
"Eh kasihan banget itu si Asiyah, nggak pernah boleh keluar rumah sama bapaknya sekarang sekalinya keluar malah langsung di bawa ke rumah suaminya. Duh, mana denger denger nih ya suaminya Asiyah itu orangnya ringan tangan, suka mukul terus juga pelit banget kayak bapaknya di juragan Tohir itu," ucap salah satu tetangga di desa yang kebetulan kemarin datang ke rumah Asiyah untuk membantu dan menyaksikan acara pernikahan antara Asiyah dan anak dari tuan tanah di desa itu.
Sudah lima tahun lamanya Asiyah ikut orang tuanya tinggal di desa M itu, dan selama itu pula hanya beberapa kali saja warga desa pernah bertemu langsung dengannya, selain karna Pardi tak mengizinkan dia berada di luar terlalu lama juga karna Asiyah tak pernah merasa nyaman dengan kehidupannya setelah keluar dari pondok.
Selama itu pula, Asiyah menjadi pendiam dan tak pernah terlihat tersenyum. Semua kegiatannya lebih banyak dia habiskan di kamar, di atas sajadah atau sekedar melepas kesedihan dengan tadarusan di kamarnya.
Hingga akhirnya saat itu tiba, saat tengah bertadarus di depan jendela kamarnya yang menghadap ke areal sawah milik orang tua angkatnya, saat itulah manik mata tajam bak elang milik Alam, lelaki yang kini menjadi suaminya pertama kali melihatnya dan langsung melamarnya menjadi istrinya. Asiyah tak berdaya, karna Pardi mengancam tak akan lagi mau mengakuinya anak jika menolak lamaran Alam dan juragan Tohir.
"Eh, eh lihat itu si Asiyah lewat. Hih, lihat deh itu pipinya merah, nah benar kan kataku tadi? Pasti itu ... pasti sudah dapat bogem mentahnya si Alam itu pasti," bisik salah satu tetangga lainnya yang kini tengah berkumpul di sebuah warung yang letaknya tak jauh dari rumah Pardi dan Salma yang kini sudah mulai bisa beraktivitas dengan kursi roda.
Asiyah yang tengah lewat sambil membawa rantang sebenarnya mendengar jika para tetangganya itu menggosipkan dirinya. Tapi Asiyah enggan menanggapi dan lebih memilih untuk menunduk dan mempercepat langkahnya hingga sampai ke rumah orang tuanya.
Masih dengan di iringi tatapan kasihan dan bisik bisik sumbang tetangganya, Asiyah masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Asiyah sambil terus melangkah masuk hingga tiba di dapur, dimana ibu dan bapaknya ternyata tengah berbincang di sana. Raut wajah keduanya juga tampak gelisah.
"Wa'alaikumsalam," sahut Salma lembut, lalu dengan mendorong kursi rodanya dia mendekati Asiyah yang masih berdiri terpaku di ambang pintu dapur.
"Bu," lirih Asiyah sambil menyalami tangan sang ibu yang mulai mengeriput itu, sengaja Salma mengelus lembut kepala sang putri yang terbungkus jilbab berwarna salem itu senada dengan pakaiannya yang tampaknya masih baru itu.
"Sudah makan, nduk?" Salma mengelus lembut tangan Asiyah yang tengah mendorong kursi rodanya menuju kembali ke meja makan.
"Sudah, Bu." Asiyah menyahut lirih, dengan wajah yang terus menunduk seakan menghindari tatapan mata sang bapak yang kini memindainya dari atas hingga ke bawah.
"Suamimu tahu kamu ke sini?" tanya Pardi ketus setelah Asiyah meletakkan rantang bawaannya ke atas meja.
__ADS_1
Asiyah mengangguk singkat, lalu beranjak duduk di samping ibunya.
"Kamu bawa apa itu, nduk?" Salma kembali bertanya dengan lembut, seakan tahu kalau hati putrinya tengah tidak baik baik saja.
"Tadi Asy masak SOP ayam, Bu. Kebanyakan, makanya sebagian Asy bawa ke sini, ibukan suka makan sayap ayam itu ada Asy bawain agak banyak bagian sayapnya," sahut Asiyah tak kalah lembut.
Kemudian tanpa menunggu lama Asiyah bangkit untuk mengambil mangkuk di rak dan membawanya menuju meja. Sebelum akhirnya sop ayam yang tampak lezat itu berpindah ke mangkuk tersebut.
"Jangan terlalu sering keluar rumah, apalagi tanpa seizin suamimu. Ingat sekarang kamu bukan anak gadis lagi, ada orang yang sudah harus kami hormati seperti layaknya kami." Lagi, Pardi berucap tanpa memikirkan perasaan sang anak yang sebenarnya sangat terluka dengan pernikahan yang tak di inginkannya ini.
"Sudahlah, Mas. Jangan terlalu dibahas, baru asiyah makan dulu," potong Salma sambil menatap penuh arti pada suaminya.
"Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik untuknya, dek. Sudah lima tahun, dan pemuda yang selalu di tunggunya itu tidak jua datang, maka jangan salahkan kalau aku menerima lamaran pria lain untuk Asiyah, dari pada orang kampung terus berucap miring tentang keluarga kita kalau anak gadis kita tidak laku. Lagipula keluarga yang menerimanya juga kan keluarga kaya, pasti hidupnya akan terjamin sudah sepatutnya dia patuh pada suaminya dan lebih banyak diam di rumah ketimbang keluyuran nggak jelas." Pardi terus saja mengoceh walau kini mulutnya penuh dengan sop ayam buatan Asiyah yang rasanya memang sangat lezat.
Asiyah diam, dia tak menjawab sama sekali. Baginya tak ada gunanya menyahut, hanya akan membuat masalah lebih runyam nantinya. Dalam hatinya Asiyah hanya bisa berdoa semoga dia bisa segera terbebas dari hubungan tak sehatnya dengan suami yang tak di inginkannya itu.
"Wa'alaikumsalam," sayup terdengar suara sahutan Pardi yang kini sudah berada di depan.
Di sambung suara bercakap-cakap sesaat sebelum akhirnya Pardi kembali ke dapur bersama seorang pria muda dengan lesung pipi di wajahnya.
"Asiyah, suamimu menjemput. Katamu tadi sudah izin, lalu kenapa Alam bilang belum?" ucap Pardi sambil menatap Asiyah garang, tampak kemarahan di wajahnya.
Asiyah hanya menunduk pasrah, tak berkutik sedikit jua bahkan saat pria bernama Alam yang baru satu hari menjadi suaminya itu duduk di sampingnya. Kentara sekali kalau Asiyah tampak tak nyaman, namun dia tahan sekuat tenaga karna sedang bersama orang tuanya.
"Tidak apa, Pak. Mungkin Asiyah lupa, saya maklumi kok, bisa jadi Asiyah belum terbiasa dengan hubungan kami sekarang. Mungkin dulu dia terbiasa bebas, makanya sekarang aneh kalau harus izin setiap bepergian," sahut Alam yang terdengar bagai sembilu di hati Asiyah.
__ADS_1
Bagaimana tidak, pria itu telah terang terangan menghinanya, dengan mengatakan kalau Asiyah terbiasa bebas sama saja dengan dia menilai Asiyah sebagai wanita yang tidak tahu aturan dan waktu seperti layaknya wanita panggilan.
Tapi Asiyah masih diam, walau gelenyar sakit di hatinya sangat terasa hingga membuat matanya terasa memanas. Namun lagi, sekuat tenaga dia berusaha bertahan agar air mata itu tak jatuh menetes apalagi di hadapan pria aneh di sisinya kini.
Pardi tampaknya lebih mempercayai Alam, nampak dari senyuman yang sejak tadi tak lepas dari wajah tuanya. Apalagi dengan buah tangan berupa dua kotak rokok berwarna coklat di hadapannya kini.
"Oh ya, Pak saya ke sini sekalian mau menyampaikan kalau besok lusa masjid kita akan mengadakan acara maulid, dan rencananya kita akan mengundang ustadz kondang yang sedang ramai di bicarakan itu. Dan untuk itu untuk membantu berjalannya acara semua warga di minta untuk menyumbang," ucap Alam lagi masih dengan senyum semanis madu di wajahnya yang tampak polos namun menyimpan sejuta misteri itu.
Mendengar itu Pardi tampak antusias, memang pria tua satu ini selalu antusias dengan kabar apa saja yang di bawa oleh orang yang mau memberinya sesuatu apapun itu.
"Oh ya, berapa sumbangannya Nak Alam?"
Alam tersenyum lebar sekali lagi.
"Ah itu ... tidak banyak kok, Pak. Cuma dua ratus ribu saja," sahut Alam enteng.
Salma tampak terkejut, namun tidak dengan Pardi tanpa banyak tanya lagi dia beranjak menuju kamar dan kembali dengan dua lembaran merah di tangannya.
"Ini, Nak. Sumbangan dari kami."
Alam menerimanya dengan tatapan aneh, entahlah Asiyah sendiri terkadang merasa takut dengan pria itu.
Karna penasaran Salma pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Hmmm, kalau boleh tahu siapa nama ustadz kondang yang kamu maksud tadi, Lam?"
__ADS_1
Alam mendongak, namun tak berapa lama langsung menunduk lagi seakan uang di tangannya tampak lebih penting ketimbang pertanyaan mertuanya. Namun akhirnya dia menjawab juga walau acuh.
"Kalau tidak salah namanya Rahman."