
Dengan langkah tergesa Axel berlari keluar untuk menemui perempuan yang memanggil namanya itu.
"Loh, Jeni? Kenapa kamu bisa tau rumah ku di sini?" tanya Axel kaget saat melihat Jeni yang berlari naik ke terasnya dengan wajah ketakutan.
"Ada apa? Kenapa kamu kayak di kejar setan begitu ha?" cecar Axel lagi karena Jeni belum juga buka mulut untuk menjawabnya.
"Hei perempuan sial*n! Kembali ke sini kamu! Kurang ajar! Bisa-bisanya kamu kabur dari aku ya!" Maki seorang pria gendut bertubuh tambun dan perut buncitnya yang khas.
Pria itu berlari menuju ke arah mereka namun langkahnya sebenarnya tak lebih cepat cari seekor bebek saat berlari. Di belakangnya tampak Pak satpam turut berlari mengejar dua orang tak di kenal yang menerobos masuk ke rumah bosnya itu.
"Bang! Tolongin Jeni, Bang. Jeni mau di jahatin sama orang itu, Jeni nggak sanggup lagi, Bang. Tolongin Jeni!" Isak Jeni sambil bersembunyi di belakang tubuh tegap Axel.
Axel mendesah panjang, rasa kemanusiaan di hatinya memberontak dan langsung simpati akan kesulitann yang tengah di alami Jeni.
"Hei! Bit*h! Kenapa kamu malah berlindung di belakang laki-laki itu hah? Aku sudah menbayarmu mahal, jangan bertingkah dan membuat aku murka, atau ...."
"Atau apa?" sela Axel turut kesal melihat seorang pria yang seenaknya merendahkan harga diri wanita.
Walau pada kenyataannya memang Jeni sendiri lah yang merendahkan dirinya dengan menjalani pekerjaan nista itu.
Pria tua botak dan buncit itu menatap Axel tak suka, dan dengan pongahnya malah mendorong bahu Axel walau Axel sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
"Wah, wah, wah. Kau berusaha melindungi dia, apa kau juga salah satu pemakai jasanya? Kalau iya, aku bisa mengalah padamu dan membebaskan dia kali ini kalau kau mau membayarkan uang yang sudah ku berikan padanya sebagai bayaran." Pria itu menatap Axel dengan tatapan merendahkan.
Memang penampilan Axel saat ini terlihat sangat jomplang dengan rumah besar yang dia tempati. Axel hanya mengenakan kaos oblong putih polos dengan bawahan celana training panjang. Jadi pikir pria itu Axel sebenarnya hanyalah seorang pesuruh di rumah besar itu.
"Bang, tolongin Jeni, Bang. Jeni nggak mau lagi ikut sama laki-laki aneh itu, badan Jeni sudah remuk karena dia, Abang." Jeni terisak sambil menunjukan pergelangan tangannya yang lebam kebiruan karena di ikat semalaman di atas ranjang oleh pria maniak tersebut.
__ADS_1
Lagi, hati Axel yang selembut popok bayi itu tak tega melihat kondisi Jeni.
"Berapa yang harus ku bayarkan?" tantang Axel mulai geram.
Sejak dulu, Axel sangat membenci pria yang memandang wanita sebelah mata dan hanya menganggap mereka sekedar pembantu gratis atau pemuas nafsu belaka tanpa mengedepankan ilmu kalau perempuan itu bahkan derajatnya lebih tinggi dari pria.
Pria itu berdecih, menganggap ucapan Axel hanyalah sebuah omong kosong belaka.
"Tuan muda, maaf. Tapi dua orang ini tadi memaksa masuk di depan gerbang sana saat saya baru mau menutup pagarnya. Saya akan usir mereka sekarang," ucap Pak satpam yang baru saja tiba di depan teras rumah dengan nafas tersengal-sengal.
Karena tadi dia lupa untuk menutup pagarnya kembali, jadi dia kembali dulu untuk menutupnya khawatir akan ada lagi orang tak di kenal yang masuk ke rumah itu.
Axel menatapnya dan mengangguk. "Sebentar, biarkan kamu selesaikan urusan ini dulu."
Satpam itu mengangguk dan langsung berjaga di belakang pria gendut buncit itu, kalau kalau nanti dia malah membuat onar yang tak terduga dan bisa membahayakan Axel.
"Jangan macem-macem kamu pria Gil*!" maki Jeni masih dari balik punggung Axel.
Pria itu berdecih dan tak mau ambil peduli dengan umpatan Jeni.
"Jangan banyak cakap, cepat katakan berapa yang kamu minta dan segera pergi dari tempat ini!" hardik Axel pula.
"Ohohoho, baiklah ... baiklah. Karna statusmu tuan muda, maka sepertinya seratus juta akan cukup." Pria itu berdesis.
"Hei! Kau bahkan membayarku tidak lebih dari seperempat harga itu! Dasar manusia tak berakal!" maki Jeni lagi, bahkan kali ini dia sudah berani keluar dari balik punggung Axel dan menudingkan telunjuknya ke arah pria buncit itu.
Pria itu malah tertawa mengejek dan dengan santainya mengambil kursi teras dan duduk santai di sana.
__ADS_1
"Yah, itukan memang harga yang pantas untuk perempuan sepertimu. Tapi ... terserah kalau aku belum mendapatkan uang itu aku juga tidak akan pergi dari sini. Tak peduli walau kalian akan mengusir' atau menyiramku sekalipun aku akan tetap di sini menunggu uangku."
Jeni terkesiap, rupanya dia sudah membawa seonggok lintah parasit ke dalam rumah orang. Dan kini melimpahkan masalahnya pada orang lain pula.
"Baiklah, aku akan kembali ikut denganmu." Jeni akhirnya mengalah karna merasa tak enak harus merepotkan axel, walau hatinya tak terima jika harus kembali merasai kekejaman dari kelainan seksual pria buncit di depannya itu.
Tapi Jeni malu kalau sampai masalahnya malah di ketahui semuanya oleh Axel yang sudah habis-habisan di hinanya dulu.
"Hah, pada akhirnya di jal*ng ini sendiri yang memilih mundur. Hahahah, harusnya sejak awal kau itu sadar kalau tak akan ada orang mau menolong wanita murahan sepertimu!" pria itu kembali melontarkan kalimat menyakitkan untuk mengatasi Jeni, Jeni sendiri hanya diam dan melangkah pelan untuk kembali ikut dengan pria berkelainan itu.
Axel hanya diam saat itu, tapi hatinya kembali berdenyut nyeri saat tanpa sengaja melihat kaki Jeni yang tampak membiru di betisnya yang terbuka. Jalannya agak terpincang-pincang, dengan wajah yang meringis menahan sakit. Sepertinya ada banyak luka lainnya di tubuh yang kini tampak semakin kurus itu.
"Ayo cepat kita tuntaskan pekerjaan mu, Sayang." Pria itu merangkul Jeni dalam pelukannya yang lebih terlihat seperti cengkraman di bahunya.
Mereka berjalan menuruni tangga tinggi rumah itu, tampak pria itu sedikit menarik paksa Jeni yang tampak kepayahan karna sakit di kaki dan tubuhnya.
"Tunggu!" teriak Axel yang sudah tak kuat menahan rasa tak tega di hatinya itu.
Pria itu membawa Jeni berbalik, sekilas tampak sinar harapan di mata Jeni kala bersitatap dengan Axel.
"Ada apa? Kau berubah pikiran?" ledek pria buncit.
Axel menarik nafas panjang dan mengeluarkan ponsel dari saku celana trainingnya.
"Tuan muda, apa anda yakin? Bukankah tuan tidak mengenal mereka? Tapi kenapa?" tanya satpam itu heran karna nominal yang di minta oleh pria buncit itu sangatlah besar dan tak masuk akal.
Axel mengangguk dan tersenyum kecil, baginya anggap saja ini adalah nafkah yang dulu belum bisa dia berikan secara layak untuk Jeni. Hingga hidupnya kini harus menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Sebutkan nomor rekeningmu."