
Para perawat itu gegas menolong sang pasien, sementara sang suami yang di ketahui Asy sebagai Axel menjerit histeris karena darah kembali mengalir dari sela luka sang istri.
"Ya Allah, Mas mas maafkan saya, Mas. Saya nggak sengaja." Asy memburu Axel dan meraih tangannya lalu menciumi nya bertubi tubi..
Axel yang sudah bersimbah air mata yang lagi memperdulikan asy, setelah tubuh Sarah naik sempurna lagi ke atas brankar dia lekas kembali mengikuti para perawat yang kembali membawa istrinya menuju ruang penanganan.
Bahkan dia tak menjawab satu patah katapun permintaan maaf Asy. Hingga asy hanya bisa tergugu di tempat hingga Aish berhasil menyusulnya dengan Sutris di belakangnya.
"Ya Allah, Asy ... kenapa?" Aish merangkul Asy yang masih tergugu.
"Tadi ... tadi itu Mbak Sarah, temennya Mbak Jeni ... dia ... dia jatuh ke sana, Aish ... gara gara aku nggak hati-hati, terus ... terus Mbak Sarah , berdarah banyak sekali." Asy berbalik memeluk Aish dan menumpahkan lagi semua tangisnya.
Tubuh asy gemetar, sangat kentara kalau dia sangat ketakutan.
"Tenanglah, Asy. Nggak akan ada apa apa, tenanglah ya ada dokter di sini yang akan menyelamatkan Mbak itu." Aish dengan sabar menepuk pelan punggung saudari kembarnya itu.
"Ka- kalau sampai Mbak Sarah meninggal gara gara jatuh tadi gimana, Aish?" gumam Asy lirih di sela tangisnya nya.
Aish menggeleng lalu melerai pelukannya dari tubuh Asy.
"Jangan mendahului takdir, Asy. Sudah sekarang kita lihat kondisi mantan suamimu dulu, setelah itu nanti baru cari tahu kabar tentang Mbak yang kamu bilang tadi ya?"
Aish bangkit meraih tangan Asy dan menantunya bangkit, lalu mereka mulai mencari dimana ruangan tempat Alam di rawat.
Setelah beberapa saat menelusuri koridor rumah sakit, Asy akhirnya melihat sosok seperti Bu Sani mantan mertuanya yang baik hati itu seperti tengah duduk diam di depan sebuah ruangan tertutup. Gegas dia menarik tangan Aish agar lekas sampai ke tempat Bu Sani, semakin dekat semakin jelas terlihat kantung mata wanita tua itu telah sembab.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Bu." Asy mengulurkan tangannya untuk menyalami mantan mertuanya itu.
Bu Sani meliriknya sekilas, jika biasanya Bu Sani akan menyambutnya dengan suka cita dan penuh kasih sayang, kali ini tidak hanya tatapan dingin dan datar yang di berikan Bu Sani saat Asy mencoba menyalaminya.
Asy yang kebingungan masih membiarkan tangannya tergantung di udara, menunggu Bu Sani menyambut uluran tangannya.
"Mau apa kamu ke sini sekarang ha? Belum puas kamu melihat anakku menderita?" geram Bu Sani yang sama sekali belum pernah di dengar Asy selama ini di depannya Bu Sani selalu menunjukkan sikap lembut dan keibuan yang sangat di rindukan Asy.
"Maaf, Bu tapi ... apa maksud ibu bicara begitu?" tanya Asy tak mengerti, begitu pula saat Bu Sani melirik sinis Aish yang wajahnya sangat mirip dengan Asy.
"Ternyata kalian ada dua, tapi tetap saja pastinya kalian sama sama egois." Bu Sani mengumpat lagi, tanpa berkata apa yang sebenarnya terjadi pada asy dan Aish.
Asy yang sudah tak bisa menahan sabar karna lelah dengan semua yang terjadi, langsung menarik tangannya kembali menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit membungkuk karna menghormati Bu Sani dan menarik nafas dalam agar tak terbujuk emosi.
Bu Sani menatapnya sinis. " Itulah kesalahan terbesarmu, kenapa saat suami sakit kamu justru tidak ada di sampingnya? Mentang mentang orang tua kandungmu baru ketemu dan kamu seenaknya melupakan suamimu yang sudah berbaik hati mengambilmu dari orang tuamu yang tidak menyayangi mu itu."
Wajah Asy tampak merah padam, terlebih saat Bu Sani dengan mudahnya melimpahkan semua kesalahan padanya. Padahal tanpa mereka sadari bukan Asy seorang yang bersalah dalam hal ini.
"Kenapa saya harus peduli kalau Mas Al pun tidak peduli perasaan saya saat ...."
"Wah, wah wah lihatlah siapa yang baru datang setelah suaminya berada di atas meja operasi?" seorang wanita yang di ketahui Asy sebagai juli, wanita yang terus memusuhinya di kampung dulu berjalan ke arah mereka dengan angkuh.
Asy terkesiap mendengar kalimat yang terlontar dari bibir tipis Juli.
"Apa? Mas Al di operasi? Tapi kenapa bisa?"
__ADS_1
"Hah, dasar perempuan nggak berguna pantes saja Mas Al sampai sakit pasti karna nggak pernah di urus sama dia." Juli menyela dengan ketus.
"Hei, hati hati kalau bicara ya. Asy bilang begitu karna ...."
"Karna apa? Karna sejak awal dia itu emang nggak cinta sama Mas Al ya kan? Buang buang waktu Mas Al aja buat ngambil hati kamu selama ini, padahal kalau saja dia mau melirik aku sedikit saja aku pastikan dia nggak akan menyesal dan sakit seperti ini." Lagi lagi Juli menyela, membuat Aish berang karenanya.
"Ini orang ngomong mulu sih kaya beo." Aish merangsek maju hendak menerkam juli, namun Asy dengan sigap langsung menangkapnya dan memeluknya erat.
Wajah saudari kembarnya itu tampak memerah karna emosi.
"Sudah! Kalian ini kenapa malah berantem? Memangnya dengan begitu bakalan bikin situasinya membaik ha? Sudah lebih baik kalian diam dan duduk!" Bu Sani angkat suara, membuat Juli yang sudah bersiap menerkam Aish langsung tersurut dan menuruti perkataan Bu Sani.
Setelah mereka duduk, Asy mulai menanyakan apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Maaf, Bu tapi sebenarnya Mas Al kenapa? Kenapa harus sampai di operasi? Padahal sebelum ini Mas Al kelihatan sehat sehat saja," tutur Asy menutupi yang sebenarnya dia tahu, namun sesuatu yang tidak di beri tahu Alam padanya adalah kalau kondisinya sebenarnya lebih parah ketimbang yang terlihat.
Bu Sani menghela nafas lirih, mencoba menetralkan perasaannya agar tak lagi meledak ledak seperti tadi.
"Sebelum itu, katakan dulu sebenarnya ada apa antara kamu dan Alam kenapa kalian tidak pulang bersama? Alam bilang karna kamu masih ingin bersama orang tua kandung kamu, tapi ... entah kenapa rasanya ibu tidak bisa percaya itu," gumam Bu Sani dengan suara bergetar.
Asy menelan ludah dengan susah payah, dia tahu hal ini lama kelamaan pasti akan terbuka juga akhirnya. Dia bimbang haruskah dia mengatakan pada Bu Sani kalau dia dan Alam sudah bercerai? Sedangkan pesan Alam padanya untuk menahan perihal itu selama mungkin dari di ketahui keluarganya. Karna Alam masih mengkhawatirkan kondisi sang ibu yang bisa saja tidak siap dengan kabar perpisahan mereka.
"Katakan, Asy ... ada apa? Kenapa kalian saling diam begini jika ibu tanya ada apa di antara kalian?" desak Bu Sani tak sabar.
Asy terhenyak, dia memejamkan mata dengan jantung bergemuruh hebat. Sedang di dalam sana, air mata mengalir dari pelupuk mata Alam yang tertutup.
__ADS_1