
"I- itu surat dari ... dari gadis muda yang p datang bersama Jeni ke rumah sakit waktu itu, Mas." Sarah menjawab jujur, karna merasa tak ada gunanya juga berbohong pada suami yang begitu mencintainya itu.
Sarah duduk di sebelah Axel, Ayuna sudah tidak ada di ambil oleh Aisyah belum lama tadi untuk di bawa ke kamar bayi .
"Oohh, gadis itu. Tapi ... ada keperluan apa dia sampai mengirim surat padamu, Sayang?" tanya Axel masih memperhatikan surat di tangannya itu.
Sarah mengangkat ke dua bahunya. "Entahlah, kamu bisa baca sendiri di surat itu dia minta aku tanyakan pada Momy tentang orang tuanya, tapi ... saat tadi aku bertanya Momy malah bilang tidak tahu."
"Memangnya apa hubungannya Momy dan orang tua gadis ini, sayang?"
"Aku juga belum tahu, Mas. Tapi sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Momy, entah apa itu. Hanya saja raut wajah Momy seperti enggan saat tadi Sarah bertanya," tukas Sarah menyampaikan apa yang di dapatinya belum lama tadi.
Axel mengangguk dan meletakkan surat itu ke atas nakas dan mengelus lembut kepala istrinya itu.
"Ya sudah, mungkin belum saatnya kita tahu. Tapi, semoga saja beberapa waktu ke depan kamu akan dapat jawabannya ya." Axel memeluk Sarah hangat dan meletakkan kepala istrinya di dadanya.
****
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa pesta pernikahan Jeni dan Gus Musa sudah di depan mata. Selama itu pula Jeni bahkan belum bertemu lagi dengan Asiyah, entah dia yang terlaku sibuk atau Asiyah yang memang tidak ingin menemuinya karna melihat Jeni yang selalu sibuk ke sana kemari untuk mengurus pernikahannya.
"Dek Jen," panggil Gus Musa saat melihat Jeni lewat di depannya sambil membawa beberapa buah kain jarik di tangannya.
"Injih, Mas?" Jeni berhenti dan menatap calon suaminya itu.
"Mau kemana lagi? Sejak tadi Mas perhatikan kamu sudah bolak balik sampe lima kali loh di depan sini, mau kemana lagi sih?" Gus Musa bertanya dengan gaya ikut yang entah sejak kapan dia kuasai gayanya.
Jeni tersipu malu dan menundukkan pandangannya ke bawah.
"A- anu, mau ke kamar Umi, Mas. Umi minta di bawain kain kain ini, katanya buat alas pas ijab qobul nanti."
Gus Musa manggut-manggut sambil tersenyum kecil.
"Cieee, yang calon pengantin." Gus Musa menggoda Jeni.
Jeni semakin tersipu malu, dan menutup wajahnya dengan kain yang di bawanya.
__ADS_1
"Ah, apaan sih, Mas?"
"Coba kamu duduk sini dulu, Dek." Gus Musa menepuk sebuah kursi yang berada di seberangnya. Mungkin berjarak sekitar satu meter dari posisi duduknya saat ini .
" Mau apa, Mas? Dedek di sana sama Umi aja, nenek masih keluar sama santri lain buat ke pasar beli bahan bahan buat acara. Kalau Umi nungguin gimana?" tanya Jeni ragu ragu.
"Cuma sebentar, makanya buruan sini. Biar lekas selesai juga kan?" Gus Musa setengah memaksa.
Akhirnya Jeni mengalah dan memilih duduk di tempat yang lebih jauh jaraknya dari Gus Musa, bukan di tempat yang di tunjuk Gus Musa tadi.
"Hei, kenapa kalian berdua dua? Biarpun sebentar lagi kalian menikah, tapi bukan berarti bebas berduaan ya," ucap kyai Hasan yang entah sejak kapan sudah ada di balik tembok pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu.
Gus Musa terkekeh pelan sambil beranjak menghampiri sang Abah dan mendorong kursi rodanya menuju ke dekat mereka.
"Nah, sekarang udah nggak berdua lagi kan, Bah? Musa tahu kok, kan katanya kalau berdua duaan yang ketiganya itu setan."
Kyai Hasan menatap putranya dengan senewen. "Kamu mau ngatain Abah setan?"
Jeni tampak terkikik lirih, namun langsung di bekapnya mulutnya dengan kain agar tak sampai terdengar suara tawanya.
Pletakk
Gus Musa mengaduh saat sebuah jitakan melayang mulus ke jidatnya yang agak jenong itu.
"Sembarang kamu ya, sekarang kamu doain Abah jadi setan? Kamu pengen Abah cepet mati?" cecar kyai Hasan kesal.
"Bercanda, abahku sayang." Gus Musa nyengir kuda sambil mengusap usap jidatnya yang masih terasa ngilu.
Maklum saja, di jari kyai Hasan yang tadi di gunakan untuk menggetok kepala Gus Musa ada sebuah cincin batu akik berwarna hijau giok kesayangannya. Yang kalau kena kepala di jamin sakitnya awet sampai dua hari.
"Ada apa ini kalian duduk berdua di sini?" selidik kyai Hasan sambil membenahi posisi duduknya di atas kursi roda.
Gus Musa juga berpindah posisi dan berdehem sejenak sebelum memulai bicara.
"Nggak ada apa apa, Bah. Cuma, Musa mau ngajak diskusi Dek Jen buat nama yang baik untuk dedek bayi," jawab Gus Musa.
__ADS_1
Kyai Hasan manggut-manggut, sedangkan Jeni hanya melongo mendengarnya karna tidak menyangka juga akan di ajak diskusi untuk hal itu, padahal dia pikir keluarga Gus Musa lah yang akan mengambil alih tugas untuk memberi nama itu tanpa melibatkannya.
"Kamu sudah punya saran namanya?" Kyai Hasan menoleh pada Gus Musa yang juga tampak tengah berpikir.
"Belum, Abah sendiri bagaimana?" tanya Gus Musa balik.
"Saran Abah, berikan juga nama keluarga kita nanti padanya. Biar bagaimanapun dia nantinya akan jadi anakmu juga, le. Dan kalaupun nantinya kalian akan punya anak lagi, kamu tetap tidak boleh membedakan mereka. Bayi Jeni, tetap anak kamu juga," nasehat kyai Hasan yang langsung meresap di hati Gus Musa, namun juga membuat Jeni malu karna membahas anak selanjutnya.
Gus Musa mengangguk paham. "Kalau begitu ... bagaimana kalau namanya ...."
****
"Mbak, bisa bicara sebentar?" tanya Asiyah saat Jeni entah untuk ke berapa kalinya masuk ke kamarnya untuk mengangkut barang-barang pribadinya guna di pindahkan ke rumah utama ndalem' atas permintaan Umi Nafisah dan kyai Hasan, karna esok sudah di laksanakan acara ijab qobul antara Gus Musa dan Jeni.
Jadi mereka tidak mau kalau Jeni harus bersusah payah lagi memindahkan barang setelah itu. Sekarang pun sebenarnya Jeni sudah di bantu beberapa santriwati untuk mengangkut barang-barangnya dan bayinya.
"Ya, As. Ada apa? Maaf, belakangan Mbak agak sibuk," sahut Jeni sungkan sambil meletakkan sebuah kardus berisi mainan anaknya di lantai dan berdiri menunggu Asiyah mendekatinya.
"Emmm, begini, Mbak. Apa ... Mbak mengundang Mbak Sarah untuk hadir di acara pernikahan Mbak nanti?" tanya Asiyah hati hati.
Jeni tersenyum dan mengangguk pasti. "Iya, Mbak undang kok. Sekeluarga Mbak undang, insyaallah mereka pasti datang?"
Asiyah tampak menghela nafas lega.
"Baiklah, terima kasih ya, Mbak."
Asiyah hendak berlalu saat Jeni menarik tangannya untuk menahan pergerakannya.
"Tunggu, As."
Asiyah berbalik dan menatap bingung. "Ada apa lagi, Mbak? Bukannya Mbak lagi sibuk?"
"Memangnya ada apa kamu bertanya begitu? Kan Mbak sudah bilang kemarin kalau Mbak sudah sampaikan surat kamu ke Mbak Sarah? Lalu, ada apa lagi kamu mau menemuinya? Ada apa?" Jeni bertanya dengan nada lirih, agar tak ada yang mendengarkan.
Asiyah hanya mendesah pelan dan perlahan melepas tangan Jeni dari tangannya.
__ADS_1
"Nggak papa, Mbak. Cuma menunggu kabar baik saja," pungkasnya sambil tersenyum, senyum yang dingin dan getir.