
*Yang penasaran kenapa Asiyah bisa ada di rumahnya Ed dan Amelie, dan kenapa Asiyah panggil Amelie Mami, ikuti dulu flashback ini.
*flashback.
"Ummm .... sebenarnya saya mau minta tolong, apa kalian bersedia membantu saya?" tanya Edwin saat di pesta syukuran kehamilan Jeni tempo hari.
Asiyah mengerutkan keningnya tak mengerti namun karna penasaran akhirnya dia memilih untuk bertanya lebih dulu.
"Membantu ... dalam bentuk apa ya?"
Ed tersenyum senang karna merasa umpannya di makan target, lalu dengan bersemangat dia mengatakan maksudnya pada Asiyah dan Alam.
"Apa? Berpura-pura jadi anak kalian?" ucap Asiyah terkaget-kaget dengan mata melotot tak percaya.
Alam sendiri sampai memegangi dadanya yang terasa sesak karena hidungnya dia jepit sendiri, dasar random.
"Iya, tolonglah. Karna sejak tadi saya perhatikan wajah kamu mirip sekali dengan anak kami yang hilang. Dan itu juga yang menyebabkan istri saya jadi seperti ini," pinta Edwin dengan wajah memelas sembari menunjuk amelie di sampingnya yang tampak hanya tertunduk diam sambil sesekali tertawa sendiri.
Asiyah menoleh dan menatap Alam di sampingnya, Alam menggeleng namun malah membuat sebuah ide gila di benak Asiyah. Menurutnya kan kapan lagi bisa mengerjai lelaki julid seperti suaminya itu.
Dan akhirnya tanpa pikir panjang lagi Asiyah mengangguk mantab mengiyakan permintaan Edwin.
"Saya terima, tapi dengan satu syarat."
Edwin yang semula senang langsung tampak kebingungan.
"Syarat? Syarat apa?"
Asiyah mengangkat dagunya seolah baru saja memenangkan pertandingan, merasa bangga dengan hasil pemikirannya sendiri. Lalu dengan lugas dia pun berkata.
"Paman harus membantuku menemukan orang tua kandungku."
"Dan waktunya satu Minggu, bagaimana?" imbuh Asiyah lagi menawarkan sebuah kesepakatan tanpa mempedulikan Alam di sebelahnya yang melotot tak setuju.
Edwin tersenyum miring sekilas lalu menjabat tangan Asiyah.
"Deal!"
* Flashback off
"Kalau begitu kami mau minta pulang!" sela Alam membuyarkan keintiman antara Amelie dan Asiyah yang benar benar di anggapnya anaknya sendiri yang hilang bertahun tahun yang lalu.
Asiyah terkesiap dan langsung menyikut rusuk Alam tanpa aba-aba.
__ADS_1
Jdukkk
Bunyi sikut beradu dengan tulang rusuk Alam, hingga membuat Alam tertunduk dan meringis menahan nyeri di dada kanannya.
"Dasar, istri durh ...."
"Mau sekali lagi, Mas?" geram Asiyah dengan senyum kesal di wajahnya yang berputar menatap Alam.
Alam langsung kicep, nyalinya menguap entah kemana melihat wajah seram Asiyah.
"Ada apa, sayang?" tanya Amelie yang tak begitu paham apa yang di lakukan Asiyah dan Alam, lagipula selama Asiyah ada di rumah itu perhatian Amelie sepenuhnya hanya tertuju pada Asiyah, tak ada tempat sedikit pun untuk sekedar melirik Alam.
Asiyah berbalik kembali dan menampakkan senyum termanisnya di depan Amelie, begitulah permintaan Edwin padanya yaitu membuat istrinya senang dan melupakan kesedihannya dalam jangka waktu satu Minggu sampai dia bisa menemukan orang tua kandung Asiyah.
"Tidak apa, Mami. Oh ya, Mami sudah waktunya makan siang bagaimana kalau kita turun dan makan dulu?" tawar Asiyah lembut.
Amelie mengangguk dan menurut saja saat Asiyah menuntunnya untuk keluar kamar dan menuruni tangga putar untuk sampai ke lantai bawah.
"Tttiiiddddddaaaakkkkkk!"
Amelie dan Asiyah tersentak kaget saat baru saja menginjakkan kaki di tangga pertama mereka sudah di sambut dengan suara teriakan melengking dari arah lantai bawah.
.
Asiyah mengurungkan niatnya membawa Amelie turun, dia kembali menarik Amelie naik dan memutar pagar pembatas lantai dua untuk melihat apa yang terjadi di lantai bawah.
Dan betapa terkejutnya Asiyah saat melihat adanya Rahman di sana tengah memeluk seorang wanita tua yang tampak ketakutan dan gemetar, sedangkan di hadapannya Edwin terlihat berdiri dengan bandul berduri di tangannya.
"Ya Allah, ada apa ini sebenarnya?" gumam Asiyah panik.
Batinnya mendadak kacau karna merasa telah mengambil keputusan yang salah karna telah menginjakkan kaki di rumah Edwin yang notabene tak di ketahuinya asal usulnya.
****
Yang sebenarnya terjadi di lantai bawah.
"Bibi, bawalah ini sebagai kenangan-kenangan dariku."
Rahman yang tengah memeluk ibunya sontak mengangkat wajahnya dan memindai air muka Edwin. Namun anehnya tak terlihat seringai licik di wajahnya yang bersih dan misterius itu, kecuali tatapan penuh kasih yang di layangkan untuk ibunya .
Sang ibu pun tampak memberontak di dalam dekapannya hingga Rahman terpaksa melepaskannya, dengan hati bertanya tanya ada apa sebenarnya.
"Ah, anak ini kenapa harus memeluk ibu sekencang itu, hm? Dada ibu jadi sesak," ujar Bu Hannah sambil membenahi letak pakaiannya yang kusut karna di peluk Rahman tadi.
__ADS_1
Kemudian dia berbalik dan tersenyum lebar pada Edwin.
"Terimalah ini, bibi." Edwin menyodorkan bandul berduri itu pada Bu Hannah.
Bu Hannah menatap bandul yang tampak mengerikan di mata Rahman itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kau serius? Bukankah ini kesayanganmu?" ucapnya dengan bergetar.
Edwin mengangguk dengan mata yang terlihat berkabut.
"Iya, bibi sudah ku anggap ibuku sendiri. Jadi ... aku ingin separuh jiwaku ikut bersama bibi," tukasnya puitis, mendengarnya membuat Rahman sebal sebenarnya.
Bagaimana tidak, melihat kedekatan mereka ibu dan pamannya membuat Rahman sebagai anak merasa tersisih. Padahal seharusnya yang sedekat itu dengan Bu Hannah kan dirinya yang sudah bertahun tahun tak bertemu, ini kenapa malah ... ah sudahlah, authornya gak ngotak.
Bu Hannah menubruk dada bidang Edwin dan memeluknya erat, membuat Rahman semakin tak rela melihatnya. Namun apa daya dia juga tidak bisa tiba-tiba menjadi anak yang posesif bukan?
"Bibi akan sering mengunjungimu, mengunjungi kalian hingga nanti anak anak kalian di temukan," bisik Bu Hannah di sela pelukan mereka.
Edwin mengangguk. "Harus, jika tidak aku akan marah pada bibi. Dan aku akan mogok makan hingga bibi datang dan menyuapi aku lagi."
Mata Rahman melotot mendengarnya, apa lagi ini ibunya menyuapi sang paman yang sangat di bencinya itu sedangkan dia saja sudah tak pernah di suapi lagi sejak umur tiga tahun. Memang pencuri ibu, manusia satu itu, pikir Rahman kesal.
Setelah itu mereka melerai pelukannya dan saling tersenyum sembari mengusap mata masing masing.
"Ah ya, bibi. Untuk masalah anak anak, bibi tidak usah khawatir lagi. Sebenarnya aku sudah menemukan keberadaan mereka, hanya tinggal menunggu mereka mencari ku, dan aku akan membawa bibi ke sini nanti untuk bertemu anak anakku." Edwin tertawa senang.
"Ah, benarkah? Bibi senang sekali mendengarnya. Yah, kau harus menjemput bibi nanti ya jika mereka pulang ke rumah ini, bibi tidak sabar ingin bertemu cucu cucu bibi itu." Bu Hannah menjawab dengan mata berbinar senang walau masih tampak sisa jejak air kata di sudut kantung matanya.
"Tentu, bibi tentu." Edwin mengangguk mantab.
****
Di perjalanan pulang.
"Bu, kenapa di terima sih bandul nya? Itu kan bahaya, Bu? Nanti kalo di jalan kita di tilang polisi gimana karna bawa barang bahaya begitu, nanti di kira mau tawuran lagi," keluh Rahman sambil menatap iri bandul berduri yang kini ada di pangkuan ibunya dan di elus sayang oleh sang ibu.
Rahman cemburu karna harusnya dia yang merebahkan kepalanya di sana, bukan bandul itu.
Tapi Bu Hannah malah cengengesan saja mendengar protes anaknya.
"Tidak mungkin kita di tangkap polisi karna bandul ini, sebab bandul ini kan terbuat dari resin," kekehnya membuat Rahman seketika hanya bisa nyengir kuda saja.
Ternyata selama ini kita salah paham.
__ADS_1