MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 29.


__ADS_3

Nt3 bab 29.


 Bima termenung di sudut trotoar, langit malam yang indah dan bertabur bintang seakan menertawakan kesialannya dari atas sana.


 Debu debu dari kendaraan yang lewat berhembus mengenai pakaian dan wajahnya yang terbuka, membuatnya tampak lusuh dengan darah yang mulai mengering di punggung tangannya.


"Pak Bima!" panggil seorang perempuan yang suaranya begitu familiar di telinga Bima.


 Bima menoleh dan terkejut. "Elina? kok kamu masih di sini?"


 Elina berjongkok di sisi Bima dan menarik tangannya untuk berdiri dari trotoar yang kotor itu.


"Harusnya saya yang tanya Bapak lagi apa di sini?"


 Bima tertawa sumbang, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. " Lalu saya harus kemana? saya udah di usir sama Sarah. Kamu tau sendiri kan kalau saya itu sebenarnya nggak punya apa apa kalau bukan karna Sarah. Saya aja yang terlalu terlena sampai buta untuk menyadari semuanya."


 "Terus sekarang Bapak mau kemana?" tanya Elina yang wajahnya tampak sembab saat tertimpa lampu mobil yang terus berlalu lalang di jalan tepat di sebelah mereka.


 Bima menggeleng lemah, dan mulai berjalan menyusuri trotoar. "Saya nggak tau, El. Rasanya semua sudah terlalu terlambat, saya baru sadar sekarang ... saat semuanya sudah bukan lagi milik saya."


 Elina membuntuti Bima dalam diam, mereka melewati beberapa pedagang makanan di pinggir jalan, dan Elina tidak sengaja melihat Bima sempat menelan ludahnya saat menatap jejeran makanan itu.


"Lalu kamu sendiri bagaimana bisa masih di sini, El? bukankah Momy Ellen membawa kamu ke kantor polisi?" tanya Bima sambil meneruskan langkahnya menjauh dari para pedagang makanan itu.


"Tidak, Pak. Nyonya Ellen memang membawa saya, tapi bukan ke kantor polisi melainkan ke rumah saya untuk membuktikan kata kata saya tentang ibu saya yang sedang sakit," sahut Elina.


 Bima berhenti dan menunggu Elina mensejajari langkahnya. "Yah, kamu beruntung. Keluarga Sarah sejak dulu memang sangat baik hati. Saya saja yang terlalu ambisius sampai melupakan semua kebaikan mereka terumata Sarah."


 Krucuukkkk


 Tanpa sengaja perut Bima berbunyi, Elina yang mendengarnya langsung merasa iba dan menarik Bima masuk ke sebuah gang kecil yang merupakan arah menuju rumahnya.

__ADS_1


"Kamu mau bawa saya kemana, El?" tanya Bima kebingungan.


  Elina menoleh sekilas dan tersenyum. "Sudah ikut saja, Pak. Jangan banyak protes."


 Bima akhirnya terpaksa menurut, karna tubuhnya juga sudah terlalu lemah untuk menolak.


  Sebuah rumah sederhana dengan banyak bunga bunga di teras dan halamannya menyambut mereka, nuansa cat pink di padu biru membuat rumah itu tampak begitu sejuk dan nyaman.


"Ini ... rumah siapa, El?" kembali Bima bertanya.


 Elina membuka sandal dan naik ke teras rumah tersebut. "Ayo masuk, Pak. Ini rumah saya. Maaf kalau kecil tidak sebesar rumah Bapak pastinya."


 Bima menggeleng. "Rumah saya yang mana? saya mana punya rumah sih, El. Kamu ngejek saya ya?"


 Mereka tertawa bersama sebagaimana keakraban yang sering terjadi di kantor, awal mula Elina mulai menaruh rasa diam diam pada atasannya itu. Yang sebab itu pula Elina menurut saja semua perkataan Bima padanya, hanya karena Elina mulai menaruh hati padanya.


"Apa tidak apa kalau saya ke sini? saya nggak enak, El." Bima melangkahkan kaki dengan ragu.


Sebuah ruang tamu minimalis menyambut mereka, di susul dengan ruang keluarga yang kecil namun nyaman dan berlanjut ke dapur.


"Bapak tunggu di sini dulu ya, Elina mau tuntun ibu ke sini. Kita makan bareng bareng ya," tukas Elina tanpa bisa di bantah.


 Sebelum Bima buka suara Elina sudah melesat menuju sebuah kamar dan tak berapa lama kembali lagi bersama seorang lansia yang di yakini adalah ibunya.


"Nah Pak, ini ibu saya namanya Titin kalau orang orang sini pada manggilnya Mbok Tin." Elina memperkenalkan ibunya yang tampak masih bisa mendengar dan merespon dengan baik itu.


 Mbok Tin mengangguk pada Bima yang di balas Bima dengan anggukan pula.


"Mbok, ini Pak Bima bosnya Elina yang sering Elin ceritain itu," ucap Elina di dekat sang ibu.


"Iya, Nduk. Ganteng ya orangnya, persis kaya yang kamu sering cerita," sahut Mbok Tin lirih.

__ADS_1


 Bima tertunduk malu karna ternyata Elina sering membicarakannya pada sang ibu. Tapi tentu saja Elina mengatakan kalau Bima sudah menikah jadi ibunya tidak berharap lebih.


"Ya sudah, ibu tunggu sebentar ya ... Elina mau siapin makanannya dulu. Sebentar ya, Pak." Elina beranjak menuju sebuah pantry kecil di belakang meja makan dan kembali membawa beberapa piring berisi hasil masakannya.


 Ada cah kangkung, tempe bacem dan sambal tomat. Hanya masakan sederhana namun nyatanya cacing-cacing di perut Bima meronta ingin lekas merasainya.


"Maaf ya, Le. Di sini makanannya cuma ada kayak begini, pasti beda jauh ya sama makanan yang biasa kamu makan," ujar Mbok Tin pada Bima.


"Iya, Pak. Maaf tapi cuma ini yang bisa Elina masak, habisnya Elina harus hemat karena sebagian gaji El buat bawa ibu berobat," timpal Elina pula.


 Sedikit sesal tampak di kedua bola mata beningnya, karna tak bisa menyuguhkan makanan yang layak untuk orang yang di kaguminya sejak lama.


"Ya ampun, nggak papa Mbok, El. Nggak papa, justru saya yang terima kasih sudah di ajak makan di sini. Terima kasih sekali saya," ujar Bima yang malah merasa tak enak hati.


"Ya sudah kalau gitu ndang di makan, Le. Mumpung masih hangat, tadi Elina baru masak. El, tolong ambilkan nasinya ya," titah Mbok Tin penuh perhatian.


 Elina mengangguk dan dengan cekatan menyendok nasi untuk Bima, berikut lauk pauk sederhananya dan memberikannya pada Bima dengan dada yang tak hentinya berdebar.


"Terima kasih ya, El." Bima tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


 Sejak lama hidup di kota, merantau seorang diri membuat Bima bahkan lupa seperti apa hangatnya sebuah keluarga. Sebelumnya bersama Sarah memang Sarah selalu melayaninya dengan baik dan hangat, namun kekerasan hati Bima saat itu membuatnya tidak pernah merasakan ketulusan Sarah padanya.


 Kini hanya sesal yang tertinggal, tak ada gunanya lagi meratap. Tanpa sadar Bima menyuapkan makanannya di iringi tangis di kedua matanya.


 Mereka makan dalam diam, tidak ada yang berani bertanya akan air mata Bima. Mbok Tin dan Elina menghargai privasi Bima jadi mereka hanya diam membiarkan Bima dengan segala sesalnya melebur menjadi satu di sepiring makanan yang hampir habis isinya itu.


 Tapi tiba-tiba Mbok Tin merasakan dadanya sesak, begitu sakit sampai tubuh tua rentanya tak mampu lagi bertahan di posisinya dan ambruk ke bawah meja.


Brugh


"Ya Allah Mbok!" seru Elina panik dan membuat Bima yang tengah bersedih serta merta pun ikut panik.

__ADS_1


__ADS_2