MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 192.


__ADS_3

 Sementara itu.


"Duh, udah malam begini kok Mas Satrio belum pulang juga ya? Di telpon juga nggak aktif, masa iya restoran buakanya sampe malam banget begini kan nggak mungkin?" keluh Aish yang merasa gelisah sejak tadi karena sang suami tak kunjung pulang.


 Terlebih, setelah menerima telepon tadi pagi Satrio memilih langsung berangkat ketimbang sarapan dan minum teh lebih dulu bersama istrinya padahal tehnya sudah di buatkan oleh Aish. Dengan dalih terburu buru karna ada bahan makanan masuk, Satrio meninggalkan Aish yang bahkan belum sempat mencium tangannya saat pamit.


"Huh, susulin ke restoran aja deh." Aish bermonolog lalu bersiap siap setelah memesan ojek online.


 Tak butuh waktu lama, setelah ojek pesanannya datang Aish langsung minta di antarkan ke restoran dimana sang suami bekerja.


"Ini ongkosnya ya, Pak." Aish memberikan selembar dua puluh ribuan ke tangan pemudi ojol tersebut.


"Makasih banyak, neng. Emangnya ada urusan apa, neng malam malam begini ke sini? Udah tutup loh, neng restonya apa mau saya antar cari restoran lain?" tawar pengemudi ojek itu menawarkan.


 Aish menggeleng sembari mengulas senyum tipis. "Nggak perlu, Pak kebetulan saya ke sini mau jemput suami saya, soalnya udah larut banget belum pulang pulang saya jadi khawatir."


 Pengemudi ojek itu manggut-manggut paham, sembari memasukkan uang dari Aish tadi ke dalam saku jaketnya dan segera berniat pulang.


"Oooh begitu, ya sudah kalau begitu saya pamit ya, neng. Sudah gerimis juga kayaknya sebentar lagi mau turun hujan deras, neng hati hati ya."


"Iya, Pak. Bapaknya juga hati hati," jawab Aish melepas kepergian pengendara ojek online tersebut semakin menjauh darinya.


 Benar saja, tak berselang lama sejak perginya pengemudi ojek online tadi hujan turun dengan derasnya di sertai guntur yang bersahut sahutan di atas langit sana.


Aish berbalik menjauh dari terpaan hujan dan berusaha membuka pintu kaca restoran, namun sayangnya pintu itu terkunci dan sudah ada tulisan closed di pintunya tergantung di pintu bagian dalam. Bahkan bagaian dalam restoran sudah sepi dan gelap karna lampunya di matikan, hanya menyisakan lampu di bagian luar resto saja yang masih hidup.


"Duh, udah di kunci lagi. Apa itu artinya mas Satrio nggak ada di sini? Tapi kemana? Di rumah juga nggak ada, duh gimana ini?" gumam Aish mulai ketakutan, terlebih kala hujan menjadi semakin deras dan mulai membasahi sebagian besar lantai teras resto.


 Aish merapatkan dirinya ke sudut teras resto, memeluk dirinya sendiri sembari berdoa semoga dijauhkan dari segala macam marabahaya.


"Mas Satrio, kamu dimana, Mas?" gumam Aish mulai berlinang air mata.


 Tiba tiba dia teringat akan ponselnya, di cobanya lagi untuk menelpon nomor telepon Satrio, namun sayangnya masih saja tak aktif. Karna tak berani kembali pulang ke rumah dan akan sendirian di rumah kontrakan tersebut, Aish memilih menelpon saudari kembarnya, Asy untuk menanyakan kondisi di sana. Rencananya dia ingin menginap saja sampai Satrio bisa di hubungi kembali.


Tut


Tut


Tut


 Hingga panggilan ke empat Asy masih belum mengangkat teleponnya, Aish mulai panik. Tangisnya tak bisa di bendung lagi hingga wajah putih mulusnya menjadi memerah karna sejak tadi menangis terisak isak, namun suaranya teredam oleh hujan dan petir yang terus berbunyi bersahutan di atas langit sana. Sesekali Aish menutup matanya dan menyembunyikan ponselnya ke dalam pelukannya karna takut tersambar petir.


Klik.


"Assalamu'alaikum, Aish. Ada apa?"


Akhirnya setelah panggilan ke tujuh Asy menjawab panggilan telepon dari Aish, dengan cepat Aish menempelkan ponselnya ke telinga dan bicara dengan nada gemetar.


"Asy, tolong aku, Asy ... aku takut, Mas Satrio belum pulang dan dia nggak ada di resto, sekarang aku berdiri di depan restorannya. Aku takut, Asy." Aish mengadukan semua yang dia rasakan dan dia alami pada saudari kembarnya tersebut, tak peduli walau kini suara tangisnya sudah lebih keras ketimbang hujan yang masih setia membasahi bumi di depannya.


"Iya iya, aku paham. Sekarang coba kamu tenang dulu, aku mau ke bawah lihat Mas Sutris masih di pos apa nggak, nanti biar aku minta dia jemput kamu ya. Tapi kalau nggak bisa, coba kamu tes pesan taksi online ya," tandas Asy dengan suara yang tak kalah cemas.

__ADS_1


 Padahal sebelumnya suaranya seperti orang yang baru saja terjaga dari tidur, tapi mendengar kabar saudarinya membuatnya langsung terjaga dan siaga.


 Aish mematikan sambungan teleponnya, setidaknya sekarang dia bisa lebih lega karna sudah memberi kabar keluarganya tentang kondisinya dan sangat berharap agar pertolongan bisa segera sampai. Jujur saja saat ini Aish sama sekali tak bisa berpikir lebih jernih karena di buru rasa gelisah dan tak tenang.


 Beberapa kali mengecek ponselnya untuk mencari taksi online, sangat sulit dia temukan. Di cuaca seperti ini di tambah malam yang memang sudah sangat larut dan hampir menyentuh tengah malam pastinya akan sangat sulit mendapatkan taksi online di saat begini.


Aish terus berdoa dalam hati, berharap akan ada kabar baik yang datang. Untunglah tak lama berselang pesan dari Asy masuk ke ponselnya yang mengatakan kalau Sutris, supir keluarga mereka sudah meluncur menuju lokasinya.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih pertolongan- Mu ya Allah." Aish mengusap wajahnya dengan ke dua tangan dan membersihkan sisa jejak air mata di ke dua belah pipinya.


 Setelah menunggu hampir setengah jam lamanya, akhirnya sebuah mobil tampak berbelok ke pelataran resto, aish yang sudah tak sabar langsung berlari menyongsong mobil yang dia kenali sebagai milik ibunya tersebut tanpa peduli tubuh dan bajunya yang basah tertimpa hujan.


"Non, kenapa malah hujan hujanan? Baru aja mau saya jemput ke teras pake payung harusnya non tunggu dulu sebentar," ujar Sutris pelan namun menekan, karna sejujurnya dia takut terjadi sesuatu pada Aish jika berlarian seperti tadi padahal mobil baru saja masuk ke pelataran resto yang berjarak kurang lebih sepuluh meteran dari tempatnya menunggu tadi.


 Aish menyeka wajahnya yang basah dan meletakkan tas tangan yang dia bawa di kursi kosong di sampingnya.


"Nggak papa, Mas. Saya sudah nggak nyaman terlalu lama di sana, ya sudah langsung ke rumah Papi aja ya, Mas."


 Sutris mengangguk mengiyakan, sekelebat terlihat oleh Aish bagaimana merahnya mata Sutris saat ini. Mungkin tadi dia masih dalam kondisi tertidur pulas tapi terpaksa di bangunkan oleh Asy untuk menjemput dirinya saat itu juga, bahkan di saat dia bahkan belum sempat mengumpulkan nyawanya lebih dulu.


"Makasih banyak ya, Mas sudah mau bela belain jemput saya malam malam begini." Aish berkata tulus, sembari mengusap lengannya yang basah dengan tisu kering yang ada di mobil.


"Sama sama, non. Sudah tugas saya, Non nggak perlu berterima kasih," timpal Sutris ramah, bahkan dia sempat melempar senyum dari kaca spion dalam yang langsung mengarah ke wajah Aish.


 Aish balas tersenyum, namun sejurus kemudian dia kembali bersedih kala teringat kalau saat ini suaminya belum dia ketahui rimbanya.


"Mas," panggil Aish pada Sutris yang masih fokus dengan kemudinya, jalanan yang lengang tak lantas menjadikan dia mengemudi dengan ugal ugalan dengan tujuan agar cepat sampai.


"Saya, non." Sutris menjawab sopan.


"Mas Satrio belum pulang sampai sekarang, pagi tadi pamitnya ke restoran. Tapi ... Mas lihat sendiri tadi kan, restoran itu tutup. Di telpon juga nggak aktif, sebenarnya kemana suami saya, Mas? Salah nggak sih kalau saya bilang suami saya hilang?" tutur Aish malah menceritakan keresahannya pada Sutris.


Sutris terlihat menghela nafas, mungkin tengah menimbang jawaban apa yang sepantasnya dia berikan pada anak majikannya tersebut.


"Kalau masalah itu, sebaiknya nanti Non Aish coba diskusikan saja dengan keluarga Non. Maaf bukan bermaksud nggak sopan, tapi ... saya cukup tahu diri untuk nggak ikut campur urusan majikan saya, Non."


"Saya nggak minta Maaf sutris ikut campur, saya cuma minta pendapat. Kan Mas dan suami saya lumayan kenal dan sama sama laki laki juga, kira kira kemana tempat yang di kunjungi laki laki itu yang bikin dia sampai nggak pulang ke rumah dan nggak ngabarin istrinya juga?" sela aish cepat.


 Sutris lagi lagi hanya bisa menghela nafas, namun melihat anak majikannya itu seperti sangat butuh sebuah jawaban untuk menenangkan hatinya, akhirnya Sutris mengutarakan apa yang dia pikirkan.


"Kalau di lihat dari keseharian dan pribadi Mas Satrio, kemungkinan besar dia sedang mencari tambahan, Non. Entah dengan cara apa dia berusaha mungkin kerja sampingan atau lainnya. Dan dia sengaja nggak memberi tahu Non lebih dulu karna takut Non merasa nggak enak. Atau bisa juga Mas Satrio lagi menyiapkan sesuatu buat Non, Non nggak usah khawatir kalau menurut saya Mas Satrio nggak mungkin melenceng sih, Non." Sutrisno mengakhiri ucapannya dan menghembuskan nafas lega karena setidaknya bisa memberikan jawaban yang menenangkan bagi Aish.


 Aish pun demikian, setelah mendapat jawaban dari Sutris dia terlihat lebih santai dan tak lagi segelisah tadi. Mungkin apa yang di kemukakan sutris kurang lebih sama dengan apa yang dia pikirkan. Hanya tinggal menunggu kabar dari Satrio untuk mengkonfirmasi semuanya, dan Aish harap semoga semuanya memang sesuai dengan ekspektasi mereka.


 Tanpa terasa mobil yang mereka kendarai telah tiba di halaman luas rumah megah Edwin. Tampak di teras sudah menunggu Ed, Amelie, juga Asy dan suaminya tak ketinggalan Bu Hannah yang berdiri di samping Asy, menantunya.


Mereka semua menyambut Aish dengan tatapan gelisah, sebab Asy memberitahu semua orang tentang Aish yang menelponnya dalam kondisi menangis di depan restoran.


"Ya Allah, Aish apa kamu baik baik saja?" tanya Asy sembari memeluk tubuh dingin saudarinya tersebut.


"Alhamdulillah, Aku nggak papa Asy. Terima kasih sudah bertindak cepat," gumam Aish membalas pelukan Asy.

__ADS_1


"Nak, Mami cemas sekali. Apa yang terjadi sebenarnya?" cecar Amelie turut memeluk Aish setelah dia melepas pelukannya dari Asy.


 Amelie memindai seluruh tubuh Aish seolah takut ada yang terlewat dari pandangannya seperti luka atau sekedar luka lecet.


"Sudahlah, ayo kita bawa Aish masuk dulu. Dia kedinginan, Asy tolong ambilkan baju hangat untuk saudarimu," titah Ed sembari menuntun mereka semua untuk masuk, setelah itu dia kembali ke luar dan bicara sejenak dengan Sutris sebelum akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu rumahnya rapat rapat.


 Aish mulai menceritakan awal mula semuanya pada keluarganya, tak ada yang terlewat sama seperti yang dia ceritakan pada Asy sebelumnya. Dalam pelukannya Amelie tampak terisak mendengarnya, padahal belum jelas apa yang sebenarnya di lakukan Satrio di luar sana hingga tak bisa pulang cepat atau sekedar memberi kabar istrinya.


"Sudahlah, biarkan Aish tenang dulu. Masalah ini biar kita bahas lagi besok, sekarang sudah malam silahkan kalian semua masuk kamar dan tidur. Dan Aish, Papi janji akan membantu kamu menyelesaikan masalah ini secepatnya," tukas Ed mengakhiri musyawarah mereka malam itu.


 Dan setelah itu mereka semua kembali ke kamar masing masing, termasuk Aish yang kembali melangkah menuju kamar lamanya di lantai atas bersebelahan dengan kamar Asy dan Rahman.


 Aish membuka pintu kamarnya yang tak terkunci, gelap menyambutnya. Di rabanya saklar lampu yang terletak tak jauh dari pintu masuk.


Klik


Kamar seketika menjadi terang benderang, namun pemandangan di atas tempat tidurnya membuat Aish terkejut setengah mati.


"Hei! Siapa kamu!" pekiknya dengan wajah pias.


****


 Di tempat lain.


Ctaaarrrr


Ctaaarrrrr


Ctaaarrrrrr


"Aaakkkkkhhhhh!".


 Suara pekikan tertahan menggema di dalam sebuah ruangan yang remang dan pengap dengan debu debu yang beterbangan di sekitarnya karna sabetan cambuk yang di pukulkan seseorang dengan topeng di wajah ke punggung seorang pria muda yang tak lain adalah Satrio.


"Bo doh! Bagaimana bisa kau gagal kali ini ha?" bentak seseorang yang sejak tadi duduk di pojok ruangan sembari menghisap rokok dan menghembuskan asapnya hingga membubung ke udara pengap di sekitarnya.


"Ma- af," desah Satrio dengan bibir bergetar dan kering, entah sudah berapa kali bibir yang sama berteriak teriak sejak tadi menahan sakit yang tak terperi di punggungnya yang di cambuk.


 Seseorang yang sepertinya bos tadi menggerakkan kepalanya sedikit dan cambuk berbahan rotan itu kembali mendarat mulus ke punggung Satrio yang sudah mulai mengeluarkan darah segar.


"Aaakkkkhhhhh!" pekik Satrio lagi, bahkan kali ini percikan darah ikut keluar dari tenggorokannya, menandakan dia sudah sampai pada ambang batasnya.


"Itu masih belum seberapa dibandingkan dengan kegagalanmu, bo doh. Harusnya kau bisa lebih pintar untuk menangani semuanya, bukannya malah pulang dengan membawa kegagalan! Lagi pula hanya sebatas dinding yang di semen masa kau tak bisa menembusnya, kau tahu waktu kita tak banyak! Gunakan otakmu itu, be de bah! Gara gara kau semua rencana yang sudah di susun matang harus mengalami kegagalan, dan kau! Harus membayar semuanya!" si bos berteriak nyaring, hingga rasanya telinga Satrio pengang mendengarnya.


 Satrio hanya bisa meringis, menahan sakit di sekujur tubuhnya. Terlebih tubuhnya yang terikat kuat dengan kabel ties bahkan hampir tak bisa dia gerakkan. Satrio ambruk, matanya berusaha tetap terjaga namun bayangan wajah Aish yang menangis menanti kepulangannya terbayang di pelupuk matanya.


'sabarlah, sayang. Mas janji Mas akan pulang, Mas akan berikan kehidupan yang lebih baik untuk kamu setelah ini sama dengan yang di berikan orang tua mu untukmu,' gumam Satrio di dalam hatinya, menerbitkan seulas senyum di bibir nya yang ternoda darah.


Si bos yang berkepala pelontos itu berjalan mendekat ke arah tubuh Satrio yang tergeletak lemah. Bahkan deru nafasnya yang pendek pendek menandakan pemilik tubuh itu tengah sekarat.


 Dia mencondongkan tubuhnya dan tersenyum di depan wajah Satrio yang matanya setengah terpejam.

__ADS_1


"Tersenyum lah, bo doh. Karna kau harus membayar semuanya dengan nyawamu."


__ADS_2