
Sarah dan Sonia memilih menemani si kembar di kamarnya, khawatir jika terjadi sesuatu lagi pada mereka seperti sebelumya.
Bahkan anehnya, saat di tanya pun si kembar seolah ketakutan tak ingin mengatakan apapun dan hanya mengatakan mereka tidak apa apa. Sangat membingungkan.
"Pa, apa kita perlu lapor polisi lagi? Semua ini sudah terlalu meresahkan untuk di anggap wajar," tukas Axel meminta pendapat Andrew.
Mereka kembali melangkah mendekati ruangan rahasia itu, dimana tadi Axel sempat memutari dan berteriak-teriak di dalamnya guna mencari anak anaknya yang tiba tiba entah bagaimana caranya bisa kembali ada di kamar mereka dengan sendirinya.
"Untuk sekarang, lebih baik jangan dulu, ax. Ada banyak keanehan di sini yang jawabannya harus kita telusuri lebih dulu sebelum membawa semuanya ke ranah hukum. Kita butuh bukti yang akurat untuk membawa pelakunya ke penjara."
"Tapi ... lalu bagaimana dengan Peter, Pa? Bukankah semua ini adalah rencananya, karena masih menyimpan dendam pada almarhum orang tua Sarah?" gumam Axel sembari terus membuntuti langkah sang ayah yang terus masuk ke ruangan gelap tersebut seakan mencari sesuatu.
"Itulah kuncinya, Ax. Para pelaku sebenarnya mempunyai rencana yang sangat licik dan tersusun. Mereka membuat seolah olah pelaku sudah tertangkap padahal sebenarnya itu hanya pancingan untuk membuat kita menjadi lengah karna mengira kita sudah aman," papar Andrew menjelaskan hal paling memungkinkan dari semua kejadian yang ada.
"Semua ini terlalu rumit, Pa. Sebenarnya apa tujuan mereka melakukan semua ini? Dan ... kenapa harus keluargaku?" Axel mencecar Andrew dengan semua pertanyaan yang selama ini hanya tersimpan di benaknya.
Andrew tersenyum, menepuk pelan pundak Axel. "Kau akan tahu tak lama lagi, Nak. Dan untuk alasan kenapa keluarga mu yang mengalami ini, itu ada sangkut pautnya dengan almarhum mertuamu dahulu."
"Apa maksud Papa?" tanya Axel bingung sekaligus heran, dia merasa pastilah sang ayah punya jawaban dari semua ini walau sebenarnya dia belum yakin akan hal itu.
"Kita ke sana, ada yang ingin Papa tunjukkan padamu."
Andrew melangkah lebih dulu meninggalkan Axel yang masih termangu, setelah cukup jauh barulah Axel sadar dan mengejat sang ayah.
Ceklang!
Sebuah pintu yang letaknya sangat tersembunyi di buka oleh Andrew, dari raut wajahnya yang tampak kesulitan tahulah axel kalau pintu itu pastilah lumayan berat.
__ADS_1
"Biar ku bantu, Pa." Axel maju selangkah hendak membantu sang ayah membuka pintu tua yang sepertinya berbahan dasar besi baja itu.
Semakin banyak pertanyaan di benak Axel, sebenarnya apa yang terjadi di antara semua ini dan kenapa pula ruangan aneh ini ada di dalam rumah yang di berikan almarhum mertuanya pada sang istri. Ruangan yang sepertinya menyimpan banyak rahasia yang belum jua terungkap hingga saat ini.
"Tidak usah, Ax. Sekarang lebih baik ambil sesuatu untuk mengganjal pintu ini, dia akan tertutup lagi setelah terbuka dan tidak ada yang mengganjal." Andrew memberi perintah.
Axel menurut, lalu secepat kilat langsung berlari untuk mencari sesuatu yang sekiranya bisa dia pakai untuk ganjalan.
Sesuatu seperti batu dia temukan dan di bawanya ke tempat sang ayah yang masih dalam posisinya menahan pintu besi tersebut.
Brukkk
Klaanggg
Axel meletakkan batu yang tadi dia temukan itu ke bagian bawah pintu besi yang tebal dan tampak kokoh itu, lalu Andrew pun akhirnya bisa melepaskan pegangannya. Suara nyaring yang baru saja tercipta karna beradunya batu dengan pintu besi itu menimbulkan gema yang cukup keras hingga membuat telinga terasa pengang.
Pasalnya Andrew seolah tahu banyak tentang ruangan aneh ini, bahkan letak ruangan yang sangat tersembunyi itu pula. Tak menutup kemungkinan Andrew juga mengetahui rahasia yang lainnya, dan Axel memang berharap demikianlah adanya dia sudah tak sanggup menanggung semua rasa penasaran ini lebih lama lagi.
Andrew melangkah masuk, berbekal sebuah senter ponsel di tangannya dia mengelilingi ruangan itu yang ternyata isinya adalah barang barang yang sepertinya berasal dari masa lalu. Bentuknya yang antik dan unik yang belum pernah di lihat Axel selama ini.
"Papa ... merasa familiar dengan tempat ini, terlebih saat tadi kamu ceritakan apa yang menimpa si kembar ...."
"Dan Papa bilang, papa juga pernah mengalaminya saat masih seumuran si kembar?" sela Axel cepat.
Andrew mengangguk, lalu mengangkat sebuah buku kuno yang bersampul coklat dengan debu tebal menyelimuti hampir seluruh bagiannya.
"Yah, kamu benar. Itu kejadian yang sudah sangat lama tapi bahkan Papa masih ingat sekali detailnya." Andrew mulai membuka buku tua itu, dan hidungnya tampak berkedut saat debu menyeruak dari dalamnya dan menyebar di depan wajahnya.
__ADS_1
"Apa itu, Pa? Apa papa akan menceritakannya pada ku?" tanya Axel penuh harap, dia sangat ingin tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi dan jawaban dari semua pertanyaan yang terus menerus berseliweran di otaknya belakangan ini.
Tanpa menjawab pertanyaan anaknya, Andrew membuka halaman buku itu lebar lebar dan menunjukkannya pada axel.
"Lihat ini, Nak."
Axel mendekat, tak ingin kehilangan apapun yang bisa menjadi jawaban dari keingin tahuannya.
"Siapa itu, Pa?" Tanyanya sembari menunjuk sebuah foto berwarna hitam putih yang mulai rusak termakan usia, namun wajah orang orang di sana yang ada di foto itu tampak masih jelas terlihat.
"Itu ... Kak Bryan, almarhum mertuamu, Papanya Sarah. Itu ... adalah dia sewaktu kecil," papar Andrew dengan mata berkaca-kaca, entah apa yang menyebabkan dia begitu.
Axel menatap foto itu lekat lekat, dan jika di perhatian lebih seksama memang wajah anak kecil di foto itu lumayan mirip dengan almarhum ayah mertuanya, Tuan Bryan.
"Apa ... beliau juga tahu tentang ruangan aneh ini, Pa? Atau malah ...."
Andrew mengangguk. "Yang kamu pikirkan benar, memang dia yang sudah membuat ruangan ini. Bahkan, kalau kau mau tahu di rumah utamanya yang sekarang sudah kosong itu juga ada ruangan yang bahkan lebih luas dari ini."
Mata Axel melotot mendengar penuturan ayahnya, walau belum tahu apa fungsinya entah mengapa hal hal yang tidak baik dan tak menyenangkan langsung menyeruak begitu saja di benaknya mengingat bentuk dan suasana di dalam ruangan itu yang demikian mistis dan aneh .
"Kau pasti terkejut, Nak. Perlu kau ketahui, sebenarnya mertuamu itu tak pernah lebih baik dari pada yang terlihat. Dan ... itu juga sebabnya dulu kami terpaksa meninggalkan mu di panti dan pergi bersembunyi di luar negeri hingga bertahun tahun lamanya hanya untuk menghindari dia dan antek anteknya," imbuh Andrew lagi, semakin membuat Axel terhenyak dengan semua hal yang baru dia ketahui tersebut.
"Lalu ... apa maksudnya itu, Pa? Maaf tapi Axel tidak mau salah mengartikan dan malah membuat salah paham nantinya," tukas Axel masih mencoba berbaik sangka, walau dalam hatinya sudah tak bisa berbaik sangka lagi dengan mertuanya yang di akui Sarah sering datang dalam mimpinya dengan rupa yang mengerikan.
Andrew menghela nafas panjang, lalu meletakkan buku yang ternyata adalah album foto itu ke tempatnya semula. Membuat debu debu di sekitarnya beterbangan ke segala arah, membuat udara yang sudah pengap menjadi bertambah pengap saja.
"Sebenarnya, Kak Bryan itu ... pernah menjadi mafia termuda dan terkejam di masanya. Terlebih dia mendapat dukungan penuh dari ayahnya, kakeknya Sarah yang waktu itu bahkan menjadi orang yang bahkan di takuti oleh presiden."
__ADS_1