
"Ustadz? Ada apa?" tanya Abdi membuyarkan lamunan Rahman.
Rahman terhenyak di tempatnya, saat dia sadari mobil yang tadi membawa Asiyah telah berjalan jauh dari sana.
"Mobil siapa itu tadi, Mas?" tanya Rahman sambil berjalan mendekati Abdi dengan raut wajah yang di buat setenang mungkin, padahal saat ini hatinya tengah di landa gelisah tak terkira.
"Ooh, itu mobilnya Kang Alam anaknya juragan Tohir, juragan tanah di kampung sini, ustadz. Kenapa memangnya?" sahut Abdi balik bertanya.
.
Rahman menggeleng lemah lalu kembali naik atas boncengan Abdi dan mereka pun kembali berkendara dengan kecepatan sedang, karna tujuan Abdi memang untuk membawa Rahman berjalan jalan sejenak menikmati keindahan desa tersebut.
"Orang yang tadi kamu maksud, rumahnya di dekat sini ya, Mas?" kembali Rahman bertanya karna belum puas dengan jawaban Abdi.
Abdi mengangguk tegas.
"Iya, ustadz. Nggak jauh dari sini, itu juga sudah kelihatan rumahnya yang warna putih itu." Abdi menunjuk pada sebuah bangunan rumah minimalis dengan cat putih dan hitam juga halamannya yang luas. Di depannya juga tampak mobil yang tadi terparkir walau posisinya tampak agak serampangan.
"Ustadz mau mampir?" tanya Abdi memperlambat laju motornya saat menyadari kalau Rahman sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari rumah itu.
Rahman terkesiap.
"Ah, ng- nggak usah lanjut saja. Saya cuma suka model rumahnya, bagus." Rahman menjawab sekenanya walau saat ini hatinya rasanya tak karuan sekali, rasanya ingin sekali dia berlari menghampiri rumah itu dan mencari Asiyah di sana karna dia yakin sekali wanita yang di tarik ke dalam mobil tadi adalah wanita yang selama ini di tunggunya.
Abdi menurut saja dan kembali melajukan motornya sepanjang jalan yang kiri dan kanannya tampak penuh sawah yang mulai menguning, tampak pula di sana para warga yang sedang
sibuk memanen padi di bawah teriknya sang Surya. Beberapa orang tampak melambai untuk menyapa Rahman, namun pikirannya yang tak fokus membuat Rahman tak begitu memperhatikan dan malah menutup matanya seiring pusing yang datang melanda.
"Mas Abdi, bisa berhenti sebentar? Kepala saya rasanya sakit sekali," ucap Rahman di dekat telinga Abdi, tujuannya agar Abdi mendengar dengan jelas dan bisa segera menepikan motornya agar dia bisa membaringkan kepalanya yang serasa di tusuk tusuk itu.
Abdi yang mendengar itu langsung saja berhenti di depan salah satu rumah warga, dan entah kebetulan atau tidak rumah yang di hampirinya adalah rumah Pardi dan Salma yang berada tepat di tengah tengah persawahan luas itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Abdi mewakili Rahman yang tampak kepayahan memegangi kepalanya yang terasa berputar.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," terdengar sahutan dari dalam di ikuti munculnya seorang perempuan paruh baya yang duduk di kursi roda.
Wajah perempuan itu tampak tak asing bagi Rahman, namun sakit di kepalanya membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih dulu.
"Ya Allah, kenapa itu Abdi? Ayo cepat temannya di bawa naik dulu, kayaknya kesakitan sekali," tukas Salma yang tampaknya lupa dengan wajah Rahman yang memang mengalami beberapa perubahan semenjak pertemuan pertama dan terakhir mereka di kontrakan kecil Salma dan Pardi dulu di kota.
Abdi mengangguk, bergerak cepat lalu membawa Rahman naik ke teras rumah Salma. Namun karna tak kuat lagi menahan sakitnya Rahman langsung terjatuh ke lantai begitu naik ke teras dan terbaring di sana sambil memegangi kepalanya dengan kencang, seakan sangat kesakitan.
"Ini di kasih minum dulu, Di." Salma yang baru saja kembali dari dapur guna mengambilkan segelas air langsung menyerahkan gelas itu pada Abdi dengan tatapan cemas.
Setelah gelas itu berpindah tangan, gegas Abdi membantu Rahman untuk duduk dan minum. Tangan Rahman tampak bergerak panik meraba saku bajunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan berisi beberapa butir obat obatan di sana, dan dalam sekali telan semua obat itu sudah berhasil masuk ke dalam lambungnya, Rahman sampai terengah-engah mana kala reaksi obat itu mulai meredakan sedikit demi sedikit rasa sakitnya.
"Bagaimana, ustadz? Apa masih sakit? Apa ustadz mau saya panggilkan dokter?" cecar Abdi yang tampak begitu cemas.
Rahman menggeleng lemah dan mencoba untuk mengulas senyum.
"Tidak usah, saya tidak apa apa. Terima kasih ya," tolak Rahman halus.
Abdi lalu memilih duduk di dekat Rahman, berjaga jaga kalau misalnya sakitnya kembali lagi. Ingin dia bertanya tentang apa yang terjadi pada Rahman, namun rasa sungkan juga yang membuat Abdi memilih untuk diam.
"Iya, Bik. Ini ustadznya, yang besok ceramah di masjid kita ustad Rahman namanya, bik. Ganteng sekali kan?" Abdi menjawab dengan nada bangga.
Namun Rahman malah lebih fokus memperhatikan Salma yang sejak terakhir bertemu sebenarnya tak begitu banyak berubah.
"Tadi kenapa? Kok sampe kesakitan begitu, ustadz?" tanya Salma beralih pada Rahman.
Rahman terhenyak kaget, namun sebisa mungkin tetap berusaha menguasai diri.
"Ah, tidak saya hanya punya riwayat vertigo, jadi kadang bisa kambuh. Maaf kalau sudah membuat kaget," sahut Rahman sopan.
Salma tampaknya mengerti, dia mengulas senyum dan hendak mendorong kursi rodanya untuk kembali ke dalam rumah.
"Saya buatkan minuman dulu ya," ucapnya ramah.
__ADS_1
"Ah, tidak usah repot-repot." Rahman menyela hingga membuat pergerakan Salma berhenti.
"Hanya minuman, insyaallah tidak merepotkan sama sekali." Salma mengulas senyum lalu kembali melanjutkan niatnya untuk kembali masuk ke dalam guna membuatkan minuman bagi tamunya.
Sepeninggalan Salma, Rahman kembali mencoba mengorek informasi dari Abdi yang tampak masih setia menemaninya.
"Mas Abdi, terima kasih ya."
"Sama sama, ustadz. Semoga setelah ini sakit ustadz tidak akan kambuh lagi," doanya tulus.
Rahman mengaminkan doa itu, lalu kembali pada fokus utamanya tentang Asiyah.
"Mas Abdi tahu perempuan yang kita temui di pinggir jalan tadi? Yang di bawa masuk ke mobil sama laki laki yang kaya Mas namanya ... Alam itu?" tanya Rahman namun dengan nada suara yang di rendahkan karna dia tak ingin ada seorang pun yang mendengar.
Abdi mengangguk polos.
"Iya tahu, ustadz. Itu Mbak Asiyah, anaknya bik Salma ini, istrinya Pak Alam."
Jleeegggaaarrr
Bak di sambar petir di siang bolong Rahman mendengar kalimat terakhir yang terucapkan oleh Abdi, antara percaya dan tidak Rahman mencoba membuat pikirannya tetap waras. Walau hatinya kini rasanya sudah tak karuan sekali bentuknya.
Tanpa sadar, air mata Rahman menetes secepatnya dia menundukkan wajahnya hingga Abdi tidak sampai melihat air mata itu.
"Jadi, mereka sudah menikah?" tanya Rahman lagi, untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Iya, Ustadz. Belum lama, baru dua hari masih hangat hangatnya itu pasti. Tapi yang saya dengar dari orang orang, katanya Mbak Asiyah itu nggak cinta sama Pak Alam. Walaupun Pak Alam itu kaya, tapi katanya Mbak asiyah hanya terpaksa mau menikah sama dia."
Lagi lagi jawaban Abdi membuat hati Rahman mencelos, bagaimana mungkin dia hanya terlambat dua hari saja dan perempuan yang namanya selalu dia sebut dalam doa sekarang sudah menjadi milik orang lain.
.
Karna merasa tak mendapat jawaban dari Rahman, Abdi malah kembali asik melanjutkan ceritanya semua yang dia ketahui perihal Alam.
__ADS_1
"Tapi sebenarnya kasihan loh, ustadz Mbak Asiyah itu menikah sama Pak Alam. Soalnya biarpun kaya beliau itu orangnya ...."