MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 40.


__ADS_3

 Bima melangkah pulang dengan hati masygul, bagaimana tidak? Hal yang dia takutkan akhirnya terjadi juga.


"Sarah akan menikah, haha ... kenapa rasanya hati ini sakit sekali? Bukankah sudah sewajarnya kalau dia mencari pria baik yang bisa mendampinginya? Tapi kenapa? Rasanya aku tidak rela?" gumam Bima.


 Gang sempit itu kini tampak ramai, dengan mendorong gerobak sayurnya yang rodanya sudah mulai bengkok itu Bima berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menabrak pengguna jalan lainnya yang lewat dengan serampangan karna terburu-buru.


Brugh


 Tanpa di duga seorang pria berkacamata minus tebal menabrak Bima, semua barang yang ada di genggaman tangannya jatuh berserakan di jalan becek dan penuh lumpur itu.


"Hei, kalo jalan pake mata dong! Mana segala bawa gerobak masuk gang lagi! Situ waras? Ini gang sempit bisa-bisanya maksa di bawa masuk, bikin repot orang aja!" maki pria itu menunjuk-nunjuk wajah Bima yang tampak merasa bersalah walau sebenarnya itu pun bukanlah salahnya. Pria itu yang berjalan sambil terlalu fokus dengan ponselnya dan akhirnya menabrak Bima yang bahkan jalannya sajak sudah sangat mepet ke bagian dinding gang.


"Ma- maaf, Bang. Tapi kan ...."


"Halah tapi apa? Udah jelas situ yang salah kok bawa masuk gerobak segede gaban ke dalam gang sempit! Saya nggak mau tau ya, sekarang semua pekerjaan kotor gara-gara jatuh di tanah itu, dan kamu harus ganti rugi semuanya karna itu salah kamu!" Pria itu bahkan menendang sisi gerobak Bima dan membuatnya semakin penyok dan oleng.


"Bang jangan nendang-nendang juga dong!" bentak Bima tak terima.


 Gerobak itu satu-satunya jalan untuk dia mencari rejeki dan bisa menyambung hidup, dia tidak ikhlas jika sampai gerobak itu tidak bisa di gunakan lagi. Yang ada bisa mati kelaparan dia nantinya, kan tidak mungkin dia terus menerus merepotkan Elina untuk urusan perutnya, sedangkan Elina saja sekarang tidak lagi bekerja.


 Brakkk


 Bukannya berhenti, pria itu malah semakin gencar menendangi gerobak milik Bima, sampai sebagian besar badan gerobak hancur luluh walau kerangkanya masih berdiri tegak.


"Hahahah, rasain lu! Makanya saya bilang ganti rugi ya ganti rugi! Nggak usah banyak omong, atau mau kamu saya laporin ke pak RT karna udah bikin repot warga yang lewat gang ini gara-gara gerobak sial*n kamu ini hah?"

__ADS_1


 Pria itu melotot dengan tubuh di condongkan ke arah Bima yang terpaku dengan nafas naik turun menahan emosi. Dia tidak boleh bertindak gegabah atau nantinya dia akan di anggap pembuat onar dan malah di usir dari tempat tersebut karna hanya tempat itulah yang hingga kini masih mampu dia bayar untuk berteduh.


"Maaf, Bang. Tapi kan Abang sudah ngerusak juga gerobak saya, jadi harusnya impas kan, Bang? Masa saya masih ganti rugi sedangkan tadi juga yang nabrak juga Abang sendiri bukan saya. Saya mah jalan udah di pinggir, Bang! Situ aja yang matanya malah fokus ke hape!" balas Bima yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya.


 Wajahnya merah padam dengan tangan terkepal tapi dia masih belum melakukan apapun dan menunggu si pria itu untuk sadar walau tak yakin.


"Jadi situ malah nyalahin saya hah? Berani situ sama saya? Pasti kamu belum tau kan siapa saya? Apa perlu saya panggil semua warga kampung ini buat ngeroyok kamu karna udah berani kurang ajar sama saya iya?" maki pria itu tak juga mau menyerah.


"Tapi memang begitu kan kenyataannya, Bang? Situ pastimya sadar kalo tadi situ yang sebenarnya nabrak saya, buktinya saya saja masih di pinggir ini dari tadi dan situ yang berdirinya terlalu ke pinggir kan? Udah ngaku aja kenapa sih, Bang? Kenapa harus adu otot kalo sebenarnya masih punya otak? Kecuali kalo Abang nggak punya ...."


"Apa kamu bilang?"


Buaghhhh


 Pria itu menonjok rahang Bima sampai dia jatuh terjerembab ke belakang dns tubuhnya terciprat tanah berlumpur khas jalan gang yang habis tersiram hujan.


 Pria itu maju dengan mata melotot di balik kacamata berbingkai tebal yang tak kalah tebal dengan lensanya itu. Tangannya terangkat siap untuk kembali di layangkan ke wajah Bima yang sudah tak berdaya.


"Heaaahhhh."


 "Berhenti!" teriak seseorang yang melihat kejadian itu dan berlari menghampiri mereka berdua.


 Pukulan pria itu mengambang di udara, dan setelah melihat siapa yang datang lekas dia memperbaiki posisinya dan mundur dari Bima.


 "Aargghh," erang Bima sambil berusah bangkit berdiri sambil memegangi rahangnya yang terasa ngilu luar biasa.

__ADS_1


 Tubuh kurusnya yang tak lagi sekuat dulu membuatnya sangat gampang kalah jika harus adu otot.


"Bang Tama apa-apaan sih?" teriak seorang perempuan yang ternyata adalah Elina sambil berjalan cepat untuk membantu Bima berdiri.


 Pria yang di panggil Tama itu tampak gugup, mulutnya membuka dan menutup seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Abang ada masalah apa sama Mas Bima hah? Kenapa Mas Bima sampai si pukuli begini? Bang Tama belum kapok masuk penjara gara-gara maling ****** waktu itu hah? Mau Elina laporin ke bapaknya Bang Tama supaya Abang di masukin penjara lagi? Ini udah termasuk tindak kriminal loh, Bang. Mukulin orang tanpa alasan begini." Elina terus mengomel tanpa bisa di sela sedikit pun oleh Tama.


 Tapi tatap matanya tajam pada Bima yang hanya bisa meringis sambil memegangi rahangnya yang terasa hampir copot. Sepertinya Tama ini sangat berbakat menjadi preman atau tukang pukul, Bima saja bisa langsung tumbang dan kicep hanya dengan sekali pukulannya. Padahal badannya juga tidak besar-besar amat, cuma ya ... lumayanlah kalau mau di bawa ke ring tinju buat jadi wasit.


"Mas Bima nggak papa?" tanya Elina berubah lembut, dia sudah di biasakan oleh Bima untuk memanggil dengan sebutan Mas dan bukan Pak karena Bima sudah bukan atasannya lagi.


 Bima menggeleng pelan sambil tetap memegangi rahangnya, bibirnya masih kelu untuk menjawab karna masih terasa nyut-nyutan.


"Neng El, tapi saya ...."


"Apa?" dengan cepat Elina berbalik dan menatap tak suka pada Tama.


"Saya nggak sengaja mukul dia, soalnya dia ...."


 "Menolak ganti rugi? Iya? Elina udah liat semua kejadiannya, Bang. Dan Elina tau kalo Mas Bima nggak salah, Bang Tama yang salah tapi bisa-bisanya Bang Tama malah mau minta ganti rugi sama Mas Bima, sekarang Elina gantian tanya, Bang Tama waras?" sentak Elina semakin tajam.


 Sejak dulu Elina sangat tidak menyukai Tama yang notabene adalah anak seorang rentenir di kampungnya, dan sikap Tama sebelas dua belas sangat mirip dengan bapaknya yang lintah darat itu, hanya saja bapaknya masih bisa bersikap lembut pada orang yang di sukanya atau yang bisa mengambil hatinya berbeda dengan Tama yang sradak seruduk dan seringnya membuat onar saja.


"Elina, saya ...."

__ADS_1


"Udah ya, Bang Tama. Mulai sekarang Elina minta jangan lagi ganggu Mas Bima, dan kita urus saja urusan kita masing-masing." Elina mengangkat sebelah tangannya dan tangan satunya lagi menarik tangan Bima kemudian bersama mereka mendorong gerobak sayur Bima meninggalkan Tama seorang diri, terpaku memandangi semua berkas untuk melamar pekerjaan yang tadi berserak di tanah.


"Jadi namanya Bima? Baiklah ... kalian tunggu saja pembalasan seorang Tama, kalian sudah berurusan dengan orang yang salah. Dan kamu Elina, aku sudah berusaha berubah demi kamu ... tapi rupanya kamu masih tidak bisa menghargainya. Tunggu saja, aku berjanji akan membuat kalian jera." desis Tama sembari melirik sinis punggung Bima dan Elina yang semakin menjauh.


__ADS_2