
Lorong demi lorong mereka jelajahi, berbekal senter besar di tangan dan keberanian untuk mengungkap apa yang sebenarnya ada di balik semua kejadian ini.
"Di sini kemarin Peter menyekap Sarah, Pa." Axel menunjuk sebuah ruangan yang pintunya dalam keadaan terbuka, padahal dia ingat sekali saat kemarin meninggalkan tempat itu pintunya sudah di tutup kembali oleh salah satu petugas dari kepolisian yang membantu meringkus Peter.
"Tempat apa ini?" gumam Andrew sambil menjejakkan kakinya di lantai berdebu ruangan itu, ruangan yang hanya di terangi satu satunya lampu sorot berwarna kekuningan yang ada di sana. Selain itu semua tempat lainnya di biarkan gelap tanpa pencahayaan.
Axel turut menyusuri tempat itu, ruangan yang lembab dengan aroma tanah memenuhi semua tempat. Rak rak yang berjajar di sana tampak memuat buku buku lama yang tampak sudah usang dan sangat berdebu.
.
Entah dorongan darimana Axel mengambil salah satu buku itu, membukanya dan melihat lihat isinya. Sebuah buku yang tulisan di dalamnya sudah pudar termakan usia. Namun yang menarik perhatiannya adalah sebuah foto berukuran kecil dengan warna hitam putih yang berada di antara lembaran lembaran buku itu.
"Foto siapa ini?" gumam Axel sembari melangkah menghampiri Andrew yang tengah memeriksa apakah ada lubang angin di tempat tersebut atau tidak.
"Pa," panggil Axel.
"Ya? Apa kau menemukan sesuatu, Ax?" tanya Andrew sembari mengibaskan tangannya yang baru saja menyibak sarang laba laba.
Axel mengangguk lalu mengangsurkan selembar foto berukuran sekitar 4r yang dia temukan di dalam lembaran buku tadi.
Andrew menerimanya dengan berdebar, lalu memperhatikan dengan seksama wajah wajah yang ada di dalam foto tersebut.
"Foto ini ... ini ..."
"Papa mengenal orang orang di foto itu?" tebak Axel.
Andrew menatapnya sekilas, lalu kembali memperhatikan foro tersebut. Dengan yakin kepalanya bergerak naik turun.
"Ya, Papa tahu. Ini ... foto Kak Bryan dengan ke dua orang tuanya. Mafia terbesar dan paling terkenal di masanya."
Kening Axel tampak berkerut, lingkup pergaulannya yang sejak dulu hanya sekitar anak anak panti dan para pelanggannya saat masih berjualan nasi goreng membuatnya kurang mengerti apa yang di maksud sang ayah.
"Mafia? Apa itu Papa? Apa sejenis pengusaha juga seperti Papa?"
"Hahahaha." Andrew tergelak, menyadari betapa polosnya putranya itu. "Yah, bisa di katakan sejenis itu. Hanya saja lingkup pekerjaan mereka lebih kompleks dan terkadang berada di luar jangkauan kita, bahkan dalam kasus orang tua kak Bryan dulu mereka termasuk pihak yang bahkan di takuti oleh presiden."
"Apa? Bahkan presiden pun bisa takut? Sehebat apa memangnya mereka, Pa?" tanya Axel mulai tertarik.
Andrew manggut-manggut sejenak sembari kembali mengayunkan kakinya menyusuri ruangan remang itu, memindai sekitarnya apabila terdapat sesuatu yang bisa di jadikan hipotesis.
__ADS_1
"Yah, bisa di bilang ... sangat hebat dan ... sangat berpengaruh ."
Mata Axel berbinar takjub, sembari mensejajari langkah ayahnya dia terus saja bertanya.
"Lalu, apa lagi yang istimewa tentang mafia, Pa?"
Andrew berhenti, membuat langkah kaki Axel seketika juga berhenti.
"Hah, Papa tidak bisa menjelaskan lebih detail, Ax . Papa ... tidak pernah tertarik dengan dunia gelap itu, terlebih Papa juga tidak ingin kamu sampai bergabung di kelompok seperti itu."
"Tapi, kenapa alasannya Papa? Bukankah bagus jika bisa menjadi kuat dan berpengaruh?"
Andrew menggeleng. "Jangan tertipu dengan dunia, Nak. Bukankah dulu kau yang mengajari Papa kalau dunia ini tak akan ada habisnya?"
Sontak Axel terhenyak, bayangan tentang berbagai kemudahan yang akan di dapat dan perlindungan yang ketat dari semua kaki tangan jika dia bisa menjadi mafia yang berkuasa sejenak membuatnya lupa akan fitrah dunia yang selama ini di yakinnya.
"Astaghfirullah, astaghfirullah."
Axel bergumam lirih sembari memulihkan pikirannya yang tadi mulai di kuasai bisikan setan.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita kembali memeriksa tempat ini.".
Ruangan selanjutnya berisi kotak kotak kayu tua yang entah berisi apa, tak ada keinginan Axel maupun Andrew untuk memeriksanya lebih lanjut. Dan berlanjut ke depan, mereka menemukan sebuah tangga yang menuju ke atas.
"Apa ini?" gumam Andrew pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Tapi Axel yang mendengar langsung menyahutinya .
"Sepertinya ini tangga menuju ke atas, Pa. Biar saya panjat, dan kita lihat kemana tangga ini akan membawa kita."
Andrew mengangguk dan menyingkir dari depan tangga itu, membiarkan Axel naik ke atasnya. Berbekal sebuah senter kepala Axel menaiki tangga itu dengan hati hati, namun anehnya tangga itu terasa licin dan bersih, seolah sudah sering di pakai tak seperti bagian ruangan lainnya yang hampir semuanya di penuhi debu.
Tuk
Tuk
Di ujung tangga yang kira kira setinggi tiga meter itu, axel berhenti menatap sebuah pintu kayu di atasnya yang berbentuk bulat melingkar. Sebuah tuas tampak di sisinya, sepertinya memang sering digunakan karena pintu itu pun tampak sama bersihnya dengan tangga kayu di bawahnya.
"Ax! Ada apa di sana?" suara Andrew menggema di ruangan gelap itu, membuat Axel sontak menoleh ke bawah.
__ADS_1
"Ada pintu di sini, Pa. Coba saya buka dulu ya."
"Baiklah," tukas Andrew.
Klek
Axel membuka pintu bulat itu dengan mudah, menandakan engsel pintu itu masih di rawat dan sering di minyaki.
Kretek
Pintu terbuka, Axel mendorong lebih kuat dan hembusan angin dingin menerpa wajahnya di sertai runtuhan tanah kecil yang turut berjatuhan saat dia naik semakin tinggi.
Tap
Kaki Axel akhirnya menapak di tanah, dia memutar tubuh memindai sekitarnya yang penuh dengan rumput ilalang.
"Wah, apa ini? Kenapa ada pintu tembus ke sini?" tanya Andrew yang rupanya sejak tadi ikut memanjat tangga itu karna sudah sangat penasaran.
"Dimana ini, Pa?" Axel menyibak sedikit rerumputan di depannya agar lebih mudah melihat sekitar.
"Entahlah, tapi ... papa rasa tempat ini cukup aman untuk seseorang menyelinap tanpa ada yang melihat."
Axel dan Andrew melangkah maju, mengitari tempat itu untuk mencari tau dimana gerangan mereka berada.
"Pa, lihat." Axel menunjuk satu arah yang mana itu adalah pagar tinggi di belakang kompleks perumahan yang di tempatinya, dan pagar yang membatasi tanah perumahan dengan lahan pemerintah yang di tanami pohon akasia.
"Sudah Papa duga," gumam Andrew sambil mendesah panjang, gesekan tanah dan rumput tampak membekas di wajah dan kepalanya karna memanjat keluar lubang tadi.
"Apa itu, pa?" tanya Axel.
"Pantas saja Peter mempunyai akses yang mudah untuk berada di sekitar tempat ini tanpa di curigai. Sebab perusahan yang papa percayakan padanya memang bergerak di bidang jasa keamanan. Semuanya jadi masuk akal sekarang, bagaimana bisa dia mengetahui ruang rahasia yang Papa rasa memang sengaja di bangun oleh mertuamu," papar Andrew panjang lebar.
"Lalu, sebenarnya untuk Papa almarhum ayah mertuaku membangun ruang rahasia itu, Pa? Pasti ada sesuatu di baliknya dan tentu saja ada alasan kuat kenapa Peter berani melakukan semua ini pada keluarga kita setelah beliau tiada."
Andrew mengangguk pelan. "Sepertinya ini ada kaitannya dengan masalah itu."
"Masalah apa maksud Papa?"
"Perseteruan di masa lalu yang membuat Peter menjadi korban."
__ADS_1