
"Apa? Berhenti bekerja? Tapi kenapa?" cecar Sarah yang menyayangkan keputusan baby sitter Ayuna itu, padahal selama Aisyah bekerja padanya sarah sudah lumayan klop dan cocok dengannya walau Aisyah adalah gadis yang pendiam.
"Iya, Bu. Nenek ingin membawa saya ke kampung halamannya," sahut Aisyah dengan nada terdengar sedih.
Sarah mendesah berat, perlahan dia mendekat ke arah Aisyah dan memegang kedua bahunya.
"Kalau begitu, pergilah ... walau sejujurnya saya pun begitu berat kalau harus melepaskan kamu, tapi ... semua keputusan ada di tangan kamu. Tenang saja, nanti jika saya mendapatkan informasi apapun mengenai siapa orang tua kandung kamu itu, saya akan segera menghubungi kamu ya," Sarah mengelus lembut kepala gadis manis yang sudah di anggapnya adiknya sendiri itu.
Aisyah mengangguk lemah sebelum akhirnya Sarah membawanya ke dalam pelukan.
"Kembalilah kapan pun kamu mau, insyaallah rumah kami akan selalu terbuka untuk menerima kamu menjadi bagian dari rumah ini lagi," pungkas Axel ikut merasa terharu.
****
Pagi itu, Rahman di ajak oleh Gus Musa untuk membeli beberapa kebutuhan rumah dan pondok yang mulai menipis. Sesuai wawancara singkat kemarin tentu saja kali ini tenaga Rahman mulai akan di uji oleh Gus Musa -- supaya tidak makan gaji buta, mentang mentang ganteng -- eh
"Nanti semua beras berasnya langsung kamu masukin aja ke bagasi belakang ya, Man. Saya mau ke dalam pasar sana, beli telur sama kebutuhan yang lain. Nanti kalo sudah selesai kamu langsung susul saya ya, bantu angkut angkutin yang lain juga," titah Gus Musa pada Rahman setelah mereka turun dari mobil di parkiran pasar tradisional terbesar di kota tersebut.
Rahman mengangguk mantab.
"Siap, Gus. Percayakan sama saya," tegasnya lalu berjalan mengikuti Gus Musa menuju sebuah gudang beras langganannya.
"Yang karung kecil, kamu masukin ke bagasi. Ini heras khusus pesanan Umi. Nah yang goni besar itu, kamu angkat ke mobil bak yang ada di depan ya, itu mobil toko tapi biasanya mereka yang akan langsung antar ke pondok. Nanti ada yang bantu juga kok," ucap Gus Musa menunjuk beras yang sudah berada dalam karung dan di susun sedemikian rupa di depan gudang untuk memudahkan mengangkutnya.
Rahman mengangguk tanpa beban, bunga seorang pria bermata sipit yang sepertinya pemilik gudang beras itu keluar dan menyapa Gus Musa.
"Haiyo, Gus. Mau ambil beras a?" tanyanya dengan logat cina yang kental.
Gus Musa menyalaminya dan mengangguk ramah.
"Iya, koh. Seperti biasa, ini kan semua pesanan saya? Sudah lengkap ini ya?" tanya Gus Musa sambil menunjuk tumpukan karung karung beras yang ada di hadapan mereka.
"Aaa, betul la betul. Ini dia beras pesanan Gus, sudah saya peliksa belkali kali o ... sudah di jamin tidak ada yang kulang," ucap kokoh pemilik gudang beras dengan tawa khasnya.
__ADS_1
"Oke, koh. Ini sudah saya bayar lunas lewat m-banking ya, tadi saya sudah kirim buktinya. Langsung saya angkut ya koh, ada yang bantu nggak ini?" ucap Gus Musa yang sudah menjadi langganan tetap gudang itu.
"Ada lo ada, sepelti biasa. Nanti bial meleka yang angkut ini belas ke mobil di depan, Gus tinggal tunggu saja di depan lumah o," sahut si kokoh.
"Baik, tapi ini salah satu santri saya biar dia angkut juga sebagai kemobil ya, koh biar cepat selesai."
Si Koko cina mengangguk berulang kali.
"Haiya, silahkan a silahkan. Saya mau pelgi dulu a, mau makan lawon di walung depan. Ini belas kalau mau angkut ya angkut la ya," tukas si Koko sambil berjalan meninggalkan mereka.
Tak lama beberapa lelaki mendekati Gus Musa dan Rahman, dari penampilannya dapat di tebak kalau mereka adalah anak buah si Koko yang baru saja selesai makan, tampak dari gelagatnya yang seperti mengusap bibir yang berminyak.
"Ini semua, bos?" ucap salah satunya.
"Iya, tolong hati hati ya. Jangan sampai ada yang bocor," tegas Gus Musa pada para karyawan yang sudah cukup familiar dengannya itu.
Pria itu mengangguk dan di ikuti dua temannya yang lain, dia mulai mengangkat karung karung itu menuju mobil bak di parkiran pasar.
"Man, saya tinggal ya." Gus Musa menepuk pundak Rahman.
"Eh, iya Gus. Saya juga mau langsung angkat ini," sahut Rahman dan langsung memulai tugasnya yang di berikan Gus Musa.
Para karyawan si Koko cina mengerjakan tugasnya sambil bersenda gurau, namun tidak dengan Rahman sepuluh karung goni kecil berukuran beras lima kilo di angkatnya dalam sekali angkut, dengan lima goni di tangan kiri dan lima lagi di tangan kanan.
"Hup, bismillahirrahmanirrahim."
Rahman mulai berjalan menuju parkiran pasar, tanpa raut kepayahan sedikit pun di wajahnya. Bahkan dengan gagahnya dia membuka pintu bagasi yang tak terkunci itu dengan kaki dan meletakkan ke sepuluh karung goni dengan hati hati. Dan sekejap kemudian, semua karung beras kecil itu sudah tersusun rapi.
Tak hanya sampai di sana, Rahman bahkan dengan santainya mulai mengangkat karung goni besar yang menjadi tugas karyawan Koko untuk di bawa ke mobil pick up, jadilah para pria karyawan itu hanya terbengong melihat gesit dan kuatnya Rahman memanggul karung besar itu tak ada raut lelah di wajahnya walau keringat sudah bercucuran membasahi tubuhnya.
Setelah semua karung beras naik, tanpa kata Rahman langsung masuk menuju pasar. Meninggalkan para pekerja si Koko cina yang terbengong tak percaya melihat ke tangguhannya.
Namun saat mengitari pasar untuk mencari Gus Musa, tanpa sengaja Rahman berpapasan dengan seorang pria mengenakan Hoodie berwarna hitam doff yang berjalan bersebrangan dengannya. Awalnya Rahman tak begitu peduli, namun saat berpapasan pria itu berbisik agak keras di dekat telinga Rahman.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak bermain, ingat nasib ibumu yang renta itu ada padaku."
Degh
Rahman langsung berbalik untuk melihat siapa orang itu, namun sayangnya gerombolan orang yang lewat memutus jarak pandangnya dengan orang yang sudah menculik ibunya namun tak sekalipun dia pernah melihat wajahnya. Orang itu hanya memintanya untuk menuruti perintah tanpa pernah bisa membantah.
****
Di pondok.
"As, kamu ngapain mondar mandir di situ?" tanya Jeni saat tanpa sengaja nijat Asiyah tengah berjalan dengan gelisah di tempat penjemuran baju.
Asiyah berbalik dan menatap Jeni, matanya tampak sembab seperti habis menangis.
"Eh, kamu nangis?" seru Jeni kaget, dan langsung membawa baby Abbas yang di baringkan di stroller untuk mendekat pada Asiyah.
"Asiyah kamu kenapa?" tanya Jeni cemas sambil cepat cepat memegang kedua pipi Asiyah dan menghapus air matanya.
"Mbak Jen," bisik Asiyah dengan suara serak.
Jeni mengangguk dengan mata nanar.
"Iya, kenapa? Cerita sama Mbak, kamu kenapa, As?" tanya Jeni selembut mungkin.
Asiyah tak menjawab hanya menyodorkannya sebuah kertas pada Jeni.
"Apa ini, As?" tanya Jeni heran.
"Buka aja, Mbak." Asiyah menunduk dalam tak berani mengangkat wajahnya sama sekali, tetes air matanya masih jelas jatuh membasahi bumi yang di pijaknya.
Jeni membuka lipatan kertas yang ternyata adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang lumayan amburadul itu, tapi dengan konsentrasi tinggi tulisan itu masih bisa di baca dan isinya membuat Jeni sampai tercengang.
"Apa ini, As? Kamu mau pergi ninggalin pondok?" lirih Jeni tak percaya.
__ADS_1
Air mata Asiyah mengalir semakin deras, tangis yang sejak tadi tak bersuara kini mulai berubah menjadi Isakan.
"Tolong aku, Mbak," bisiknya lirih.