MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 143.


__ADS_3

Sementara itu.


"Mas, kamu nunggu di luar aja sana. Nggak risih apa di sini Mulu ngikutin aku?" ujar Asiyah yang tengah sibuk membantu Amelie menyisir rambutnya di depan cermin.


Alam tampak mendesah berat.


"Aku mau kemana, dek? Bingung aku tu di rumah ini, nggak ngerti deh mau ngapain makanya dari tadi aku ngikutin kamu aja," keluhnya sembari berpangku tangan di atas sofa kamar.


Asiyah hanya geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan kegiatannya menyisir rambut panjang Amelie yang selama ini selalu di ikat jadi satu ke belakang padahal sebenarnya rambut itu sangatlah indah, mirip seperti rambut Asiyah yang kini tertutup jilbab.


"Nak," panggil Amelie lembut sambil menyentuh tangan Asiyah yang berasa di rambutnya.


"Ya, Mami?" sahut Asiyah tak kalah lembutnya, bahkan tanpa dia sadari tatapan yang dia hadiahkan untuk Amelie begitu teduh dan penuh cinta.


Asiyah pun sebenarnya merasa sangat nyaman berada di dekat amelie, jika boleh jujur besar keinginannya memiliki ibu seperti sosok Amelie yang lembut dan penuh kasih sayang.


"Rasanya jantung Mami berdebar debar, coba kamu rasakan."


Amelie menarik pelan tangan Asiyah dan menempatkannya di dadanya, dari situ terasa debaran yang menggila di dada Amelie, sampai kening Asiyah berkerut karenanya.


"Apa biasanya juga begini, Mami?" tanya Asiyah mencoba mencari tahu.


Amelie tampak menggeleng, namun tak ada jawaban yang terlontar dari mulutnya mungkin saja dia masih bingung akan kondisinya saat ini mengingat bertahun tahun lamanya dia hidup dengan keadaan tertekan karna merindukan anak anaknya yang hilang.


"Kalau begitu Asy panggilkan Papi dulu ya," gumam Asiyah sambil beranjak bangkit hendak mencari Edwin yang memintanya memanggilnya papi selama masa perjanjian mereka berlaku.


Asiyah tak keberatan, toh baginya dia juga tak rugi di sini semua fasilitas di sediakan 24 jam untuknya dan Alam. Bebas dia nikmati asalkan dia bisa membuat Amelie senang. Kehidupan yang tak pernah dia rasakan sejak dulu membuat Asiyah begitu menikmati apa yang ada saat ini terlepas dari suaminya yang terus menerus uring-uringan meminta cepat pulang.

__ADS_1


"Ada yang datang," gumam Amelie sambil menangkap tangan Asiyah dan menahan pergerakan nya.


Asiyah berhenti dan berbalik, menatap heran amelie yang tampak menatap ke arah balkon tanpa berkedip.


"Mas, coba kamu lihat siapa yang datang," titah Asiyah sambil menatap Alam yang tengah sibuk memainkan ponselnya menikmati fasilitas wifi yang di sediakan Edwin untuk mereka, lumayan kan hemat kuota.


Alam sempat mendengus, namun saat melihat tatapan membunuh dari Asiyah dia langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju balkon.


Alam melongokkan kepalanya ke bawah, tampak sebuah mobil baru saja memasuki gerbang rumah mewah milik Edwin. Dia berbalik menatap ke arah amelie yang masih mematung menatap ke arah balkon tersebut, lalu kembali menatap mobil yang semakin mendekat ke arah teras rumah.


"Bagaimana mungkin dia bisa tahu?" desis Alam seakan tak percaya, bagaimana bisa Amelia tahu ada yang datang ke rumah tersebut padahal mobil itu saja berada dalam radius sekitar seratus meter dari teras utama rumah.


"Mas! Ada apa?" tanya Asiyah yang ikut bingung melihat ekspresi Alam yang seperti terkejut bukan kepalang.


Alam berjalan masuk dan berkata dengan terbata.


Asiyah mengerutkan keningnya bingung, lalu beralih menatap Amelie yang kini terlihat menunduk sambil memegangi dadanya yang terus saja berdebar.


"Bagaimana Mami tahu? Mungkin mami melihat sorot lampu mobilnya waktu datang?" gumam Asiyah menduga, karna tidak begitu yakin. Sedangkan untuk bertanya langsung pada Amelie tidak mungkin karna tatapannya kini terlihat kosong ke arah lantai .


"Tidak! Tidak mungkin, dek. Bahkan mobilnya tadi masih berada di jalan besar waktu Mami bilang ada yang datang," papar Alam dengan suara agak bergetar.


Asiyah semakin kebingungan, sedangkan Alam memilih mengambil ponselnya dan berjalan menjauh.


"Aku di luar saja ya, dek. Tiba tiba suasananya jadi horor," ucapnya lagi, dan tanpa menunggu jawaban dari Asiyah, Alam sudah keluar dari ruangan kamar itu.


"Ah, mungkin Mami hanya asal tebak saja, atau mungkin memang Mami melihat lampu sorot mobilnya dari kejauhan. Kan bukan tidak mungkin lampu mobil bisa menyorot ke atas sini kalau dari jauh," gumam Asiyah mencoba berpikir positif.

__ADS_1


Tak lama setelah itu pintu kamar kembali terbuka, seorang yang di kenal Asiyah secara tidak sengaja dan meminta bantuannya itu berdiri di sana dengan senyum lebar di wajahnya.


"Sayang!" panggilnya pada sang istri yang kini masih terlihat menatap kosong pada lantai, namun setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Amelie, entah apa alasannya.


Edwin melangkah cepat menuju sang istri dan berjongkok di hadapannya. Mata yang biasa tajam itu ini menatap penuh cinta pada sang istri sambil menggenggam tangannya erat dan menciuminya berkali kali.


"Dia sudah datang," gumam Ed yang langsung membuat Amelia mengangkat wajahnya.


"Iya, dia sudah datang.  Putri kita ... Putri kita yang hilang sudah kembali," sambung Ed sambil memeluk sang istri erat erat.


Air mata kebahagiaan tampak mengalir di sudut pipinya, lalu Ed perlahan membimbing istrinya untuk keluar dari kamar itu. Meninggalkan Asiyah yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Bukankah harusnya aku ikut senang anak mereka akhirnya ketemu? Tapi ... kenapa air mata ini keluar?   Ah, tidak mau berhenti lagi." Asiyah bergumam sambil mengusap air mata yang mengalir deras secara tiba-tiba di pipinya.


Asiyah tertawa, tapi jujur dia akui kalau hatinya saat ini sangat sakit. Dia tidak bohong, dia menyayangi Amelie sebagai mana dia menyayangi ibu angkatnya, Salma sejak kecil. Namun kenapa rasanya sakit saat mengetahui kenyataan kalau anak Amelie yang asli sudah kembali.


"Ini salah, harusnya aku senang tapi kenapa rasanya sakit sekali? Ini bukan aku, ini bukan Asiyah! Asiyah nggak akan menangis untuk hal hal remeh seperti ini. Ingat Asiyah! Sejak awal mereka memang bukan orang tuamu!" bentak Asiyah pada dirinya sendiri sambil menunjuk cermin yang tadi di gunakan Amelie untuk memindai wajahnya saat di sisir Asiyah.


Bahkan saat itu Asiyah sangat menikmati setiap momen yang dia habiskan bersama Amelie, tak di pungkiri rasa sayang itu sudah melebihi batas. Entah karena apa dia sangat berharap amelie lah ibu kandungnya, walau itu hanya angan yang sia sia saja kini. Karena kenyataannya anak kandung Amelie sudah kembali.


"Dek?" panggil Alam yang kembali masuk ke dalam kamar itu dengan wajah pias, nafasnya yang tersengal pertanda dia baru saja berlarian untuk segera mencapai tempat dimana Asiyah berada.


"Kita pulang sekarang, Mas." Asiyah berbalik dan hendak mengambil barang barangnya di sudut kamar Amelie, sudah tidak ada lagi yang harus dia lakukan di rumah itu jika posisinya sudah ada yang akan menggantikan bukan? Jadi pikir Asiyah sebelum di usir secara halus lebih baik dia tahu diri dengan pergi sendiri.


Tapi kata kata Alam selanjutnya malah lebih mengagetkannya, hingga dia tak mampu melanjutkan langkahnya.


"Kok kamu di sini? Bukannya tadi kamu di bawah sama tamu tamu itu?" ucap Alam menggebu.

__ADS_1


__ADS_2