MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 129.


__ADS_3

Ceklek.


 Alam baru saja keluar dari kamar mandi, sudah berganti baju menggunakan baju dan sarung milik Rahman yang tadi di pinjamkan.


 Kepalanya tampak celingak-celinguk mencari keberadaan sang pemilik kamar dan pakaian yang di pakainya, namun tak kunjung terlihat. Saat Alam hendak maju dan menbuka pintu kamar tiba tiba pintu malah terdorong cukup kuat ke arahnya.


Jdukkk


 Kepala Alam dengan sukses membentuk pintu hingga terdengar bunyi yang cukup kuat.


"Hadohhh!" serunya mengaduh, sambil memegangi jidatnya yang terasa ngilu.


"Loh, ada orang toh tadi di belakang pintu. Saya kira masih di kamar mandi, Mas." Rahman di pelaku pembuka pintu masuk sambil cengengesan, bahkan dia tidak membantu Alam untuk bangkit dan malah ikut duduk di dekat Alam yang terjatuh di lantai.


"Mau buka pintu itu lihat lihat dong, gara gara kamu nih jidat saya ampe benjol begini. Dasar ustadz begajulan," gerutu Alam sambil mengusap usap jidatnya yang memang tampak memerah itu.


Rahman menutup mulutnya menahan tawa. "Ya sudah, saya minta maaf kalau begitu. Lagi pula mana bisa saya lihat ke balik pintu dulu sebelum buka pintunya, saya kan bukan tuyul, Mas."


 Alam tampak bersungut-sungut, namun dalam hatinya dia membenarkan juga apa yang barusan di katakan Rahman. Gimana mau lihat ke balik pintu sedangkan kamar itu saja tidak ada jendelanya, masa iya Rahman harus jadi tuyul dulu kan lucu, eh.


"Ya sudah, saya maafkan. Awas saja sampai terulang lagi." Alam mendengus.


 Rahman hanya menanggapinya dengan tertawa.


"Tadi ********** di pakai kan, Mas? Awas lari loh kalo nggak di pakai," kekeh Rahman teringat akan pertanyaan Alam yang konyol tadi, tentang pakai dalaman sebelum pakai sarung.


 Alam berdecak. "Iya iya saya pakai, tapi terpaksa. Habisnya saya coba nggak pakai tapi takut jatuh, bisa hilang masa depan saya nanti."


 Rahman kali ini tak dapat lagi menahan tawanya, dia terpingkal-pingkal hingga keluar air mata dari sudut matanya. Membuat Alam semakin jengkel saja.


"Sudah puas ketawanya?" dengus Alam begitu suara tawa Rahman mulai mereda.

__ADS_1


 Rahman mengangkat sebelah tangan lalu berdiri untuk mengambil air minum di dispenser yang ada di kamarnya. Jangan tanya kenapa kamar ustadz muda itu bisa lengkap fasilitasnya, ya dari honor ceramah lah.


 Setelah menenggak habis satu gelas air putih, dan tak lupa membuatkan teh hangat untuk Alam. Rahman kembali duduk di tempatnya semula dan menyuguhkan teh itu di hadapan Alam.


"Apa ini? Mau nyogok?" ketus Alam saat melihat teh hijau di dalam gelas keramik di depannya itu. -- itu satu satunya gelas keramik yang Rahman punya --


 "Ah, nggak kok. Silahkan di minum, Mas. Mumpung masih panas," gumam Rahman tersenyum akrab.


 Namun Alam malah menatapnya heran, lalu mengangkat gelas teh itu dan menghidu baunya.


"Kamu nggak berencana meracuni saya untuk bisa merebut istri saya kan?" ketus Alam seenaknya.


 Rahman tampak terhenyak, sudut hatinya bergelenyar tapi dia tidak tersinggung. Malah dengan santainya Rahman memamerkan senyuman manis di sertai lesung pipinya yang dalam.


"Ya mana mungkin sih, Mas. Mas Al ini ada ada saja," kekeh Rahman.


 Tapi bukan Alam namanya jika tidak ngeyel dan membuat hati orang kesal.


"Lha itu, tadi kamu nyuruh saya minum teh nya mumpung masih panas," ketusnya.


"Kamu itu ustadz tapi kok nggak pinter, ya melepuh lah mulut saya kalo minum teh masih panas!" gertak Alam kesal.


 Dan lagi lagi Rahman hanya tertawa saja menanggapinya.


 Setelah itu mereka diam, Alam menggeser gelas teh itu ke dekat pintu agar terkena angin supaya bisa lekas hangat dan di minum. Sejujurnya kalau boleh jujur dia juga sudah haus karna tadi lari larian di kejar banci, mana harus pake acara nyebur dan basah basahan lagi, mau minta makan sekalian sama Rahman tapi tampangnya saja nggak meyakinkan. Jadilah Alam hanya bisa bengong saja sembari menunggu tehnya hangat dulu setelah itu rencananya dia akan pergi untuk membeli makanan enak sekaligus beli baju baru untuk mengganti baju Rahman yang terasa gatal di kulit ndesonya ini.


"Mas, saya mau tanya. Mas menikah sama Asy itu apa karena cinta?" tanya Rahman setelah beberapa saat lamanya mereka hanya saling diam sambil memperhatikan anak anak yang tengah mengaji di masjid di sebrang asrama.


 Alam terlihat mendesah, namun matanya masih lurus saja menatap entah objek apa di sana.


"Apa kamu ... benar mau tahu?".

__ADS_1


 Rahman terkesiap. "Ya ... kalau Mas Alam nggak keberatan saja menceritakannya."


 Alam menunduk, mengambil gelas tehnya lalu meminumnya sedikit sekedar membasahi tenggorokan yang terasa kering. Setelah itu dia berbalik dan menatap lekat mata Rahman.


"Sebenarnya, saya ... tidak mencintainya. Lebih tepatnya mungkin belum," ucap Alam, membuat Rahman sontak terkejut di buatnya.


"Tapi kenapa? Jika tidak cinta kenapa Mas menikahinya?"


 Alam mendesah lagi, kali ini terdengar lebih berat.


"Ceritanya panjang, tapi ... intinya saya hanya ingin keturunan, dari rahim wanita yang baik agar orang tua saya kelak tidak kesepian."


 Rahman mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Tapi ... itu, apa maksudnya?" tanya Rahman bingung.


"Berjanjilah dahulu untuk tidak membeberkan hal ini pada istriku," pungkas Alam pula.


 Rahman mengangguk paham. "Baiklah."


"Aku tahu, kamu mencintai istriku. Dan setibanya kita di pondok ini kemarin, semakin memperjelas semuanya. Tapi ... aku mohon, sebentar saja izinkanlah dia menjadi istriku yang seutuhnya lebih dulu."


 Perkataan Alam sukses membuat Rahman tercengang, padahal dia berpikir kalau Alam tidak tahu akan perasaannya pada Asiyah, namun rupanya mata makhluk menyebalkan itu peka juga.


"Umurku tak akan lama lagi, mungkin hanya tinggal satu tahun saja. Tak ada yang tahu hal ini, mungkin ... kamu orang pertama yang beruntung mengetahui ini," kekeh Alam dengan mata yang basah, dia menangis tapi Rahman bahkan tidak menyadarinya sejak tadi.


 "Tapi ... tapi , Mas kelihatan ...."


 Alam membuang muka, air mata tampak menetes keluar dari pelupuk matanya. Namun senyuman getirnya tak bisa menutupi hatinya yang berduka itu.


"Ya, saya kelihatan sehat sehat saja kan. Tapi tidak ada yang tahu, kalau saya menyimpan penyakit mematikan yang tidak saya beritahukan pada siapapun. Sebagai anak tunggal, saya hanya tidak ingin membuat orang tua saya cemas. Maka dari itu lah saya menginginkan seorang anak dari istriku, sebagai pengganti jika nanti aku harus di panggil sang maha kuasa," papar Alam sembari menghapus lelehan air mata yang tak henti keluar dari sarangnya.

__ADS_1


 Rahman terpana, hatinya mencelos karna tak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi semua kenyataan ini. Bahkan tanpa sadar, air matanya pun turut mengalir seakan turut merasakan kesedihan yang di pendam Alam selama ini sendirian.


"Mas Al, kalau begitu ...."


__ADS_2