
Andrew beralih pada bayi perempuan Sarah yang sejak tadi hanya diam dan tak kunjung menangis, padahal sudah cukup lama sejak dia saudaranya yang lain bangun dan menyusu. Tapi dia masih diam saja.
"Sarah, kenapa bayi perempuanmu sejak tadi diam saja?" tanyanya mulai cemas.
Sarah menatap Andrew dan meminta sonia untuk mengambilkan bayi perempuannya.
"Ma, tolong ambilkan bayi Sarah ya."
Sonia mengangguk dan berjalan menuju suaminya yang masih berada di samping box bayi Sarah. Benar saja, bayi itu tampak hanya diam dengan nafas yang tampak lemah namun masih ada di perutnya.
Perlahan Sonia mengangkat tubuh bayi terkecil dari dua saudaranya yang lain itu, bayi itu hanya diam bahkan saat sudah berada di pangkuan Sarah dia masih diam.
"Hei, Nak. Apa kamu lapar? Ayo bangun dan menyusu," ucap Sarah lembut sambil menciumi pipi bayi perempuannya itu.
Bayi itu menggeliat sedikit, lalu kembali tidur. Axel mendekat dan turut menoel pipi bayinya berharap bayi tersebut mau bangun, namun masih saja dia tidur dan tak menggubris apapun yang di lakukan orang tuanya padanya.
Tak habis akal, Sarah berupaya mendekatkan wajah bayinya pada ****** PD nya, dan bayi itu tampak merespon walau lamban. Perlahan dia membuka mulutnya walau sangat sedikit, dan membuat Sarah agak kesulitan memasukkan ****** ASI-nya ke mulut bayinya.
"Ayo Momy bantu," tukas nyonya Ellen sambil berjalan mendekat.
Setelah di bantu Nyonya Ellen barulah bayi perempuan Sarah berhasil menyusu, walau hisapannya tak sekuat dia saudaranya lain. Setidaknya Sarah tenang karena bayinya baik baik saja, hanya lebih lemah dari dua saudaranya saja, mungkin karna dia bungsu dan perempuan sendiri juga.
"Duh, gemas sekali princess Oma. Nggak sabar rasanya mau belikan dia pakaian yang lucu lucu ala ala bayi itu, cosplay cosplay," seloroh Nyonya Ellen sambil mengusap lembut rambut bayi perempuan Sarah yang masih menyusu dengan sesekali membuka matanya walau sebentar itu.
Axel yang gemas juga berkali kali menciumi wajah bayi itu tujuannya agar bayinya terbangun dan mau menyusu lebih kuat, dan benar saja setelah beberapa kali melayangkan ciuman di pipi bayinya, bayi manis itu mulai merengek karena merasa tak nyaman, untungnya dia masih berada di dekapan Sarah jadi dia tinggal menyusu saja ketika sadar. Untunglah, walau tak sekuat bayi bayi lainnya kini hisapannya terasa lebih kuat, sepertinya bayi perempuan Sarah juga lapar.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak anak kalian?" tanya Tuan Bryan yang tengah sibuk meneliti wajah bayi lelaki pertama Sarah yang kini tampak tertidur dalam damai.
__ADS_1
"Belum, Dad. Apa Dady atau yang lain mau membantu mencarikan nama untuk si kembar?" ujar Sarah bertanya pula.
Tuan Bryan mengerutkan keningnya, dan yang lain juga tampak berpikir keras.
"Kamu mau nama dengan awalan apa?" tanya Andrew.
Axel tampak berpikir sejenak. "Sepertinya A lebih mudah di cari, bagaimana menurut kamu sayang?"
Sarah mengangguk antusias."ya ya, awalannya A saja. Tiga tiganya."
Tuan Bryan tampak menggosokkan kedua tangannya dengan wajah menyeringai. "Hehe sepertinya aku akan menamai cucu pertamaku yang ini."
Andrew tak mau kalah dia mendekati box bayi kedua Sarah dan memegangnya dengan posesif.
"Kalau begitu aku yang ini," ketusnya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Tuan Bryan mendapat nama yang akan dia sematkan pada cucu pertamanya itu.
"Ah, Dady tau ... Nama yang akan Dady berikan pada bayi ini adalah Azkara, nama yang indah dan terdengar berkuasa bukan hahahah. Dia yang akan menjadi pewaris ku nanti," ujar Tuan Bryan sambil mencium pipi bayi itu yang tersenyum seakan senang dengan nama pemberian kakeknya.
Andrew juga tersenyum, sepertinya dia juga sudah mendapatkan nama untuk cucunya.
"Kalau begitu, aku akan memberi nama bayi ini Adam, nama yang pernah di pakai putraku selama masa persembunyiannya. Dan nama itu akan selalu mengingatkan kita kalau putraku pernah berada diantara titik terendah hidupnya namun dia tak pernah mengeluh. Ku harap bayi ini nanti akan membawa kedamaian dalam keluarganya sesuai namanya, Adam."
Semua bergembira mendengar nama nama indah yang di sematkan kakek kakek itu pada cucu cucunya, para bayi itu pun kini tampak tersenyum senang seperti setuju dengan nama nama mereka.
Kini, giliran si bungsu untuk mendapat nama yang akan menjadi bekalnya menghadapi dunia.
__ADS_1
Sarah dan Axel saling pandang dalam keharuan, bayi itu kini sudah selesai dengan urusannya dan melepas ****** susu ibunya lalu kembali tertidur lelap.
"Sarah, Axel ... kalian saja yang menamai bayi cantik ini ya, setelah itu berikan juga nama belakang yang ada hubungannya dengan nama keluarga." Nyonya Ellen memberi saran dan langsung di setujui oleh Sarah dan Axel.
"Ya, Mom. Kami akan memikirkan namanya dulu ya," sahut Sarah.
Cukup lama mereka berembuk, Sarah dan Axel sepertinya mempunyai nama yang ingin mereka berikan pada bayinya hingga berkali kali mengganti pilihan.
Setelah perdebatan pelik itu, akhirnya di pilihlah satu nama yang menurut mereka paling bagus dan sesuai untuk bayinya.
"Bayi cantik ini, akan kami beri nama Ayura."
"Wah, itu nama yang cantik sekali. Kalian pintar sekali memberi nama anak kalian, semoga semua anak kalian bisa menjadi anak yang berguna bagi masyarakat dan agama. Dan berbakti pada ayah dan ibunya nanti." Doa tulus meluncur dari bibir nyonya Ellen yang langsing di Amini oleh semua yang hadir.
"Sekarang tinggal mencari nama belakang untuk mereka, karena kami suku Jawa walau hanya Jawa campuran tapi menurut kepercayaan kami maka nama anak akan mengikuti nama keluarga ayahnya. Maka nama belakang anak anak adalah Abbas ya, bagaimana? Apa ada yang kurang setuju?" tanya Andrew menyampaikan sarannya.
Untungnya, semua setuju. Jadi hanya tinggal mencari nama tengah untuk bayi bayi mungil nan lucu itu.
"Bagaimana kalau namanya Azkara Abraham Abbas, Adam Husein al-abbas, dan Ayura Hanindia Abbas?" saran Axel sebagai ayah kandung ketiga bayi itu.
"Nama yang bagus, Mas. Kamu hebat sekali bikin nama untuk anak anak kita, iya kan Mom, Dad? Namanya bagus?" celetuk Sarah girang.
Semua mengangguk karna merasa satu pemikiran dengan Sarah.
"Baiklah, kalau begitu namanya sudah di tentukan ya. Tinggal nanti kita urus aqiqahnya saja untuk meresmikan namanya, semoga di beri kemudahan oleh Gus Allah SWT." Axel melambungkan doanya berharap semua harapan baik bagi bayi bayinya akan terkabul.
Semua mengamini doa Axel, dengan kebahagiaan berlipat ganda karna setelah penantian yang panjang akhirnya mereka bisa merasakan mempunyai cucu juga bahkan sekaligus tiga.
__ADS_1