MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 123.


__ADS_3

"Aish, apa maksud perkataan si Sumi tadi?" tanya Hendro setelah mereka sudah berada cukup jauh dari warung Bik Titin.


Aish berhenti, menepis pelan tangan Hendro yang masih berada di pergelangan tangannya dan mengusap tengkuknya dengan ekspresi salah tingkah.


"Aish jangan diam saja dong, Aa butuh penjelasan. Kenapa orang orang bilang kalau kamu bakalan jadi ibu tiri Aa? Memangnya itu benar?" desak Hendro terdengar frustasi.


"A- Aish, juga nggak tahu kenapa orang orang bilang begitu, A."


"Tapi orang orang nggak akan berucap kalau tak ada sebabnya, Aish." Hendro mulai mengacak rambutnya yang sedikit keriting itu, raut kekesalan sangat kentara di wajahnya yang berhidung mancung itu.


"Sebenarnya kemarin nenek sempat bilang kalau juragan Baskoro hendak melamar Aish, A. Tapi Aish menolak," jelas Aisyah mencoba membeberkan apa yang di ketahuinya.


Terlihat binar di mata Hendro mendengar jawaban Aish, namun sedetik kemudian binar itu kembali padam saat Aisyah mengungkapkan alasannya.


"Karna Aish sudah punya pilihan sendiri, A. Yang sekarang menunggu aish di kota."


"A- apa?" gumam Hendro tampak gusar.


Tapi sejurus kemudian Hendro kembali memaksakan senyumnya dengan raut wajah di buat sesantai mungkin.


"Ja- jadi, kamu sudah punya kekasih begitu? Kok kamu nggak pernah cerita?"


Aisyah tertunduk, lalu perlahan kakinya melangkah menuju kembali ke arah rumahnya dengan di iringi Hendro di sisinya.


"Karna selama ini Nenek tidak setuju Aisyah sama dia, kata Nenek dia hanya pemuda miskin yang nggak mungkin bisa membahagiakan Aish."


Hendro tampak menelan kekecewaan, perasaan yang sejak dulu diam diam di simpannya rapi hanya untuk Aisyah kini harus di kuburnya dalam-dalam, mengingat sang pujaan sudah memiliki pilihannya sendiri.


"Tapi ...  kemarin, dia menelpon aish. Katanya dia sudah siap untuk melamar Aish secepatnya."


Hendro tercekat, raut wajahnya tak mampu lagi menyembunyikan kekecewaannya.


"Tapi, ada satu masalah ...." Aisyah berhenti karna merasa sejak tadi tak ada tanggapan apapun dari Hendro, sang lawan bicaranya.


Hendro terjingkat kaget saat Aisyah menyentuh pundaknya.


"Ah, eh ... aish. Ngagetin aja sih." Hendro masih berusaha tampak baik baik saja walau kini air di sudut matanya itu mulai berkumpul dan dia meluncur.


"Aa' kenapa? Aa' nggak dengerin curhatan Aish ya? Maaf kalau Aish malah bahas masalah lain," ujar Aisyah menundukkan kepalanya dalam dan kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah.


Hendro tersadar dan gegas menyusul Aisyah lalu menarik pergelangan tangannya.


"Tunggu, Aish."


"Kenapa, A? Sebaiknya Aa pulang aja, sudah hampir maghrib nanti orang tua Aa mencari," tukas Aish sambil mengayunkan langkahnya hendak meneruskan perjalanan pulang.

__ADS_1


"Aish tunggu, maaf bukan maksud Aa' nggak dengerin kamu. aa dengerin kok, cuma AA bingung harus merespon gimana," papar Hendro mencoba membujuk Aisyah.


Aish menatap hendro lama, kilat mata yang selalu menatapnya dengan teduh itu kini tampak berkaca-kaca.


"Aa' nangis?"


Hendro terkesiap lalu dengan cepat menyusut air matanya dengan ujung lengan kemejanya dan tersenyum lebar.


"Ah, nggak kok. Cuma ini tadi kena angin debu jadi ajak perih," dalih Hendro menutupi kesedihannya.


Aisyah mengangguk, lalu sambil kembali berjalan pelan Aish mengutarakan lagi kegalauan hatinya pada pemuda yang sudah di anggapnya kakak sendiri itu.


"Apa aa' bisa bantuin Aish?" tanyanya penuh harap.


Hendro menatapnya bingung ,namun sejurus kemudian dia mengangguk walau hatinya meragu.


"Bisa Aa' bantu Aish cari orang tua kandung Aish?" ungkap aish dengan mata berbinar senang.


Lagi-lagi Hendro terhenyak, entah sudah ke berpaa kali Aisyah memberikan kejutan yang baru dia ketahui saat ini selama beberapa tahun terakhir mereka dekat.


"Ma- maksud kamu? Bukannya nek Janah?"


"Bukan, nek Janah itu nenek angkat aish, A. Orang tua kandung Aish masih hidup cuma Aish nggak tahu mereka dimana," pungkas Aisyah seakan tahu apa yang akan di tanyakan Hendro.


Hendro tampak manggut-manggut, namun hatinya mencelos untuk keberhasilan membantu Aisyah untuk yang satu ini.


Aish menggeleng lemah.


"Nenek bilang, beliau nggak tahu siapa orang tua kandung Aish, a."


"Kalau begitu sepertinya akan sulit, Aish?" Hendro membuang nafas kasar.


Pikirannya ikutt ruwet hanya dengan mendengar curhatan Aisyah padanya.


Tak terasa mereka pun akhirnya sampai di depan rumah Nek Janah, Aish berbalik menatap Hendro sambil tersenyum kecut.


"Tidak usah Aa' pikirkan, Aish hanya berbagi cerita bukan bermaksud untuk membuat aa' repot memikirkan bantuan untuk Aish."


Hendro balas tersenyum, hatinya yang sudah hancur berkeping-keping di tutupinya agar tak sampai terlihat oleh Aish.


"Tidak apa, tidak usah sungkan. Kalau Aa bisa, insyaallah aa bakalan bantu kamu buat cari siapa orang tua kandung kamu," sanggah Hendro dengan tegas, mencoba untuk terlihat baik baik saja.


Aish baru saja mengembangkan senyumnya saat tiba-tiba dari arah rumah nek Janah sebuah suara bariton mengagetkan mereka berdua.


"Tidak perlu, Hendro. Kamu tidak usah bersusah payah membantunya karna sebentar lagi dia akan menjadi ibu tiri ketiga kamu!"

__ADS_1


Mata Hendro membelalak.


"Ba- bapak?" serunya kaget, terlebih menilik ke dalam rumah Nek Janah tampak banyak sekali barang barang seperti layaknya seserahan di susun rapi di tengah ruangan.


"Ada apa ini?" Jerit Aisyah tampak ketakutan.


****


Di desa yang lain.


"Pak Alam yakin mau mengantar ustadz Rahman?" tanya Abdi saat hendak mengantar Rahman pulang ke pondok namun malah di cegat Alam di tengah jalan.


"Iya, kebetulan istri saya ngajak jalan-jalan ke kota. Jenguk kyai di pondoknya dulu katanya, jadi biar sekalian saja kan." Alam menyahut dengan mata masih sibuk di layar ponselnya.


Abdi tampak sungkan, dia menoleh pada Rahman yang duduk di sampingnya lebih dulu seakan meminta persetujuan.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Rahman ingin memastikan, terlebih di dalam mobil Alam dia tahu ada seorang penumpang lagi di sana dan dari postur tubuhnya Rahman yakin dia Asiyah.


Alam menarik pandangannya dari ponsel dan berusaha menarik ke dua sudut bibir yang sangat jarang tersenyum itu membentuk sebuah garis lengkung yang tampak kaku.


"Tidak akan merepotkan, supaya si Abdi ini juga bisa menghemat uang bensin. Kan lumayan buat nambah tabungan kamu modal nikah nanti ya, Di?" kekeh Alam mencoba mencairkan suasana namun tak sadar kalau pemilihan katanya salah.


Abdi hanya melengos dan tak begitu mempedulikan ucapan Alam yang baginya sudah biasa itu.


"Gimana ustadz? Kalau ustadz tidak berkenan biar saya saja yang antar tidak apa kok, insyaallah uangnya mah ada dari dana desa. Nggak pake tabungan nikah saya kok," kekeh Abdi pula, membuat Alam yang mendengar menjadi agak senewen.


"Udah, ustadz. Sama saya saja, mobilnya abdi nggak enak, nggak ada es krimnya." Alam berkata ketus.


"Emangnya mobil Pak Alam ada?" ledek abdi pula.


Tapi Alam malah cengengesan. "Nggak," katanya santai.


Abdi mencebik.


"Huh, kalo bukan juragan udah ....".


"Udah apa?" Alam mendelik.


"Udah saya tumbalin bapak itu!"  seru Abdi sambil menutup kata mobilnya.


"Kamu ...."


"Udah, Pak. Ayo kita berangkat saja," sela Rahman yang sudah turun dari mobil abdi sambil menenteng tas ranselnya dan berdiri di samping Alam.


"Oh ya sudah, sebentar ya saya suruh istri saya pindah ke belakang dulu," ucap Alam tanpa bisa di cegah, namun menguntungkan juga bagi Rahman sebab kalau sepanjang jalan melihat sang pujaan hati duduk bersebelahan dengan pria lain hatinya pasti akan melow.

__ADS_1


Asiyah tampak keluar dari dalam mobil, gamis warna Fuchsia yang dulu sempat di pakainya saat pertemuannya yang terakhir dengan Rahman melambai tertiup angin.


Rahman sempat terpana melihatnya, terlebih saat dia melihat Bros berbentuk bunga pemberian darinya tampak berkilau di sudut bahu Asiyah, menyematkan khimar serta harapannya menjadi satu.


__ADS_2