MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 59.


__ADS_3

( Mulai bab ini kita akan kupas tuntas dulu perjalanan Jeni setelah mendapat semua balasan dari perbuatannya pada Sarah, jangan komen nggak nyambung kalau belum baca part sebelumnya)


"Nek, ini siapanya nenek?" tanya Jeni setelah Nenek kembali ke ruang Deon tempat dia dan bayinya berada.


  Nenek menatap arah yang di tunjukkan Jeni, dan mata tuanya berubah sendu.


"Dia ... anak Nenek satu-satunya. Tapi ... sudah beberapa tahun ini, dia bahkan tidak pernah kemari menengok Nenek. Ingin menghubungi juga Nenek tidak punya nomornya, lagi pula nenek tidak punya hape. Jadi bagaimana mau telpon," kekeh Nenek sambil menggendong bayi Jeni yang merangkak ke arahnya.


 Jeni mendesah, ingin rasanya dia ceritakan pada nenek kalau dia mengetahui keberadaan anaknya itu. Namun, dia ragu jika nanti Pak Ismail akan mau bertemu dengan mereka sedangkan sejak tau dia hamil saja lelaki itu bagai menghilang di telan bumi setelah memfitnahnya mentah-mentah.


"Kenapa, Nduk? Apa kamu kenal atau pernah bertemu anak Nenek?" tanya Nenek.


 Jeni duduk dan lebih dahulu menyesap teh hangat yang di suguhkan Nenek untuknya.


"Ah, nggak Nek. Saya cuma merasa anak Nenek mirip sama tetangga saya, tapi rupanya bukan. Hanya sekilas terlihat mirip," dalih Jeni menutupi.


 Nenek menghela nafas panjang. "Hah, Nenek sebenarnya sangat merindukan anak Nenek itu. Hanya saja semua harus nenek tahan sendiri sampai dia mau merubah perilakunya."


 "Ah ya, dari tadi kita ngobrol tapi belum berkenalan. Nama Nenek Aminah, kamu bisa panggil Nek Minah." Nek Minah tersenyum lembut sambil menciumi pipi bayi Jeni.


"Saya Jeni, Nek."


"Lalu bayi manis ini, siapa namanya?" tanya Nenek.


 Jeni hanya tersenyum tanpa berniat menjawab.


****


 Satu Minggu sudah Jeni menginap di rumah Nek Minah, semua yang di lakukannya terasa begitu menyenangkan. Bahkan Nek Minah tidak pernah segan membantunya merawat bayinya termasuk menggantikan popok dan memandikan.


 Katanya, bayi Jeni persis seperti anaknya saat kecil. Jeni hanya mengulas senyum mendengar itu, karna saat ini Jeni tak lagi mempermasalahkan siapa ayah dari bayinya. Baginya kini yang terpenting dia harus bisa mencari pekerjaan guna membiayai hidup anaknya yang semakin hari akan semakin bertumbuh besar.


"Sudah siap, Jen?" tanya Nek Minah dari ambang pintu kamar yang di tempati Jeni dan bayinya selama tinggal di sana.


 Jeni yang tengah bersiap memakai baju hitam putih di depan cermin menoleh dan tersenyum.


"Iya, Nek. Jeni titip dedek dulu ya hari ini, Nek. Nggak papa kan?"

__ADS_1


 Nek Minah masuk sambil memangku bayi Jeni yang bergerak lincah ke sana ke mari ingin lepas dari gendongan Nek Minah.


"Iya, kamu tenang saja. Lagi pula anak ini kan pinter, sudah mau makan sendiri pula biarpun sambil di berantakan," ujar Nek Minah seakan mengajak bicara bayi Jeni.


 Bayi itu tertawa seakan mengerti dia sedang menjadi bahan pembicaraan. Nek Minah mencium perutnya dan bayi itu tertawa senang.


 Jeni tersenyum senang, selama mereka berada di rumah Nek Minah tak sekalipun Nek Minah membiarkan mereka mengeluarkan uang. Semua kebutuhan hingga susu dan makanan MPASI bayinya pun nek Minah yang belikan.


 "Makasih banyak ya, nek. Nenek selama ini sudah bantuin Jeni," ucap Jeni tulus.


 Nek Minah beranjak meninggalkan bayi Jeni di atas kasur, bayi itu tengah merayap sambil sesekali menjatuhkan wajahnya di kasur. Nek Minah mendekati Jeni dan menepuk kedua pundaknya.


"Nenek sudah menganggap kalian berdua sebagai anak dan cucu nenek sendiri. Nenek selama ini sendiri, jadi kehadiran kalian buat hidup Nenek jadi berwarna," pungkasnya lembut.


 Jeni terharu dan serta merta menubruk Nek Minah, mendekapnya hangat seakan merasai kehangatan pelukan ibunya yang kini sudah di surga.


"Sudah, sudah sana berangkat. Nanti keburu siang, bayi kamu aman sama Nenek. Jadi kamu tenang aja ya," ujar Nek Minah mengelus kepala Jeni lembut.


 Jeni mengangguk dan meraih tangan tua Nek Minah untuk di salaminya.


"Jeni berangkat dulu ya, Nek. Doakan Jeni bisa segera mendapat pekerjaan."


 Setelahnya Jeni beralih pada bayinya dan memangku bayi itu sebentar.


"Mama pergi cari kerja dulu ya, Sayang. Kamu baik-baik di rumah sama Nenek ya. Nanti kalo Mama udah kerja, sudah punya uang kita jalan-jalan sama Nenek ya."


  Bayi itu berontak ingin melepaskan diri, Jeni meletakkannya kembali ke kasur dan membiarkan bayi itu kembali merangkak ria.


 "Jeni berangkat ya, Nek."


 Jeni berpamitan sekali lagi dan melangkah keluar membawa tas tangan pemberian Nenek dan sandal jepit satu-satunya yang dia miliki. Semua barang branded dan mewah yang dulu di milikinya semua habis terjual untuk biaya pengobatan kedua orang tuanya sebelum meninggal dulu.


 Nek Minah dan bayi Jeni mengantarkannya hingga ke muka teras, Nenek mengambil tangan bayi Jeni dan melambaikan nya ke arah Jeni.


 Jeni membalas lambaian kecil itu dengan perasaan haru, dalam hati kecilnya dia bertekad untuk mencari rejeki halal untuk dia dan bayinya.


****

__ADS_1


  Cuaca panas terik menyapa, tapi tak menyurutkan langkah Jeni untuk mencari lowongan pekerjaan yang kira-kira sesuai untuknya.


 Tapi sudah beberapa toko dan perusahaan dia datangi tak satu pun yang membutuhkan tenaga kerja. Saat hampir putus asa, tanpa sengaja Jeni bertemu dengan seorang pria yang menawarkannya pekerjaan.


"Tapi saya nggak ada pengalaman sebelumnya, Mas." Jeni menunduk malu.


 Pria muda yang memperkenalkan namanya sebagai Gus Musa itu tertawa, tawa yang terdengar renyah di telinga.


"Jadi pembantu rumah tangga kan nggak perlu skill khusus Mbak Jeni, yang penting bisa ngurus rumah dan bersih sat set sat set udah."


.


 Jeni tersenyum, ada gelenyar aneh yang muncul di hatinya saat mendengar suara Gus Musa.


 "Jadi bagaimana? Mau ikut ketemu Umi saya sekarang? Biar beliau saja yang menjelaskan tugas buat Mbak di rumah."


 Gus Musa bangkit mendahului Jeni berjalan ke arah kanan, di sana tampak gerbang besar sebuah pesantren terkenal di kota menjulang tinggi.


"Tunggu sebentar, Gus!" sela Jeni membuat langkah Gus Musa langsung terhenti.


"Ya, kenapa Mbak Jen?" tanya Gus Musa heran.


 Jeni meremas tas tangan yang di bawanya, dengan ragu ragu ingin menyampaikan permintaannya.


"Mbak Jen? Ada yang mau di bicarakan dulu? Silahkan. Saya tunggu," tukas Gus Musa mengalah.


"Apa boleh, kalau bekerja saya membawa anak saya? Kasihan dia tidak ada yang menjaga."


 Gus Musa tampak berpikir sejenak.


"Kalau masalah itu, lebih baik Mbak Jen tanya langsung saja sama Umi ya. Saya nggak berani memutuskan, tapi sepertinya Umi bakalan setuju aja sih."


 Jeni mendesah pelan, lalu mengangguk cepat. Baginya kini lebih baik mencoba lebib dahulu ketimbang nanti lebih sulit mencari pekerjaan lain.


 Gus Musa berjalan lebih dahulu di ikuti Jeni di belakangnya, menuju sebuah rumah besar yang berada di tengah pondok pesantren itu.


 Jeni menarik lengan bajunya, karna merasa pakaian yang di pakainya tidak pantas, semua yang lewat di sana semua memakai jilbab besar dan cadar bagi para wanitanya, dan sebagian besar menunduk ketika berpapasan dengan Gus Musa.

__ADS_1


"Nah, ini rumah saya Mbak. Silahkan masuk kita temui Umi," ujar Gus Musa mempersilahkan Jeni masuk menemui uminya.


 Dengan tubuh bergetar Jeni melangkah masuk, ada perasaan sejuk dan dingin ketika dia mulai melangkah memasuki rumah besar itu. Seperti ada perasaan dekat dan membuatnya sangat nyaman berada di sana.


__ADS_2