
"ke rumah saudaranya istri saya, membebaskan tawanan," jawab Axel dengan entengnya.
Sontak mata Satrio pun membelalak lebar.
"A- apa, bos? Tawanan? Siapa? Tapi ... tapi bagaimana bisa? Saya ah, maksudnya kami bahkan hanya orang biasa gjmana ceritanya di suruh bebasin tawanan sih? Saya nggak mau mati muda, bos saya masih mau nikah," tolak Satrio dengan wajah syok.
" Panjang banget ngomelnya," kekeh Axel tampak santai sekali.
Satrio memanyunkan bibirnya, sedang aish di sebelahnya malah tampak sibuk bercengkrama dengan Ayuna tanpa mempedulikan Satrio dan Axel yang tengah berdebat.
"Ya abisnya bos sih, segala hal serius kayak gini ngadunya sama kita minta tolong sama kita ya salah lah, bos. Masalah begini mah urusan polisi," ketus Satrio sembari menyeruput teh di gelasnya.
Axel mengangguk pelan sembari memperbaiki posisi duduknya dan ikut menikmati teh yang ada di hadapannya.
"Yah, maunya saya juga begitu sebenarnya. Tapi ... kamu kan tahu keluarga istri saya bukan orang sembarangan, itu artinya pamannya ini juga bukan orang sembarangan dan cara menghadapinya juga sudah pasti tidak bisa sembarangan," tukas Axel.
Satrio menggaruk kepalanya dengan tampang keberatan tapi tidak sanggup mengatakan seperti tetangga tak enakan.
"Haduh, gimana ya, bos? Tapi saya ... saya ...."
"Kalau kamu mau saya bakalan kasih kamu bonus, kan lumayan buat nambahin tabungan nikah kamu," celetuk Axel tepat sasaran.
Tak sia sia memperhatikan tingkah anak buahnya yang satu itu, hingga dia tahu kalau Satrio amat sangat gigih mengumpulkan uang untuk bisa mempersiapkan masa depan yang cerah bersama istrinya nanti. Dan sudah pasti dia tidak akan menolak uang demi itu.
Dan tentu saja berhasil, binar yang seketika muncul di tatap mata Satrio sudah mampir menjelaskan semuanya.
"Lalu, tugas kami apa?" tanyanya mulai terlihat tertarik.
Axel tergelak sudah yakin kalau pancingannya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Tidak ada, cukup menemani dan siaga kalau kalau terjadi sesuatu yang di inginkan."
"Tidak di inginkan!" seru Satrio meralat ucapan Axel.
Kembali Axel tergelak, namun kali ini tidak sekeras tadi.
"Ya ya baiklah, jadi bagaimana? Setuju?"
__ADS_1
Satrio tampak berpikir sejenak.
"Kalau boleh tahu, berapa nominal yang akan saya dapatkan kalau misi ini berhasil?" seloroh Satrio pula seperti layaknya bos bos besar yang sering dia lihat di restoran saat menego harga.
"Hmmm ... lima juta bagaimana?" Axel mengetuk ngetuk dagunya yang tampak baru bercukur itu.
"Tidak menarik," gumam Satrio santai sambil meminum kembali tehnya.
Terkejut, Axel langsung bangkit dari posisi duduknya dan menatap Satrio lekat.
"Baiklah, bagai mana kalau dua kali lipat?"
"Empat."
"Tiga." Axel tak mau kalah.
"Lima," ucap Satrio dengan seringai miring di bibirnya.
Axel menggeram rendah. "baiklah, empat."
Satrio manggut-manggut senang dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Axel.
"Deal!" serunya mengakhiri diskusi yang berhasil dia menangkan tersebut.
"Ayo kita berangkat," ucap Axel yang wajahnya tiba tiba berubah senewen terlebih saat melihat wajah cerah ceria Satrio yang seakan akan mengejeknya.
Satrio tak peduli, dia berbalik lalu menepuk pundak sang kekasih hati yang masih asik bermain dengan Ayuna yang ada di pangkuannya.
"Dek," panggilnya lembut.
Aish menoleh. " Kenapa, Mas? Udah mau pulang ya?" tanyanya dengan wajah enggan karna belum puas bermain dengan anak asuhnya dulu.
Satrio menggeleng. "Belum, kita mau ke rumah saudaranya Mbak Sarah. Jadi mainnya udahan dulu ya, besok kalau mau main lagi biar Mas anter lagi ke sini."
Mendengar itu akhirnya Aish mengalah, dia menurunkan Ayuna dari pangkuannya dan membiarkan bocah cantik itu kembali bergabung dengan Kakak kakaknya yang kini di asuh oleh seorang wanita paruh baya yang sangat telaten dan ramah.
Aish berdiri di samping Satrio bertepatan dengan itu Sarah tampak turun dari lantai dua rumahnya dengan pakaian yang berbeda dengan yang dia kenakan sebelumnya.
__ADS_1
"Mas, sudah siap ya?" tanyanya sembari menuruni tangga dengan hati hati.
" Sudah, say ...."
Axel berbalik dan sontak mengehentikan ucapannya setelah melihat sang istri yang tampak begitu cantik walau hanya mengenakan pakaian santai berupa kaos over size dan bawahan celana jeans pas badan, di tambah rambut Sarah yang di biarkan terurai menambah nilai plus dalam penampilannya. Bahkan mungkin tak akan ada yang tahu kalau Sarah adalah seorang ibu dari tiga orang anak jika melihat penampilannya saat ini.
"Bos, biaya tambahan untuk ruqyah beda lagi loh," bisik Satrio jahil saat melihat Axel tak kunjung melepas tatapan matanya dari Sarah yang kini tengah berpamitan pada anak anak serta pengasuhnya.
"Tak sentil ginjalmu," ketus Axel menatap Satrio garang lalu kembali membuang pandangan ke arah istrinya.
Bocah bocah itu tampak berebut untuk mencium pipi Sarah, dan setelahnya kembali sibuk dengan mainan mereka sendiri seolah tak keberatan sang ibu pergi tanpa mereka.
"Ayo berangkat, nanti kemalaman loh," celetuk Sarah membuyarkan lamunan Axel.
Mereka semua pun beriringan masuk ke dalam mobil milik Axel, memacu kendaraan tersebut keluar rumah dan membelah jalan raya menuju ke sebuah alamat yang asing bagi mereka, bahkan Sarah pun belum pernah datang ke alamat tersebut.
Di dalam mobil, aish membuang pandangannya ke arah luar. Melihat gedung gedung tinggi yang selama ini menarik perhatiannya jika bepergian, namun kali ini sepertinya ada yang beda debaran di dadanya seolah mengatakan akan ada hal besar yang tengah menantinya di depan sana.
"Kenapa, Ai? Kok kelihatannya gelisah begitu? Kamu butuh sesuatu? Bilang aja nggak papa kok kalau mau berhenti dulu," celetuk Sarah yang tampak menyadari kegelisahan gadis manis di sampingnya itu.
Aish menggeleng pelan. "Nggak papa kok, Mbak. Aish nggak papa."
"Kalau butuh apa apa bilang aja, mbak nggak keberatan kok nunggu," ucap Sarah lagi karna mengira Aish ingin berhenti sejenak untuk kebutuhan pribadinya.
Sekali lagi Aish menggeleng.
"Kamu kenapa, dek? Muka kamu pucat loh?" timpal Satrio pula, dia bahkan ikut memiringkan tubuhnya untuk bisa melihat ke belakang dimana Sarah dan aish duduk berdampingan.
"Nggak kok Mbak, Mas. Aish nggak papa, cuma rasanya berdebar aja dari tadi seperti ada ... ada yang akan kita temui nanti di tempat tujuan, tapi entah apa. Ada rasa nggak sabar juga, entahlah Aish juga bingung jelasinnya," papar Aish mencoba menceritakan apa yang tengah dia rasakan.
"Berdebar karna aku kan wajar, dek," seloroh Satrio lagi lagi menggombal.
Pletaaakkk
Sebuah jitakan meluncur lurus ke jidat Satrio, siapa lagi pelakunya kalau bukan Axel yang kesal dengan gombalan murahannya.
"Bukan, Mas. Kali ini berdebarnya beda, rasanya kaya ada yang menunggu aku di sana entah dimana dan sebentar lagi bakalan ketemu kayak pas aku dalam perjalanan ke kota buat ketemu kamu." Aish kembali menegaskan.
__ADS_1
"Sudahlah, daripada menebak nebak yang kita sendiri belum pasti. Lebih baik nanti kita lihat saja sendiri di sana, semoga yang akan kita temui adalah kabar baik," sela Sarah menengahi.
Aish mengangguk, lalu kembali membuang pandangannya ke arah luar berharap apa yang di katakan Sarah akan menjadi kenyataan.