MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 91.


__ADS_3

~kondisi Nek Minah.


Sejak semalam kepala Nek Minah rasanya berputar, sakit sekali beliau rasa sampai untuk berjalan pun rasanya sempoyongan. Namun karna suasana yang ramai dan semua orang sedang sibuk sibuknya, nek Minah terpaksa bertahan walau ujung ujungnya dia lebih banyak berbaring di kamar ketimbang membantu jalannya acara.


Bukan sengaja, tapi sakit yang di rasakannya memaksanya untuk melakukan itu. Terlalu riskan jika dia memaksakan membantu, Nek Minah hanya takut malah akan semakin merepotkan.


"Nek, masih sakit?" tanya Asiyah malam itu saat acara ijab qobul Jeni dan Gus Musa tengah berlangsung.


Nek Minah membuka matanya yang terpejam menahan sakit, dan memaksakan seulas senyum kecil di bibir keriputnya.


"Eh, As. Nggak papa kok, Nenek cuma harus rebahan sebentar. Nanti juga hilang ini sakitnya," sahut Nek Minah terdengar lemah.


Asiyah melangkah masuk, dan duduk di tepi ranjang Nek Minah. Memijit kaki dan tangannya perlahan.


"Kamu kenapa malah ke sini, nduk? Kenapa nggak di luar saja, lihat ijab qobulnya Mbak Jeni dan Gus Musa? Di sini sepi, suara aja nggak tembus ini." Nek Minah mencoba tertawa walau sangat pelan.


Asiyah menggeleng lemah, dari semua orang yang ada hanya Asiyah lah yang mengetahui kondisi Nek Minah yang melemah. Karna saking seringnya dia bersama Nek Minah yang katanya mengingatkan dia pada neneknya yang kini telah berpulang.


"Asy di sini saja, Nek. Jagain nenek, lagipula dedek udah ada yang pegang tadi. Biar lihat acara pernikahan orang tuanya."


Nek Minah tersenyum letih, raut mata tuanya terlihat menahan sakit yang tak di ungkapkan pada siapapun. Alasannya hanya satu,  nek Minah tak ingin merepotkan.


"Nenek nggak papa, Nduk. Insyaallah setelah istirahat Nenek nanti juga enakan. Udah biasa ini namanya juga orang tua." Nek Minah kekeh meminta Asiyah kembali keluar menikmati suasana pesta.


Asiyah kembali menggeleng. "Nggak papa, nek. Asy mau memastikan langsung kondisi nenek, biar Asiyah di sini ya, nek. Nanti kalau nenek udah enakan baru Asy keluar."

__ADS_1


Nek Minah menarik nafas panjang yah rasanya berat di dadanya, dadanya pun terasa nyeri setiap kali menarik nafas walau hanya nafas pendek.


Nek Minah akhirnya pasrah, dan mengangguk membiarkan Asiyah tetap di sisinya dan memijit tangan juga kakinya. Entah berapa lama hingga akhirnya Nek Minah jatuh tertidur karena merasa nyaman dengan pijitan Asiyah di tubuhnya.


"Cepat sembuh ya, Nek," bisik Asiyah sebelum meninggalkan Nek Minah yang tampak sudah pulas dalam tidurnya, walau wajah tuanya masih tampak menahan sakit yang Asiyah sendiri tak paham apa namanya.


Asiyah keluar perlahan dan menutup pintu setelah memastikan sekali lagi kalau Nek Minah benar benar terlelap.


Ceklek


Pintu tertutup rapat, Asiyah pergi untuk mengambil bayi Jeni yang di titipkannya pada santriwati yang lain.


Semetara itu, tak berapa lama sejak Asiyah meninggalkan Nek Minah sendiri. Nek Minah tersentak bangun karna dadanya yang terasa sesak dan sakit.


Nek Minah batuk-batuk dan beranjak hendak ke kamar mandi, namun sakit dan sesak di dadanya tak tertahankan hingga akhirnya Nek Minah terpaksa memakai baju yang menempel di tubuhnya sebagai penutup mulutnya saat batuk.


Saat nek Minah membuka kain yang menutupi mulutnya, betapa terkejutnya ia mendapati sebuah noda darah kental membasahi kain bajunya.


Mata Nek Minah mengembun, netra tua itu meluncurkan airnya dengan deras sekali. Sesekali di tarinya nafas panjang walau rasanya sakit di dadanya tak kunjung berkurang.


"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa batuknya berdarah?" isak nek Minah sambil meremas bagian bajunya yang terkena noda darah itu.


Rasa sesak itu kembali, nek Minah kembali batuk dan kali ini darah yang keluar semakin banyak. Nek Minah panik, dia mengelap semua noda itu dengan kain bajunya yang menjuntai panjang, hingga sebagian besar kain baju putih bersih itu kini berubah menjadi merah.


Nek Minah terus menangis, dia takut ... bukan akan kematian yang mengintai. Tapi takut akan kenyataan kalau saat ini anaknya belum kembali ke jalan yang benar, Ismail masih tersesat terlena dengan tipuan dunia yang fana ini. Melarikan diri entah kemana dengan surat rumah dan kebunnya yang dia bawa.

__ADS_1


Di tengah kekalutan, nek Minah mengganti pakaiannya dan membersihkan diri di kamar mandi setelah tubuhnya terasa lebih baik. Walau tak sepenuhnya rasa sakit itu hilang.


"Tidak ada yang boleh tahu tentang ini, semua harus terungkap lebih dulu. Agar anakku tidak tersesat lebih jauh, semoga Gusti Allah masih memberi umur untukku supaya bisa menyaksikan anakku bertaubat. Tunjukkan kuasa- Mu, ya Allah hu Robbi ...." tukas Nek Minah sambil berjalan keluar, niatnya ingin langsung mencuci pakaian yang ternoda itu, agar tak ada yang tahu kalau saat ini Nek Minah tengah sakit.


Dengan sekuat tenaga yang tersisa, nek Minah berusaha mengayunkan langkah menuju ke tempat mencuci di dekat dapur. Namun langkah nya terhenti saat melihat Jeni baru saja memasuki kamar pengantin sambil menggendong bayinya yang terdengar merengek.


"Apa ku tanya pada Jeni saja sudah sampai mana perkembangan pencarian Ismail, setidaknya aku bisa bersiap jika akan bertemu anakku lagi. Kali ini aku harus bisa menyadarkan dia dan membuatnya bertaubat. Tak akan tenang meninggalku jika belum mendapat doa darinya," gumam Nek Minah sambil melangkah menuju ke kamar Jeni.


Namun apa yang menjadi niat awal nek Minah nyatanya tak terlaksana, di sana Nek Minah malah terpesona dengan nama yang baru saja di sematkan pada bayi laki-laki yang sudah di anggapnya cucu kandungnya sendiri itu. Tanpa Nek Minah tahu bagaimana asal muasal bayi itu, yang sebenarnya memanglah cucu kandungnya, bayi biologis dari Pak Ismail.


Saat itu, hampir saja Jeni mengetahui tentang noda darah yang ada di pakaian nek Minah, untung saja cepat cepat Nek Minah menyembunyikannya di pelukan dan segera membawanya keluar dan mencucinya.


Namun sayang seribu kali sayang, saat pagi tubuh Nek Minah malah semakin drop karna kedinginan saat mencuci pakaiannya sendiri tadi malam. Sejak subuh Nek Minah sudah tak sanggup berdiri bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun.


"Ya Allah, Nek. Nenek kenapa? Badan nenek panas sekali, terus ini ... Ya Allah, Nek. Nenek ngompol?" seru Asiyah yang pagi itu mendapati nek Minah sudah dalam kondisi mengenaskan seperti itu.


Nek Minah mengangguk namun bibirnya sama sekali tak dapat menjawab, selain bunyi gemeletuk dari gigi giginya yang masih tersisa, menahan gigil dari tubuhnya.


"Ya Allah, Asiyah bantu bersihkan ya, nek." Asiyah mulai mengambil sprei dan selimut yang terkena kotoran nek Minah dengan telaten, tak ada sedikit pun rasa jijik di wajahnya.


Bahkan dengan sabar Asiyah membasuh tubuh Nek Minah dengan air hangat yang dia ambil dari dapur. Beruntung saat ini suasana sedang sibuk karna acara pernikahan Jeni dan Gus Musa jadi tak ada orang yang begitu memperhatikan. Asiyah tahu kalau nek Minah tak ingin ada yang tahu kondisinya saat ini.


Setelah semua siap, dan Nek Minah juga sudah kembali bersih. Asiyah menyuapi Nek Minah dengan bubur instan yang dia ambil dari kamarnya. Sisa miliknya saat sakit kemarin.


"Terima kasih ya, As." Nek Minah berucap lirih setelah menghabiskan semangkok bubur yang di suapkan Asiyah. Dan setelah itu, tak ada lagi suara yang keluar dari bibir tuanya.

__ADS_1


Nek Minah memejamkan mata dengan tenang, di hadapan Asiyah yang masih setia menggenggam tangan keriputnya.


__ADS_2