
"Mbak Jen, jadi sebenarnya ini mau ada acara apa? Kok segala pake tenda bagus begitu?" tanya Asiyah lagi, guna mengalihkan pembicaraan agar tak melulu di sahuti Alam yang suka asal itu.
Jeni mengembangkan senyumnya, sembari tangannya terangkat mengelus perutnya yang mulai agak membuncit.
"Alhamdulillah, Mbak sama Mas Musa dapat rejeki lagi, As. Jadi ini buat acara syukuran karna Abbas sebentar lagi mau jadi kakak," pungkas Jeni senang.
Asiyah tampak menatap tak percaya, tapi binar matanya terlihat ikut senang.
"Alhamdulillah ya Allah, semoga sehat sehat ya, Mbak. Dan semoga kali ini dapat yang bisa di pakein jilbab," kekeh Asiyah bergurau.
Jeni mengibaskan tangannya dan ikut tertawa dengan malu.
"Ah, kamu itu, As."
"Yang penting nantinya terlahir sehat dan nggak kurang satu apapun sudah cukup kok, As. Mau apapun jenis kelaminnya," celetuk Gus Musa menimpali.
Mereka semua tertawa bersama, turut senang dan bersyukur dengan kabar bahagia itu.
" Sepertinya kamu suka sekali dengan acara seperti ini, apa kita mau buat juga supaya bisa bikin tenda begini di desa?" celetuk Alam tiba tiba, padahal tidak ada yang meminta pendapatnya.
Asiyah melotot mendengarnya, kenapa sih laki laki satu ini suka sekali cari gara gara dan merusak suasana.
"Ehm, Gus, Mbak saya permisi ke kamar dulu ya. Mau bersih bersih juga, kebetulan tadi di desa belum sempat lengket sekali rasanya," pamit Rahman yang merasa ada yang tercubit di sudut hatinya, memilih menjauh adalah yang terbaik jika tak ingin membuat hatinya kotor karna niat niatan buruk untuk menyantet Alam terus berdatangan.
"Oh iya, Man. Nanti saya susul ya, ada yang mau saya sampaikan juga," sahut Gus Musa.
Rahman mengangguk lalu beralih pada Asiyah dan Alam walau hatinya selalu terasa di tusuk tusuk seperti sate saat melihat mereka berdua.
"Saya permisi dulu, terima kasih atas tumpangannya," ucapnya getir, bahkan matanya tak berani menatap mereka terlalu lama.
Asiyah hanya mengangguk sekilas, tampak jelas rona gugup di wajahnya yang memerah. Sedangkan Alam tampak melirik dengan wajah masih saja jutek.
"Sama sama, lain kali jangan lupa bayar ya."
Mata Rahman langsung melotot mendengarnya.
__ADS_1
"Bercanda, kenapa serius sekali sih? Tadi saja kamu bercanda sama istri saya boleh kok, kenapa sekarang sama saya nggak boleh?" imbuh Alam lagi, membuat Rahman yang baru saja hendak menghembuskan nafas lega kembali menegang di buatnya.
"Ka- kalau begitu ... saya permisi," ucap Rahman lagi, lalu gegas keluar dari sana sambil membawa tas ranselnya.
"Om Rahman, Abbas ikut!" seru Abbas yang ternyata sejak tadi tengah sibuk menonton tv di belakang ruang tamu.
Bocah kecil itu tampak berlarian membuntuti Rahman yang sudah sampai ke bawah tangga teras, dan langsung melompat begitu saja ke gendongan Rahman tanpa rasa takut.
"Astaghfirullah, anak itu nggak ada takutnya," celetuk Asiyah yang merasa ngeri jika saja tadi Abbas malah terpeleset atau Rahman yang tidak tepat menyambutnya, bisa di pastikan anak itu pasti akan mencium tanah.
Jeni terkekeh. "Udah biasa, As. Di larang nggak mau, makin menjadi dia. Alhamdulillah selama ini baik baik saja, jadi ya sebagai orang tua kita mah mendoakan saja siapa tahu nanti gedenya jadi atlet lompat jauh ya kan?"
Asiyah mengangguk lalu mengambil gelas teh di hadapannya dan meminumnya karna sudah kehausan sejak tadi terus tertawa.
"Huh, apanya yang jadi atlet kalau nanti terpeleset terus jatuh kakinya terkilir ya nggak jadi atlet, jadinya pasien di rumah sakit," timpal Alam lagi, semakin julid kaya emak emak di pasar rombeng.
Asiyah melotot, setelah meletakkan cangkir tehnya kembali di meja dia langsung mencubit bagian paha Alam lebih keras dari sebelumnya.
"Aaawww, sakit, sakit sumpah ini sakiiiittttt," ringis Alam mengaduh.
" Dari tadi ngomong mu sembarangan terus loh, Mas. Pulang sana!" omel Asiyah dengan nada tertahan, karna kan tidak mungkin dia mau teriak teriak di rumah orang.
Alam masih meringis bahkan kini setetes air matanya sudah jatuh karna menahan sakit.
" Ya nggak bisa, kalau saya pulang ya kamu harus pulang. Kan kamu istri saya," ucap Alam sempat sempatnya menyahuti padahal sedang menahan sakit.
Asiyah semakin melotot, dan mengeratkan cubitannya di paha lelaki julid yang sayangnya adalah suaminya itu.
"Kalau begitu pergi dulu sana," tekan Asiyah lagi sambil menatap Alam dengan horor, membuat tak cuma kulit pahanya yang sakit tapi juga tengkuknya mulai merinding.
"I- iya, iya, iyaaaa." Alam berseru keras karna sudah tak tahan lagi dengan cubitan Asiyah yang ternyata lebih sakit ketimbang di jepit tang itu.
****
Cempluungggg
__ADS_1
"Hah, begini nasib kalau punya istri. Salah sedikit, langsung di buang ... di pungut kalo habis duit," senandung Alam sambil menunggu umpan pancingnya di sambar ikan.
Duduk melamun melihat ke kolam pemancingan luas yang tidak begitu ramai itu, sambil mendesah lirih. Sesekali mengusap bagian pahanya yang sepertinya akan lebam itu, bahkan rasa perihnya saja masih terasa sekali.
"Hei, Bang ganteng. Sendirian aja nih?" celetuk seorang wanita jadi jadian dengan dandanan super menor yang entah darimana datangnya tau tahu sudah berada di belakang Alam dan hendak menerkamnya.
Mata Alam melebar, terlebih saat banci itu mulai sok akrab dan dekat dekat dengannya.
"Heh, makhluk apa kamu? Hush, hush jangan ganggu saya, saya sudah menikah!" seru Alam sambil berlari dari sana karna banci menor itu mulai mengejarnya sambil melambaikan tangannya hingga bagian akar serabut di bawah lengannya terlihat dan membuat Alam begidik ngeri.
"Tunggu, bang. Tungguin eyke, ayo kita main dulu, bang. Murah nih lagi diskon loh, lima puluh ribu aja ahhh. Yukkk cussss!" seru si banci masih kekeh mengejar Alam walau Alam berkali kali berteriak menolak.
"Ogah saya sama memedi, hiiyyyyy!" Alam terus berlari tanpa memerhatikan arah yang di ambilnya lagi, hingga akhirnya tubuh tingginya terasa melayang.
"Wuah, aku bisa terbang!" serunya kegirangan, namun ....
Byuurrrrr
"Aahhhh, dasar orang gila. Jadi lepas nih ikan saya nih!" umpat salah seorang pemancing.
" Iya nih, baru saja duduk malah di ubek ubek kolamnya. Dasar aneh!" timpal yang lainnya.
"Yuk, yuk pindah aja yuk. kolam yang ini sudah tercemar, bukannya dapat ikan malah di ceburin anakonda," gerutu yang lain pula, hingga akhirnya para pemancing itu pergi berbarengan menuju kolam yang lain, meninggalkan Alam yang terbengong sendiri di dalam kolam yang hanya setinggi dadanya itu.
"Yahhh, mangsa sudah tercebur. Auto basah dan bau, baiklah mari kita cari mangsa yang lain," celetuk si Banci yang ternyata masih berdiri di sisi kolam sambil bergaya kemayu layaknya perempuan itu.
Lalu dia berputar dan berlalu dari sana, membiarkan bulu kakinya yang sepanjang jalan kenangan itu melambai di terpa angin.
"Dasar bencong rusuh!" umpat Alam sambil berenang ke tepian dan mencoba naik.
Jebuuurrr
Alam terpeleset, dan dia menaikkan kepalanya dengan ekspresi tegang.
"Ahh, sial. Ini gimana naiknya?"
__ADS_1