MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 135.


__ADS_3

Hendro melerai pelukannya dari Aish, mengusap jejak air mata di wajah gadis itu dan tak lupa mengulas senyum manis di wajahnya yang bergaris tegas itu.


"Kamu tenangin diri dulu ya, Aa mau ke kontrakannya Satrio dulu. Siapa tahu bisa dapat petunjuk lain, kamu istirahat ya."


.


 Aish mengangguk lalu melangkah gontai menuju kamar kosannya dan menutup pintunya perlahan.


 Hendro masih mengawasi gadis itu hingga dia hilang di balik pintu, barulah kakinya dia layangkan untuk kembali ke kontrakan Satrio yang kuncinya sebelumnya sudah di titipkan padanya.


Ceklek


 Hendro membuka pintu, kontrakan itu terasa sunyi sekali jika tak ada orang. Namun suasana sekitar yang asri dan nyaman menjadi nilai plus tersendiri hingga kondisinya tak terlalu horor seperti di film film.


 Mulailah Hendro menyusuri letak letak ruangan di kontrakan yang tak begitu besar itu, mulai dari ruangan depan, kamar hingga kamar mandi dia susuri tapi tak ada sama sekali sesuatu yang aneh selain barang barang pribadi milik Satrio.


 Tak patah semangat, Hendro melangkah menuju dapur. Niatnya semula ingin mengambil air minum karna tenggorokannya terasa kering setelah hampir satu jam lamanya mengitari ruangan demi ruangan di rumah itu. Tampak tak sopan memang, seorang tamu menjelajah rumah tuan rumah namun bagi Hendro tak ada yang lebih penting ketimbang membantu Aish mendapatkan titik terang kebenarannya.


"Hah, begini banget jadi bujangan. Segala gelas aja warnanya pink," kekeh Hendro sambil mengisi gelas itu dengan air dingin yang di ambilnya dari kulkas.


 Setelah menenggak habis isinya, Hendro bersandar di meja wastafel. Memikirkan berbagai kemungkinan tentang kecurigaannya pada Satrio dan wanita bernama Sri itu.


 Lelah berdiri, Hendro beranjak ke ruangan depan merebahkan tubuh lelahnya di atas karpet bulu di sana dan memejamkan matanya sejenak. Saat hendak meletakkan sebelah tangannya ke atas kepala sesuatu mengenai kepala Hendro.


Tuk


"Aduh, apa sih ini?" keluh Hendro sambil mengangkat tangannya yang ternyata memegang sesuatu itu.


"Astaga, ini gelas kenapa ngikut sih? Begini nih kalo jarinya kegedean, segala gelas aja nyangkut," gerutu Hendro sambil berusaha mengeluarkan tiga jarinya dari himpitan pegangan gelas plastik itu.


 Pluk


 Akhirnya gelas itu terlepas dan menggelinding ke bawah kaki Hendro. Saat hendak mengambilnya Hendro tanpa sengaja menemukan sebuah tulisan menggunakan spidol permanen di badan gelas itu.


Keningnya berkerut dalam, dengan mata nanar menatap gelas di genggaman tangannya.


"SS? Apa maksudnya?"

__ADS_1


****


Kembali ke rumah megah Edwin.


"Mau apa kamu, Uncle? Jangan macam macam atau aku akan teriak!" Ancam Rahman yang mulai gentar melihat bandul berduri yang bergerak semakin intens itu.


 Edwin makin menyeringai, berjalan pelan mendekati Rahman dengan bandul di goyang goyangkan.


"Apa kau takut, keponakan ku?" desisnya sambil tersenyum.


"Kenapa aku harus takut padamu? Aku ke sini untuk menjemput ibuku seperti janjimu! Sekarang berhenti bermain main dan kembalikan ibuku! Cepat!" bentak Rahman tak sabar, bahkan berdirinya yang semula agak membungkuk melindungi kepalanya kini berganti lebih tegak dengan kepala terangkat.


 Ed tampak mendekat, lalu memegang pundak Rahman dengan posesif.


" Kalau begitu, kau harus lihat ini dulu."


"Berhenti bermain main, Uncle! Aku tak punya banyak waktu untuk bermain denganmu!" sentak Rahman sambil menepis pegangan tangan Rahman di pundaknya .


"Oh, no! No more! Kali ini ... aku serius, " tegasnya sambil berjalan mendahului Rahman dengan bandul berduri masih tergantung di tangannya seolah bersiaga jika tiba-tiba Rahman menyerangnya.


 Rahman mendengus kesal, namun lagi lagi kakinya melangkah juga mengikuti arah kepergian Edwin. Kali ini Ed membawanya ke sebuah ruangan yang lebih pojok di lantai dua rumahnya.


 Rahman mengangguk mantab, tak ingin membuang waktu.


"Okay," desis Ed lalu membuka pintu yang tak terkunci itu lebar lebar.


 Rahman memindai kondisi di dalam sana, dan matanya membelalak lebar saat mendapati seseorang yang tak seharusnya ada di sana kini tengah duduk di dalam sana.


"Asiyah?" gumamnya masih dengan tatapan tak percaya.


****


"Sayang, Mas ada kabar baik," seru Axel yang baru saja sampai di rumahnya dan langsung berkeliling guna mencari dimana keberadaan sang istri tercintanya.


"Sayang?" seru Axel lagi karena tak mendapati sahutan dari Sarah.


"Sayang, kamu dimana?" Axel menaiki tangga ke lantai dua dan mulai mencari sang istri di kamar mereka.

__ADS_1


"Sayang?"


"Ssstttt." Sarah menempelkan telunjuknya di bibir sebagai tanda agar Axel memelankan suaranya.


Paham akan maksud istrinya Axel pun diam, dan memilih menunggu sembari duduk di atas ranjang. Tampak Sarah berjalan ke dekat jendela kamar karna tengah menerima telepon.


"Ya, Mom. Sarah masih di sini," ucapnya, tahulah Axel kalau yang di telpon istrinya adalah sang mertua yang sudah beberapa waktu terakhir ini berada di luar negri untuk berlibur.


"Hah, apa maksudnya itu, Mom? Tolong jangan berteka-teki."


 Axel mengernyit mendengar ucapan sang istri, karna penasaran dia pun memilih mendekat untuk bisa mendengar percakapan Sarah dan Nyonya Ellen.


"Tapi apa yang bisa kami lakukan, Mom? Bahkan rumah uncle pun kami tidak tahu," desah Sarah sambil melirik Axel yang sudah berada di sampingnya.


(Momy akan beritahu alamatnya, pergilah ke sana dan selamatkan gadis itu!)


 Jawaban dari Nyonya Ellen membuat Axel terhenyak, selamatkan? Apa artinya itu?


"Kenapa kita tidak bawa saja masalah ini ke kantor polisi, Mom? Akan lebih aman jika begitu kan?" ucap Sarah merasa keberatan, karna jujur saja dia bingung apa yang harus di lakukannya menanggapi permintaan ibunya yang menurutnya aneh itu.


(Tidak bisa! Kau bahkan tidak tahu seperti apa perangai pamanmu itu, Honey. Jangan bawa bawa polisi, tak akan ada yang mampu memenjarakannya. Sebaiknya bergeraklah dengan cerdik untuk bisa mengelabuinya dan membawa pergi gadis malang itu dari rumahnya sebelum dia berhasil melakukan sesuatu di luar kendali)


"Tapi, Mom ."


"Kami akan melakukannya, Mom. Tolong kirimkan alamatnya segera!" Axel menyela sembari menarik tangan Sarah yang memegang ponsel ke dekat mulutnya.


(Ah, Axel. Baiklah, Momy akan kirimkan segera, Momy tutup telponnya ya kabari Momy jika kalian butuh bantuan.)


"Baik, Mom."


 Axel menekan icon merah di layar, dan sambungan telepon pun terputus.


"Mas , apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu terima begitu saja permintaan Momy, kita bahkan tidak tahu apa yang kita hadapi ini, Mas." Sarah melayangkan protes.


 Axel menarik nafas dalam lalu mengajak istrinya untuk duduk lebih dulu di atas ranjang.


"Justru karna kita tidak tahu, makanya kita harus mencari tahu, sayang. Lagipula apa salahnya mencoba membantu ibumu?"

__ADS_1


 Sarah berdecak. "Tapi ini bahaya, Mas. Mengingat uncle Edwin itu adalah salah satu gembong mafia di kota ini. Akan sulit menerima permintaan Momy untuk membawa tawanannya keluar."


"Tunggu, Apa? Tawanan? Tapi siapa yang begitu pentingnya hingga Momy meminta langsung pada kita untuk menolongnya?" tanya Axel heran.


__ADS_2