
"Ahahhahah, ini sangat menyenangkan!" seru sang dokter sembari melangkah cepat menuju tubuh Juli yang diam dalam cengkraman temannya.
"Hei kalian! Berhenti membuat masalah!" seru seseorang yang membuat sang dokter langsung tersurut mundur dengan tangan menggaruk garuk kepalanya sendiri dengan wajah tau berdosa.
Ceklang
Pria berseragam putih itu masuk dengan wajah berang, menghampiri si dokter gadungan dan merebut suntikan dari tangannya. Untung saja sebelumya suntikan itu belum sempat menyentuh kulit Juli.
Jika tidak, mungkin saja Juli bisa celaka karenanya.
Juli yang pias hanya bisa terduduk pasrah di atas tempat tidur, sesekali tubuhnya a tampak gemetaran mengingat tragedi yang hampir saja menimpanya.
"Hei kalian! Subroto dan Herman kumat lagi!" teriak pria tadi yang kini tengah memegangi tangan dokter gadungan itu dengan erat. Sedangkan yang di peganginya memberontak tanpa henti berusaha melepaskan diri.
Derap langkah yang tergesa terdengar bersahutan di luar sana, tak lama muncul beberapa orang yang berseragam sama dengan pria penolong tadi merangsek masuk ke dalam bilik tersebut. Memegangi dokter gadungan yang ternyata adalah salah satu pasien di rumah sakit jiwa tersebut, yang hobinya menyamar menjadi dokter dengan rekannya yang sebelumnya a malah sudah kabur.
"Nggak ada kapok kapoknya ya ini orang gila satu, hobinya bikin susah orang aja."
"Iya, Minggu ini saja sudah tiga orang yang di suntiknya. Nggak tahu juga isi suntikannya apa, cuma untungnya a nggak kenapa Napa. Coba kalau ada efek samping berbahaya kan kita juga yang repot."
"Air kali yang di masukin sama dia."
Suara orang orang yang tengah membawa dokter gadungan itu masih terdengar hingga mereka berada di luar, sembari menahan pergerakan Subroto, si dokter gadungan yang tak hentinya memberontak dan berteriak teriak tak jelas.
"Ahahaha aku dokter, aku dokter hebat. Gajiku besar, istriku banyak. Hahahaha."
"Dasar orang gila!"
"Kamu yang gila, hahahah dasar makhluk kelas rendah! Gajimu itu nggak seberapa ketimbang aku ya, jangan songong kamu sama orang kaya. Dasar mis kin!"
"Halah gayanya jadi orang kaya, kok tinggalnya di rumah sakit jiwa nggak keluar keluar lagi, hahahha edan edan."
Setelah rombongan orang orang itu berlalu menjauh, pria yang tadi pertama memergoki kejadian naas yang hampir saja menimpa Juli mendekatinya, memasang senyum keramahan yang di sempurnakan dengan dua lesung di kiri kanan pipinya yang putih dan bersih.
"Kamu pasien baru?" tanyanya ramah dan lembut.
__ADS_1
Juli yang masih trauma mendadak kelu untuk menjawab, tubuhnya seketika lemas ketika sadar dia akhirnya bisa terbebas dari bahaya.
"Jangan takut, mereka akan di kurung setelah ini, kamu akan aman di sini." Pria itu berkata lagi.
Mendengar kata kata pria itu sontak Juli menegakkan punggungnya, dengan segara dia berkata. "Saya tidak gila."
Pria itu mengernyit heran. "Tidak gila?"
Juli mengangguk cepat, berharap pria kali ini akan percaya padanya. Dia sudah lelah, sangat lelah berada di tempat ini. Belum lagi perutnya yang lapar karena belum di isi apa apa sejak siang tadi.
"Saya di bawa paksa oleh dua penjaga di pintu depan karna mengira saya gila," lanjut Juli menceritakan yang sebenarnya.
Pria itu masih diam, wajahnya tampak menimbang apakah cerita Juli benar atau tidak adanya.
"Penjaga? Di depan? Siapa?" tanyanya heran.
"Saya tidak tahu, tapi tadi yang saya ingat mereka bertubuh kurus dan berambut pelontos. Salah satunya bertubuh pendek dan rambut yang ikal."
Desahan pelan terdengar dari bibir pria muda itu, lalu dengan perlahan dia membantu Juli turun dari ranjang yang cukup tinggi itu.
Udara dingin menyapa saat mereka keluar dari bilik tersebut, Juli merapatkan dress yang di kenakannya ke tubuh yang membesar, dan memeluk tubuhnya sendiri.
"Terima kasih, sudah menolong saya ." Juli berkata pelan sembari membuntuti di belakang pria yang sudah berjasa padanya itu.
"Sama sama, saya minta maaf atas nama orang orang yang mengganggu kamu tadi."
"Tidak apa, itu bukan salah kamu," gumam Juli.
Mereka pun sampai ke depan gerbang rumah sakit, pria yang belum di kenal juli itu mulai membuka gerbang dan keluar di ikuti Juli di belakangnya.
"Baiklah, silahkan keluar. Lain kali tolong jangan bertingkah aneh di depan rumah sakit jiwa ini, karna orang orang yang ada di sini cukup sensitif dengan orang orang yang di kiranya gila atau tidak waras," papar pria itu memperingati juli.
Juli mengangguk, langsung bisa mengambil kesimpulan kalau kasus salah tangkap seperti ini bukanlah yang pertama lagi terjadi di rumah sakit jiwa tersebut.
"Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya."
__ADS_1
Pria muda itu tersenyum, senyum yang datar dan dingin tak seramah sebelumnya.
"Sama sama, " gumamnya lalu perlahan kembali menutup kembali pintu gerbang rumah sakit, membiarkan Juli sendiri di depan sana tanpa menawarkan bantuan lebih lanjut.
Juli mendesah berat, memutar tubuh dan menatap ke arah jalanan yang ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.
"Mas Al? Beneran buang aku?" isaknya lirih.
****
Pesta megah di rumah Ed sudah usai, kini tinggal para pemilik wedding organizer yang tengah membereskan semua barang yang di gunakan sebelumnya untuk berlangsungnya acara dengan lancar untuk dibawa pulang kembali.
Namun kesibukan mereka sama sekali tak mempengaruhi para tuan rumah yang saat ini tengah menikmati hidangan makan malam di meja makan.
Anggota keluarga yang bertambah membuat suasana makan malam itu terasa hangat dan sumringah.
"Selamat ya, anak anak Papi, akhirnya kalian sekarang resmi menjadi seorang istri. Hiks, rasanya Papi belum puas menjadi Papi kalian," tutur Ed sembari mengusap sudut matanya yang terus saja berair.
Seisi meja makan itu tertawa --maksudnya orangnya, bukan makanannya yang ketawa ya hehe--, terlebih Amelie yang sejak siang tadi terus saja tak bisa menahan tawa karna tingkah suaminya yang sok melow.
"Papi, Papi. Kan kami masih akan jadi anak Papi walaupun sudah menikah,Pi memangnya apa yang berubah sih?" kekeh Aish yang tempat duduknya berada lebih dekat dengan Ed.
"Kau terlalu mendramatisir keadaan, Ed. Cobalah lebih dewasa," kekeh Bu Hannah yang mulai saat ini akan kembali tinggal bersama di rumah Ed, karna Rahman dan Asy memutuskan untuk tinggal bersama dengan mereka. Karena tak ingin orang tuanya kesepian.
Ed mencebik, lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Aku hanya cemas dengan hari tuaku, Bi."
Bu Hannah tertawa lagi, kali ini bahkan hingga terbahak-bahak.
"Biar ku beritahu bagaimana caranya menikmati hari tuamu nanti, sudahlah jangan terlalu melow. Tidak cocok dengan wajah mu yang sudah mulai tua itu."
Wajah Ed mendadak pias, lalu dengan gerak cepat dia berlari menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur.
"Apa iya aku sudah tua?" ucapnya dengan cemas, sembari memindai wajahnya di cermin kamar mandi. Sementara di luar sana , keluarganya masih belum puas menertawai tingkahnya.
__ADS_1