
Umi Nafisah bergegas ke kamar jeni, beruntung kamar itu tidak tertutup sempurna sehingga Umi Nafisah bisa masuk ke dalam sana dengan mudah.
Terdengar suara rintihan Jeni yang tertahan, membuat Umi Nafisah menjadi tak tega.
"Jen, Umi masuk ya."
Jeni segera menoleh, wajah cantiknya sudah pucat pasi menahan sakit. Tanpa menunggu jawaban dari Jeni, Umi Nafisah langsung masuk dan mengambil posisi di sisinya, mengurut pelan bagian tulang ekor Jeni untuk mengurangi rasa sakitnya. Jeni masih merintih, sesekali mengelus elus perutnya yang dalam beberapa menit sekali terus merasakan kontraksi yang intens.
"Yang sabar ya, nduk. Lailahaillallah, subhanaka inni Kuntu minazzalimiin." Umi Nafisah terus membimbing Jeni membaca doa yang memang di khususkan untuk ibu yang akan melahirkan.
Jeni mengikuti bacaan Umi Nafisah di sela rintihannya, rasa sakit yang terus menerus datang membuat Jeni bahkan tak ingat apa apa lagi selain rasa sakitnya.
Tak berapa lama, Gus Musa sudah kembali muncul ke dalam kamar. Bersama sama mereka memapah Jeni dan membawanya ke dalam mobil, tampak beberapa santri putra dan santri putri tak lupa juga guru guru tenaga pengajar lainnya di pondok pesantren itu berdiri di depan halaman menatap kepergian pemilik pesantren tersebut dan keluarganya. Dan di antara mereka tampak pula sepasang mata kecil milik Abbas yang juga turut mengawasi kepergian orang tuanya.
"Ya Allah, rasanya sakit sekali." Jeni terus merintih karna rasa sakit yang datang kini berkali kali lipat rasanya ketimbang saat di rumah tadi, bahkan Jeni merasakan jika pakaian dalamnya saat ini sudah mulai basah.
Umi Nafisah yang berada di sisi Jeni terus mengusap bagian punggung dan pinggul Jeni, berharap dapat sedikit mengurangi rasa sakit yang di derita menantunya itu. Mata tuanya sudah mulai berkabut, teringat saat saat seperti inilah yang selalu akan dia ingat dalam hidupnya, kala dia hanya bisa berjuang seorang diri dengan sang suami karena tak memiliki sanak keluarga lain lagi kala itu.
" Yang sabar ya, Jen. Yang kuat, Umi ada di sini. Kamu yang kuat ya," hibur Umi Nafisah dengan nada suara mulai terdengar bergetar.
Jeni perlahan mengangguk, tangannya terus bergerak mengusap perut yang terasa mengencang. Jeni mengernyit, rasa sakit yang luar biasa datang membuatnya ingin sekali mengejan hebat, namun untungnya Umi Nafisah mengingatkannya akan bahaya mengejan sebelum waktunya. Jadi sebisa mungkin Jeni menahannya sekuat yang dia bisa sembari terus melantunkan doa pada Yang Maha Kuasa.
Mobil yang di kemudikan Gus Musa sudah sampai di pelataran rumah sakit, cepat Gus Musa memanggil perawat yang langsung bergerak cepat menolong istrinya.
Jeni di bawa ke ruang bersalin dengan di ikuti Umi Nafisah, sedangkan Gus Musa langsung di minta untuk me gurus administrasi dan pendaftarannya di loket pendaftaran.
Gus Musa melakukan semuanya dengan cepat, sebab ingin segera menemani sang istri yang saat ini tengah berjuang di antara mautnya untuk melahirkan calon buah hati mereka ke dunia.
"Umi, bagaiamana?" cecar Gus Musa setelah selesai semua urusan administrasi dan langsung menyusul ke ruangan dimana tadi Jeni di bawa.
Di depan sana, Umi Nafisah juga tengah menunggu dengan was was.
"Suami pasien?" ucap salah satu perawat yang secara tiba-tiba muncul dari ruang bersalin, samar terdengar suara teriakan dari dalam sana yang langsung di yakini Gus Musa jika itu adalah suara istrinya, hatinya langsung terenyuh tak tega mendengar begitu kesakitan seperti itu.
Karna Gus Musa tak kunjung menjawab, akhirnya Umi Nafisah yang menjawab pertanyaan perawat tersebut.
"Ini, sus. Anak saya suaminya," ucapnya seraya menyeka air mata yang masih menbekas di pipinya.
__ADS_1
Suster itu mengangguk. "Baik, bapak bisa tolong ikut saya, sebab istri bapak sejak tadi terus memanggil manggil di dalam sana. Mungkin kehadiran bapak bisa membuat pasien lebih tenang."
Gus Musa menoleh pada sang ibu lebih dulu, sebelum akhirnya melangkah setelah melihat anggukan Umi Nafisah.
*
Situasi di dalam ruangan bersalin tampak tegang, Jeni terus menerus berteriak sambil sesekali melantunkan doa yang sempat di ajarkan Umi Nafisah tadi padanya. Keringat dingin membulir di keningnya, membuat Gus Musa semakin tak tega.
"Silahkan berdiri di dekat istrinya ya, Pak . Pembukaannya sudah lengkap dan sebentar lagi bayinya akan lahir," titah seorang bidan yang kini berada di bagian bawah tubuh Jeni.
Gus Musa sebenernya bingung dengan ucapan sang bidan, namun tak ingin menghambat proses persalinan istrinya dia gegas menuruti perintah sang bidan dengan berdiri di sisi ranjang istrinya. Gus Musa memeluk kepala Jeni, mengecupnya tak peduli walau kening Jeni kini penuh dengan peluh yang terasa dingin .
"Mas, ini sakit sekali." Jeni terdengar merintih..
Gus Musa tak tega, namun dia tak dapat melakukan apa apa. Di tatapnya dalam mata sang istri tercintanya, sebelum menjatuhkan satu kecupan lagi di keningnya.
"Bertahan ya, sayang. Mas tahu kamu pasti kuat, bertahan ya demi anak kita," gumam Gus Musa yang hanya di jawab anggukan singkat saja oleh Jeni.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara seperti letusan kecil dari bagaian bawah tubuh Jeni. Di iringi rasa ingin mengejan yang begitu kuat di rasakan oleh Jeni.
Jeni mengangguk dan mulai mengikuti setiap perkataannya, walau sakit yang di rasa belum juga hilang namun Jeni dapat merasakan saat ini bayinya juga tengah berjuang bersamanya.
"Bismillah, sayang. Yang kuat ya, kamu kuat sayang kamu bisa ." Gus Musa terus memberi semangat pada istrinya itu tanpa mengenal lelah, setiap keringat yang mengalir di kening Jeni tak segan di usapnya dengan tangannya atau dengan bagian bajunya sendiri.
"Mas ridho atas kamu sayang, tolong yang kuat dan tetaplah di sini bersama Mas dan anak anak nantinya ya," bisik Gus Musa lagi.
Dan tak butuh waktu lama dari sana, dorongan yang semakin kuat untuk mengejan membuat Jeni akhirnya berhasil membawa bayi yang selama ini mereka tunggu tunggu ke dunia. Tangisan yang melengking itu menandakan awal sebuah kehidupan baru yang begitu di nanti oleh keluarga kecil mereka.
Gus Musa tersenyum, di sekanya air mata yang sempat mengalir di sisi wajahnya. Di tatapnya penuh haru wajah istrinya yang sama mengulas senyum dengan sorot syukur yang sama pula.
"Alhamdulillah, selamat ya Bapak Ibu bayinya perempuan. Sehat dan cantik sekali," tutur sang bidan yang menangani Jeni tadi, di bawa sebuah tubuh mungil yang baru saja di lahirkan Jeni ke atas tubuh Jeni. Di tutupkan sebuah kain ke atasnya dan di biarkannya Jeni untuk memeluk buah hatinya tersebut, sementara dia kembali sibuk dengan plasenta si bayi yang juga sudah siap di lahirkan.
Gus Musa berpindah posisi, dia ingin melihat lebih jelas wajab putrinya yang beberapa menit lalu bahkan masih nyaman menikmati suasana di dalam kandungan sang ibu. Tak lupa ponselnya juga sudah dalam kondisi siaga, bersiap mengambil gambar si bayi termasuk ibunya untuk di simpan sebagai kenangan.
"Wajahnya mirip sekali sama Mas ya, dek." Gus Musa menyentuh pelan wajah si bayi yang tengah membuka buka mulutnya itu dengan gemas.
Jeni tersenyum dan mengangguk setuju. "Iya ya, Mas. Kamu curang, harusnya kan mirip aku."
__ADS_1
"Hahaha, itu artinya kamu yang curang kan Abbas sudah mirip sekali sama kamu masa yang ini juga mau mirip kamu sih, dek? Terus Mas kebagian apanya dong?" kekeh Gus Musa.
Jeni tak me menyahut lagi, hanya senyum yang dia berikan pada sang suami kini. Seorang suami yang luar biasa di matanya juga seorang ayah yang sangat bertanggung jawab aakan anak anaknya. Tak habis habis Jeni bersyukur akan berkah yang di berikan padanya ini.
Setelah itu, seorang suster meminta sang bayi dari tubuh Jeni. Mengatakan akan membersihkannya lebih dulu, Jeni membiarkan suster itu mengambil bayinya sedang dia mulai menatap ke arah bawah dimana sang bidan berkata akan mengurus plasenta si bayi. Namun yang kini Jeni rasakan malah plasenta itu masih berada di dalam rahimnya, ada apa sebenarnya?
Wajah wajah tegang di sana, yang Jeni tangkap dari raut wajah pada suster dan bidan itu. Apa itu artinya ....
***
Sementara itu.
"Mas ,mau kemana?" tanya Asy kala tanpa sengaja melihat suaminya hendak membereskan barang barangnya ke dalam koper.
Rasa cemas sontak menguasai hatinya, takut jika sang suami hendak pergi lama dan meninggalkannya.
Namun sejurus kemudian, seulas senyum di wajah Rahman melunturkan semua praduganya.
"Nggak kemana mana kok, cuma ke kampung kamu dulu saja. Ada panggilan ngisi acara lagi, dek."
Asy manggut-manggut, lalu ikut duduk di sisi ranjang di dekat Rahman yang tampak tengah mengotak-atik ponselnya.
"Nah, ini bukti chatnya. Pihak sana yang mengundang Mas lagi untuk kembali mengisi ceramah di sana. Bagaimana? Kamu percaya kan?" tanya Rahman sembari menatap wajah cantik sang istri .
Asy mengangguk pelan. "iya, aku percaya kok, Mas. Tadi cuma kaget saja ,biasanya kamu kan selalu minta tolong aku kalau mau membereskan barang barang. Ini kok tumben beresin sendiri?"
"Iya, sedikit meringankan beban istri kan apa salahnya? Lagi pula ...."
Kening Asy kembali berkerut. "Lagi pula?" ulangnya heran, seraya memindai wajah suaminya yang tampak jahil itu.
"Iya, lagipula kan kamu harus membereskan barang barang kamu sendiri. Masa iya aku masih harus menambah beban kamu sih,," ujar Rahman semakin berteka teki.
"Hum? Membereskan barang aku sendiri? Buat apa, Mas?" Asy masih tak mengerti.
"Ya iyalah sayang, kamu kan ikut kali ini. Kamu mau kan? Sesekali nemenin Mas ya. Ya ya mau ya, sekalian jenguk orang tua angkat kamu ke kampung itu, masa iya kamu nggak kangen mereka sih?" bujuk Rahman seperti seorang anak yang tengah merengek meminta mainan pada ibunya.
*Lanjut di bab selanjutnya ya, masih di proses sebentar lagi.
__ADS_1