MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 81.


__ADS_3

 Hari sudah menjelang malam, Jeni sudah sadar di kamar rawatnya di tunggui oleh Nek Minah dan Umi Nafisah. Sedangkan Gus Musa dan abahnya kini tengah duduk di taman rumah sakit setelah sebelumnya menikmati makan malam bersama di ruangan Jeni.


 "Le," kyai Hasan membuka percakapan.


 Gus Musa menoleh dan mengangguk. "Injih, bah?"


  Kyai Hasan menatap langit malam yang saat ini sudah mulai temaram seiring Mega merah di ufuk barat yang mulai tenggelam. Bintang bintang mulai timbul, bertaburan di angkasa raya memanjakan mata setiap insan yang melihatnya.


"Perempuan itu ... sepertinya baik, Abah bahkan sampai tidak menyangka kalau dia bisa dengan tanpa pikir panjang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kamu, le. Apakah, kamu tidak terpikir untuk membalas kebaikannya?" ucap kyai Hasan.


 Gus Musa mendesah lirih, matanya mengikuti arah tatapan abahnya menuju ke indahnya bintang bintang di langit sana.


"Saya akan menikahinya, Bah."


 Kyai Hasan menurunkan pandangannya dan menatap lekat ke arah putra semata wayangnya itu.


"Jangan menjadikan pernikahan sebagai suatu permainan atau malah balas jasa, le. Karna jika suatu saat nanti kamu sudah tak lagi mencintai istrimu, kamu akan dengan mudah menyakiti ataupun melepaskannya. Bukan begitu konsep pernikahan sesungguhnya, le."


"Lalu, saya harus bagaimana, Bah? Saya merasa berhutang budi pada Mbak Jeni, saya tidak tahu harus membayarnya dengan cara apa?"


 Kyai Hasan mengulas senyum. "Berikan saja penghidupan dan perhatian yang layak untuknya, ikuti kata hatimu. Nanti takdir itu akan bergerak sendiri mencari jalannya, kalian hanya perlu mengikutinya. Sampai nanti, hati kecilmu sendiri yang akan menentukan pilihannya."


 Gus Musa balas menatap kyai Hasan, sebentuk anggukan pelan dia tujukan. Pertanda hatinya menyanggupi permintaan abahnya.


****


"Owaaaa ... ooowaaaaa ...." suara tangisan bayi Jeni terdengar santer dari dalam ruangan, Gus Musa mendorong kursi roda abahnya lebih cepat karna merasa cemas pada bayi kesayangannya itu. Yang entah sejak kapan mulai mempunyai tempat tersendiri di hatinya kini.


"Ada apa?" tanyanya setelah berhasil masuk ke dalam ruangan dan mendorong kursi roda abahnya hingga ke dekat Uminya.


" Ini, le. Dari tadi nangis terus, kayaknya perutnya kembung, coba kamu panggilan dokter, le biar di periksa," sahut Nek Minah yang menggendong bayi Jeni.


 Bayi itu terus memberontak karna merasa tak nyaman di bagian perutnya yang menggembung.

__ADS_1


 Gus Musa meraihnya dalam gendongan dan meraba perutnya yang memang terasa keras, Gus Musa membaca basmallah dan perlahan menekan bagian pusar bayi.


Dddduuutttt


 Terdengar suara kentut yang luar biasa keras dari bayi Jeni, suara tangisannya pun perlahan mereda namun masih terdengar rengekannya. Semua terdiam melihat cara Gus Musa mengatasi bayi yang tengah kembung itu. Tak ada yang tertawa seperti biasanya jika mendengar seorang bayi mungil dengan kentut yang besar seperti kentutnya orang tua.


"Tolong ambilkan minyak telonnya," pinta Gus Musa entah pada siapa.


 Namun nek Minah langsung sigap mengambilkan dan memberikan minyak itu ke tangan Gus Musa.


 Gus Musa meletakkan bayi Jeni dengan perlahan ke atas kasur yang juga di tempati Jeni, dan mulai membuka baju yang di kenakannya.


"Bismillahirrahmanirrahim," gumam Gus Musa sambil mengoleskan minyak telon ke seluruh bagian perut dan punggung bayi kemudian mulai memijatnya dengan pelan namun penuh teknik yang tidak di ketahu bahkan oleh Jeni sendiri yang kini bahkan belum kuat bersuara terlalu banyak.


Setelah beberapa saat memijat, Gus Musa mulai menggerakkan kaki bayi seperti mengayuh sepeda, dan sesekali mendekatkan lututnya ke arah perut. Saat itu pula bayi Jeni kembali kentut dengan suara yang menggemparkan dan tangisannya benar benar berhenti sama sekali.


"Alhamdulillah," desah Gus Musa sambil kembali menggendong bayi Jeni yang sudah kembali ceria itu.


"Alhamdulillah, kamu hebat sekali, le." Nek Minah memuji Gus Musa.


 Jeni mengulurkan tangannya, dan seakan paham Gus Musa memberikan bayi itu ke tangan ibunya.


"Jangan di susui dulu, Mbak Jen. Biar perutnya enakan dulu," pesan Gus Musa setelah bayi itu berpindah tangan, walau masih tampak bayinya ingin ikut dengan Gus Musa.


 Jeni mengangguk sambil sedikit meringis, menahan nyeri dari jahitan di lukanya yang ternyata lumayan dalam namun untungnya tidak sampai menembus ke organ dalamnya.


"Le, kamu temenin Mbak Jen dulu ya. Abah sama Umi mau sholat isya dulu sebentar, kamu nanti nyusul saja." Kyai Hasan memberi titah.


  Gus Musa mengangguk pasrah.


"Le, nenek juga mau ikut orang tua kamu ya. Sekalian mau ke warung, beli obat nyamuk di sini banyak nyamuknya padahal sudah pakai AC." Nek Minah ikut bersuara dan mulai mengambil tas tangannya untuk membuntuti orang tua Gus Musa yang sudah keluar lebih dahulu.


 Gus Musa tak bisa melarang, karna dengan cepat ke semua orang itu sudah hilang di balik pintu. Gus Musa hanya mendesah pelan sambil duduk di kursi yang ada di tepi ranjang yang di tempati Jeni.

__ADS_1


"Aaa ... Babababa ... oohh." suara ocehan bayi Jeni yang sangat menggemaskan, membuat Gus Musa memutar tubuh dan mencubit pelan pipi boneka hidup itu dengan gemas.


"Mbak Jen, terima kasih ya. Sudah menolong saya," ujar Gus Musa pelan namun tanpa menatap Jeni.


 Jeni mengangguk dan berusaha agar suaranya mau keluar walau sembari menahan rasa nyeri yang cukup mengganggu.


"Tidak apa, Gus. Sudah seharusnya," jawab Jeni terbata bata.


"Apa lukanya sakit?" tanya Gus Musa lagi karna bingung mencari bahan pembicaraan.


 Jeni menggeleng pelan, walau dia tahu tengah berbohong. Lukanya sangat sakit woy :'^


"Saya benar benar minta maaf, bagaimana cara saya membalasnya, Mbak?" Gus Musa menambahkan.


 "Tidak perlu, Gus. Saya ikhlas melakukannya," tolak Jeni halus.


 Gus Musa menggeleng. " Tidak, saya tahu pengorbanan itu pasti sangat menyakitkan, tolong izinkan saya membalasnya agar hilang resah di hati saya."


"Lalu saya harus minta apa, Gus? Saya tidak pantas untuk apapun, bahkan hanya untuk sehelai baju bekas," jawab Jeni merendah teringat akan dirinya yang dulu yang bahkan lebih rendah ketimbang binatang (akhlaknya, bukan manusianya).


"Jangan bilang begitu, Mbak Jen. Jangan terlalu menilai rendah diri sendiri, nanti orang lain akan ikut menilai seperti itu terhadap Mbak Jen. Saya tahu Mbak Jen baik, Mbak Jen pantas mendapatkan yang lebih dari sekedar baju baru bahkan pakaian mahal untuk di pakai," tukas Gus Musa.


 Jeni tersenyum miris dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, Gus. Saya tidak setinggi itu."


"Kalau begitu, izinkanlah saya untuk bisa meninggikan mu, Mbak Jen."


"Maksud Gus Musa?" Jeni mengerutkan keningnya tak mengerti.


Gus Musa memegang tangan bayi mungil Jeni yang sejak tadi tak berhenti mengoceh dengan suara bayinya yang menggemaskan.


"Izinkan saya menjadi ayah untuk bayi ini, dan juga untuk memberinya nama, Mbak."


 Jeni tersentak mendengar permintaan Gus Musa, lidahnya kelu tak mampu menjawab dengan air mata yang perlahan berkumpul di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Tapi ... tapi, Gus."


__ADS_2