
Axel memeluk Sarah erat, air matanya tumpah. Di bisikkannya kalimat kalimat penuh cinta dan penghiburan untuk istrinya itu. Setelah beberapa saat, Axel mengambil sebotol air sisa tadi Sarah minum, dan memberikannya pada Sara menggunakan sebuah pipet.
"Mas, rasa sakitnys datang lagi," rintih Sarah dengan wajah merah.
Axel mengangguk, matanya sudah sangat basah oleh air mata. Dia mengecup kening Sarah memberi kekuatan.
"Kuat ya, Sayang. Sekali lagi, izinkan anak kita juga melihat dunia seperti saudaranya yang lain ya."
Sarah mengangguk lemah, berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau dia bisa melahirkan bayi terakhir di perutnya itu.
Rasa sakit semakin intens terasa, Sarah mengikuti aba aba bidan seperti sebelumnya, tapi kali ini rasanya berkali kali lipat lebih sakit hingga Sarah meneteskan air mata.
"Ayo, ibu. Sedikit lagi, kepalanya sudah mulai kelihatan," bujuk sang bidan dengan nada memohon, mungkin juga karna kasihan dengan Sarah dan bayi yang sudah terlalu lama di dalam perutnya itu.
Axel memegang tangan Sarah, mengatakan kalau dia tidak sanggup dia bisa menyerah. Tapi Sarah menggeleng cepat.
"Nggak, Mas. Anak anakku berhak hidup."
Setelah itu Sarah mengikuti naluri mengejannya yang datang dengan sangat kuat. Teriakkannya menggema seiring dengan tangisan bayi yang ikut terdengar bersamanya.
"Alhamdulillah," seru bidan itu yang ternyata ikut menangis pula.
Suara tangis bayi terakhir tiba-tiba berhenti, sang bidan dengan sigap langsung membersihkan sisa cairan ketuban dari mulut dan tubuh di bayi. Tapi tubuh bayi mulai membiru, sang bidan meminta bantuan suster yang lain untuk mengambil alat bantu nafas untuk bayi baru lahir.
Setelah beberapa saat mencoba, bahan hingga membalik posisi bayi dan mengusap usap punggungnya. Akhirnya bayi itu kembali menangis walau tak begitu kencang seperti dua saudaranya yang lain. Tubuhnya perlahan memerah walau belum sepenuhnya.
Bidan menyerahkan bayi itu pada suster, dan dia sendiri menyelesaikan tugasnya atas Sarah.
"Saya jahit sedikit ya, Ibu. Supaya bisa lekas membaik, ibu hebat sekali loh, bisa melahirkan tiga anak kembar dengan normal. Ya ampun rasanya seumur umur jadi bidan baru kali ini saya mendapat pasien dengan bayi kembar tiga yang lahiran normal," ujar sang bidan sambil mulai melaksanakan tugasnya untuk menjahit jalan lahir Sarah yang terdapat sobekan.
__ADS_1
Sarah mengigit bibir sambil mendesis kecil ketika jarum itu mulai menembus kulit.
"Bu bidan, apa harus sekali di jahit?" tanya Axel memberanikan diri bertanya karna tak tega melihat istri kesakitan untuk yang ke sekian kalinya.
Bu bidan tersenyum dan mengangguk. "Iya, Pak. Untuk mempercepat proses penyembuhan dan supaya tidak terjadi infeksi nantinya. Tahan ya, Ibu. Ini sudah hampir selesai."
Setelah bidan itu menyelesaikan tugasnya, dia langsung membersihkan tubuh Sarah yang sebagian besar terkena darah juga mengganti pakaiannya dengan baju pasien.
"Sementara ibu di rawat dulu ya, Pak. Sampai kondisinya pulih nanti bisa pulang. Sementara itu, Bapak bisa mengurus administrasinya lebih dulu supaya ibu bisa di pindahkan ke ruang rawat."
Axel mengangguk dan meminta izin pada Sarah untuk keluar ruangan sebentar sekaligus untuk mengabari kedua orang tuanya dan juga mertuanya akan kelahiran cucu cucu mereka.
"Jangan lama lama ya, Mas." Sarah menjawab lirih, wajahnya tampak sangat kelelahan.
Axel mengangguk. "Iya , Sayang pasti. Mas keluar ya, sebentar aja. Setelah beres Mas langsung balik lagi."
Sesuai perkiraannya, para kakek dan nenek itu selalu saja rela meninggalkan pekerjaannya sepenting apapun itu untuk bisa segera bertemu cucu cucunya.
Axel berbalik hendak kembali menuju tempat Sarah, namun matanya justru tertumbuk pada seorang perempuan berjilbab lebar yang tengah menangis di depan loket administrasi.
"Sus, tolong rawat dulu nenek itu. Saya janji nanti akan kembali lagi untuk membayar biayanya, tolong sus." perempuan itu menangkup tangannya di dada.
Wajahnya tak bisa di lihat Axel dari samping karena terhalang jilbab. Namun Axel merasa seperti pernah mendengar suaranya dan merasa sangat familiar juga.
"Maaf, Mbak. Tidak bisa, kalau Mbak mau nenek itu di rawat sebagai mana mestinya kebutuhannya, Mbak harus sudah melunasi biaya rumah sakitnya. Kalau tidak ya, mohon maaf kalau pihak rumah sakit juga tidak bisa membantu apa apa." Suster itu menyahut ketus, raut wajahnya tampak kesal mengahadapi perempuan di depannya yang sejak tadi terus saja menghiba.
"Apa begini pelayanan rumah sakit ini terhadap orang yang tidak mampu?" cerca Axel yang sudah tak tahan menikah ke pongahan suster itu.
Suster itu menoleh dan seketika gelagapan, karna ada orang yang memergoki sikap arogannya barusan.
__ADS_1
"Ah, itu Pak. Hmm ... saya ... saya hanya ...."
"Bukankah harusnya kamu bisa bertanya dulu apa pasien punya kartu jaminan kesehatan atau tidak, bukannya malah langsung meminta biaya begitu? Sudah berapa banyak pasien yang tidak tertolong karena sikap kamu ini?" desak Axel lagi, sedang perempuan di sampingnya seakan menatap takjub padannya.
Suster menunduk, dan perlahan mengangguk membenarkan ucapan Axel.
"Sekarang kamu tanya, apa pasien mempunyai kartu jaminan kesehatan itu atau tidak." Axel memberi perintah.
"Ba- baik, Pak. Mbaak, apa nenek itu punya kartu jaminan kesehatan?" tanyanya lebih lembut daripada tadi.
Perempuan di samping Axel menggeleng. "Maaf, saya juga tidak tahu saya cuma membantu mengantar nenek itu ke sini. Beliau tadi di hajar preman di pasar sana."
Axel terkejut mendengarnya, dan dengh segera menoleh menatap perempuan di sampingnya.
"Lho, Jeni? Ini bener kamu, Jeni?" tanyanya.
Jeni mendongak dan seketika kembali menunduk dalam.
"I- iya, Tuan. Maafkan saya kalau ...."
"Ah, Jen maaf. Sepertinya waktu saya tidak banyak untuk mendengar cerita kamu dulu, lebih baik kita atur waktu lagi nanti untuk membicarakan masalah itu. Sarah baru saja melahirkan anak anak kami, dan saya harus temani dia. Oh ya, ini untuk biaya pengobatan nenek itu. Saya tinggal dulu ya," pamit Axel setelah memberikan sejumlah uang pada sang suster.
Jeni mengangguk dan memilih diam, ketika punggung tegap Axel semakin menjauh darinya. Matanya sempat berembun kembali jika teringat Axel, namun lekas di sekanya dan mengingatkan diri sendiri kalau yang lalu bukanlah lagi miliknya.
"Mbak, maaf. Ini uangnya lebih," ujar suster itu menyodorkan beberapa lembar uang merah ke pada Jeni.
Jeni menerimanya dengan tertegun.
"Dimana ruangan istri Bapak yang tadi?" tanyanya spontan.
__ADS_1