
Seusai acara yang hanya menghabiskan waktu hingga ba'da ashar itu, Jeni gegas mengikuti Asiyah yang memintanya untuk melihat kondisi Nek Minah. Setelah melepas semua aksesoris yang masih menempel di kepala dan tubuhnya Jeni menitipkan Abbas pada Gus Musa dan beranjak menuju kamar Nek Minah.
"Mbak, Asy mau ke depan dulu ya. Mau ketemu Mbak Sarah, tadi Asy lihat Mbak Sarah masih ada di depan," pamit Asiyah saat mereka tiba di depan pintu kamar Nek Minah.
Jeni mengangguk dengan wajah cemas. "Iya, As. Mbak masuk dulu, kalau nanti Mbak Sarah tanya, bilang aja Mbak nemenin nenek ya."
Asiyah mengangguk setuju dan berlalu menuju ke tenda pesta yang sebagian masih terisi oleh tamu itu.
Jeni membuka pintu kamar perlahan, tampak di sana Nek Minah terbaring lemah dengan nafas naik turun. Jeni mendekat, memegang tangan Nek Minah hingga sang nenek terbangun dan menatap Jeni dengan matanya yang tampak cekung.
"Jen ...." Nek Minah bergumam lirih, tangannya berusaha balas menggenggam tangan Jeni namun lemah.
Satu tetes air mata Jeni lolos begitu saja membasahi pipi yang bahkan masih terdapat make up di atasnya, Jeni terlalu terburu-buru sampai tak sempat lagi membersihkan sisa make up di wajahnya. Karna sudah sangat cemas juga dengan kondisi nek Minah.
"Nek, kita ke rumah sakit ya." Jeni mengusap air matanya dan bicara di dekat telinga Nek Minah.
Tapi Nek Minah malah menggeleng lemah. "Nggak usah, nduk. Nenek nggak mau merepotkan."
Jeni meletakkan tangan keriput nek Minah di pipinya, air matanya mengalir semakin deras ketimbang tadi.
"Tapi nenek butuh perawatan, Nek. Nenek butuh obat, bukan hanya sekedar berbaring seperti ini. Jeni nggak tega, Nek."
Nek Minah mengelus lembut kepala Jeni yang tertutup hijab instan itu.
"Nggak papa, nduk. Nenek sudah merasa baikan kok, nenek nggak papa sungguh," sahut Nek Minah berusaha tampak baik baik saja walau kini nafasnya mulai sesak kembali.
Namun sekuatnya Nek Minah menahan semuanya karna tak ingin membuat Jeni semakin khawatir.
"Nggak, Nek. Jeni akan tetep bawa nenek ke rumah sakit, ini bukan waktu yang tepat untuk menunggu keajaiban," tegas Jeni dan langsung beranjak keluar untuk memberitahu suaminya.
Tak di dengarnya lagi suara lemah Nek Minah yang berusaha menahannya dari dalam kamar.
Dengan air mata masih membasahi pipi, Jeni berlari kecil mencari suaminya dan tanpa sengaja malah berpapasan dengan Umi Nafisah yang tengah membawa sebuah selimut bermotif bunga di tangannya.
"Loh, Jen? Kamu nangis, Nduk?" tanyanya heran.
__ADS_1
Jeni memegang tangan Umi Nafisah dengan perasaan tak karuan.
"Umi, tolong nenek Umi." Jeni memelas sambil memegangi tangan Umi Nafisah dan menciumnya berkali-kali.
Umi Nafisah yang bingung mencoba mengehentikan jeni dan memegangi kedua bahu menantunya itu.
"Eh, kamu kenapa, nduk? Nek Minah kenapa? Coba cerita sama Umi pelan pelan, biar Umi juga jadi paham."
Jeni menghapus kasar air matanya dan menatap Umi Nafisah dengan tatapan nanar.
"Sepertinya lebih baik Umi langsung lihat sendiri saja,ayo mi." Jeni menarik tangan Umi Nafisah untuk mengikutinya menuju ke kamar Nek Minah.
Umi Nafisah mengikuti dengan pasrah, namun betapa terkejutnya dia ketika mendapati tubuh lemah Nek Minah terbaring tak berdaya di atas kasurnya. Umi Nafisah memegang tangan Nek Minah, dan semakin terkejut lah ia ketika merasai tangan itu sangat dingin.
"Panggil Musa, nduk! Minta dia siapkan mobil, jangan lupa panggil juga beberapa santriwati buat bantu angkat nenek ke mobil," titah Umi Nafisah tak kalah panik, namun Umi Nafisah masih berusaha untuk tidak menunjukkan pada Jeni.
Jeni mengangguk cepat dan gegas melaksanakan apa yang di katakan oleh ibu mertuanya itu.
Kepala Jeni berputar ke sana ke mari, mencari dimana kebersamaan sang suami dan anaknya. Semua santri di tanyanya sambil meminta beberapa santriwati untuk menghadap pada Umi Nafisah.
Jeni berbalik dan menatap lega pada suaminya.
"Alhamdulillah, Mas. Akhirnya ketemu juga," ujar Jeni lega sambil memegang tangan Gus Musa yang tengah menggendong Abbas kecil dalam dekapannya.
Dahi Gus Musa tampak berkerut. "Ada apa memangnya, Dek?"
Jeni menarik nafas dalam dan meminta Abbas dari gendongan Gus Musa.
" Nenek sakit, Mas di minta Umi buat siapin mobil, kita mau ke rumah sakit sekarang juga," tegas Jeni tanpa basa basi.
Gus Musa terhenyak sesaat, dan setelahnya langsung menguasai situasi.
"Kamu tunggu di sini, Mas siapkan mobil."
Jeni mengangguk dan menepi dari jalan setapak yang kemungkinan akan di lewati mobil Gus Musa nantinya.
__ADS_1
Beberapa santriwati tampak berlarian masuk ke dalam ndalem', sesuai perintah yang di katakan Jeni tadi. Sedangkan Gus Musa kini sudah tampak menyandarkan mobilnya di depan tangga rumah, tak jauh dari pintu utama yang masih tampak sisa sisa pesta sebelumnya yang kini tengah di rapikan oleh jasa w.o yang mereka sewa.
Tak lama, tampak rombongan santriwati tadi kembali keluar sambil menggotong tubuh Nek Minah yang memang tak begitu berat karna termakan usia itu.
"Dek Jen, kamu di rumah saja ya jagain Abbas. Nenek biar Mas sama Umi yang urus,"ucap Gus Musa penuh perhatian walau dari raut wajahnya dia tengah tegang.
Tanpa banyak cakap Jeni mengangguk menuruti dan tak lama kemudian klakson mobil tinggi itupun terdengar seiring lajunya yang semakin menjauh.
Jeni masih menatap ke arah perginya mobil suaminya hingga sebuah tepukan di pundak sukses mengagetkannya.
"Mbak Jen?" panggil Asiyah yang merupakan dalang terkejutnya Jeni barusan.
"Duh, as. Bikin kaget aja sih, lagi panik tahu ini." Jeni berkata ketus.
Asiyah tersenyum kecil. "Nenek mau di bawa ke mana, Mbak."
Jeni mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menatap Asiyah dengan mata nanar.
"Nenek mau di bawa ke rumah sakit, kondisinya sudah lemah sekali, As. Kenapa baru sekarang kamu bilang ke Mbak? Kenapa nggak sejak kemarin, As?" cecar Jeni pelan, nadanya tak terdengar membentak memang tapi Asiyah sangat tahu kalau saat ini Jeni tengah kesal.
Bukan kesal padanya, namun pada kondisi yang menjadikannya terlambat membawa Nek Minah untuk di obati.
"Maafin Asy, Mbak. Asy terpaksa diam soalnya Nek Minah selalu wanti wanti Asy supaya nggak ngasih tahu siapapun tentang kondisi beliau. Sampai tadi siang setelah acara foto foto, Asiyah masuk ke kamar nenek dan kondisi nenek malah makin drop," papar Asiyah apa adanya, dari nada suaranya terdengar kalau anak itu tengah menahan tangis.
Hati Jeni menghangat, dia tahu kalau Asiyah pasti kesulitan merawat Nek Minah seorang diri saat semua orang termasuk dirinya sibuk dengan pesta pernikahan saja. Saat masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba tiba seseorang yang begitu familiar bagi Jeni datang mendekat, di belakangnya ikut pula dua orang pria yang begitu akan melekat di benak Jeni hingga kapan pun juga masanya.
"Jeni, akhirnya ketemu juga," ucap wanita di depan yang adalah Sarah itu dengan ramah, dan menyempatkan menyentuh pipi kiri dan kanan Jeni dengan pipinya yang kemerahan.
Jeni terkesiap, namun tak urung suaranya terbuka juga untuk bertanya walau terbata.
"M- Mbak i- itu ... itu Pak Ismail? Tapi ... kenapa Mbak bawa dia ke mari?" bisik Jeni lirih sekali, takut kalau ada seseorang atau sesetembok yang mendengar bisikannya pada Sarah.
Sarah mengangguk dengan senyum miring di bibirnya.
"Sengaja saya bawa dia ke sini, untuk ...."
__ADS_1