
Malam sebelumnya.
Asiyah duduk terpekur di tepian ranjang tempat tidur di kamar yang masih asing baginya itu, di pandangannya setiap sudut ruangan asing yang membaut perasaannya tak nyaman itu dengan tatapan nanar.
Hatinya sakit batinnya menjerit sejadi-jadinya saat ini, betapa terbayang akan diamnya selama lima tahun ini di balas dengan begitu kejam oleh bapaknya sendiri. Orang yang selama ini bahkan sangat jarang memberinya kasih sayang walau berupa senyuman saja.
Dan di sinilah Asiyah, di rumah seseorang yang di sebut suami tapi dia sendiri tahu kalau pernikahannya sat ini tidak sah, memang pardilah yang menikahkan mereka tapi Pardi bukanlah ayah kandung Asiyah, sedangkan Asiyah dan orang tua angkatnya tahu kalau orang tua kandung Asiyah masih hidup walau Asiyah sendiri tak tahu di mana.
"Aku tahu kau mungkin menganggapku istrimu, tapi sebelum ini semua terjadi sudah ku katakan kalau bapak bukanlah ayah kandungku, jadi di kata agama pernikahan kita ini tidak pernah sah. Aku tak akan buka mulut atau mempermalukan keluargamu, tapi dengan satu syarat," ucap asiyah malam itu dengan sisa keberanian yang ia miliki.
Alam berdecak lirih, lalu menatap Asiyah dengan tatapan enggan.
"Apa? Jangan terlalu banyak drama," ketusnya.
Asiyah menarik nafas dalam, bukan sikap Alam yang membuatnya geram tapi juga pernikahan paksa ini.
"Jangan menyentuhku, itu saja. Karna kita tidak halal di mata agama," desah Asiyah lirih.
Alam hanya diam sambil menatap Asiyah penuh arti. Tapi akhirnya sebuah jawaban mengejutkan di terima Asiyah.
"Baiklah, mari kita buat perjanjian pasca nikah."
****
Orang orang sudah berbondong-bondong datang ke masjid hari ini. Tujuannya tak lain adalah untuk bebersih dan merapikan lingkungan sekitar masjid menjelang acara maulid nabi yang akan di laksanakan esok.
Handai taulan mulai memenuhi halaman dan bagian dalam masjid, melakukan tugasnya masing-masing dengan suka cita. Tapi berbeda dengan Asiyah, walau rumah Alam termasuk dekat dengan masjid namun Asiyah harus berpuas diri hanya dengan menyaksikan semua itu dari balik jendela kamarnya, tak ada izin dari Alam untuk dia ikut berbaur di keramaian tersebut.
"Lihat apa?" tanya Alam yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah buku agenda besar di selipan tangannya.
Asiyah tak menoleh, hanya melirik sekilas lalu kembali memandang ke luar.
__ADS_1
"Tidak," sahutnya lirih sekali.
"Apa begini ajaran orang tuamu tentang adab dengan suami?" bentak Alam tak senang.
Asiyah berdecih, dalam hatinya dia merutuki pria yang berstatus suami di atas kertasnya itu.
"Mas bahkan lebih mengenal orang tuaku bukan?" ucapnya setengah menyindir, karna semenjak berada di desa itu Pardi memang terbilang sangat dekat dengan Alam.
Alam mendengus, mungkin sudah kesal karna kehabisan kata kata untuk melawan ucapan yang Asiyah yang tajam itu.
"Pergilah jika kamu mau membantu di masjid sana, tapi ingat untuk tidak bicara apapun tentang kita," pungkasnya mengalah.
Mata Asiyah mendadak berbinar, hatinya sejujurnya senang namun tak sedikit pun dia tunjukkan di hadapan Alam. Baginya cukuplah pria itu melihat wajah datarnya, tapi tidak dengan senyumnya.
Tak lama Alam kembali keluar setelah lagi lagi meletakkan beberapa lembar uang merah ke dalam laci pribadinya yang tidak dia perbolehkan siapapun membukanya termasuk Asiyah. Namun Asiyah juga tidak kepo untuk mencoba mencari tahu isinya.
"Ini untukmu, jangan bilang kalau aku tidak bertanggung jawab dengan tidak memberi nafkah pada ... istriku," ucap Alam sejurus sebelum benar benar keluar dari kamar dan menutup pintunya.
"Eh, Neng Asy ke sini juga, Neng. Saya kira nggak datang," sapa Wak Sumirah salah satu tetangga Asiyah yang termasuk orang paling ramah di kampungnya yang pernah Asiyah temui.
Wak Sumirah seorang janda, tinggal seorang diri karena tak mempunyai anak. Kegiatannya sehari hari adalah berjualan kue kue basah dan juga sarapan pagi yang hanya satu satunya di kampung kecil itu. Dan hampir semuat warga desa adalah langganannya.
"Iya, Wak. Baru minta izin sama Mas Alam, tadi beliau pergi keluar soalnya," sahut Asiyah lembut sambil membantu Wak Sumirah membersihkan karpet karpet masjid di halaman masjid.
Beberapa warga lain juga tampak memperhatikan ke arah Asiyah dan Wak Sumirah, berbisik-bisik sambil sesekali menunjuk dan melirik ke arah Asiyah yang membelakangi mereka.
"Subhanallah, Neng Asiyah ini ternyata istri yang berbakti ya. Mau keluar aja harus nunggu izin suami dulu, saya kalo punya anak kayak Neng Asiyah ini pasti saya bahagia sekali," cetus Wak Sumirah dengan tawa khasnya.
Asiyah hanya tersenyum menanggapi, namun tetap saja ucapkan Wak Sumirah rupanya mengundang desas-desus warga lebih santer lagi di belakang sana.
"Wak! Kalau kerja itu yang fokus, jangan ngobrol aja!" seru Juli, salah satu warga juga yang tempo hari sempat membicarakan Asiyah di warung dekat rumahnya.
__ADS_1
Juli tampak melengos dari tatapan matanya saja semua juga tahu kalau dia tak suka dengan asiyah, walau Asiyah sebelumnya tak pernah bermasalah dengannya.
"Halah! Kamu aja dari tadi gosip terus, lihat saja itu ngepel segitu aja nggak selesai-selesai gara gara ngegosip, gitu kok mau ngomongin orang kamu itu, Jul!" omel Wak Sumirah pula, walau sudah tua wawak satu ini tak akan mengalah jika dia tak merasa membuat kesalahan.
Juli mendengus keras, lalu langsung membanting pel di tangannya dan pergi berlalu dari sana.
"Dasar gatal!" umpatnya sambil sengaja menyenggol pundak Asiyah saat berjalan menuju pagar keluar masjid.
"Heh, Juli!" seru Wak Sumirah tak terima saat Juli terang terangan mengatai Asiyah.
Juli mencebik tanpa menghentikan langkah kakinya, terlihat sekali kalau dia hanya berani di belakang tapi kalau berhadapan langsung dia melempem kayak kerupuk jangek.
"Sudah, Wak. Asy nggak papa kok," sela asiyah sebelum Wak Sumirah semakin berang dan membuat gosip tetangga lebih santer lagi.
"Abisnya mulutnya si Juli itu tajem banget, Neng. Orang yang nggak ada masalah sama dia aja di bikin punya masalah sama dia, padahal mah kita semua juga tahu kalau masalahnya itu ya ada di dirinya sendiri yang angkuh itu," ketus Wak Sumirah masih menatap ke arah perginya Juli tadi.
Padahal pekerjaan di masjid belum selesai namun dia malah pulang seakan tak punya salah apa apa, padahal gara gara dia tadi orang orang jadi tak fokus bekerja dan hanya bergosip saja hingga sampai sore begini pekerjaan belum pada selesai.
Sambil membantu Wak Sumirah mengerjakan pekerjaan lain yang belum selesai, tiba tiba asiyah teringat akan ucapan Alam tempo hari tentang ustadz yang akan berceramah di desa mereka esok.
"Eh, Neng. Kamu sudah tahu belum kalau ustadz yang besok di undang itu katanya masih muda loh, mana ganteng banget Neng katanya. Duh, kalo aja Wak ada anak perempuan pasti udah wawak jodohin sama ustadz itu," celetuk Wak Sumirah sembari meneruskan mengepel lantai yang tadi di tinggalkan oleh juli begitu saja dengan di bantu oleh Asiyah.
"Nama ustadznya Rahman ya, Wak?" tanya Asiyah memastikan sekali lagi, sebab hanya karna mendengar nama itu semalaman Asiyah tak bisa tidur karna terus terkenang Rahman yang dia tinggalkan di pondok.
Entah apa kabarnya sekarang, sejujurnya dialah yang paling Asiyah tunggu dan rindukan, bahkan selalu di sebutnya dalam doa di sepertiga malamnya. Bahkan saat ini mata Asiyah terasa menghangat hanya dengan menyebut nama itu.
"Iya, Neng. Nah kebetulan itu ada balihonya lagi di pasang, Neng. Di situ ada foto ustadznya, tapi hati hati Neng. Jangan di lihat lama lama, nanti suamimu cemburu bisa di pingit lagi kamu, neng sama dia." Wak Sumirah terkekeh lalu kembali melanjutkan tugas mengepelnya.
Sedang Asiyah kini mulai memfokuskan pandangan pada baliho berukuran besar yang tengah di pasang oleh beberapa orang pemuda di dekat pagar masuk masjid.
Saat baliho itu terbuka dan terpasang sempurna, air mata Asiyah langsung menetes dan perlahan berubah menjadi deras.
__ADS_1
"Subhanallah, Kak. Ternyata benar itu kamu, aku rindu, Kak aku rindu," bisik Asiyah dalam tangisnya sebelum akhirnya berlari pergi sebelum ada yang menyadari tangisnya.