
Rahman tersentak dan langkahnya tersurut mundur. Matanya melebar menatap alam yang kini tampak tersenyum kecil.
"M- mas? Anda serius berkata begitu?" cecarnya tak percaya.
Alam mengangguk pelan. "Seperti yang kamu dengar."
Namun Rahman justru menggeleng berulang kali. "Tidak, itu pasti tidak mungkin. Di lihat dari sisi manapun itu tidak mungkin, Mas."
"Mungkin saja jika Ustadz mau," jawab Alam tenang, bahkan dia masih memamerkan senyuman di wajahnya yang pucat.
"Pikirkan lah lebih dulu, Kak. Jangan buru buru menolak," gumam Asy menyampaikan pendapatnya.
Rahman menunduk, menbenarkan apa yang di katakan Asy. Untuk tidak terburu buru menolak.
Setelah menghembuskan nafas sejenak, Rahman menjawab. "baiklah, biarkan saya pikirkan lebih dulu. Tentang apa jawaban saya nantinya, saya harap tidak akan ada yang memaksa untuk merubahnya."
"Baiklah, Ustadz sesuai yang anda inginkan," sahut Alam tanpa beban.
****
Di tempat lain.
"Sayang, kita makan dulu ya. Tadi Jeni sama suaminya ada bawa kue, kau mau?" tanya Axel sembari mendekat pada sang istri.
Sarah menoleh dan mengangguk pelan, sedih juga rasanya dia melihat sang suami yang kerepotan mengurus semuanya. Sedangkan dia malah terus berduka tanpa melihat semua orang yang membutuhkannya.
"Mas ambilkan dulu ya, Sayang." Axel tampak sumringah, karna pada akhirnya setelah sekian lama diam Sarah mulai mau berinteraksi kembali.
Lagi, Sarah hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, tapi air matanya tak lagi menetes mungkin sudah kering karna beberapa hari hanya di gunakannya untuk menangis hingga lupa segalanya, termasuk anak anaknya yang kini tinggal bersama Andrew dan Sonia.
Sepeninggalan axel, Sarah kembali membuang pandangannya ke arah balkon. Di sana langit mendung masih menggantung, hujan yang beberapa hari semenjak pemakaman ke dua orang tuanya terlaksana terus mengguyur. Suasana yang terus membuat kesedihan itu tak ingin beranjak pergi dari benak Sarah.
"Sayang, ini kuenya. Sekarang kita makan dulu ya, biar kamu ada tenaganya," tukas Axel yang baru saja kembali dengan membawa nampan di tangannya.
Di letakkannya nampan itu di atas nakas, isinya sepiring kue bluberi dan segelas susu hangat. Di ambilnya kue lalu mulai duduk di samping Sarah untuk menyuapinya.
__ADS_1
"Ayo, buka mulutnya sayang. Bismillah," gumam Axel sembari menyodorkan sesendok kue ke depan Sarah.
Perlahan Sarah menerima suapan demi suapan dari suaminya, perutnya yang sudah beberapa waktu tidak di isi selain roti dan susu mulai terasa segar. Begitu pula tubuhnya yang beberapa hari ini lemas kini mulai terasa bertenaga.
"Apa kamu mau lagi, sayang?" tanya Axel setelah sepotong kue itu habis oleh Sarah.
Sarah hanya mengangguk dan tersenyum tipis, tipis sekali. Tapi itulah senyuman pertamanya setelah beberapa hari terus saja sedih.
Axel ikut tersenyum. " Baiklah, Mas ambilkan lagi ya. Apa kamu mau makanan lain?"
"Terserah Mas saja," gumam Sarah pelan, namun masih cukup terdengar di telinga Axel.
Semangat yang di tunjukkan Sarah membuat Axel senang, dengan cepat dia turun ke dapur. Mengambil lagi beberapa potong kue sekaligus dan mulai meracik nasi goreng spesial buatannya sendiri untuk sang istri tercinta yang baru saja mau memulai makan.
Tak butuh waktu lama, beberapa saat kemudian nasi goreng yang sangat lezat dan harum itu sudah terhidang. Lengkap dengan telur ceplok setenegh matang kesukaan Sarah dan juga ayam goreng bagian sayap. Dengan sumringah Axel membawa semua itu ke kamarnya dimana sang istri menunggu.
"Sayang, Mas buatkan kamu nasi goreng spesial kamu mau kan?" tutur Axel dengan senangnya.
Sarah menoleh dan mengangguk, senyuman mulai terbit di bibirnya yang terlihat lebih merah ketimbang kemarin itu.
Axel sejenak terpana karena akhirnya mendengar kembali suara sang istri walau sangat pelan.
"Ah, tentu dong kan ini Mas langsung yang buat. Tentu saja enak, dan kamu sebagai istri Mas akan dapat yang paling spesial," papar Axel sambil mulai menyuapkan sesendok demi sesendok nasi goreng itu ke mulut Sarah .
Sarah tampak menikmatinya, dan wajahnya yang beberapa hari lalu tampak kuyu dan kusam kini mulai tampak berseri kembali.
"Mas," panggil Sarah menjeda sejenak acara makannya.
"Iya, sayang?" Axel mengangkat wajahnya menatap sang istri.
"Besok antar Sarah ke pondoknya anak anak ya," pinta Sarah.
Axel tersenyum kecil. "Tentu saja, Sayang. Kamu mau belajar kan? Kemanapun Mas akan antar kamu. Sekarang kamu tanggung jawab Mas sepenuhnya, sayang."
Sarah mengangguk dan tersenyum lebih lebar. "Terima kasih ya, Mas nasi gorengnya enak sekali."
__ADS_1
Axel mengangguk dan mulai hari itu semua kesedihan perlahan tergantikan dengan kebahagiaan yang lain, walau mungkin nama orang tua tak akan pernah terganti di hati anak anaknya.
****
Di kediaman Ed.
"Sayang, kapan kekasih mu itu akan datang ke sini lagi?" tanya Amelie yang tengah duduk bersantai sambil menyisir rambut panjang aish yang selalu tak ingin jauh jauh darinya.
Aish menunduk malu, wajah merahnya dia sembunyikan di ceruk ke dua lututnya.
"Ah, Mami. Kenapa harus membahas itu sih?" gumamnya pelan.
"Hei, aku kan Mami kamu sendiri, sayang .kenapa harus malu?" kekeh Amelie.
"Entahlah, Mam. Beberapa hari ini Mas Satrio sulit di hubungi," keluh Aish menyampaikan keresahan hatinya beberapa waktu belakangan ini.
Amelie mencondongkan tubuhnya ke arah depan, guna melihat ekspresi wajah putrinya yang beberapa hari terakhir terus menerus ingin ada di dekatnya itu.
"Hei, sayang. Kau menangis, Nak? Ada apa? Katakan pada Mami, sekarang kau punya kami jangan lagi memendam semuanya sendiri lagi," ujar Amelie mengelus lembut rambut aish.
.
Namun bukannya merasa tenang, Aish justru semakin tergugu. Dia membalik. Tubuhnya lalu menubruk Amelie dan memeluknya erat sembari menangis di sana.
"Menangis lah, Nak. Mami tahu selama ini kau pasti sangat kesulitan tinggal dengan orang yang tak menyayangimu sepenuh hati." Amelie menepuk pelan punggung Aish, menyalurkan kasih sayang yang tulus sebagai seorang ibu.
Beberapa saat mereka berada dalam kondisi itu, saling memeluk dan menguatkan sampai akhirnya Aish lebih tenang.
"Terima kasih untuk semuanya, Mam. Bahkan belum lama kita bersama dan Mami sungguh membuat aku lebih merasa berharga," gumam Aish tersenyum sembari mengusap air matanya.
Amelie mengangguk dan menjatuhkan tepukan ringan di pucuk kepala Aish.
"Sekarang kau punya Mami dan Papi, juga saudarimu Asy. Bersandarlah saat kau butuh sandaran jangan lagi memendam semuanya sendiri, kami akan ada untuk kamu, sayang."
Setelah lebih tenang dan tangisannya sudah sepenuhnya berhenti, Amelie kembali menanyai Aish.
__ADS_1
"Sekarang, bisakah kau menceritakan apa yang membuatmu menangis, Nak? Mungkin saja Mami bisa membantumu?"