MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 38.


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, kelangsungan pesta pernikahan Sarah dan Axel hanya tinggal dua hari lagi. Semua persiapan sudah matang, semua keluarga dan rekan bisnis masing-masing keluarga sudah di undang. Hanya tinggal menunggu sampai semua dekorasi selesai di pasang.


"Kamu mau kemana, Ax? Lusa kamu menikah, kurangi jalan-jalan keluar. Beristirahat lah di rumah," ujar Sonia saat melihat putranya itu tengah bersiap untuk pergi.


Axel tersenyum lembut pada sang Mama, namun tak menghentikan gerakannya yang tengah memasang tali sepatu.


"Saya cuma sebentar, Ma. Mau ke gerai yang di jalan B sana. Antar baju seragam untuk Satrio," sahut Axel.


Di tangannya tergantung sebuah paper bag dengan merk sebuah butik ternama tempat mereka memesan baju keluarga yang akan di kenakan saat pesta nanti.


"Satrio?" Sonia bergumam heran.


"Iya, Ma. Satrio karyawan saya yang tinggal di ruko sana, sekalian jagain ruko. Kasian kalo harus ngekos, lagi pula di sana kan ada satu kamar kosong lagi."


"Ya sudah kamu hati-hati ya, Nak. Ingat jangan ngebut dan jalan lama-lama."


Axel mengangguk patuh dan kemudian langsung bergegas untuk ke rukonya menemui Satrio, karyawan sekaligus teman dekatnya.


"Widih, calon pengantin baru. Tumben main ke sini lagi, Bos? Bukannya udah harus di pingit ya?" celetuk Satrio yang tengah menyapu halaman ruko saat Axel baru saja tiba.


Tentu saja dengan motor bututnya yang paling dia sayangi, padahal mobil berjejer di garasi rumah Andrew tapi tak sekalipun Axel berminat untuk memakai salah satunya dan terus saja mengandal si butut teman berkendaranya sejak dulu.


"Kamu juga tumben pagi-pagi udah nyapu, biasanya masih ngorok." Axel terkekeh sambil melangkah masuk ke ruko yang juga sudah tampak bersih bin kinclong itu.


"Ini kamu juga yang bersihin, Sat?" imbuh Axel memandangi seantero ruko yang bahkan lantainya saja tampak licin.


Satrio meletakkan sapu dan pengki di balik pintu rolling ruko dan berjalan mendekati sang Bos.


"Wo iyalah, memangnya Pak Bos liat ada berapa orang yang ada di sini?" ucap Satrio bangga, bahkan sambil menepuk dadanya jumawa.


Axel tertawa dan meraup wajah jumawa Satrio dengan telapak tangannya yang besar.


"Halah, gayamu itu loh, Sat. Tapi betewe makasih loh ya sudah di bersihin rukonya."


Axel beralih mengambil sebuah kursi dan duduk di sana, dan meletakkan paper bag yang dibawanya ke atas meja.


"Tapi ya ... hehehe masa imbalannya makasih doang sih, Bos?" Satrio menggaruk kepalanya sungkan sambil cengengesan menatap Axel.

__ADS_1


Axel nyengir merasa mendapat ide untuk sekedar mengerjai anak buah absurdnya itu.


"Terus?"


"Ah, si Bos kayak nggak tau aja." lagi Satrio mendekat sambil cengengesan menampakkan susunan giginya yang kurang rapi.


"Loh, memangnya saya tau apa? Saya kan bukan sandro." Axel menahan senyumnya melihat wajah Satrio yang mulai kesal.


"Ya masa saya yang harus jelasin detailnya sih, Bos? Ya nggak gitu lah konsepnya," sungut Satrio dengan bibir manyun seperti bebek Peking.


"Lha kok kamu ngatur saya?"


"Ah udahlah, Bos. Susah ngomong sama cowok nggak peka. Semoga aja Mbak Sarah nanti nggak makan hati nikah sama Pak Bos," rutuk Satrio sambil berjalan pergi menuju dapur.


Axel masih menahan tawanya sampai rasanya perutnya kejang dan ingin buang gas sekalian.


"Oh ya, satu lagi, Bos." Satrio berbalik dengan jari telunjuk teracung ke atas. "Kalau nanti di acara Pak Bos butuh tukang cuci piring ... jangan pernah hubungi saya, pokoknya mulai sekarang saya ngambek!"


Satrio mulai menaiki tangga menuju lantai atas dengan langkah di pelan-pelankan berharap Axel akan memanggilnya dan memberikan tip untuknya.


Satrio masih melangkah pelan sambil sesekali matanya melirik pada Axel yang duduk membelakangi tangga. Berharap satu panggilan ada berlaku untuknya atau dia bertekad akan ngambek selamanya.


"Haish, dasar Bos nggak peka. Gue ambil calon istrinya nanti baru tau, kan lumayan tuh Mbak Sarah buat di bawa ke kondangan, di pamerin ke keluarga besar nggak bakal malu-maluin soalnya cantiknya aja udah melebihi Lisa blekping."


Tangga naik ke lantai atas sudah habis, tapi Satrio belum juga mendengar Axel memanggil namanya.


"Wah si Bos bener-bener. Lihat aja ntar gue ...."


"Satrio!"


Mendengar namanya di panggil oleh axel, Satrio yang masih duduk di tangga paling atas itu langsung saja berlari pontang panting sampai terjerembab ke lantai dengan posisi wajahnya duluan.


"Astaghfirullah, kamu ngapain di situ, Sat? Setau saya di ruko saya ini kan nggak ada tikusnya. Apa yang lagi kamu tangkep di situ? Harapan?" kekeh Axel masih belum puas menggoda karyawan kepercayaannya itu.


Satrio bersungut-sungut sambil memegangi hidung mancungnya yang tampak memerah karna lebih dahulu menghantam lantai saat jatuh.


"Kelewatan banget sih, Bos."

__ADS_1


"Lah kok kamu nyalahin saya? Salah kamu sendiri lari-lari di tangga udah tau bahaya. Anak TK aja tau kalau lari-lari di tangga itu bahaya, lah masa kamu kalah sama anak TK. Lagi pula nih ya, makanya punya hidung itu jangan panjang-panjang, kalo jatuh kepentok duluan kan?" ledek Axel sambil tertawa senang melihat penderita Satrio.


"Ya udah, tadi Bos kenapa manggil? Udah tau akhirnya cara meluluhkan saya?" sewot Satrio masih dalam mode pura-pura ngambeknya.


"Dih, geli. Nih ... saya ke sini mau kasih ini sama kamu. Biar nanti di acara saya kamu nggak pake baju biasa, bisa-bisa nanti di kira tukang parkir lagi." untuk ke sekian kalinya tawa Axel menyembur saking senangnya bisa mengerjai Satrio.


"Emoh! (Tidak mau!), Saya maunya yang isinya duit!" tolak Satrio terang-terangan karna sejak tadi merasa tidak berhasil mengkode Axel yang sangat senang menggodanya itu.


Axel tertawa ngakak melihat wajah Satrio yang ngambeknya persis boneka Mampang di lampu merah tepat di depan ruko. Namun belum sempat menggodanya lagi, suara berdebam di depan ruko sana berhasil membuat mereka mengalihkan perhatiannya.


Gedubrakkk!


"Apa itu, Sat?" tanya Axel terkejut.


"Ya mana saya tau, Pak Bos. Emangnya saya sandro," tukas Satrio meniru ucapan axel tadi.


Axel yang sudah sangat penasaran langsung bangkit dan menggeser tubuh Satrio yang menghalangi jalannya.


"Awas, awas, saya mau lihat ke depan."


Axel berlari ke depan, di tepi jalan tepat di depan rukonya tampak seorang tukang sayur tengah di kerumuni oleh beberapa orang yang di ketahui Axel adalah anggota preman di lingkungan itu.


"Heh! Kan udah sering gue bilang sama lu, kalo mau jualan di sini itu bayar dulu. Lu kaga tau ya kalo tempat ini kekuasaan gua hah?" bentak salah satu orang yang di duga kuat adalah ketua preman itu.


Mata Axel menyipit berusaha memfokuskan pandangan pada pria yang tengah di rundung itu, tubuhnya yang kurus tampak tak mampu menahan dorongan tangan ketua preman dan jatuh terkapar di aspal panas.


"Hei, hei! Apa-apaan kalian hah?" seru Axel sambil berlari menuju gerombolan yang meresahkan itu.


Beberapa dari gerombolan itu mulai berlari ketakutan, tapi tidak dengan ketua preman yang badannya sebesar drum penampung air hujan dan tato panda kecil di tangannya yang sebenarnya tidak terlalu berotot.


"Mau apa lu hah?" hardik ketua preman pada Axel, matanya melotot marah seakan ingin melompat keluar dari sarangnya.


Tapi perhatian Axel justru tidak tertuju padanya melainkan pada pria penjual sayur yang masih belum sanggup bangkit dari posisi terkaparnya itu.


Satrio membantu pria itu bangkit, dan saat Axel melihat wajahnya dia terkejut bukan main.


"Ya Allah, kamu kan ...."

__ADS_1


__ADS_2