sayang ya, acaranya Minggu depan tanggal 24." Jeni tersenyum ramah.
Sarah yang juga ikut berdiri mengangguk dan menjabat tangan Jeni yang terulur ke arahnya, tak lupa dia juga kembali bercipika cipiki ria lagi dengan mantan gundik mantan suaminya itu.
Di saat itulah tanpa sepengetahuan Gus Musa atau siapapun, Jeni mengeluarkan surat kertas yang tadi di berikan Asiyah dari saku gamisnya dan menyelipkannya ke tangan Sarah. Sarah tampak kebingungan, namun kerlingan mata Jeni membuatnya paham dan segera memasukkan lipatan kertas itu ke saku dressnya.
"Kami pamit ya, Mbak, Tante, semua. Kami pulang dulu, jangan lupa nanti datang ya," ucap Jeni sebelum keluar dari rumah Sarah.
Semua mengantarnya hingga ke teras, dan kembali masuk setelah mobil yang membawa Jeni dan Gus Musa keluar dari halaman.
"Mom, Sarah ke kamar dulu ya." Sarah berpamitan pada momynya yang kini kembali sibuk bermain dengan Azkara dan Adam yang masih tampak bersemangat, padahal adik mereka Ayuna sudah terlelap sejak tadi dan Aisyah juga ikut tertidur di sampingnya di kamar bayi.
"Iya, honey. Jangan terlalu lelah, dan kalau bisa tidurlah sebentar ya," sahut nyonya Ellen penuh perhatian.
"Sure, Mom. Thank you, ucap Sarah sebelum menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.
Sarah tersenyum bahagia, betapa bersyukurnya dia dengan kehidupannya sekarang. Setelah semua luka yang pernah singgah di kehidupannya kini semua tergantikan dengan apa yang dia miliki sekarang.
Sesampainya di kamar, Sarah gegas mengambil lipatan kertas yang tadi di berikan Jeni padanya. Di amatinya kertas biasa itu sambil menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Tak ada yang istimewa dari kertas biasa itu, Sarah membuka lipatannya dan terlihat beberapa baris tulisan yang sangat rapi di sana.
Dengan seksama Sarah mulai membaca baris pertamanya.
*Teruntuk Mbak Sarah\, ....*
*Penasaran isi suratnya? Lanjutkan ke episode besok ya\, sekalian yang mau datang ke nikahan Jeni silahkan ngacung\, biar author aturin jumlah kursinya. Jangan lupa bawa saweran ya*
__ADS_1