
Rahman yang merasa terganggu dengan suara Asy, lantas membuka mata. Mengerjab perlahan menyesuaikan dengan minimnya pencahayaan di kamar itu.
"Dek? Sayang? Kamu dimana?" tanya Rahman sembari membawa tubuhnya duduk di atas ranjang.
Asy yang masih gemetar tak dapat menjawab, lidahnya terasa kelu melihat temuan yang baru saja dia dapatkan.
Karenanya Asy memilih menyentuh tangan Rahman, membuat lelakinya itu menoleh dan menyadari keberadaannya.
"Sayang? Kamu ngapain di bawah situ? Di sana kan dingin, ayo naik sini. Lagian ngapain sih malam malam duduk di sana?" tanya Rahman lembut, sembari menarik tangan Asy agar naik kembali ke atas ranjang.
Namun Asy mempertahankan tangannya hingga tarikan tangan Rahman tak mampu menariknya.
"Ada apa, dek?" Rahman yang menangkap gelagat tidak beres dari sang istri langsung tanggap, dan menoleh ke arah yang sejak tadi masih di sorot lampu flash ponsel oleh Asy.
"Astaghfirullah," seru Rahman terkejut, Asy lekas bangkit dan membekap mulut Rahman. Memberi isyarat padanya agar memelankan suaranya dan tak membuat suara gaduh sedikit pun.
"Tapi, tapi itu apa? Kenapa bisa ada di sana?" tanya Rahman dengan nada berbisik.
Asy menggeleng lemah, sebelum akhirnya memilih duduk di atas ranjang bersandar ke tubuh kekar suaminya.
"Darah, laci itu ternyata penuh darah, Kak. Darah siapa, dan kenapa bisa ada di sana?" bisik Asy mula ketakutan.
Rahman lekas memeluknya, seolah memberi tahu kalau semua akan baik baik saja.
"Mungkin saja kita salah lihat, bagaimana kalau kita hidupkan lampunya dan lihat lagi, siapa tahu itu bukan darah dan hanya warna cat yang tidak sengaja tumpah?" saran Rahman seraya mengelus lengan Asy yang tertutup pakaian tidur panjang.
Mendengar itu asy langsung cepat cepat menggelen, wajah manisnya tampak pias terpijar sinar lampu flash yang masih belum dia matikan.
"Tidak Kak, jangan hidupkan lampunya."
Kening Rahman berkerut. "Kenapa? Bukankah kita ingin memastikan apa yang kita lihat barusan? Bisa saja sebenarnya kita sudah salah lihat bukan?"
Namun Asy terus saja menggeleng, berusaha menahan tubuh Rahman yang ingin beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Jangan, Kak." Asy memegangi tangan Rahman agar dia tak nekat menghidupkan lampunya.
Rahman mengalah, kembali duduk di ranjang dan kembali membawa Asy ke dalam pelukannya.
Driiitttttt
Drrriiitttttt
Mereka sontak terlonjak, bunyi benda berbahan logam yang sengaja di jalankan --ini lupa bahasanya apa xixi-- di kaca jendela kamar terdengar nyaring, membuat Asy dan Rahman saling pandang dengan tatapan yang sulit di artikan.
Suara derit itu semakin membuat ngilu, bunyinya seakan mengancam mereka untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Dan setelah beberapa saat lamanya bunyi derit itu terdengar akhirnya berhenti dan hilang sama sekali, berganti dengan kumandang suara azan subuh yang terdengar begitu merdu dari masjid desa.
"Alhamdulillah, sudah subuh Sayang. Kita sholat dulu ya. Lebih baik kita sholat berjamaah dulu setelah itu baru kita bahas masalah ini lagi, Kakak juga merasa ada yang tidak beres di sini." Rahman berkata lirih.
Asy mengangguk dan mereka pun beranjak menuju kamar mandi yang ada di luar untuk berwudhu. Membuka pintu sepelan mungkin karna Asy masih merasa takut akan kehadiran orang asing yang tadi dia lihat dan mungkin saja masih berkeliaran di dalam rumah tersebut.
"Asy?"
. Asy dan Rahman terkejut bukan main saat pundak Rahman di tepuk dari belakang oleh seseorang, cepat mereka berbalik dan menarik nafas lega kala mendapati yang ada di sana adalah Pardi dengan senyum di wajahnya.
"Mengagetkan? Mengagetkan bagaimana? Wong bapak cuma manggil kamu pelan kok." Pardi menyangkal.
Asy menelan ludah, dia sadar jika tadi Pardi memanggilnya dengan nada biasa. Hanya saja kejadian yang sejak dini hari tadi dia alami membuatnya menjadi Parno dan selalu ketakutan sendiri.
"Ah, lupakan. Asy minta maaf, Pak tadi Asy mimpi buruk jadi ... jadinya masih terbawa bawa rasanya," ucap Asy berdalih.
Pardi mengangguk paham. "Kalian mau sholat?" lanjutnya sembari menatap Rahman.
"Iya, Pak. Bapak mau sholat juga? Biar sekalian saja kalau begitu," sahut Rahman ramah.
Pardi kembali mengangguk. " Baiklah, ayo."
Mereka berjalan bersama menuju kamar mandi, Asy meminta masuk lebih dulu karna takut dan Rahman serta Pardi pun menunggu di dapur yang memang berdekatan dengan kamar mandi dan kamar Asy.
__ADS_1
Setelah Asy selesai kini giliran Rahman lalu di susul oleh Pardi.
"Kalian duluan saja, bapak kayaknya sakit perut mungkin bakalan lama nanti biar bapak sholat sendiri saja," ucap Pardi sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah itu tanpa menunggu jawaban dari Asy dan Rahman terlebih dahulu, Pardi langsung menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Asy dan Rahman saling pandang, lalu berjalan kembali ke kamar mereka. Namun sebelum mencapai kamar, Asy menyempatkan diri memindai seisi dapur tersebut, dimana semalam dia melihat sebaskom besar daging merah yang tak akan mungkin di sembunyikan di tempat kecil. Dia melihat di semua tempat, mencari kemungkinan dimana baskom itu mungkin di simpan.
"Kak, sebentar. " Asy berhenti di ambang pintu.
"Kenapa?" tanya Rahman ikut berbalik.
"Aku haus, mau ambil minum sebentar ya."
.
Rahman mengangguk dan kembali melanjutkan langakahnya masuk ke dalam kamar, guna mempersiapkan alat sholat mereka nanti. Sedangkan asy berjalan menuju kulkas keluarga, berniat mengambil air dingin untuk minum sekaligus memeriksa apakah di dalam sana ada baskom berisi daging yang tadi malam di lihatnya.
Tep
Tangan Asy sudah berada di gagang pintu kulkas, namun tubuhnya langsung gemetar teringat dengan kilasan adegan yang dia alami dini hari tadi. Sangat mendebarkan dan membuatnya sesak. Namun Asy semakin memberontak, dia ingin tahu apa yang ada di sana hingga dia menguatkan diri untuk memeriksa kulkas tersebut.
"Asy? Kamu sedang apa?"
Degh
Asy langsung berbalik, dan di dapatinya Pardi tengah memperhatikannya dari ambang pintu kamar mandi. Dari wajah dan rambutnya menetes air setelah wudhu. Asy langsung mencelos, tak mungkin kan orang yang dia lihat semalam adalah bapaknya? Tapi mungkinkah semua kemungkinan itu tetap ada?.
"A- Asy ... Asy ...."
Asy tergagap tak dapat menjawab, terlebih kala melihat Pardi melangkah mendekat dengan raut wajah yang tak dapat di artikan.
Wajah Asy pias, dahinya berkeringat dingin dan banyak membuat gagang kulkas yang di pegangnya terasa licin di telapak tangannya. Ingin pergi dari sana tapi tubuh Asy seperti terpatri di tempat, tak dapat bergerak sama sekali. Hingga kini Pardi telah berada tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
"Asy, bukankah bapak bertanya padamu? Kok kamu nggak jawab pertanyaan bapak?" tanyanya dengan sebuah seringai mengerikan.