MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 170.


__ADS_3

 Sesampainya di rumah sakit, Alam cepat mendapat perawatan tim dokter yang bekerja cepat menangani penyakitnya yang sudah masuk tahap serius itu.


 Juli terus menangis sembari memeluk tubuh renta Bu Sani yang terasa lemas di pelukannya.


"Ya Allah, sembuhkan Alam, sembuhkan anakku, ya Allah." Bu Sani gadis terisak lirih dalam pelukan Juli.


 Sedang suaminya juga pak mantri yang menemani sedang mengurus administrasi di depan sana.


"Sabar ya, Mak kita berdoa terus semoga mas Al bisa lekas membaik lagi."


"Rasanya Emak sudah nggak kuat, Mak nggak tega lihat alam kesakitan begitu. Kenapa bukan Mak saja yang sakit, Mak sudah tua sudah wajar kalau sakit sakitan. Tapi ini Alam, dia masih muda dan kuat kenapa harus dia? Dia anak Emak satu satunya, Emak nggak akan bisa hidup lagi kalau nggak ada dia," isak Bu Sani tergugu di tempat duduknya, tubuhnya seakan limbung dia roboh ke pelukan Juli yang selalu setia berada di sisinya, menguatkan dan memberi semangat di saat yang tepat.


"Jangan bilang begitu, Mak kalau misal kondisinya di balik pun pasti sekarang Mas Al yang akan nangis begini karna emak kan? Apa Mak tega bikin anak kesayangan Mak itu sedih?"


"Lebih baik seperti itu, Jul ketimbang dia yang masa depannya masih panjang yang harus berjuang di dalam sana untuk tetap hidup. Mak bahkan rela menukar nyawa Mak untuk Alam, Mak rela asalkan dia bisa sembuh lagi dan melanjutkan hidupnya." Bu Sani mengusap lelehan air mata yang tak ingin berhenti dari matanya, di tatapnya nanar pintu ruang UGD dimana sang anak tengah di tangani di sana.


 Beberapa kali orang orang berseragam perawat tampak keluar masuk ruangan itu dan tak lama kembali dengan berbagai macam alat di tangannya. Wajah wajah mereka tegang membuat Bu Sani semakin tak tenang karna mencemaskan kondisi anaknya.


"Mak, apa Mak menyimpan nomor telepon istrinya Mas Al?" tanya Juli pelan, namun masih terdengar kalau suaranya bergetar saat menyebutkan itu.


 Tak di pungkiri Juli, kalau dia masih sakit hati pada perempuan yang sudah merebut Alam darinya walau sebenarnya diapun tahu bukan keinginan Asy untuk menikah dengan Alam. Tapi kenyataan kalau Alam ternyata mencintai Asy itulah yang membuat Juli menjadi berang.


"Ah, sepertinya ada tapi entahlah apa dia masih memakai nomor ini atau tidak." Bu Sani merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah hape jadul bermerek Nok*a lalu memberikannya pada Juli.


"Coba kamu cari, namanya Asiyah kalau nggak salah," imbuh Bu Sani lagi.


 Juli mengangguk paham, mulai menekan tombol manual itu dan mencari kontak dengan nama Asiyah yang di sebutkan Bu Sani. Setelahnya dia menelpon nomor itu dengan hape Bu Sani itu juga karna ponselnya tertinggal di desa karna terburu buru tadi.


"Mak, Juli telepon dulu ya."

__ADS_1


 Juli bangkit dari tempat duduknya setelah Bu Sani mengangguk, lalu mencari tempat yang agak sepi untuk menelepon.


Tut


Tut


Tut


Tut


 Nada sambung berbunyi nyaring karna speaker hape yang sudah mulai rusak, Juli bahkan sampai harus membekap hape tersebut agar suaranya tak mengganggu orang orang yang lalu lalang di sekitarnya.


 Namun hingga panggilan itu mati sndiri dan di jawab oleh operator, tak kunjung juga di angkat oleh asy. Tak patah semangat, Juli kembali menekan nomor Asy dan menelponnya lagi.


 Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Asy mengangkat teleponnya di panggilan yang ke empat. Membuat Juli kesal setengah mati karna harus menunggu lama untuk bicara dengannya.


"Darimana aja sih dari tadi? Masa nggak denger itu hape bunyi? Tahu nggak aku tuh dari tadi capek nungguin kamu angkat teleponnya ,kamu kira kamu siapa bisa seenaknya aja sama orang?" dengus Juli yang tak mampu lagi bicara baik baik saking geramnya.


 Di sebrang sana tak terdengar jawaban dari Asy, mungkin dia masih terkejut dengan nada bicara Juli yang ketus. Sedangkan nama penelpon di ponselnya adalah nama ibunya Alam.


"Maaf, ini siapa ya? Kenapa telepon pake nomor ibu Sani dan marah marah?" gumamnya di sebrang telepon.


 Juli menarik nafas dalam agar tidak meledak emosi di dadanya, pikirnya bisa bisanya Asy masih santai di sana entah dimana sedangkan Alam di sini tengah berjuang mempertahankan hidupnya.


"Siapa kamu bilang? Huh, sudahlah nggak usah banyak tanya. Lebih baik sekarang juga kamu ke rumah sakit X, kalau kamu masih mau melihat Mas Alam."


"Ah, apa? Mas Al ? Tapi kena ...."


"Sudahlah datang saja jangan banyak tanya jika tidak mau suaminya pergi sia sia."

__ADS_1


. Klik


 Juli mematikan sambungan teleponnya sepihak, menarik nafas panjang guna menetralkan perasaannya yang terasa kacau dan kembali melangkah gontai ke tempat dimana dia meninggalkan Bu Sani tadi.


 Namun belum juga langkah sampai di tempat Bu Sani, terdengar riuh suara tangis dari arah depan. Juli mempercepat langkah, rasa cemas merongrong dadanya tanpa ampun. Suara itu, dia sangat tahu suara itu adalah suara Bu Sani yang tengah menangis meraung di tempatnya tadi.


 Memacu langkah lebih cepat, akhirnya juli sampai di tempat dimana Bu Sani berada. Kini tampak di depannya Bu Sani tengah sesenggukan di pelukan Pak Broto, suaminya. Wajah tuanya tampak pucat di sertai lelehan air mata yang tiada hentinya.


"Ada apa, Mak? Pak, ada apa?" cecar Juli setelah berada lebih dekat dengan ke dua orang tua pria yang masih bertahta di hatinya itu.


 Mata Bu Sani menyorot sendu, ada gumpalan tangis yang siap dia tumpahkan sekali lagi. Sedang juli merasakan dadanya sesak seperti di himpit batu besar.


"Nduk ... Juli ...." Bu Sani berusaha berkata lirih, dengan tangan terangkat seolah hendak meraih Juli.


 Juli mendekat, Pak Broto membimbing istrinya duduk di kursi tunggu dan di dampingi Juli pula di sampingnya.


"Ada apa, Mak? Katakan ada apa? Jangan buat juli takut, Mak." Air mata juli menetes, terkenang dulu bagai mana sakitnya saat dia harus kehilangan ayahnya dan ibunya malah meninggalkannya demi lelaki lain setelah itu.


Juli yang sudah menganggap Bu Sani dan Pak Broto sebagai orang tuanya, pengganti orang tua yang sudah meninggalkannya itu tak kuasa melihat tangis pilu di wajah ke duanya.


 Bu Sani terisak, di usapnya pipi tuanya itu dengan punggung tangan lalu mulai bicara.


"Bagaimana kalau seandainya Alam nggak bisa bangun lagi, nduk? Emak takut sekali, takut." Bu Sani kembali terisak, bayangan akan apa yang barusan dia ucapkan merangsek ke benaknya dan membuatnya sangat amat ketakutan.


 Dengan cepat, juli memeluk tubuh Bu Sani. Dan saat itu terlihat pula olehnya Pak Broto yang tengah menghapus air matanya di wajah yang memerah itu.


"Jangan bilang begitu, Mak. Kita doakan saja yang baik baik untuk kesembuhan Mas Al."


 "Tapi, baru saja ada perawat yang masuk. Waktu di tanya sama bapak katanya kondisi Alam sudah gawat, nduk."

__ADS_1


__ADS_2