MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 83.


__ADS_3

 Sesuai kesepakatan, akhirnya acara pernikahan antara Jeni dan Gus Musa sudah di tentukan. Tentu saja dengan restu dari kyai Hasan dan Umi Nafisah, ke dua sesepuh itu juga lah yang mengatur akan seperti apa pernikahan itu nantinya. Jeni dan Gus sudah memasrahkan semuanya pada ke dua orang tuanya itu.


"Dek Jen, kita jadi ke makam almarhum orang tua kamu?" tanya Gus Musa saat menemui Jeni di dapur ndalem', tengah memanaskan lauk yang masih banyak di wajan.


 Jeni menoleh sambil mengusap keringat yang menetes di keningnya.


"Injih, Mas. Habis ini ya, biar saya mandi dulu." Jeni tersenyum dan kembali menunduk, matanya kembali fokus pada masakan berupa rendang ayam yang meletup letup dan menguarkan bau harum khasnya itu.


 Jeni dan Gus Musa memang di minta langsung oleh Umi Nafisah untuk bisa membiasakan panggilan pada masing-masing. Agar nanti saat sudah menikah tidak lagi canggung.


 Gus Musa mengangguk dan duduk di kursi yang biasa dia duduki di dapur tersebut.


"Loh, Mas Musa nggak siap siap?" tanya Jeni sambil mematikan kompor dan kembali mengelap keringatnya dengan ujung jilbab besarnya.


 Gus Musa menoleh dan tersenyum lembut. "nggak, Mas laper."


"Apa mau saya siapkan makan lebih dulu?" tanya Jeni berusaha membuang rasa canggungnya.


 Namun Gus Musa menggeleng. "Nggak usah, biar Mas ambil sendiri saja nanti. Dek Jen silahkan siap siap, lagi pula sebentar lagi juga bakalan Dek Jen terus kan yang akan nyiapin makanannya Mas? Jadi ... anggap aja ini latihan sebelum Mas nggak akan bisa ambil makanan sendiri lagi karna sudah ada yang melayani."


 Wajah Jeni memerah di buatnya, dan dengan menunduk dalam dalam Jenu berusaha meredam debaran jantungnya yang berdetak tak terkendali.


"Ka- kalau begitu, saya ... saya permisi dulu, Mas." Jeni cepat cepat berbalik dan keluar dari dapur untuk menghindari Gus Musa yang terus menatapnya lekat.


 Bukan apa apa, namun Jeni rasanya tidak tahan dengan tatapan yang seakan bisa memakannya itu. Jeni berhenti sejenak di luar pintu dapur, tapi perkataan Gus Musa tadi kembali terngiang di telinganya membuatnya sontak menutup muka dan cepat cepat berlari menuju kamarnya.


 Jeni segera bersiap, setelah beberapa menit kemudian dia sudah rapi dengan setelan gamis panjang berwarna nude dengan jilbab coklat tua. Tampak manis sekali di kulitnya yang kuning langsat. Jeni mematut diri di depan cermin dan mendesah lirih.


"Seandainya sejak dulu aku begini, pasti tidak akan pernah ada malang yang sempat mampir di cerita hidupku dan membuat aku hampir celaka karenanya. " Jeni bergumam sendiri sambil memindai setiap jengkal wajahnya dengan tatapan sesal.


 Tok


Tok


Tok


 Seseorang mengetuk pintu kamar Jeni, gegas dia meninggalkan cermin dan membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Asiyah?" ucapnya terkejut, pasalnya sudah beberapa hari gadis manis itu mengurung diri di kamarnya dengan alasan sakit.


 Bahkan kini raut wajahnya saja masih pucat dan cekung, namun setiap Jenu mengajaknya berobat Asiyah terus saja menolak.


"Mbak Jen mau pergi?" tanya Asiyah dengan suara serak, sepertinya karena dia juga batuk belakangan ini.


 Jeni mengangguk. "Iya, Mbak mau ke makam Abah dan Emak."


 Perlahan Asiyah mengambil sebuah kertas yang sudah di lipat dari kantung gamisnya, dan memberikannya pada Jeni.


 Jeni menerimanya dengan bingung, namun segera setelah itu Asiyah langsung membeberkan niatnya memberikan kertas itu.


"Asiyah mau minta tolong, Mbak. Tolong, sampaikan surat itu ke saudara Mbak yang waktu itu kita jenguk di rumah sakit. Dan ...tolong pastikan suratnya benar benar sampai ke beliau dan bukan ke orang lain."


 Kening Jeni sontak berkerut. "Maksud kamu ... Mbak Sarah?"


 Asiyah mengangguk.


"Tapi buat apa? Ada hubungan apa kamu sama Mbak Sarah, As?" cecar Jeni tak mengerti.


"Nanti juga Mbak bakalan tahu, tapi ... Asiyah bener bener minta tolong untuk surat ini berhasil sampai di tangannya Mbak Sarah langsung ya, Mbak. Bisa kan?" bujuk Asiyah lagi dengan wajah memelas.


 Asiyah segera kembali ke kamarnya, dan menutup pintunya rapat rapat. Sangat berbeda dengan dirinya yang biasanya yang bahkan sangat jarang menutup pintu kamar jika waktu masih siang.


"Dek Jen, sudah siap?" suara Gus Musa memecah lamunan Jeni, dengan cepat Jeni memasukkan surat titipan Asiyah ke kantung gamisnya dan berjalan menuju Gus Musa yang menunggunya di dekat garasi.


"Dedek gimana, Mas?" tanya Jeni saat teringat bayinya yang sebelum ini di jaga oleh Umi Nafisah dan Nek Minah yang masih tinggal di ndalem' sampai urusannya dengan sang anak yang buronan itu selesai nanti.


"Aman, dedek tadi lagi tidur di ayun sama nenek. Makanya kita perginya jangan terlalu lama, terus pulangnya jangan lupa beliin jajanan dan diaper buat stok kata Umi tadi, " sahut Gus Musa sambil masuk ke dalam mobil .


 Jeni ikut masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.


"Nggak usah di beliin jajanan mulu, Mas. Nanti takutnya dedek malah malas makan, beliin cemilan bayi aja sama diaper. Jangan terlalu banyak menghabiskan uang, Mas." Jeni berkata pelan, agar Gus Musa tidak merasa di gurui.


"Mas tidak pernah merasa begitu kok ,tapi kalau maunya dek Jen begitu ya sudah. Atur saja ya, setelah ini semua urusan keuangan pokoknya Mas percayakan sama dek Jen. Mas tahu dek Jen pasti bakalan bisa jadi ibu dan istri yang bijaksana," kata Gus Musa lembut sambil sesekali melirik calon istrinya itu yang kini tampak tersipu malu karena ucapannya.


 Sesampainya ke area pemakaman, Jeni segera turun dan membawa sebotol air juga sebuah wadah berisi bunga bunga segar untuk di taburkan ke makam orang tuanya yang berdampingan itu.

__ADS_1


 Gus Musa memimpin doa untuk ke dua almarhum dn almarhumah, setelahnya Jeni langsung mengutarakan maksudnya untuk memperkenalkan calon suaminya pada ke dua orang tuanya yang dia yakini bisa melihatnya dari surga.


 Setelah puas, melepas rindu dengan orang tuanya walau hanya lewat doa dan nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya yang telah tiada Jeni bergegas mengajak Gus Musa untuk pergi.


"Mas, kita ke rumah Mbak Sarah dulu ya. Saya mau undang mereka sekeluarga buat hadir di acara pernikahan kita nanti," pinta Jeni dengan menunduk.


 Entah kenapa Jeni masih selalu merasa malu jika berbicara atau meminta sesuatu pada Gus Musa, padahal dulu dia adalah seorang wanita yang sangat agresif terhadap pria.


"Boleh, ya sudah dek Jen tunjukkan jalannya ya." Gus Musa menyanggupi dan mereka pun mulai berjalan pelan meninggalkan areal makam menuju ke rumah Sarah berdasarkan petunjuk dari Jeni.


"Subhanallah, rumahnya besar dan bagus sekali ya, dek." Gus Musa menatap takjub rumah yang dihuni Sarah dan suaminya itu setelah mereka sampai.


 Jeni hanya menanggapinya dengan senyuman, dan mengajak Gus Musa untuk naik ke teras.


"Kalau nanti kita sudah menikah, apa Dek Jen mau Mas kasih hadiah rumah seperti ini?" celetuk Gus Musa tiba tiba.


 Jeni memutar tubuh dengan kening berkerut dalam, namun sebentar kemudian sebuah senyuman terukir di wajahnya.


"Nggak perlu, Mas. Kamar asrama juga sudah cukup kok."


Gus Musa terkekeh sambil geleng-geleng kepala, namun dalam hatinya sudah terbentuk sebuah tekad untuk membuat Jeni terkejut dengan hadiah pernikahan darinya nanti.


Tok


Tok


Tok


 "Assalamu'alaikum," ucap Jeni di depan pintu rumah Sarah yang tertutup.


 Tapi dari dalam terdengar riuh suara bayi dan orang dewasa, jadi bisa di pastikan kalau rumah itu ada penghuninya.


"Wa'alaikumsalam," sahut beberapa orang dari dalam. Dan di susul suara langkah kaki yang mendekat ke pintu.


Ceklek


 Pintu utama terbuka dan betapa terkejutnya Jeni melihat seraut wajah yang tak asing berada di sana.

__ADS_1


"Asiyah?" gumamnya terkejut, namun gadis di hadapannya malah menatapnya dengan bingung.


__ADS_2