MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 136.


__ADS_3

 Malam tiba, dengan langkah gontai aish berjalan keluar dari dalam kamar kosnya. Seharian berada di dalamnya membuatnya lumayan sumpek juga, apalagi hanya bermain ponsel dan berpikir apa yang akan dia lakukan agar lekas bertemu orang tua kandung dan saudari kembarnya.


"Eh, Neng. Penghuni baru yang baru masuk tadi kan?" sapa Mang Midun, satpam kos kosan itu ramah.


 Aish tersenyum dan menunduk ramah pula. "Iya, Mang."


 Aish menoleh ke sekitar, sepi. Entah bagaimana caranya tadi dia bisa sampai ke depan kos kosan padahal niatnya hanya ingin menghirup udara segar di luar malah kebablasan.


"Mau cari makan, Neng?" tanya Mang Midun lagi, karna melihat Aish yang sejak tadi hanya diam seakan tak tahu apa yang hendak dia lakukan.


"Eh, nggak sih, Mang. Memangnya di sini ada yang jual makanan?" tanya Aish balik.


"Ada, tunggu aja di sini, Neng. Sebentar lagi juga lewat," ujar Mang Midun sambil keluar dari pos jaganya dan duduk di bangku panjang di depan posnya.


Aish mengikuti Mang Midun duduk di bangku kayu itu, perhatiannya tertuju ke aspal jalanan di depan mereka yang tampak basah karna hujan gerimis maghrib tadi.


"Neng ini siapanya Mas Satrio? Maaf kalo saya kepo," kekeh mang Midun sambil membuka topi satpamnya dan mengipaskannya di depan wajah.


"Ah, saya ... saya ...."


 Aish tampak ragu untuk menjawab padahal bisa saja dia mengatakan kalau dia adalah calon istri Satrio secara gamblang, namun suasana hatinya yang rusak sebab penemuan foto perempuan di kontrakan Satrio sebelumnya membuat dia sungkan untuk mengatakannya.


"Aish," panggil Hendro menyelamatkan Aish dari kondisi yang membuatnya tak nyaman.


"Eh, A. Bawa apa?" tanya Aish lebih memilih menjawab panggilan Hendro.


 Hendro duduk di bangku panjang itu, mang Midun tampak mencuri pandang pada mereka berdua.


"Eh, kita ke sana aja yuk, A." Aish bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sofa yang di berada di ruang tamu kosan.


"Kenapa atuh saya di tinggal?" seloroh mang Midun dengan wajah di tekuk untuk berpura-pura ngambek.


"Kan mamang yang nungguin tukang penjual makanannya," kekeh Aish mencoba mencairkan suasana dengan tertawa kecil.


 Mang Midun ikut terkekeh. "Ah iyalah, dasar anak muda. Maunya berdua duaan saja, yang tua mah apa.".


Aish tersenyum mendengar banyolan pria berusia sekitar tiga puluh limaan itu, namun tak menimpali karna lebih penasaran dengan apa yang di bawa oleh Hendro.

__ADS_1


"Aish, sini." Hendro melambaikan tangannya agar Aish duduk di hadapannya.


"Kenapa, A? Apa Aa' nemu sesuatu?" cecar aish tak sabar.


 Hendro mengangguk, lalu menunjukkan cangkir berwarna pink terang yang dia temukan sebelumnya.


"Cangkir?" Aish memutar kepalanya guna melihat keseriusan di wajah Hendro.


Dan Hendro mengangguk, lalu memutar cangkir itu hingga tampaklah tulisan inisial dobel S itu di sisi satunya.


"Apa maksudnya ini, A?" gumam Aish dengan perasaan tak menentu.


"Entahlah, tapi ... rasanya ini pasti ada kaitannya dengan perempuan di foto itu. Entah kenapa Aa sangat yakin," tukas Hendro.


 Aish semakin resah, terlebih saat tak kunjung di temukan ya jawaban dari semua misteri ini.


Tong


Tong


Tong


"Neng, ini ada nasi goreng. Mau sekalian pesen nggak?" seru Mang Midun bertanya pada Aish.


 Belum sempat Aish menjawab Hendro sudah lebih dulu menyahut seruan ma v Midun.


"Iya, Mang! Dua ya, pedes!"


"Beres!" seru mang Midun sambil mengangkat jempolnya ke atas.


"Kita makan aja dulu ya, biar lebih tenang bahasnya," ujar Hendro kembali berkata lembut pada Aish.


 Aish mengangguk saja, tak ada yang bisa dia pikirkan saat ini. Bahkan benaknya penuh dengan segala kemungkinan paling buruk yang mungkin akan dia temukan nanti. Dan dia merasa harus bersiap untuk itu.


"Eh, mang Midun!" seru seorang wanita yang keluar dari kamar paling depan di sana yang di ketahui sebagai pengurus kos kosan itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Sri yang kali ini keluar dengan tampilan seronok, rok mini berpadu tangtop tampak tak mampu menyembunyikan bagian gunung rahasianya hingga terlihat begitu menyembul dan bergoyang setiap dia bergerak.


"Apa, Sri?" sahut Mang Midun yang tampak acuh saja itu.

__ADS_1


"Tukang apa? Nasi goreng apa mie Tek Tek?" tanya Sri lagi, sambil bergoyang genit saat menyadari adanya Hendro di depannya.


 Hendro membuang muka karna merasa geli melihat semua yang bergerak dan bergoyang di tubuh Sri yang terbilang semok itu.


"Nasi goreng!" sahut Mang Midun menoleh sekilas.


"Pesanin aku satu, Mang. Nanti aku bayarin sekalian, kayak biasa ya telornya dua," seru Sri lagi lalu berbalik kembali masuk ke dalam kamarnya, dan entah sengaja atau tidak tapi sepertinya sengaja dia menjulurkan lidah saat beradu pandang dengan Hendro.


"Huekkk," gumam Hendro sambil melengos membuang pandangan ke arah lain dengan tampang jijik.


"Kenapa, A?" tanya Aish penasaran.


"Biasa, penampakan kota." Hendro menyahut asal.


 Aish menggedikkan bahunya ke atas, karna tak paham dengan maksud perkataan Hendro.


 Mang Midun datang dengan sebuah bungkusan di tangannya, tampak empat bungkus nasi goreng yang menguarkan bau harum saat dirinya mengeluarkannya di atas meja.


"Saya ambilkan piringnya dulu," ucapnya sambil bangkit berdiri dan menuju ruangan kecil di ujung tangga yang merupakan dapur umum itu dan kembali lagi membawa tiga buah piring dan sendok di tangannya.


"Terima kasih ya, Mang. Repot sekali segala di ambilkan piring sama sendok," ujar Hendro sembari menerima piring dan sendok dari tangan mang Midun.


"Ah, repot apanya nggak lah, den. Ayo, Neng di makan ini nasi goreng yang paling terkenal enak di lingkungan sini loh." Mang Midun menyodorkan sebungkus nasi goreng ke hadapan Aish.


 Aish mengangguk dan tersenyum kecil saat menerima bungkusan itu dan membukanya di atas piring yang di peruntukkan untuknya.


 Aroma nasi goreng menguar sedap, asapnya yang masih mengepul dengan telur ceplok di atasnya membuat perut Aish seketika keroncongan.


"Eh, sudah selesai ya nasi gorengnya? Kok mamang nggak manggil aku sih?" tanya Sri yang tiba tiba sudah berdiri di antara mereka dengan pakaian yang masih sama seperti tadi, sangat terbuka terlebih di lihat dari jarak yang lebih dekat membuat semua lekukan di tubuhnya tercetak lebih jelas.


"Piring buat aku mana, Mang?" sambung Sri lagi saat melihat di atas meja tak ada piring kosong yang tersedia untuknya.


"Ambil sendiri saja, oh ya jangan lupa nasi gorengnya lima belas ribu." Mang Midun menadahkan tangan di hadapan Sri.


 Sri berdecak kesal. "Huh, giliran duit aja cepet. Nih!" Sri meletakan selembar uang hijau ke tangan mang Midun yang tampak menyeringai senang.


 Setelah itu Sri berjalan menuju dapur umum dan kembali dengan sebuah piring di tangannya.

__ADS_1


"Hah, enaknya malam malam makan nasi goreng. Apalagi habis makan di temenin ayang," kekeh Sri sambil membuka bungkusan nasi goreng miliknya sambil sesekali mencuri kirim pada Hendro yang lebih memilih makan sambil menunduk.


"Eh loh, ini kan cangkir aku. " Sri mengambil cangkir pink yang berada di atas meja di depan Aish dan memperhatikannya. "Nah kan bener, ini punya aku ada inisialnya. Ini siapa yang nemuin?"


__ADS_2