MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 63.


__ADS_3

 Tanpa terasa, dua bulan sudah berlalu sejak pertama kali Jeni menginjakkan kakinya di pondok pesantren itu. Semua kebaikan hati umi dan penghuni pondok lainnya membuatnya betah dan tidak pernah merasa bosan berada di sana. Sesekali Umi juga memperbolehkan dia dan bayinya pulang untuk menjenguk Nek Minah di rumahnya.


 Semua itu membuat Jeni lupa kalau dia pernah mendapat derita yang luar biasa menyakitkannya di masa lalu. Walau hingga kini, tak hentinya Jeni menangis di setiap sholat malamnya jika mengingat semua dosa yang sudah dia lakukan dulu.


"Mbak Jen, hari ini giliran ke pasar ya. Nanti biar dedek saya yang jaga," ujar salah satu santri yang juga turut 'ngabdi di ndalem' sambil memberikan beberapa lembar uang merah ke tangan Jeni.


 Jeni mengangguk dan tersenyum ramah, jilbab lebar yang kini sudah mulai nyaman dia kenakan di singsingkan hingga sebatas bahu. Dan menggendong bayinya yang tengah asih bermain dengan mainan masak masakan yang di berikan Asiyah untuknya.


"Anak Mama sama Tante dulu ya, Nak. Mama mau ke pasar sebentar, nanti pulangnya Mama beliin sesuatu buat dedek. Tunggu ya, jangan nakal sama tante ya." Jeni mencium kening malaikat kecilnya itu dan menyerahkannya ke gendongan santri perempuan itu.


 Bayi itu kini tumbuh sehat dan ceria, tak pernah rewel dan membuat Jeni kewalahan karenanya. Malah siapa pun yang mengajaknya bermain dia akan menurut dan tidak merepotkan siapa pun. Jeni sangat bersyukur di karuniai anak yang begitu mengerti keadaan ibunya.


 Jeni perlahan melangkah menuju garasi rumah Umi Nafisah dan kyai Hasan yang sangat jarang berada di luar rumah. Menurut beberapa santri yang sudah lama mondok di sana itu karena kyai Hasan sudah sepuh dan sangat sulit untuk sekedar membawanya ke teras karena beliau terkena penyakit stroke sudah bertahun tahun lamanya. Dan hingga kini hanya bisa berbaring di atas ranjang di kamarnya, dan di urus mandiri oleh Gus Musa seorang.


 Perjalanan menuju pasar terasa lengang, mungkin karena hari biasa dan jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, mungkin semua orang sudah berada di tempat kerja atau sekolahnya masing-masing.


"Mbak, Mbak masuk sini Mbak. Masih kosong masih kosong," seru seorang juru parkir saat Jeni baru saja sampai di depan parkiran pasar.


 Jeni mengikuti saran tukang parkir itu dan memarkirkan motor yang memang di sediakan Gus Musa untuk kebutuhan pondok itu di deretan beberapa motor lainnya.


"Jangan di kunci stang ya, Mbak. Nanti susah mindahinnya." Tukang parkir itu berseru dan meninggalkan Jeni di sana.


 Jeni hanya menggeleng heran, di jaman seperti ini jangankan motor yang tidak di kunci stang. Yang di kunci stang dan di tempat yang banyak CCTV nya aja masih bisa di larikan. Jadi Jeni tak mengindahkan larangan tukang parkir tersebut dan tetap memakai kunci stang di motor tersebut bahkan dia juga menggembok as rodanya agar lebih aman, barulah Jeni tenang meninggalkan motor pondok itu di sana.

__ADS_1


"Sayur ,sayur sayur, sayurnya Mbak. Mari di pilih, masih seger masih seger." seorang nenek tua menawarkan sayur dagangannya pada Jeni, nenek itu berjualan tidak di kios seperti pedagang yang lain namun hanya membentang sebuah karung Kumal untuk alas duduknya dan beberapa sayuran yang sepertinya memang masih sangat segar, terlihat dari getah yang masih lengket di pegang.


 Nenek itu mengingatkan Jeni pada Nek Minah, yang sudah dua minggu ini belum sempat di jenguknya. Akhirnya Jeni berjongkok dan mulai memilih sayuran milik nenek itu.


"Ayo, cah ayu. Sayurannya di pilih, di jamin masih segar, nenek baru petik tadi subuh," ujar nenek itu ramah sekali sambil membantu Jeni memilah sayur yang hendak dia beli.


 Jeni tersenyum dan memilih beberapa jenis sayuran yang tampak sangat segar dan cantik.


"Saya mau semua ini ya, Nek. " Jeni menunjuk sayuran yang sudah dia pilih dan letakkan di depannya, terpisah dari sayuran lainnya.


 Mata nenek itu berbinar senang. "Alhamdulillah, banyak sekali belinya, cah ayu. Mau buat stok ya?" tanyanya sambil memasukkan semua sayuran Jeni ke dalam kantong plastik besar.


 Jeni menggeleng. "Ah, nggak, Nek. Mau buat stok di pondok, makanya belinya banyak. Yang makan rame soalnya," kekeh Jeni.


"Semuanya jadi 160 ribu rupiah, Cah ayu. Bayari 150 saja, lebihnya biar buat anak anak pondok, sekalian nenek sedekah." Nenek mengikat plastik pembungkus sayuran dan menyerahkannya pada Jeni.


 Jeni menerimanya dengan senang hati, dan memberikan dua lembar uang merah pada si nenek.


"Walah, uangnya besar sekali, Cah ayu. Nenek belum ada kembalian, wong kamu ini pembeli pertama nenek." Nenek menggaruk kepalanya bingung.


 Jeni ikut bingung, karna di tangannya hanya ada tiga lembar merah lagi. Tak ada yang lain. Akhirnya nenek itu beranjak dan berinisiatif menukar uang Jeni ke pedagang beras di toko besar yang berada tak jauh dari sana.


"Sebentar ya, cah ayu. Nenek tukar dulu uangnya" pungkasnya.

__ADS_1


 Jeni mengangguk dan menunggu dengan sabar.


 Tak lama kemudian, Jeni seperti mendengar suara ribut ribut dari arah toko beras yang tadi di datangi si nenek. Dengan cemas Jeni melihat ke sana dan betapa terkejutnya ia ketika melihat nenek sudah terjatuh di tanah dengan wajah pucat ketakutan, di depannya tampak beberapa preman sedang mengancamnya dengan wajah sangar.


"Ini nenek nenek satu bandel bukan main, kan udah gua bilang kalo masih mau jualan di sini ya bayar dulu uang jaminannya. Ini bukannya bayar malah alasan aja terus!" bentak seorang preman yang sepertinya adalah ketuanya itu sambil menunjuk muka si nenek.


"Ampun, nenek nggak punya uang, ini uang punya pelanggan nenek yang baru beli sayuran nenek. Tolong jangan sakiti nenek," pinta nenek memelas.


 Tapi bukannya iba, preman itu justru maju dan dengan tanpa perasaan menampar si nenek dengan keras.


"Banyak bac*t!" geramnya sambil melayangkan tamparan ke muka renta si nenek.


Plaaakkk


 Nenek langsung pingsan seketika setelah menerima tamparan keras di wajahnya itu, Jeni menutup mulutnya tak percaya bagaimana bisa para pedagang lain malah bersikap seolah tak mau tahu ketika kejahatan terjadi di depan mata mereka.


 Sepeninggalan para preman itu setelah berhasil mengambil uang milik Jeni dari tangan si nenek, barulah tampak banyak warga dan penjual di sana yang mendekati tubuh si nenek dan memapahnya ke tempat yang lebih bersih. Jeni meminta bantuan mereka untuk membawa nenek ke rumah sakit terdekat, dan dia akan menjadi penjaminnya.


 Singkatnya, di rumah sakit saat tengah menunggu si nenek di periksa. Jeni duduk terpekur di kursi tunggu, namun tak lama suara teriakan menyita perhatiannya untuk menoleh ke arah pintu utama rumah sakit yang tampak ramai oleh petugas yang mendorong brankar seorang pasien. Dari suaranya Jeni tau, pasien itu wanita.


 Tapi matanya langsung menyipit ketika menyadari siapa orang yang berada di samping brankar menemani pasien tersebut.


"Bang Adam ...."

__ADS_1


*Nb : besok lebaran\, tolong jangan minta up cepet2. Author juga pengen makan ketupat heuehu\, tapi author usahakan tetap up ya. Minal Aidin wal Faidzin semuanya.*


__ADS_2